Aku pandangi lukisan buatanku yang berada di hadapanku. Aku liat ke pojok kanan bawah tertera nama dan tanda tanganku serta cerita dari lukisan tersebut. Tersenyum bangga kepada diriku sendiri.
"Kak clara, ayuk kita belajar ngelukis, aku mau seperti kak clara yang menjadi pelukis terkenal"
Aku berbalik badan untuk melihat siapa yang berbicara kepadaku. Ah ternyata murid ku yang ingin menjadi pelukis terkenal seperiku.
"Wah kau bersemangat sekali Alina" ucapku yang terlihat senang karena renjian sangat ingin menjadi sepertiku.
"Tentu saja, aku kan ingin lukisan di pajang dan terkenal oleh banyak orang, lagi pula aku juga ingin kaya dari hasil jual lukisan" ucap renjian
Aku tersenyum karena perkataan renjian. Kalo di ingat lagi, perjuanganku untuk sampai di sini sangatlah sulit.
*Flasback*
"CK,APA-APAAN INI! NILAI KAMU JELEK SEMUA" marah ayah Clara membanting raport Clara ke meja.
Clara hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menahan tangis.
"LIAT NILAI KAMU JELEK SEMUA, CUMAN NILAI SENI GAMBAR DOANG YANG BAGUS. MAU JADI APA KAMU DENGAN MENGGAMBAR"
"Sekarang kamu masuk kamar" suruh sang ayah sambil menujuk pintu kamar Clara.
Clar berjalan memasuki kamarnya. Clara menutup pintu kamarnya lalu dia bersandar ke pintu. Menangis, ia hanya bisa menangis. Clar berjalan ke arah meja belajarnya. Mengambil kertas dan cat air. Ia mencoret-coret kertas tersebut dengan abstrak untuk melepaskan rasa sedihnya.
30 menit berlalu
Clara sudah menyelesaikan acar menggambarkan. Clara tersenyum melihat hasil gambarnya. Ia memasukannya ke dalam laci meja belajarnya. Clara berdiri lalu berjalan ke tempat tidur. Ia membaringkan badannya menghadap atas kamarnya. Melamun sambil memikirkan apa yang ayahnya katakan. Benarkah jika cuman bisa ngegambar tidak akan bisa menghasilkan apa pun?. Saking lamanya dia memikirkannya tanpa sadar dia tertidur.
Mentari mulai menunjukan wujudnya. Sekarang sudah jam 5.30. Clara terbangun lalu segara pergi kekamar mandi untuk bersiap.
30 menit berlalu
Clara sudah selesai bersiap-siap. Dia turun ke lantai 1 untuk sarapan.
Selesai sarapan Clara langsung beranjak untuk menaruh piring bekas sarapannya di wastafel,Mencucinya. Selesai mencuci piring ia berbalik dan berjalan ke arah tempat menaruh tasnya. Mengambilnya, lalu berjalan ke arah pintu keluar.
"Belajar yang rajin jangan ngegambar terus" ujar sang ayah yang sedang menuruni tangga.
Clara sempat terhenti saat mendengar suara sang ayah.
"Iya yah, aku bakalan belajar dengan rajin" ujar sang Clara sambil melihat ayahnya yang sudah sampai di lantai 1.
Setelah Clara mengatakan hal tersebut dia berbalik badan lagi untuk melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
20 menit berjalan. Clara sudah sampai di sekolah dengan berjalan kaki. Memasuki gerbang sekolahnya.
Saat sudah di dalam sekolah tiba-tiba dia di berhentikan oleh guru gambarnya.
"CLARA CLARA" teriak sang guru agar suaranya terdengar di telinga Clara.
Clara yang mendengar namanya dipanggil segera menghentikan langkahnya. Berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Kamu ikut ya ke dalam lomba gambar"ujar sang guru ketika sudah sampai di dekat Clara.
" kenapa harus saya pak? Kan ada murid lain yang lebih bagus daripada saya" ujar Clara bingung. Dia merasa bahwa ada yang lebih bagus lagi daripada dia.
"Pokoknya kamu ikut ya, sebab gambar yang paling bagus itu punya kamu" ujar sang guru memaksa.
Clara bingung apakah dia harus menerimanya atau kagak.
"Saya pikirin dulu ya" jawab Clara
"Ya udah kamu pikirkan aja dulu, bapak gak masalah" balas sang guru. Setelah mengatakan tersebut sang guru pun pergi ke ruang guru.
Clara melanjutkan perjalanannya ke kelasnya. Selama pelajaran dia tidak fokus dengan apa yang gurunya jelaskan.
Waktu terus berlalu jam terus berputar. Sekarang sudah menunjukkan jam 14.30. Clara sudah berada di kamarnya. Dia termenung memikirkan soal lomba gambar. Dia menatap gambar-gambarnya. Cukup lama di memikirkannya. Dan akhirnya dia memilih untuk mengikutinya.
