Yah ini cerpen lama w sih, ketimbang jadi draft abadi, w upload aja
—————————————————————————————
“Tapi Don Costalino! Bukankah aku sudah mengaku kepada Capos bahwa sahamnya dicuri bukan karena diriku? Percayalah, aku tidak melakukan apa pun! Beliau tidak menyampaikannya kepadamu? Jawablah Don!”
Tidak bisa kupercaya, apa yang salah dengan kepalanya? Padahal sudah jelas bukan aku pelakunya, aku benar-benar tidak melakukan apa pun!
“Sudahlah aku muak mendengar ocehanmu.” dia menjentikkan jarinya, menyangga kaki kanannya di atas kaki kiri sembari menyangga kepalanya dengan tangan kanan dan memalingkan wajahnya. “Buang orang bodoh ini ke tempat itu!”
“LEPASKAN AKU!!”
“Enyahlah kau … sampah.”
“LEPASKAN!!!!!”
…….
Aku datang ke tempat ini lagi….
Sebuah ruangan kosong nan gelap, hanya ada sebuah cahaya dari sebuah bohlam yang nyalanya kedip-kedip dan sebuah kursi khusus penyiksaan. Tidak ada apa pun selain itu.
Salah satu dari orang yang membawaku, menutup pintu. Setelah itu membawaku menghadap seseorang yang sudah menunggu di kursi itu.
Kau lagi?
“Buka bajumu … Hei! Apa yang kau tunggu!?”
Kira-kira ini sudah yang keberapa … lihat, betapa banyaknya luka sayatan di tubuhku ini.
Seperti biasa aku disuruh menatap cahaya bohlam sembari meregangkan kedua tanganku.
“Oke … bagian mana yang akan kusayat lagi….”
Jika dihitung, aku memiliki 73 luka sayatan di punggung, 42 di sekitar dada, 12 di sekitar wajah.
“Oho … Capos Vento kehilangan saham sebesar 897.998 Euro. Kau beruntung ya … belum sepenuhnya menguras habis sahamnya. Hah … sayang sekali, jika saja sudah terkuras habis, pasti sekarang kau sudah terkirim ke neraka.”
“Kali ini percayalah kepadaku, Esposito! Bukan aku yang menjual saham itu! Ada orang yang mencoba menjebakku!”
Dia sama sekali tidak menghiraukanku, kedua pembantunya memukul perutku.
AGGH!
“Apanya yang harus dipercaya dari seorang pengacau sepertimu? Orang brengsek sepertimu tidak ada malunya.”
Mereka berdua membiarkanku jatuh berlutut, memegangi masing-masing tanganku.
“Apa yang kau tunggu?”
Di hadapanku, dia mengulurkan tangannya ke samping. Salah satu pembantunya langsung memberikan pisau.
“Kalau begitu … selamat menikmati~”
AAAAAAAA!!!!
SAKIT!!!!
AAAGGGHHH!!
Sudah berakhir ‘kah?
“Delapan sayatan. Sekarang duduklah, waktunya sesi kedua!”
Kursi listrik, ini adalah siksaan kedua.
Kedua tangan dan kakiku dikunci oleh pengunci khusus yang sudah satu fitur dengan kursi ini. Sangat rapat, sama sekali tidak memberikanku kesempatan untuk bias bergerak.
Mereka menyambungkan beberapa kabel penyalur listrik ke kursi ini, kemudian membuatku mengenakan helm sumber listrik yang sekarang juga disambungkan ke kabel penyalur.
“Tombolnya mana?” sepertinya dia tidak menemukan pengaktif kursi listrik ini. “Oi, cari tombolnya!”
“YA!”
Dua pembantunya kini berlarian mencari benda yang dimaksud, mereka mencari di sekitar ruangan ini.
Selagi menunggu mereka, Esposito pergi ke belakangku, memegang kedua pundakku. “Vito, untuk apa kau masih berada di Famiglia? Dua tahun lalu, Don terdahulu, ayahmu sudah meninggal. Lalu sahabatnya, Capos Costalino menggantikannya menjadi Don.”
“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan!?”
Dia mencengkeram keras kedua pundakku. “DIAM! Vito … kau masih saja beranggapan seperti itu … ya ‘kan? YA ‘KAN?? DON COSTALINO ADALAH BOS YANG BAIK! Dia peduli dengan bawahannya kau tahu. KENAPA KAU MASIH SAJA MENGGANGGAPNYA PEMBUNUH AYAHMU!!?”
“Siapa bilang ayah mati karena kecelakaan? Itu semua hanya omong kosong yang dibuat Costalino untuk menutupi fakta! Aku pernah melihatnya sendiri! Di suatu tempat Costalino menggumamkan rencana untuk membunuhnya! Costalino benar-benar adalah pembunuh ayah–“
Esposito langsung merubah posisinya menjadi di depanku.
Agh! Kenapa kau memukulku?
“TIDAK, ITU TIDAK MUNGKIN!! Aku tahu kau sejak kecil membencinya, kau tidak pernah mau dekat dengannya apalagi meminta bantuannya! APA YANG SALAH DARINYA? APA KAU MASIH BELUM PUAS MELAKUKANNYA? SAMPAI KAPAN KAPOKNYA–“
Tiba-tiba dia berhenti bicara sembari menundukkan pandangannya ke bawah. Ekspresinya tidak bias kulihat.
“Sudah cukup.” dia berbalik sembari mengangkat wajahnya ke depan, melihat ke arah pembantunya. “Alatnya sudah ketemu?”
Tidak lagi dengan nada tinggi itu, cukup rendah, benar-benar menunjukkan kemuakannya.
“Ya!”
“Hmph, langsung kunaikkan 100.000 Volt! BERTAHANLAH JIKA KAU BISA!!”
Apa!? Kau bercanda!? Aku tidak mau mati di tempat seperti ini!!!
“MATI!!!!”
GGGAAAARRRRGHHHH … GAAAAHHHHHHH!!!!!
……..
……..
……..
……..
Ugh … di mana … ini? Atap ini … bau, warna tembok … tempat ini adalah penjara.
Aku masih hidup?
Kedua tanganku bisa digerakkan, ah … jantungku masih berdetak. Masih di sini … tidak salah lagi, aku benar-benar masih hidup.
Setelah mencoba memikirkan beberapa hal sembari duduk dengan kedua kaki diluruskan bertempelan, aku melihat sekitar untuk memastikan apakah ini benar-benar penjara itu.
“Ini memang penjara.”
Bagaimana dengan lukaku? Tidak sakit? Aku juga tidak merasakan dampak sengatan listrik itu. Jadi bisa dikatakan aku telah lama pingsan di sini, sepertinya mereka langsung membawaku ke sini begitu tak sadarkan diri.
Melupakan tentang seberapa tak masuk akalnya hal yang kualami, aku berdiri, dapat dipastikan aku bergerak, nampaknya tak ada borgol maupun rantai yang menahanku.
“Baguslah kau sudah bangun, Vito.”
Ada suara seseorang dari kiri.
Dia … ternyata ada orang lain di sini, dia duduk bersandar di tembok.
“Apa kabarmu Buccio?”
Fabiano Buccio, salah satu Soldiers sama sepertiku. Dia bekerja di bawah perintah Capos Rosangela Castiglione, sang ratu pemilik kasino di Verona.
Buccio dipenjara di sini karena pernah melanggar perintah sang ratu, aku tak begitu tahu rinciannya, hanya itu alasan yang kuketahui. Sudah hampir enam bulan Buccio dikurung di sini, katanya sampai satu tahun.
Aku duduk di hadapannya.
“Aku sudah bosan di sini, kapan aku keluarnya?”
Sepertinya baik-baik saja, lagipula hukumannya tergolong ringan di famiglia ini, mungkin masalah yang ia sebabkan bukanlah hal yang serius.
