Mentari terbit dari ufuk timur, burung burung berkicau- kicau bagaikan alunan melodi, cuaca pagi yang segar menyerbuk desa pepohonan yang rindang bergoyang goyang saat di terpa angin, suasana desa yang indah memiliki kebahagiaan tersendiri di dalamnya, sama halnya dengan sebuah keluarga kecil yang tergambar jelas kebahagiaan di wajah mereka.
"Yey kita pindah ke kota hari ini, pasti di kota banyak permainan yang keren keren dan banyak teman juga kan Bun !!" Seru Adlin si bungsu.
" Iya sayang itu pasti, kamu pasti seneng kan kita pindah ke kota" ucap Adyana sang ibu lembut.
" Pasti dong Bun, Lea senenggg buangettt!" Ujar Alea si tengah
" Bun barang barang dah siap ni, El masukin ke mobil langsung ga Bun" tanya Michelle si sulung.
" Eh, ga usah El biar biar ayah aja yang masuin barang barang kemobil, kalian siap siap aja kita berangkat sekarang. Jawab Albert sang ayah.
Albert Sanjaya dan Adyana Sanjaya memiliki tiga anak, pertama Michelle Sanjaya gadis cantik yang baik hati dan periang, kedua Alea Sanjaya gadis cantik yang baik dan rendah hati, dan terakhir Adlin Sanjaya anak laki laki yang nakal namun baik.
Mereka sekeluarga mau pindah ke kota karna ayah mereka dipindah tugaskan kekota.
Setelah beberapa saat bersiap siap akhirnya mereka berangkat ke kota, dalam perjalanan ke kota Adlin yang tak bisa diam menjahili kakak kakaknya, mereka pun bercanda gurau tertawa bersama, sungguh senang hati mereka, penantian yang selama ini mereka inginkan akhirnya terwujud yaitu pindah ke kota.
4 jam berlalu disinalah mereka berada, di kota yang penuh dengan kemacetan, debu dan polusi. Mereka segera beberes agar bisa segera beristirahat.jamtelah menunjukkan pukul 16.30 mereka segera membersihkan diri kerna mereka inggin makan malam di resto merayakan kepindahan mereka ke kota.
Mereka berangkat dengan bahagia ke restoran untuk makan malam, sesampainya di sana mereka memesan makanan favorit mereka, tak lama pesanan pun datang, senyum sumringah terbit di bibir ketiga anak itu, mereka makan dengan khitmat. Setelah selesai mereka pulang dengan senyum yang tak pudar, Elle,Lea dan Adlin tertidur di dalam mobil. Saat sedang mengendarai mobil menuju ke rumah mereka, tiba-tiba datang sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi , Albert yang tak dapat mengelak pun akhirnya tertabrak oleh truk tersebut.
Kecelakaan maut yang tak dapat di hindari terjadi, 1 orang meninggal dunia dan 5 lainnya terluka. Pak Albert meninggal di tempat, istri dan anaknya dilarikan ke rumah sakit bersama dengan supir truk tersebut. Adyana terluka parah dan harus segera di operasi sedangkan ketiga anaknya hanya luka ringan.
Satu jam kemudian Elle tersadar dari pingsan nya , ia melihat keseliling nya berusaha mencari keluarganya namun yang dapat ia lihat hanya ruangan dengan nuansa putih bersih dan bau obat yang menyengat. Elle inggin bangun namun kepalanya terlalu sakit untuk di gerakkan, tak lama suster datang untuk memeriksa keadaan nya.
" Sus aku dimana dan di mana kaluarga ku?" Tanya Elle
" Adik adik nya kamu lagi dirawat sama dokter, dan untuk ibu kamu lagi di ruang ICU" jawab suster tersebut.
" Tunggu sebentar ya saya panggilkan dokter dulu untuk memerikasa keadaan kamu" pamit suster.
" Apa yang terjadi kenapa aku ada di sini?" Tanya nya pada diri sendiri dengan lirih.
Tak lama dokter pun datang dengan tersenyum karna melihat pasiennya yang sudah sadar.
" Siapa nama mu dek?" Tanya sang dokter.
