Saat itu, aku berlari dengan hati yang penuh dengan rasa takut. Entahlah bagaimana bisa-bisanya aku nyasar sampai ke hutan! Padahal, tadi aku sedang seru-serunya bermain petak umpet dengan adikku.
"Ayah! Ibu!" Teriakku meskipun tau mereka tidak akan bisa mendengar suaraku. Aku berlari kesana-kemari mencari jalan keluar. Hari sudah semakin gelap. Aku menangis di bawah pohon yang sangat tinggi. Aku menangis sambil mengingat-ingat apa yang terjadi saat aku mencari adikku yang sedang bersembunyi. Nihil! Aku tidak bisa mengingatnya.
Setelah lelah menangis, kepalaku merasa pusing dan akhirnya aku ketiduran di bawah pohon itu. Saat sedang nyenyak, aku tiba-tiba dikejutkan dengan suara wanita paruh baya di dekatku.
"Kasihan sekali, badannya agak panas. Robin! Cepat buatkan susu hangat dan ambilkan sepotong roti!" Teriaknya. Tak lama, datanglah seseorang. Berjalan mendekatiku.
Seorang pria yang sedang tersenyum ke arahku. "Hai manis... Kau sudah bangun rupanya." Aku diam tidak bereaksi apapun. Otakku masih mencerna apa yang sedang terjadi, dan aku berada di mana?!
"Kalian siapa?" Tanyaku lirih sambil melihat dua orang itu bergantian.
"Aku Robin dan ini ibuku. Orang-orang biasa memanggilnya Madam Heart." Jawabnya ramah.
"Bagaimana aku bisa disini? Aku dimana?" Pria yang bernama Robin itu hanya tersenyum. Ia pun membantuku untuk duduk lalu memberiku segelas susu hangat. Hhmmm! Wanginya susu itu. Aku pun segera menghabiskannya. Rasanya benar-benar enak seperti aromanya!
"Beristirahatlah, gadis kecil." Setelah mengatakan itu, ia keluar dari kamar. Aku sedikit kesal karena ia belum menjawab pertanyaan ku tadi. "Mudah-mudahan mereka orang-orang yang tulus menolong ku." Batinku
Keesokan harinya, aku merasa lebih baik. Kepalaku tidak pusing lagi dan tubuhku terasa ringan. Saat bangun tidur, aku terkejut karena tiba-tiba saja aku sudah berganti pakaian. Pakaiannya juga bukan yang biasa orang zaman sekarang pakai. Seperti pakaian abad 18!
Aku pun langsung berlari keluar dari kamar untuk mencari Robin. Tak peduli dengan wajahku yang kusut karena belum mencucinya, pokoknya aku harus tau aku sekarang ada di mana. Aku ingin pulang!
"Selamat pagi, cantik. Waah! Wajahmu terlihat lebih segar, ya." Kata wanita paruh baya yang di panggil Madam Heart. Aku pun terkejut mendengar perkataannya. Wajahku lebih segar? Aku pun menoleh ke arah jendela yang berada di sampingku dan... Benar saja! Wajah kusut ku tak terlihat!
Aku seperti orang yang baru habis mandi. Bahkan warna rambutku berubah. Yang awalnya warna hitam, sekarang berwarna coklat. Apa-apaan ini? Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Pikiran ku berusaha keras mencari jawaban. "Siapa namamu?" Tanya Robin yang tiba-tiba muncul di sebelah ku. Aku mundur selangkah karena terkejut dengan kehadirannya.
"E-eemmm.... Caramel." Jawabku sambil menatapnya heran.
"Kita ke ladang strawberry, yuk! Disana, kau akan menikmati manisnya strawberry Jolly sebanyak yang kau mau." Aku pun mengangguk pelan meskipun agak ragu karena masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
Baru saja sampai di teras, aku baru sadar kalau ternyata aku tidak memakai alas kaki.
Ctak!!
Wuush!
Aku teriak kaget melihat sepatu yang sudah terpasang di kakiku dengan sekejap mata. Aku pun menatap Robin dan hendak bertanya tapi, belum sempat mengucapkan apa-apa, ia menarik pelan tanganku.
Sepanjang perjalanan menuju ladang strawberry, aku benar-benar tak bisa berkata-kata melihat pemandangan yang benar-benar baru, unik dan indah. Pokoknya tidak ada di dunia nyata. Semua tampak seperti di dongeng.
Rumah bentuk stroberi, nanas, ada juga yang bentuknya seperti kue sus. Orang-orangnya juga bukan seperti di zaman modern. Tak ada motor. Hanya sepeda ontel dan gerobak yang ku lihat sepanjang perjalanan. Yang lebih mengherankan lagi, ada orang yang mengecat rumah menggunakan coklat leleh. Ya, coklat batang di lelehkan lalu di gunakan untuk cat rumah! Wah wah!
"Robin, sebenarnya ini kota apa?" Tanyaku.
Pria itu terkekeh mendengar pertanyaan ku lalu menjawab. "Welcome to Cocoa Village! Disini, kau bisa memakan kue apapun yang kau suka!"
Aku terkejut mendengarnya sekaligus tak percaya. Kue?? Aku mau! Hatiku berbunga-bunga melihat hamparan kue yang tiba-tiba muncul di hadapan ku. Ada donat, cupcakes, bolu gulung dan lainnya.