Berhubung kota tempat kekuasaan Capos kami sama, kami jadi sering bertemu. Biasanya menghabiskan waktu di bar, pergi berkunjung ke kenalan kami, dan latihan Shooting Range dikala kami kebetulan sama-sama tidak ada tugas yang harus dilakukan, dengan kata lain diliburkan.
Intinya kami adalah teman.
Hmm? Apa itu di tangannya?
“Apa yang kau lihat?” begitu melihat tangannya sendiri, sepertinya dia sadar dengan hal yang membuatku penasaran. “Ini Cuma peluru habis pakai saja, hanya penghilang rasa bosan.”
Oh, maksudmu dengan menahan ujung atas peluru dengan jari telunjuk, lalu menggunakan jari kanan untuk menyelentik ekor peluru, agar pelurunya berputar-putar di lantai.
Dia benar-benar tidak punya hiburan di sini … hehe.
Kini dia melihat kepadaku, tepatnya memperhatikan tubuhku.
“Ini yang ke-10 ‘kah…? Kali ini, apa yang kau lakukan?”
Buccio masih belum tahu fakta sesungguhnya, dia belum tahu kalau Costalino memiliki suatu niatan buruk denganku. Bagian inilah yang tidak kumengerti, Costalino sudah merebut kursi yang diinginkannya, kenapa dia seolah-olah mencoba menghancurkanku?
Pada dasarnya aku memang tak ada kaitannya, di sisi lain ini adalah urusanku, lagipula dialah dalang dibalik kematian ayah. Karena itulah aku bingung. Kejadian aneh mulai terjadi setelah satu bulan kematian ayah.
Setiap hal yang kulakukan seperti menagih pajak, menjaga koper uang, menjadi pekerja administrasi, Bodyguard, transaksi senjata, menjaga gudang senjata, menjadi kurir, negosiasi dengan famiglia lain, Drive-by melawan polisi … semuanya berakhir gagal. Berkat itu aku selalu dibawa ke tempat Esposito, lalu berada di penjara, hingga akhirnya bagian akhir dari hukumanku.
“Perusahaan Capos-ku kehilangan 89% sahamnya. Esposito memberi delapan luka sayatan dan setruma 100.000 volt.”
“100.000 volt!!? Sulit dipercaya … kau tidak mati!!?”
Buccio mengatakan bahwa aku itu beruntung. Seharusnya aku tidak hidup lagi, setahuku 50.000 Volt itu sudah cukup untuk membuat seseorang pingsan. 100.000 Volt sudah cukup keterlaluan, tapi kenapa aku masih hidup?
Reputasiku makin jeblok saja….
Di Costalino Famiglia ini, apabila ada seorang pemilik luka bekas, itu adalah tanda seorang anggota Famiglia yang pernah melakukan kesalahan besar berakibatkan kerugian besar. Semakin banyak luka bekas, semakin dianggapnya rendahnya orang itu.
Akulah pemilik luka bekas terbanyak di antara para pengacau lainnya, aku merupakan orang paling rendah dan paling didiskriminasi di Famiglia ini.
Apakah ada suatu cara agar terbebas dari itu? Sayang sekali yang seperti itu tidak ada, sekali pernah terhukum, maka tidak ada lagi yang namanya penghilangan pelanggaran. Selamanya akan menjadi orang rendahan di sini.
Walaupun aku termasuk yang terburuk, Buccio sama sekali tidak pernah merendahkanku, perlakuannya masih sama saja seperti biasa. Paling tidak ini membuatku merasa tidak terpuruk akibat sendirian.
“Sabar saja Vito, aku tahu bukan kau yang melakukan semua itu, suatu saat kita akan mampu menemukan kebenarannya. Kau adalah temanku, aku akan selalu ada untuk membantumu, percayalah.”
“Ya, terima kasih Buccio.”
Waktu kurungan Buccio tinggal enam bulan lagi, aku tak tahu berapa lama dikurung di sini, nampaknya penjaga penjara juga tidak memberitahu Buccio.
Aku harap durasinya sama sepertinya, hanya satu tahun. Selama itu, aku harus memikirkan cara untuk membongkar kejahatan Costalino. Dengan adanya Buccio, pasti dia mau membantuku.
*Enam bulan kemudian*
Akhirnya Buccio dibebaskan.
Penjara kami dibuka, para penjaga menunggu di luar sampai Buccio mau keluar.
“Serahkan saja padaku Vito, aku akan terus mengabarimu.”
Ya, aku percayakan kepadamu.
Dia mulai berbalik meninggalkanku, langkah kakinya berhenti di ujung. Tanpa melihat belakang, dia meregangkan tangan kanan sembari mengacungkan jempol.
Setelah itu kembali berjalan untuk sepenuhnya keluar dari interior penjara.
Sebelum para penjaga menutup kembali sel penjara ini, aku sempat menanyakan berapa lama aku dikurung di sini, jawaban mereka hanyalah gelengan-gelengan serta ekspresi tak tahu apa pun.
Aku pun memasrahkannya, pada akhirnya mereka menutup sel ini dan mereka pun pergi dari sini.
Yah … sepertinya memang tidak sesingkat itu waktu kurunganku, untuk sekarang aku hanya bisa mengandalkan Buccio.
Dengan begini, keseharian membosankan di penjara kembali berlanjut. Tidak punya teman bicara lagi, tidak ada hal yang bisa digunakan sebagai hiburan, benar-benar sepi sekarang.
Sebenarnya saat ini Buccio mulai melakukan permintaanku, aku memintanya untuk mencari tahu informasi tentang tujuan, kebiasaan, dan keseharian Costalino sembari mencoba menambah rekan untukku agar nantinya aku jauh lebih bisa berhadapan dengan Costalino dan siapa pun yang mengikutinya.
Intinya banyak orang yang akan membelaku dan melindungiku.
Seperti dijanjikan Buccio, dia benar-benar sering berkunjung ke selku, hanya seminggu sekali dalam satu bulan, terkadang dia tidak datang karena adanya tugas penting untuknya.
Ketika dia datang, aku selalu menanyakan apakah ada informasi terbaru. Terkadang dia bisa memberikan informasi, terkadang tidak.
Awalnya dia belum mampu menemukan rekan, tapi setelah sekitar empat bulan berlalu, akhirnya ada sepuluh orang yang mau menjadi rekanku. Katanya mereka adalah sesama pengacau sepertiku, beberapa di antaranya adalah pembenci Costalino.
Buccio membagikan tugasnya kepada mereka, sehingga hari makin hari informasi yang kudapatkan makin banyak dan makin jelas. Semuanya mengalir cepat bagaikan air, belum ada satupun dari mereka yang ketahuan.
Tentu saja Buccio yang hanya datang mengunjungiku, jika ada banyak orang berkunjung secara bergantian, itu bisa menimbulkan kecurigaan.
Walaupun dikurung di sini sangat lama itu membosankan, tapi ini lebih baik, sebagai gantinya akhirnya ada orang-orang yang mau ikut denganku dan terima kasih atas jasa mereka, semua hal tentang Costalino dapat kuketahui, kecuali satu hal yang sama sekali belum jelas.
Yaitu alasannya. Mereka sama sekali tidak dapat mencaritahu alasan Costalino sengaja membuatku dibenci dan kehilangan kepercayaan para anggota Famiglia dan alasannya membunuh ayah.
Suatu hari, entah apa yang sebenarnya terjadi, Buccio tak lagi pernah mengunjungiku. Awalnya aku beranggapan dia mungkin sakit, mungkin nantinya ada yang menggantikannya sementara.
Semakin lama semakin membuatku curiga, aku sudah menunggu satu bulan penuh. Tak seorang pun pernah datang. Hingga membuatku berakhir menunggu satu bulan lagi dengan rasa cemas dan penasaran sepanjang hari.