" Michelle dok bisa di panggil El" jawabnya
" Apa yang kamu rasakan? , apa ada yang sakit?" Tanya dokter lagi.
" Iya dok kaki saya sangat sakit dan kepala saya kalau di gerakkan juga sakit dok" jawab El dengan lirih.
" O ya kenapa saya bisa ada di sini?" Tanya Elle
" Kamu dan keluarga mu kecelakaan El beberapa saat yang lalu" jawab dokter.
" Trus gimana keadaan mereka dok?" Tanya nya lagi.
" Keadaan adik adik kamu sudah membaik mereka sudah sadar. Beberapa saat yang lalu, ibu Sekaran ada di ruang ICU menunggu persetujuan pihak keluarga untuk di ambil tindakan operasi, dan untuk ayah kamu, kami mohon maaf ayah kamu meninggal di tempat kejadian El " jelas dokter panjang lebar.
" A-apa dok A-ayah s-saya me-meninggal dok, ga mungkin dokter bohong kan, ini cuma prank kan dok, dokter pasti bohong." Cecar Elle yang kini sudah menangis.
" Maaf kan kami dek, kalo begitu saya permisi dulu" pamit sang dokter.
" Hiks .. hiks..kenapa yah hiks.. kenapa secepat ini hiks.. kenapa ayah tinggalkan kami Ayah hiks.. kami ga bisa tanpa ayah.., ayah segalanya buat kami hiks...." Tangis El pecah, air matanya tak bisa di tahan, sungguh sakit hatinya saat ini, dadanya terasa sesak, bahkan untuk bernafas pun susah, hilang sudah separuh hidupnya, hilang sudah semangat hidupnya.
_'kukira kota adalah tempat untuk menimba kebahagiaan namun nyatanya kota tempat ku di mulainya penderitaan'_ batin elle sedih.
Saat masih sesenggukan datangnlah seorang suster dan membawa berkas berkas di tangan nya.
" maaf dek saya inggin adek tandatangani berkas ini karna kami inggin melakukan tindakan operasi kepada ibu adek" ucap sang suster sambil menyodorkan berkas yang ada di tangan nya.
" Baik sus, lakukan yang terbaik untuk ibu saya" ucap Elle sambil menerima sodoran berkas suster tersebut.
Setelah itu operasi pun dijalan kan.
Beberapa jam kemudian operasi berjalan dengan lancar salah satu suster masuk keruangan Elle untuk memberi kabar sang ibu.
" Sus gimana keadaan ibu saya sus?" Tanya Elle
" Alhamdulillah operasi nya berjalan dengan lancar dek dan kondisi ibu kamu sudah stabil" jawab sang suster.
" Alhamdulillah kalo begitu sus" ucap Elle lega.
" Ya suda kalo begitu saya permisi ya dek" pamit sang suster.
" Iya sus" jawab Elle singkat.
*2 Minggu kemudian*
Elle dan adik adiknya sudah bisa keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu. Saat ini mereka menjenguk sang ibu di rumah sakit.
" Assalamualaikum Bun" salam Elle dan adik adiknya saat membuka pintu kamar rawat inap ibunya.
" Wa'alaikum salam" jawab sang ibu
" Gimana kabarnya Bun?" Tanya Elle mewakilkan adiknya
" Bunda dah sehat kata dokter hari ini bunda udah boleh pulang" jawab Adyana.
" Bunda Adlin kangen bunda!!" Seru Adlin seraya memeluk sang ibu
" Bunda juga kangen kamu Adlin" ujar adyana sambil membalas pelukan sang anak.
Melihat itu Elle dan Lea pun memeluk sang ibu seraya menangis.
" Kok nangis El, Lea, kenapa hemm?" Tanya sang ibu lembut.
" Lea kangen ayah sama bunda hiks.." ucap Lea sambil sesenggukan.
" Kita gaboleh terus terusan nangis, ayah pasti dah tenang di alam syurga, jadi kita hanya perlu berdoa saja semoga ayah baik baik di sana, ok?" Ujar sang ibu menenangkan anaknya.
Padahal ia sendiri sedang berduka, ia juga masih sedih atas kehilangan suaminya untuk selama lamanya, tapi demi anaknya ia harus terlihat kuat dan teguh.