Aku berlarian sambil mengambil kue-kue yang ku mau. Hap! YUMMY!!! tanganku tidak berhenti memasukkan kue ke dalam mulut ku yang kecil. Entah sudah berapa banyak kue yang ku makan, perutku tidak merasa kenyang samasekali sampai akhirnya Madam Heart datang secara tiba-tiba.
Matanya lurus melihatku dengan senyuman yang lebar, tangannya mengusap-usap rambutku sambil berkata. "Pulang yuk. Robin sudah menyiapkan susu coklat hangat untukmu." Aku mengangguk pelan.
Tangannya menarik pelan tanganku supaya aku berjalan lebih cepat. Tak lama, kita sudah sampai di rumah. Baru sampai, mataku terasa berat dan tak lama, aku terlelap.
Esok harinya, aku berjalan-jalan di kebun coklat. Banyak orang yang beramai-ramai memanennya. Aku pun terus berjalan hingga tak sadar bahwa aku sudah jauh dari kebun. Aku celingak-celinguk mencari apakah ada orang. Ternyata tidak! Aku sendirian lagi di hutan!
Ku mundurkan langkah ku siapa tau bisa kembali ke kebun dan pulang. Tidak semudah itu.
Duk!
Punggungku berbenturan dengan benda keras dibelakang ku dan ternyata itu adalah sebuah batang pohon yang kokoh. Hatiku mulai ketakutan dan pikiranku berusaha mengingat sejak kapan pohon itu ada berada di belakang ku. Kaki ku lemas, aku duduk di atas batu yang berbentuk jamur, menunggu seseorang yang akan datang mencari ku.
Hari mulai gelap, semuanya tidak sesuai harapan. Tak ada yang datang. Aku sendirian di hutan yang mulai gelap. Mataku berair, aku berteriak menyebut nama Robin dan Madam Heart. Ya, di desa itu hanya dua orang itu saja yang ku tau.
Aku pun memutuskan untuk berdiri, mencari jalan keluar dari hutan yang menakutkan! Sangat Sunyi.... Hanya terdengar suara jangkrik, kepakan sayap burung dan pohon yang bergerak tertiup angin.
"Uuh! Lihat, Bruno! Apa yang ku temukan." Kata seekor kucing hitam putih yang sedang bergelantung di pohon. Ya, Bergelantung!
"Woof! Seorang gadis kecil yang tersesat." Kata temannya, seekor anjing coklat yang mirip dengan serigala.
"Ka-kalian berbicara? Bagaimana bisa?" Tanya ku dengan suara yang serak.
"Oh...tentu saja gadis kecil. Karena kau sedang berada di Dreamland."
"Maksudmu, aku sedang bermimpi?" Tanyaku. Dua hewan itu mengangguk dengan senyuman yang menakutkan.
"Bisakah kalian mengantar ku kembali ke Cocoa Village?" Mereka menggeleng.
"Gadis kecil, sebaiknya kau kembali ke rumah mu yang sebenar-benarnya sebelum Madam mencelakai mu." Kata kucing itu.
Aku tidak bergerak dari tempat ku berdiri. Bingung, ragu dan takut semuanya campur aduk. "Tolong antarkan ku pulang!" Ucapku dengan bibir yang bergetar.
Dua hewan itu pun akhirnya mengangguk. Dua hewan itupun mengantarkan ku ke sebuah pohon besar bewarna merah muda dengan hiasan bunga. Di pohon tersebut ada pintu yang terbuka dengan sendirinya. Kucing hitam putih itu menyuruhku untuk masuk.
Karena aku ragu, akhirnya ia mendorongku sampai akhirnya aku masuk ke dalam pohon itu. Tiba-tiba, sebuah cahaya menyinari ruangan. Cahaya itu bergerak kesana-kemari. Aku mengikuti arah cahaya itu. Berjalan lurus terus sampai akhirnya aku berada di suatu tempat yang sejuk.
Ku lihat hamparan kapas yang berkumpul mengelilingi ku.
Tuk!.
Aku terkejut ada sesuatu yang jatuh mengenai kepala ku. Saat melihat ke bawah, ternyata itu sebuah permen lollipop bentuk hati dengan aneka warna. Aku pun menengadahkan kepalaku dan ternyata ada makanan lainnya yang ikut berjatuhan. Seperti hujan makanan. Aku berlarian sambil menangkap kue-kue yang berjatuhan.
Baru sadar ternyata kumpulan kapas yang ku injak adalah awan yang memadat. Kakiku lelah, aku pun berbaring sambil berguling-guling dengan hati yang gembira. Tak lama, aku terlelap. Entah sampai kapan, aku tidak mau pulang dan hanya ingin berada di sini selamanya.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Jadi, gadis kecil itu tinggal sendirian di atas awan?"
"Iya, nak."
"Apakah dia tidak merasa kesepian, Ayah?"
"Tidak. Karena, dia telah mendapatkan apa yang selama ini ia mimpikan."
"Itu kan hanya mimpi. Bukannya kita tinggal di dunia nyata?"
"Ya, maka itu... Janganlah kau tinggal di mimpi. Tapi, jadikan mimpimu menjadi kenyataan."
END
CHALLENGE MENULIS CERPEN BEBAS with RUANG AUTHOR
FUNtasy. Si Introvert yang suka dunia fantasi, misteri dan thriller. Banyak imajinasinya tapi sulit diungkapkan.