Akhirnya sudah tepat satu tahun semenjak dikurungnya aku di sini.
“Borsalino Vito, kau bebas.”
“Kau serius?”
“Don sendiri yang memutuskannya, sekarang dia ingin kau menemuinya di ruangannya. Mengerti? Makanya cepat keluar!”
Aku dibebaskan, orang tadi langsung pergi meninggalkanku. Sekarang adalah waktunya tahapan akhir dari hukumanku, yaitu hukuman langsung dari Don sendiri.
Tanpa berlama-lama di sini, aku pun pergi meninggalkan Gedung penjara Famiglia, setelah itu pergi ke Kasino Verona, katanya dia kebetulan sedang memeriksa keadaan Sang Ratu.
****
Kasino Rosangela, Verona, Italia. 27 September 2019, 14:35 PM.
Tempat ini ramai seperti biasa, banyak penjudi hebat dan payah di mana-mana. Aku tak peduli dengan itu sekarang, ada seseorang yang harus kucari di sini sebelum menemui Costalino.
Aku mendatangi bartender yang sekarang sedang merokok di belakang barnya.
“Oi bartender, kau tahu di mana Fabiano Buccio berada?”
Dia melepaskan rokok dari mulutnya sembari mengeluarkan asap nikotin. “Fabiano Buccio? Ah, salah satu Soldiers Costalino Famiglia. Aku tidak pernah melihatnya lagi akhir-akhir ini, mungkin dia dipindahkan?”
Dipindahkan? Mungkin saja, pasti di suatu tempat yang jauh dari Kota Verona. Aku percaya dia masih melakukannya di luar sana, semoga tidak terjadi apa-apa kepadanya.
Aku pun berterima kasih kepada bartender itu, kemudian pergi ke arah lift menuju Boss Room yang dijaga ketat oleh dua Bodyguard besar dan berotot.
Dengan menunjukkan kalung keanggotaan, mereka memperbolehkanku menaiki lift menuju ruangan pemilik kasino. Nampaknya ada yang memberitahu mereka tentang kedatanganku, karena langsung diperbolehkan tanpa ditanyai lebih lanjut.
Ruang bos berada di lantai teratas, berdekatan lantai berisi deretan VIP Room.
Begitu keluar dari lift, hal pertama yang kulihat adalah seorang wanita baru saja keluar dari ruangan bos.
Dia datang kemari, lagipula tempat ini hanya satu arah dan hanya ada satu ruangan. Tidak heran jika dia datang kemari. Tapi tentu saja dia bukanlah wanita biasa, dia adalah Capos Rosangela.
Aku tak sadar kalau masih berdiri di dalam lift, sebaiknya aku keluar. Aku dan wanita itu kini berhadapan, saling memandang satu sama lain.
“Siang Nona Rosangela.”
“Ah … kamu! Don sudah menunggumu di dalam, masuk saja ke dalam Tuan Muda Vito.”
“Tidak, tidak … aku bukan Tuan Muda lagi, sekarang aku hanyalah Soldiers terendah.”
“Jangan begitu … bagiku kamu tetaplah Tuan Muda-ku.”
Sebenarnya memang ada beberapa Capos yang tidak membenciku dan tetap mau bicara normal seperti ini. Mereka masihlah merasa setia dengan ayahku sebagai Don dan diriku sebagai penerus.
“Sudahlah, nanti Don bisa marah kalau aku tidak segera datang.”
Begitu aku melewatinya, pundakku ditahan olehnya sejenak.
“Hati-hati Vito, Don Costalino pasti mau melakukan suatu yang buruk kepadamu.”
“Tenang saja, percayalah saja kepadaku.”
Aku akan mencari kebenarannya, kau pasti akan kubuat mengatakan semuanya … Costalino!!
Dia sekarang ada di balik pintu ini, persiapkan dirimu Vito. Baiklah….
Akhirnya aku membukanya.
Isinya adalah sebuah ruangan yang tiga sisinya dibatasi oleh kaca, sisi kanan dan kiri ditutupi oleh tirai. Ada dua sofa, dua kursi empuk, dan satu meja persegi panjang di sisi tengah. Lalu sebuah televisi di sisi kanan, lantainya dilapisi karpet, dan langit-langit hanya ada sebuah lampu besar mewah.
"Datang juga ... Vito."
Costalino ... tidak ada orang lain selain kami. Jadi akhirnya kau mau menghadapiku seorang diri, baiklah, ini adalah kesempatanku.
"Apa yang kamu tunggu, kemarilah."
Aku akan duduk di kursi itu, dengan itu kami dapat saling berhadapan.
"Lama tidak bertemu ... bagaimana rasanya hukumanmu kali ini?"
“Jangan bodoh.”
Dia meraih sebuah remot yang ada di meja di hadapannya, mengambilnya dan mengarahkannya ke kanan.
Apa yang ingin dia tunjukkan? Apa cuma ingin menyalakan televisi?
Televisinya menyala … aku tidak bisa melihat apa pun, itu seperti sedang menanyangkan suatu ruangan gelap.
Ada cahaya muncul dari atas, dalam televisi itu. Ini sebuah rekaman ‘kah?
Siapa orang itu? Dia mengenakan topeng dan semacam jas labolatorium. Kini dia menurunkan kameranya ke sebuah kertas persegi Panjang berisikan beberapa foto.
Semua foto itukan…!? Bukankah itu Buccio dan yang lainnya! Kenapa dia bisa memiliki foto mereka– Tidak, lebih penting lagi, apa tujuannya memilikinya? Jangan-jangan, mereka adalah daftar incaran!!?
Aku memukul meja dengan kedua tangan sembari menatap bos brengsek itu. “APA MAKSUDNYA INI DON!? Kenapa di antara foto-foto itu, ada foto Fabiano Buccio?”
“Aku tahu kalau dia adalah sahabatmu Vito, kalian sudah bersama semenjak masih kecil. Ironis sekali ya … ayahnya meninggal di waktu yang sama seperti ayahmu, sangat disayangkan kita kehilangan dua orang hebat seperti mereka.”
Jangan main-main denganku!
Tidak ada pilihan lain lagi, aku tak bisa menahannya!
“Hmm? Apa maksudnya ini Tuan Muda? Bahaya menodongkan benda seperti itu.”
“Apanya yang Tuan Muda!! Kau merebut kursi ayah! Kau membunuhnya!”
“Merebut? Salah, beliau meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, bukankah sudah wajar kalau Underboss atau Capos yang akan menggantikan kursi Don?”
“KEPERAT!!!”
Tch, dia menghindari tembakan itu dengan mudah.
Dia tersenyum jahat sembari menjetikkan jarinya. Itu membuat tayangan di televisi tiba-tiba berubah.
A–
APA ITU!? ITUKAN TUBUH MANUSIA!?
“APA LAGI INI!? KENAPA KAU MEMPERLIHATKANKU ORANG-ORANG YANG TUBUHNYA DIMUTILASI!?”
Ada yang datang … itu orang bertopeng yang tadi. Apa yang dibawanya itu–
Secara spontan aku pun langsung menghampiri televisi itu, memastikan benda yang dibawanya lebih dekat. Jadi aku sedikit berjongkok sembari memegang kedua sisi televisi dan mendekatkan wajahku ke layar.
Buccio!? Itu … itu kepalanya … BUCCIO!!? Ini bohong ‘kan … mana mungkin dia dibunuh … benar, tidak mungkin! Tidak mungkin!
Ini pasti hanya rekayasa, aku yakin itu! Lagipula, dia dan mereka tidak akan semudah itu dibunuh! Costalino hanya mencoba membuatku tertipu, BENAR!! AKU TAKKAN TERTIPU BAJINGAN!!
Tanpa kusadari, ternyata aku memukul layar televisi itu sehingga membuatnya rusak. Rekaman itu tidak terlihat lagi. Begitu kulepaskan tanganku dari layar televisi, langsung saja aku mengambil pistol di holster dan menodongkannya kepada Costalino.