Clara segera mengisi formulir acara lombanya. Setelah mengisi ia menghelakan nafasnya.
"Setelah ini pasti ayah akan tau dan aku akan di omelin lagi" ujar Clara pasrah. Ia segera menumpukan kepalanya di lipatan tangannya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. 2 hari setelah Clara mengisi formulir pendaftaran acara lombanya. Tinggal sehari lagi dia akan menjalanin lombanya. Awalnya semua berjalan dengan damai. Tetapi tepat hari ini.
Brak
Suara banting pintu. Clara yang kebetulan berada di dalam kamar tersentak kaget. Clara yang melihat ayahnya berdiri di dekat pintu pun langsung ketakutan. Sebenarnya Clara sudah menduga hal ini. Cuman tetap saja ia merasa takut.
Sang ayah melihat kertas yang berisi gambaran Clara segera mendekat dan mengambil gambar Clara. Ketika gambar tersebut ada di tangannya Sang ayah pun langsung merobek gambarnya, mematahkan kuas serta alat warna lainnya dan membanting nya. Clara yang melihat itupun menangis tersedu-sedu.
"KAMU TUH NGERTI GAK SIH YANG SELAMA INI AYAH BILANG" marah Sang ayah.
Clara terdiam mendengar kemarahan Sang ayah.
"Pokoknya kamu gak boleh ikut lomba itu" datar Sang ayah. Setelah mengatakan itu ayah Clara pun langsung meninggalkan kamar Clara.
Clara menangis tersedu-sedh. Sudah cukup kali ini dia harus bisa ikut lomba itu. Clara meremat kertas yang aa di tangannya. Clara berdiri lalu berjalan ke arah gambar-gambarnya yang di sobek oleh sang ayah. Mengambilnya dan menaruhnya di laci. Dia sudah menetapkan hatinya untuk mengikuti lomba tersebut.
Hari telah berlalu. Tepat hari ini acara lomba di selenggarakan.
Clara memasuki gedung sekolah yang sedang di gunakan lomba gambar antar nasional. Clara yang melihat banyak sekali murid yang cukup lebih pandai menggambar daripada dia, awalnya dia merasa ragu tetapi dia harus bisa mencapai cita-citanya sebagai pelukis terkenal.
Acar lomba pun di mulai. Clara menggambar dengan serius tidak menengok kanan atau pun kiri karena ia tahu bahwa jika dia melihat kontestan lain maka dia akan minder.
Waktu terus berlalu. Sekarang jam sudah menunjukan jam 13.00 sudah waktunya untuk mengumumkan pemenangnya. Clara menunggu pengumumannya dengan gugup.
"Tes.. Tes... Baiklah tanpa menunggu lama lagi kitabakn mengumumkan pemenang dari lomba ini" ujar sang MC.
"Juara ke 3 adalah..." sang MC terus menyebutkan pemenang dalam lamba menggambar. Tetapi nama Clara tetap belum di disebut. Clara sempat merasa bahwa dia memang tidak pantas untuk mendapatkan posisi tersebut. Seketika Clara sedih.
"Dan juara pertamanya adalah..... " Clara sudah tidak berharap lagi. Ia bangkit untuk segera pulang.
"Clara agustin" langkah Clara seketika berhenti saat sang MC menyebutkan namanya. Dia tidak salah dengar kan? Juara satu? Clara?
Clara segera membalikan badannya. Ternyata benar yang di panggil adalah namanya. Clara segera maju ke panggung untuk menerima hadiah dari hasil lombanya. Tetapi Clara seketika bingung dengan apa yang dia lihat. Itu ayahnya kan? Apakah aku salah lihat. Ayah tersenyum kepadaku?
Setelah acara selesai tiba-tiba sang guru gambar mendekat ke arahku.
"Clara, sang pelukis ternama ingin kamu bergabung agar sama sepertinya" ujar sang guru seni gambar.
Clara sangat amat terkejut. Ada apa dengan hari ini. Hari ini terlalu bahagia untuk Clara.
"Aku mau" Tanpa berpikir panjang segera menjawab pertanyaan sang guru seni gambarnya.
"Baiklah akan bapak sampaikan" jawab sang guru lalu pergi untuk menyampaikan hal tersebut ke pelukis ternama.
Tak lama setelah sang guru pergi sang ayah pun datang menghampiri Clara dengan muka datarnya. Clara yang melihat muka datar sang ayah seketika merasa takut. Clara menundukkan kepalanya.
Puk
Tangan sang ayah berasa di atas kepala Clara. Clara mendongakan kepalanya. Dia melihat bahwa sang ayah tersenyum kepadanya.
"Kerja bagus" kata sang ayah. Clara yang mendengar hal tersebut menangis terharu. Dia memeluk sang ayah.
Kak... Kakak
Clara tersadar dari lamunannya. Dia melihat renjian berada di depannya sedang memanggilnya. Clara tersenyum, yah ini lah bakatnya. Bakat melukis ku bisa mengubah pengelihatan orang lain.