" Iya Bun kami pasti kuat " ucap mereka serentak.
Setelah melepas pelukan sang ibu Elle pun membereskan kebutuhan sang ibu selama di rumah sakit untuk di bawa pulang.
_'OK, you have to be strong, so that your mother won't be sad either'_ batin Elle menguatkan dirinya.
" Ok dah cukup sedih sedihnya yuk kita beberes biar kita bisa cepat pulang" sanggah sang ibu agar mereka tak larut dalam kesedihan.
Setelah beberes mereka pun pulang dan di sinilah mereka berbeda di rumah baru namun sudah memiliki kenangan pahit.
"Welcome to new home" ujar Elle girang menyambut kedatangan ibunya.
" Yuk masuk, ga usah teriak teriak juga kali El." Ucap adyana
" Hehehe terlalu senang soalnya Bun karna akhirnya bunda ku tersayang terbebas dari penjara tak kasat mata itu" jawab Elle cengengesan.
" Penjara tak kasat mata ga tuuu!!" Seru Lea
" Hehe istilah baru besty" sahut Elle
" Ya udahlah yuk masuk ga baik juga bicara di pintu" sanggah sang ibu.
Mereka pun masuk kedalam.
" Bun makan dulu makan dulu yuk nanti baru istirahat El dah masak tadi sebelum ke rumah sakit" ajak Elle kepada ibunya.
Matahari kini telah terbenam sepenuhnya di bagian barat kini terganti dengan rembulan malam yang indah dan bercahaya untuk menemani malam yang gelap, dengan bintang yang setia menemani rembulan dan menghiasi angkasa malam, sungguh indah untuk di pandang mata.
Keluarga kecil yang kini tak lagi sempurna sedang menikmati makan malam yang hampa tanpa orang yang dicinta.
" Bun tadi Lea datang kesekolah buat daftar trus sekolahnya bagus bangeeeetttt, habis itu muritnya banyak lagi, sekolahnya Adlin juga keren loh Bun!!" Seru Lea memecah keheningan, gadis remaja 14 tahun itu emang paling bisa memecah keheningan, ia tak suka keluarga nya menjadi seperti ini.
" O ya besok boleh dong bunda anter ke sekolah nya " ucap adyana antusias
" Boleh dong Bun kami malahan Seneng kalo bunda bisa anterin kami di hari pertama sekolah" Jawa Adlin semangat 45
" Tapi bunda ga boleh cape cape nanti bunda sakit El ga mau liat bunda sakit" ujar Elle penuh kekhawatiran.
" Iya El bunda bakal jaga kesehatan bunda" ucap adyana tersenyum.
Melihat ibunya tersenyum mereka pun ikut tersenyum.
Setelah makan mereka pun istirahat untuk memulihkan tenaga kerja besok mereka akan melakukan kegiatan beru.
*Paginya*
Elle, Lea dan Adlin sudah siap dan rapi dengan seragam sekolah nya, Elle dan Lea masuk sekolah jalur beasiswa sedang kan Adlin masuk dengan jalur biasa.
Mereka lagi berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi bereng. Mereka makan dengan roti panggang+selai kesukaan masing-masing dan segelas susu itu sudah cukup untuk mereka. Setelah sarapan Adyana mengantar anak anak nya kesekolah baru mereka.
" Bun Elle sama Lea masuk dulu ya Bun, bunda hati-hati di jalan, " pamit Elle sambil mencium tangan bundanya.
Begitupun dengan Lea, ia juga mencium punggung tangan ibunya seraya berkata" Bey Bey bunda hati hati di jalan."
Setelah itu mereka berlari memasuki gedung sekolah mereka masing masing, sekolah Elle dan Lea hanya bersebelahan jadi tak kesusahan untuk mengantar mereka. Tinggallah Adlin dan bundanya, mereka masih mengamati Elle dan Lea hingga masuk ke gedung masing-masing baru mereka beranjak dari sana untuk mengantar Adlin kesekolahnya.
" Hati hati dijalan ya Bun, Adlin sayang bunda" ucap Adlin seraya mengecup punggung tangan ibunya.
" Adlin juga semangat ya belajarnya" ujar sang ibu sambil mengalus kepala Adlin.