Ah– Sial, dia menembak tanganku! Pistolku jadi terlepas dari pegangan!
Aku terlalu panik dan sesaat pandanganku terfokus kepada tangan berdarah yang tertebus peluru ini, sembari menahan sakit menatap pistol yang jatuh di lantai dengan perasaan syok.
“Itu sudah cukup, Vito.” Aku mendengar suaranya sangat dekat, bahkan dia rupanya berada di sampingku, aku juga merasakan ujung pistol miliknya menempel di kepalaku. “Taruh kedua tanganmu di belakang kepala.”
Aku menurutinya.
Hmm? Dari mana dia mendapatkan borgol!? Sial, tanganku sepenuhnya terborgol sekarang.
Setelah itu dia memperintahkanku untuk jalan menuju tembok kaca yang ada di depan itu sembari meletakkan tangannya di punggung atasku, agar bisa menggiringku dengan cepat ke sana. Dia juga masih menempelkan pistolnya di kepalaku.
Sial!
“Tempelkan dirimu kepada kaca. Bagus, tetap seperti itu.” nampaknya dia melepaskan tangannya dariku, tapi kini dia menodongkan pistolnya kepadaku. “Sekarang katakan kepadaku Vito, jika kamu belum ingin mati, beritahu aku kata sandi brangkas penyimpanan itu!”
Brangkas? Apa yang dibicarakannya?
“Aku tidak tahu apa pun–“
Akh … dia memukul kepalaku dengan pistol. Sakit….
“Aku benar-benar tidak tahu apa pun! Aku tidak pernah mendengar soal brangkas itu!”
AAGGHH!!!
Dia membenturkan kepalaku kepada kaca di hadapanku, sehingga kacanya pecah.
“K-kurang … ajar…!”
Serpihan kaca itu membuat wajahku berlumuran darah, membuatku merasakan rasa sakit mengganggu ini.
“Masih belum juga tahu? Begini saja … bagaimana kusebut dengan … harta turun temurun?”
Harta turun temurun!!? Kalau yang ini … aku tahu!
Ayah pernah menceritakanku tentang hal itu.
Borsalino Famiglia atau sebutannya yang sekarang Costalino Famiglia, merupakan kelompok mafia terkemuka di Italia. Katanya sudah 175 tahun berdiri dan hingga saat ini masih sangat berkuasa Italia, sejak dulu markas utamanya tetap berada di Kota Verona.
Selama itu Famiglia ini sudah mencapai generasi kelima, dengan Don yang bukan termasuk bagian dari keluarga Borsalino, Costalino Moretti. Dia mengambil kursi Don dengan cara licik, harusnya aku yang menjadi Don kelima.
Berkat koneksi yang dimiliki Costalino, pada akhirnya dialah yang terpilih menjadi Don. Di saat itulah kehidupanku mulai berubah, dulunya dipenuhi keharmonisan sesama anggota, kini sudah menjadi penuh kediskriminasian.
Walaupun begitu, karena bukan bagian dari Borsalino, Costalino seharusnya tidak pernah diberitahu tentang harta turun temurun Famiglia.
Tapi … dari mana dia mendengar hal itu!?
Brangkas itu takkan kuberikan! Aku harus melindunginya dengan nyawaku.
“Wajah itu, sepertinya kamu tetap tidak mau memberitahuku.”
“Kalau begitu … beritahu aku, di mana Buccio dan yang lainnya!!?”
“Ha? Kau sudah melihatnya sendiri ‘kan, mereka sudah mati–“
“TIDAK!! AKU TIDAK PERCAYA DENGANMU!! Mereka … Buccio MASIH HIDUP!!!”
“Terima faktanya! Itu bukanlah rekayasa, memangnya aku bisa melakukan rekayasa sehebat itu? Mereka mati, hanya itu yang perlu kau tahu.” dia menempelkan pistol ke kepala bagian belakang. “Baiklah, beritahu aku sekarang! Kau mau menyusul mereka? Kalau perlu aku tidak keberatan menendangmu keluar agar kau terjun bebas dan mati.”
“Takkan pernah!”
“Hmph, kalau begitu selamat tinggal.”
Akh?! Kau serius!? Dia benar-benar menendangku keluar! Ini lantai sepuluh lho!! Bagaimana aku bisa mendarat dengan selamat!!?
AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!
TIDAAAKKK!!! AKU TIDAK MAU MATI!! AKU TIDAK MAU MATI!!!
SIAAAAAAL!!!! COSTALINO!!!!!!!
Yang kutahu sekarang tubuhku mendarat di atas sebuah mobil yang kebetulan diparkirkan di situ.
AKH!
Tubuhku membentur mobil, kemudian terpetal entah ke mana.
Ugh … aku masih hidup, tapi tulangku ada yang patah. Sial … aku tidak bisa bergerak!
Tapi, hal ini pasti tidak kau duga ‘kan?
Ayah … Buccio … AKU BERJANJI AKAN MEMBALASKAN DENDAM UNTUK KALIAN!!
TUNGGU AKU COSTALINO!!! AKU PASTI AKAN MEREBUT KURSI DON!!
Ugh … walaupun aku berpikir seperti itu … bagaimana aku mengatasi kondisiku saat ini!? Tubuhku rasanya mati rasa, kepalaku rasanya sangat menyakitkan, punggungku juga. Tapi beruntunglah aku mendarat di sebuah mobil, aku pasti akan mati jika mendarat langsung di tanah.
Kesadaranku–
****
….
….
Aku di mana…? Aku tidak mati….
Siapa….
“Hmm? Sudah bangun ternyata– Hei, jangan banyak gerak, kamu masih perlu istirahat.”
Anak-anak? Ohh … anaknya ‘kah?
Setelah sepenuhnya sadar, sebelum duduk bersandar, pertama aku harus memastikan di mana lokasiku sekarang.
Anak yang tadi aku tahu siapa itu, kalau dilihat-lihat ini rupanya sebuah kamar. Dekorasinya manis juga, ini pasti ruangan anak perempuan.
“Paman mau bersandar? Sini kubantu.”
Begitu melihat wajahnya, aku menerima tawarannya dengan anggukan.
“Terima kasih.”
“Paman tunggu dulu ya? Aku mau memanggil ibu ke sini.”
Sesuai katanya, anak gadis itu benar-benar pergi keluar dari ruangan ini.
Dia adalah anaknya Capos Rosangela, Rachele. Dia masih cukup muda, sepertinya dia masih bersekolah. Sudah lama tidak melihatnya sejak tujuh tahun lalu.
Rachele kini tumbuh menjadi gadis yang cantik … tapi masih ada yang kurang darinya, dia masih perlu banyak belajar. Padahal aku orang yang sudah lama tidak ia temui, bukannya mengajak berbincang, malah langsung pergi memanggil ibunya.
Mungkin dia hanya sedikit lupa denganku. Benar juga, penampilanku dibandingkan dulu dengan sekarang, berubah drastis. Wajar saja, ini sudah tujuh tahun berlalu.
Paling tidak dia meninggalkan sebuah gelas berisi air putih.
“Segar.”
Setelah itu pintu yang tadinya masih tertutup, sekarang dibuka oleh seseorang. Seorang wanita dan gadis masuk ke dalam ruangan.
“Selamat siang, Vito.”
Siang? Ohh … aku baru tahu kalau masih siang, jam di atas meja itu menunjukkan pukul 14:14.
Aku tidak menjawab sapaannya, hanya kurespon dengan tatapan yang ingin mempertanyakan sesuatu.
“Kamu pasti mau menanyakan itu bukan? Tapi akan kujelaskan dengan singkat, kita tidak punya banyak waktu lagi.” Ratu kini melihat ke arah anaknya. “Rachele, bisa ambilkan kunci itu?”
“Ya ibu.” Rachele mengangguk. “Paman Vito … masih ingat aku?”
Tentu saja, mana mungkin aku melupakan anak manis sepertimu. Kamu berhak mendapatkan elusanku.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku ingat! Kamu sekarang tumbuh menjadi gadis yang cantik, Rachele. Kamu selama ini menjadi anak yang baik ‘kan? Ingat, jangan pernah melawan ibumu ya?”
Sama seperti dulu, dia masih suka dielus kepalanya. Tapi dia terlihat … seperti mau merubah sesuatu? Ekspresinya memang terlihat senang, oh … sepertinya aku paham apa yang dipikirkannya saat ini.
Sesuai dugaan, dia mengenyahkan tanganku dari atas kepalanya. “Aku bukan anak kecil lagi paman! Tolong hentikan itu.”
Ya ya, kamu benar. Aku anggap itu dengan ya.
Setelah itu, Rachele pergi mengambil benda yang dimaksud ibunya.
Ini yang membuatku penasaran, kira-kira kunci apa itu?
“Memangnya untuk apa kunci itu?”
Wanita itu malah tersenyum di balik majalah yang dibawanya itu. Perilakunya memberiku petunjuk tentang kunci itu, aku tak tahu pasti kunci apakah itu, sepertinya itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaanku saat ini.
Kami sementara memperbincangkan beberapa hal tak penting, selagi menunggu Rachele kembali ke sini.
****
“Begitu rupanya … jadi maksudmu ini adalah kunci yang berguna untuk membuka brangkas berisi harta turun-temurun itu? Sudah kuduga, Costalino selama ini mencari ini. Aku terkejut Nona tidak pernah ketahuan.”
Ternyata ayah sudah tahu kalau ini akan terjadi, itu menjelaskan tentang alasan mengapa kuncinya bisa berada di tangan Nona Rosangela. Kurasa hanya dialah yang bisa dimintai bantuan, lagipula sejak dulu ayah memiliki kepercayaan tinggi terhadapnya dibandingkan para Capos lainnya.
Hasilnya sekarang, janjinya tetap ia pegang. Kuncinya masih aman, belum ada orang lain selain kami yang tahu tentang ini. Itu yang kuyakini.
Aku baru menyadari kalau ada suara ketokan pintu, sepertinya dari pintu depan. Sesekali juga ada suara bel.
Siapa itu?
Seketika dia seperti langsung terlihat waspada, ekspresinya menggambarkan orang yang terkejut, tapi sudah menduga kalau ini akan terjadi. Nona Rosangela pergi meninggalkanku untuk berjalan dan berhenti di depan pintu masuk kamar.
Dari kasur aku masih bisa melihatnya, dia kini sedang menoleh ke kanan. Tak lama kemudian, datanglah Rachele yang tubuhnya hanya bisa kulihat bagian depan saja.
Mereka sekarang sedang berbisik. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Ini pasti hal yang gawat, dilihat dari ekspresi keduanya, aku yakin dengan dugaan itu.
Mereka akhirnya selesai, keduanya berpisah. Si ibu datang menghampiriku, sedangkan si putri terlihat pergi ke ruangan lain seberang kamar ini.
“Tuan Muda sudah bisa bergerak ‘kan? Kami sudah melakukan hal yang kami bisa untuk menutup lukamu, tapi tolong jangan paksakan diri.”
“Ya, aku bisa bergerak, setidaknya. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian panik?”
“Maaf, tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Untuk sekarang ikutlah denganku, jangan tanyakan apa pun sementara waktu. Seharusnya nantinya kamu akan tahu dengan sendirinya.”
Tidak ada pilihan lain selain menurutinya. Kuikuti arusnya dulu, mungkin dengan itu aku bisa menemukan sesuatu.
Dia kini membawaku ke sebuah ruangan luas, ruang tamu mungkin? Oh, Rachele di situ. Apa yang dilakukannya dengan Thompson itu? Terlebih lagi, dari mana dia mendapatkannya!!?
“Tangkap ini paman!”
Eh? Untukku!?
K-kenapa aku diberi benda ini, bahkan lengkap dengan beberapa peluru.
Sebelum aku baru mau mengatakan sesuatu, tiba-tiba Nona Rosangela menyelaku. “Kita akan kabur dari sini, ayo!”
Ikut ke mana? Memangnya lari dari siapa? Ngomong-ngomong dari tadi suara bel pintu berbunyi terus menerus, sebenarnya siapa yang datang itu?
Walaupun mereka bisa melihat kalau aku ingin menanyakan itu, tetap saja mereka bersikeras untuk menyuruhku ikut. Alasannya sama seperti tadi, mereka berkata bahwa nantinya aku akan tahu dengan sendirinya jika ikut dengan mereka.
“Ke sini, kita lewat belakang.”
Sekarang … tibalah kami di sebuah garasi.
“Kalian berdua sudah memegang senjata ‘kan?”
Daripada menjawab dengan kata-kata, aku dan Rachele lebih memilih menjawab dengan anggukan.
Nona Rosangela masuk ke dalam sebuah mobil sport, di kursi supir. Dia membuka kaca mobil dan mengeluarkan setengah badannya melalui celah itu. “Bagus, cepatlah naik mobil ini.”
Tak lama kemudian anaknya segera masuk ke dalam mobil, sesuai perintahnya. Sedangkan aku masih diam berdiri di sini.
Ini benar-benar aneh, aku tidak bisa pergi sebelum tahu kebenarannya.
“Hei apa yang kamu tunggu?! Cepatlah masuk.”
….
….
“Apa kamu ingin mati!?”
Mati? Jelas tidak! Aku tidak boleh mati sebelum menyingkirkan orang itu dari Famiglia! Sebaiknya aku ikuti apa kata mereka, ekspresi mereka serius.
Aku merupakan satu-satunya yang duduk di kursi belakang, Rachele berada di depan bersama ibunya. Masing-masing dari kami memegang tipe SMG, Thompson.
Di antara kami bertiga, milikkulah yang paling banyak pelurunya. Aku yakin nantinya akan terjadi Drive-by, mengurusi bagian belakang tentunya membutuhkan banyak peluru, pasti akan ada banyak orang yang mengejar dari belakang.
“Kalian sudah siap?”
Sebelum melihatku, pertama tentunya melihat putrinya dulu. Setelah menerima anggukan darinya, sekarang dia melihatku, Rachele juga melakukannya.
“Ya.”
Tapi kita pergi ke mana? Aku lupa belum menanyakan ini. Kalau dilihat-lihat, sepertinya mereka takkan mau menjawabnya, jadi terpaksa harus mengikuti arus dulu saja.
“Ayo.”
Bersamaan dengan kata Nona Rosangela, pintu garasi mulai terbuka dengan sendirinya. Perlahan-lahan naik ke atas, sedikit demi sedikit mulai menunjukkan cahaya dari luar.
Makin terbuka … makin terang cahaya yang terpancar di mata, hingga akhirnya terbuka seutuhnya dan membuat mata kami dibutakan oleh cahaya terang sementara waktu.
Entah pandangan siapa yang terlebih dulu menjelas untuk melihat apa yang kini ada di hadapan kami, yang kuyakini sekarang, bahwa penglihatanku kembali jelas.
Di saat itulah Nona Rosangela menginjak rem dan gas secara bersamaan, sehingga mobil ini rodanya berputar, bergesek di tempat. Tak lama kemudian, rem ia lepaskan dan mobil pun kini melaju keluar dari garasi ini.
Apa yang– TERNYATA ADA BANYAK ORANG DI LUAR SINI!
“Sudah kuduga … itu mereka.”
Mereka? Tunggu sebentar … kalau dilihat-lihat, mereka ‘kan orang-orang dari Famiglia!!? Mereka ternyata mengepung jalur kiri dan kanan, hanya ada celah di depan kami.