Setelah mengantar Adlin kesekolahnya adyana tidak langsung pulang ia duduk di taman dekat dengan sekolah ya Adlin, ia sedang memikirkan nasibnya dan anak anaknya.
" Apa aku kerja aja ya," pikirnya
" Tapi kerja apa" sambungnya lagi.
" Coba aja kamu ga ninggalin aku Ama anak anak secepat ini pasti kita lagi bahagia bahagia nya sekarang, tapi kamu udah balik duluan , bahagia terus di sana ya jangan lupakan kami" ucap nya lirih.
Lama termenung di taman akhirnya adyana bangkit dari duduknya, ia berjalan untuk mencari pekerjaan.
Tak lama berjalan ia menemukan sebuah rumah mewah yang lagi mencari ART untuk bekerja di rumah mereka. Adyana pun datang untuk bertanya tentang pekerjaan tersebut.
Tok... Tok... Tok....
" Iya siapa dan ada perlu apa Mba? " tanya sang art yang membuka pintu rumah mewah tersebut
" Ini mba apakah bener kalo disini lagi membutuh kan tenaga kerja untuk bersih bersih?" Tanya Adyana
" Oh itu bener mba, kenapa memangnya, mba mau ngelamar pekerjaan itu " tanya art itu lagi
" Iya mba soalnya saya lagi butuh banget pekerjaan itu mba" jawab Adyana
" Tunggu sebentar ya mba saya panggilkan nyonya dulu" pamit art itu.
Beberapa saat kemudian art yang sama datang lagi.
" Mba di suruh masuk sama nyonya katanya biar enak aja bicaranya kalo di dalam" ujar art tersebut.
" Oh baik lah" jawab Adyana
Didalam nyonya Berta sedang duduk di sofa singlenya sambil menyeruput secangkir teh hangat.
" Silahkan duduk" titah nyonya berta.
" Baik nyonya, perkenalkan nama saya Adyana Sanjaya nyonya,kedatangan saya kemari bermaksud inggin melamar pekerjaan nyonya" jelas Adyana seraya duduk di sofa.
" Perkenalkan juga saya Berta Dirgantara" perkenalan dari nyonya berta
" Kalo begitu cerita kan tentang riwayat hidup mu? " Nyonya Berta
Adyana pun menceritakan kehidupannya dan sampai ia membutuhkan pekerjaan tersebut.
" Emm baiklah kamu boleh bekerja di di sini, "" mulai besok pagi kamu harus sudah datang dan langsung bekerja" ujar nyonya Berta
" Siap nyonya, kalau begitu saya pamit dulu" pamit Adyana dan langsung melangkah keluar .
Sesampainya di rumah Adyana memasak makanan kesukaan anak anaknya karna hari ini ia sedang bahagia.
" Assalamualaikum kami pulang" ucap Elle,Lea dan Adlin kompak.
" Wa'alaikum salam ayo masuk, setelah itu kalian bersih bersih biar kita makan bareng." Ujar adyana.
" Heeemmmm wangi sekali masakan bunda" ujar Adlin kesenangan.
" Iya bunda masak banyak karna hari ini kalian sekolah di sekolah baru kalian." Ujar adyana
" Yey makasih bunda" ujar Meraka kompak.
Mereka pun berkumpul di meja makan untuk makan bersama Dangan diiringi canda tawa.
*6 tahun berlalu*
Elle sekarang sudah jadi sarjana, Lea masuk ke perguruan tinggi, dan Adlin sekolah di SMA yang terkenal ini semua berkat ibu mereka yang bekerja keras selama ini membiayai sekolah mereka.
_' kebahagian memang datang setelah kesedihan dan kepahitan,Hidup ini memang terkadang sangat kelam dan menyakitkan. Namun akan selalu ada cahaya di dalam diri kita yang harus kita jaga, iaitu keyakinan kita kepada-Nya. Jangan sampai cahaya itu padam hingga yang tersisa hanyalah kegelapan semata.'_ batin adyana.
Sekarang kebahagiaan sekarang sudah tercetak di keluarga kecil yang tak lengkap itu, kebahagian yang tergambar indah di wajah mereka.
*✧(^____SELESAI_____^)✧*