“ITU MEREKA!!!”
“AYO SEMUANYA!!!”
“KEJAR MEREKA!!!”
Apa yang sebenarnya– Sepertinya aku tahu sesuatu. Itulah mengapa Nona Rosangela terlihat begitu tenang, walaupun kedatangan orang banyak seperti mereka.
Dengan adanya jumlah Soldiers segitu banyaknya, memperkuat dugaanku, bahwa rupanya Nona Rosangela ketahuan. Costalino sudah menemukan pembawa kunci itu, makanya sekarang dia mengirim orang-orang itu untuk merebut kunci dan mungkin sekalian menyingkirkan kami.
“Wajah itu … benar ‘kan apa yang kubilang?”
“Ya, Nona Rosangela.”
“Sekarang kita akan pergi ke Don Mansion–rumah yang besar layaknya sebuah istana–Vito, kamu harus menyelesaikan semuanya dengan orang itu.”
Menyelesaikan semuanya dengan Costalino … ternyata sudah tiba ‘kah? Hari dimana aku bisa melakukannya.
Ada apa ini? Bukannya senang, ada apa dengan perasaan ini? Walaupun saat ini kami tengah dalam pengejaran mereka, berkali-kali aku mendengar suara peluru yang menabrak bagian belakang mobil.
Rachele yang kini sedang mengeluarkan setengah badannya dari dalam mobil untuk menembak mereka, Nona Rosangela yang masih fokus mengendarai mobil ini dengan kebut-kebutan.
Satu demi satu mobil yang ada di hadapan dihindari, belum ada satupun bagian mobil yang tergores, hindarannya sangat mulus. Sesekali ada beberapa mobil musuh yang menabrak bagian belakang.
Aku tahu mobil ini sudah cukup bobrok akibat tembakan dan tabrakan mereka, aku tahu kalau sedikit demi sedikit mereka berdua terkena tembakan. Kenapa tak ada satupun peluru yang mengenaiku? Padahal aku sedang “menonton” mereka.
Nona Rosangela dan Rachele selama ini belum pernah memanggilku lagi semenjak munculnya perasaan aneh ini, mereka seakan tidak menyadari keberadaanku dan lebih berfokus dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
Padahal mereka berdua sedang berjuang, kenapa aku tidak segera membantu mereka– Sebenarnya aku sudah tahu itu, perasaan aneh ini yang mengahalangiku.
Tidak, tidak, tidak. Sadarkan dirimu, Vito! Ini bukan waktunya mempermasalahkan perasaan yang tidak jelas itu!
“Rasakan ini!!! OOOAAAAAHHH!!!”
Beberapa tembakanku mengenai ban mobil, sehingga membuat mobil itu berakhir jatuh terbalik. Menghalangi puluhan mobil sedan hitam yang salah satunya menabraknya, akibatnya beberapa teman di belakangnya ikut menabrak, terus menerus hingga paling ujung.
Setidaknya jumlah mereka berkurang.
Aku kembali memasukkan diri ke dalam untuk mengisi amunisi.
“Maaf, tadi aku melamun terlalu lama!”
“Rachele, masih ada berapa mobil yang mengejar kita?”
Untuk memastikannya, Rachele mengeluarka setengah badannya dari mobil untuk menembak musuh sekaligus menghitung jumlah mereka.
Dia hebat ya … gadis sepertinya ternyata sudah sangat ahli dalam menggunakan senjata api. Seperti yang diharapkan dari anak seorang Capos Mafia.
Rachele memasukkan setengah badannya kembali dan di saat bersamaan dia mengisi amunisi senjata apinya. “Sekarang cuma ada empat mobil ibu.”
“Begitu ya….” Dia menjawabnya tanpa menoleh langsung kepadanya, masih fokus dalam mengendarai mobil ini. “Sebentar lagi kita akan sampai di Mansion. Dari info yang kudapat dari Nak Buccio, semua Soldiers berada di luar. Para Capos pendukungmu akan menjagamu, jadi jangan khawatir diganggu.”
“Apa Anda tadi bilang Buccio!!?”
“Ya….”
Rachele tidak ikut pembicaraan ini, dia berfokus mengeliminasi mereka. “Ukh, keras kepala sekali!”
“Benar juga, aku lupa kalau kamu tidak sadarkan diri selama satu bulan.”
APA!!? A-aku … selama itu!?
“Sewaktu kamu dilempar dari lantai tertinggi itu, kebetulan sekali aku berada di situ. Beruntungnya kamu mendarat di atas mobilku, walaupun kamu berakhir terbaring di jalan raya.”
Jadi itu benar, hal yang kurasakan waktu itu, ternyata memang mobil.
“Tak lama kamu tidak sadarkan diri, di saat bersamaan ada sekumpulan foto yang baru saja mendarat di sekitarmu. Buccio dan kawan-kawannya belumlah mati, Vito. Aku yakin waktu itu Costalino mencoba membuatmu terpuruk, dia percaya kalau kamu pasti akan membocorkan rahasia keluarga kepadanya.”
Mereka masih hidup….
Diriku masih terdiam, hanyut dalam pikiran sendiri. Mobil ini beberapa kali melakukan belokan, suara tembakan dari belakang tidak begitu berisik.
Sudah kuduga … aku percaya kalau mereka masih hidup, syukurlah….
“Jadi sekarang Buccio dan yang lainnya di mana?”
Mendadak ekspresi Nona Rosangelo berubah, wajah penuh semangat juang itu menjadi sedikit berubah. Dia terlihat sedih, tapi kefokusannya masih ada, konsentrasinya tidak dapat dibuyarkan akibat perasaan itu.
“O-oi … kenapa?”
Dia tidaklah menoleh kepadaku, pandangannya tetap di depan, tapi dirinya terlihat gemetar dan tidak berani menoleh ke belakang. “D-dia … sebenarnya pagi ini meninggal. Bersama mereka–“
“AKU TIDAK PERCAYA ITU!! BUKANKAH KAU TADI BILANG KALAU MEREKA MASIH HIDUP!!?”
“Tunggu– Tunggu, tenang dulu Vito. Beliau sekuat tenaga mencoba melengserkan Costalino seorang diri, ketika kamu masih tidak sadarkan diri. Sekarang hampir semua Capos memihakmu. Tapi sayang sekali, anak itu dibantai habis oleh Famiglia lain. Tolong mengertilah Vito, dia sudah berjuang demimu.”
Buccio … sejauh itu demi aku….
Aku berjanji! Makin kuatnya kepalan tangan ini adalah bukti keseriusanku! Aku pasti akan merebut kursi Don!!
Tolong … awasi aku dari sana … kawanku.
Tiba-tiba laju mobil ini terhenti, terasa kalau ada banyak benda yang seperti mengapit seluruh bagian mobil ini. Itu adalah mobil para pengejar.
Rupanya ada puluhan mobil musuh yang muncul dari arah lain selain rute mobil ini.
“Sekarang keluarlah Vito! Masuklah ke dalam Mansion!”
“Tapi bagaimana dengan kalian?”
Rachele menolong ibunya yang sempat membaringkan kepalanya di atas setir. “Tenang saja paman, aku akan melindungi ibu. Takkan kubiarkan tangan kotor mereka menyentuh orang yang paling kusayangi ini!”
“Kalian….” aku menggangguk dengan membawa beban kepercayaan dari mereka. “Baiklah!”
Tapi bagaimana caranya keluar dari– Oh, mobil-mobil itu menyingkir! Ini kesempatanku untuk melompat keluar dari kaca!
Begitu melompat keluar dan mendarat di tanah dengan cara menggelundung, kemudian menyeimbangkan diri untuk berposisi jongkok sembari menoleh ke kiri.
Ternyata yang menyambutku adalah ratusan Soldiers bersenjata api tipe SMG, mengepung daerah sekitar sini termasuk depan dan belakang–mungkin–Mansion. Aku melihat, kebanyakan dari mereka berdiri di depan mobil mereka. Jadi seluruh sisi ditutup rapat oleh kendaraan roda empat itu.
Tentu saja mereka semua menodongkan senjata api ke arahku, membuat tak ada pilihan lain selain menganggkat tangan.
Tunggu, siapa mereka? Rupanya mereka yang keluar dari jalur lain itu adalah orang-orang dari Famiglia lain! Mereka … Carlos Famiglia–sekutunya Costalino–‘kah?
Aku pun dipaksa berbaring tengkurap, dengan kedua tangan diletakkan di belakang. Salah satu dari mereka mendudukiku dan sekarang sedang menodongkan senjata apinya ke kepalaku.
“Hoho~ Jadi kau orang yang bernama Vito itu … maafkan aku, tapi aku terpaksa harus membawamu pergi dari Italia. Inginnya sih langsung membunuhmu di sini, tapi bisnis adalah bisnis. 5.000.000 Euro, aku datang!!”
Tch, sial. Jangan bercanda denganku! Aku tidak mau semuanya berakhir di sini!!
“Enyahlah kalian!!”
Siapa itu?
Tiba-tiba datanglah sebuah helicopter, capung terbang itu menembaki seluruh musuh yang dapat dijangkau, bertubi-tubi hingga habis. Hasilnya banyak dari mereka yang mati dan mobil mereka meledak, membuat efek terbakarnya menyebar di mana-mana.
Helikopter itu mempertahankan posisi tepat di atasku. Di saat bersamaan aku mendangak ke atas, turunlah sebuah tangga yang panjangnya tidak sampai mengenai wajahku. Kini juga ada orang yang sedang mempertahankan posisinya di tangga sembari memegang senjata apinya.
Dia ‘kan….
“Esposito!?!”
Sulit dipercaya … Esposito datang menolongku!?
Di saat dia turun dari tangga, helikoper itu menarik kembali tangganya dan pergi terbang ke tempat lain.
“Kau baik-baik saja Vito?”
“K-kenapa?”
Ketika aku menanyakan itu, Esposito menundukkan pandangannya sembari berekspresi bersalah. “Maafkan aku … ternyata selama ini aku salah sangka. Sudah kuduga kau takkan pernah menghancurka Famiglia….” pandangannya kini tertuju kepadaku. “Sebagai gantinya, biarkan aku menebusnya!”
Sungguh … aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus melakukan apa kepadanya, pasti rasanya sakit, mengetahui kalau selama ini dirinya dibodohi. Pasti dia sekarang merasakan kekecewaan luar biasa.
Benar-benar tidak bisa dimaafkan, Costalino!
“Tidak apa kawan, selama kau mengerti, itu sudah cukup bagiku.”
Ekspresinya kini berubah menjadi seperti orang yang baru saja tersadarkan. “Terima kasih Vito, kau benar-benar pantas menjadi Don.” dia membelakangiku sembari mulai menembakkan senjata apinya ke suatu tempat. “Sekarang pergilah! Biarkan kami yang mengurus kekacauan ini!”
“YA!”
Nona Rosangela … Rachele … Esposito … Buccio. Serahkan saja kepadaku!
Ini cukup memudahkanku, dengan adanya mereka bertiga dan helikopter itu, para Soldiers bodoh itu pasti akan kalah. Selain itu, di sini juga merupakan daerah khusus Famiglia, jadi takkan ada orang biasa maupun polisi yang menghalangi.
Tinggal masuk ke dalam Mansion yang seperti sebuah istana itu, nantinya aku akan bertemu dengan keparat itu.
Terima kasih karena telah membantuku, kalian! Aku akan mulai masuk sekarang!
HOOOAAAAA!!!
Aku pun lari menerobos melewati beberapa api akibat ledakan mobil itu sembari menembaki para Soldiers yang mendekat.
“Jangan halangi aku!!”
“UUOOGGHH!!!”
“MATII!!!!!”
“OGGGHHH!!!”
Reload–isi ulang peluru–cepat! Bagus! Ayo terus maju diriku!! Habisi siapa pun yang menghalangi jalan!
****
Akhirnya tiba juga di dalam….
Tempat ini gelap. Biasanya aula ini tidak segelap ini.
Setelah memikirkan itu, tiba-tiba keluarlah sorotan cahaya lampu besar, satu demi satu lampu kecil yang ada di sekitar Mansion mulai menyala. Hingga akhirnya memperjelas kelima sosok yang sedang berdiri membelakangi tangga lantai dua.
“Akhirnya kau tiba juga.”
Capos Vento!? Jangan-jangan, dia mau menangkapku!!?
“Hei tenanglah! Aku tidak punya alasan untuk mengganggumu!”
“Apa maksudmu?”
Begitu Capos Vento dengan Panjang lebar menjelaskan alasannya, kini aku bisa mengganggap mereka teman. Capos Vento dan keempat Capos lainnya juga baru saja sadar seperti Esposito. Sadar kalau selama ini telah dibodohi oleh orang yang merupakan pengkhianat sebenarnya.
“Pergilah, Costalino menunggumu di ruangannya. Kami akan membantu Esposito dan yang lainnya, jadi percayalah kepada kami!”
Aku mengangguk setuju. “Tentu saja! Itulah tujuanku kemari.”
Semua ini … semua ini berkatnya. Aku benar-benar harus berterimakasih kepadamu, Buccio. Aku pasti akan mengakhiri karir pengkhianat itu! Percayalah kepada, teman-teman!
Setelah sampai di lantai dua, aku ada tiga pilihan jalur. Kalau ke kiri dan kanan bukanlah rute menuju ruangannya, jalan lurus di hadapankulah yang merupakan rutenya.
Sepinya … tak ada seorangpun di jalur lurus ini, hanya ada sekumpulan bingkai foto di dinding yang berisikan lukisan simetris.
Akhirnya aku tiba. Tinggal membuka pintu ini saja, akan memberiku tiket menuju pertarungan akhir.
Mari selesaikan semua ini … Costalino!!
Aku langsung saja mendobrak pintunya. “COSTALINO!!! DI MANA KAU?”
Di dalam ruangan seperti ruang bos perusahaan ini, tidak ada siapa-siapa. Di mana keparat itu?
Demi melampiaskan kemarahan yang sudah tak tertahankan ini, aku menembaki berbagai perabotan ruangan ini, termasuk langit-langit dan lantai, hingga tersisa meja kerja itu. Satu-satunya yang belum dikenai tembakan peluru.
Aku tidak bisa melihat siapa yang duduk di kursi beroda itu, posisi belakangnya kini sedang menghadapku. Aku akan mengetahuinya jika mendekatinya.
Begitu tiba di hadapan meja kerja itu, terdengar suara tepukan tangan dari balik kursi itu. Orang itu tertawa sedikit aneh dengan pelan, kemudian berlanjut makin keras dan makin keras lagi.
Seseorang yang duduk di kursi itu membalikkan posisi kursinya, membuat sosok orang itu dapat kulihat dengan sangat jelas.
“Aku kagum melihat putra orang lemah sepertimu, akhirnya merangkak tiba di sini. Kau patut diberi hadiah.”
Sebelum dia berhasil menodongkan Glock-17–jenis pistol–kepadaku, aku terlebih dulu menodongkan Thompson kepadanya.
“Sayang sekali, akulah yang terlebih dulu memberimu hadiah. Menyerahlah sekarang juga, kembalikan kursi Don yang kau curi dari ayah!”
“Mencuri? Hehahahahahahahahahahahaha!!”
Apa yang lucu!?
“Apanya yang mencuri!!? Yang kulakukan hanyalah menyingkirkan pemimpin tak becus!”
“TAK BECUS? BERANI-BERANINYA ORANG SEPERTIMU MENGATAKAN HAL SAMPAH SEPERTI ITU!! KAU PIKIR DENGAN MEMBUNUHNYA, BISA MEMBANTU PERKEMBANGAN FAMIGLIA!?”
Tch, sudahlah. Aku tidak mau lagi mendengar ocehannya!
“Sampai jumpa, bajingan!”
Eh? Pelurunya habis! Kenapa pas di situasi seperti ini!?
Aku memutuskan untuk memukul Costalino dengan Thompson ini.
AGH!!
D-dia menembakku!
Tembakan itu mengenai pundak kananku, membuatku jatuh terdorong ke belakang. Kini aku dalam posisi duduk sembari dengan reflek memegangi pundakku yang terluka itu.
Tanpa kusadari, ternyata dia sudah ada di hadapanku sembari menodongkan pistolnya di hadapan wajahku. Aku sendiri hanya bisa tetap terduduk, menyaksikan pistol itu dengan kedua mataku sendiri.
“Kaulah yang seharusnya menerima perkataan itu.”
“COSTALINO!!!”
“Biarkan aku memberitahu beberapa hal kepadamu, kau ingin tahu kenapa aku mengincar harta keluargamu dan membunuh ayahmu ‘kan?”
Cepat katakan, setelah itu akan kubunuh kau!
“Borsalino Gonzalez, dulunya kupikir dia adalah seorang pemimpin ideal yang selama ini kudamba-dambakan, tapi rupanya aku salah. Dia sama sekali tidak bersikap seperti Mafia pada umumnya, orangnya terlalu lembek, dia selalu memaafkan siapa pun, menerima semuanya. Benar-benar tipe orang yang membuatku sangat kesal.”
Dia benar, ayah adalah sosok Don Famiglia yang terbilang paling baik hati di antara para Mafia yang ada di seluruh dunia. Banyak orang-orang biasa yang menyukainya, mereka semua menaruh kepercayaan kepadanya.
“Kita ini adalah Mafia, bukanlah segerombolan komite pelayanan masyarakat!! Harusnya ada kekejaman!! Judi!! Narkoba!! Prostitusi!! Mengambil alih semua persenjataan dan membuat semua orang tunduk takut!! KARENA ITULAH AKU MENYINGKIRKANNYA!!”
“BAJINGAN…!!!!”
“Daripada berdiam diri menjadi orang yang mengikuti perintah, LEBIH BAIK AKU SENDIRI YANG MELAKUKANNYA!! MEMERINTAH SEMUANYA!!! MENGAMBIL SEGALANYA!!”
Sial … aku harus melakukan sesuatu!
“Sudahlah … sekarang, ada kata-kata terakhir?”
…..
“Tentu saja ada!! Itu adalah … aku datang!!”
Suara itu? Jangan-jangan!!?
“Hmm?”
Terdengar suara kaca jendela belakang kami yang baru saja pecah.
Buccio!!
“Kau! Bagaimana kau masih hidup!?”
“Woho, takkan kulepaskan semudah itu. Sebaiknya kau tidak banyak bergerak, kalau tidak akan kubuat kepalamu berlubang.”
“B-buccio … itu benar-benar kau…?”
“Ha? Hei, hei, hei. Apa yang kau katakan? Tentu saja ini aku! Satu-satunya sahabat masa kecilmu dulu!” dia masih menahan kedua tangan Costalino dari belakang sembari menempelkan ujung pistol milik Costalino ke kepalanya. “Sini kuikat kau dulu, melawan mulu daritadi. Oke, selesai.”
Walaupun sudah diikat, Buccio masih saja memeganginya.
“Tidak bisa kupercaya, kau sudah lolos dari kematian dua kali!”
“Dua kali? Ohh … bagian foto palsu dan berita palsu itu ‘kah? Semua itu hanyalah kebohongan yang kubuat, tak kusangka trik yang kulakukan berhasil dua kali.”
“Mustahil … h-harusnya kau mati! Aku melihatnya sendiri!! Bagaimana kau masih bisa hidup?”
“Hehe, itu rahasia~” Buccio memberdirikan Costalino, tegak lurus dan masih tetap menahannya. “Sekarang … Vito, kau bisa melakukan yang kau inginkan.”
Dia menyerahkan pistol milik Costalino kepadaku, aku langsung menerimanya.
Terima kasih … sudah kuduga kau takkan mati semudah itu.
Akhirnya … tibalah waktu untuk mengakhiri semua ini. Perjalananku cukup Panjang juga, setelah ini takkan ada lagi yang namanya diskriminasi dan hal bodoh lainnya.
Aku menodongkan pistol tepat di hadapan wajahnya. “Apa ada kata-kata terakhir?”
“KUKUTUK KAU, DASAR KEPARAT SIALAN!!! AKU BERSUMPAH KALAU KAU AKAN MATI MEMBUSUK DI NERAKA!!!”
Sayonara … sampah.
–END–
Note :
1. Capos : Posisi ini berada dilevel menengah dalam organisasi Mafia. Capos (singkatan dari Caporegimes) adalah orang yang ditunjuk untuk memimpin sebuah grup atau kru, yang terdiri dari 10-12 orang tentara, dan memiliki sejumlah besar rekanan dibawah pengawasannya.
2. Soldiers : Tentara bisa dianggap sebagai lebah pekerjanya dalam organisasi ini.Mereka ini adalah orang-orang yang akan menagih utang (secara damai atau tidak), mengintimidasi saksi, dan mengawasi perusahaan ilegal seperti rumah bordil dan kasino. Mereka juga kadang-kadang dapat diperintahkan untuk memukul atau membunuh rekan mereka sendiri, atau bahkan menghabisi keluarga saingan.
3. Don : Inilah tokoh dalam organisasi keluarga Mafia yang paling ditakuti, yang jika tidak, itu berarti ada sesuatu yang benar-benar salah bagi seorang bos/Don dalam menetapkan kebijakan, mengeluarkan perintah, dan menjaga bawahan tetap dalam barisan.
4. Underboss : Underboss secara efektif adalah seorang pejabat eksekutif dalam organisasi keluarga Mafia. Ketika seorang bos membisikkan instruksi di telinganya, maka seorang underboss akan memastikan perintah tersebut dijalankan seluruh anggota. Dalam beberapa keluarga mafia, underboss adalah putra atasan, keponakan atau saudara laki-laki, dengan alasan untuk menjamin kesetiaan pada organisasi.
5. Shooting Range : Latihan menembak senjata api yang tersedia di sebuah fasilitas khusus, didesain khusus untuk latihan menembak. Target latihan berupa Dummy yang aman dan tidak membahayakan.
6. Glock 17 adalah pistol semi otomatis yang mempunyai julukan (bahasa Inggris: Safe Action Pistol) oleh prosudennya pabrik senjata Glock GmbH. yang berlokasi di Austria. Pistol Glock 17 ini adalah generasi pertama pistol Glock berbahan polymer ringan.
Meskipun pada awalnya pistol ini ditolak pasar karena dianggap pistol yang berbahan polimer ringan itu adalah "Pistol plastik" yang memiliki masalah dalam daya tahan dan kehandalan, namun akhirnya malah menguasai 65% pangsa pasar pistol untuk penegak hukum di Amerika Serikat.
7. Pistol mitraliur Thompson atau lebih dikenal sebagai "Tommy Gun" adalah Pistol mitraliur Amerika yang diciptakan oleh John T. Thompson pada tahun 1918 .
Senjata ini adalah senjata submesin terbaik Perang Dunia II. Pistol mitraliur Thompson juga dikenal secara informal sebagai "Tommy Gun", "Annihilator", "Chicago Typewriter", "Chicago Submachine", "Chicago Piano", "Chicago Style", "Chicago Organ Grinder", "Trench Broom", "Trench Sweeper", "Drum Gun","The Chopper", dan "The Thompson".