27 Februari 2016
Hujan lebat turun membasahi bumi, menciptakan suasana yang suram di pemakaman yang sepi. Di antara batu nisan yang tegak, pemuda berbaju hitam berdiri diam membisu menatap kosong sebuah makam.
Dalam nisannya tertulis “ Loka Wijaya—1 Februari 1998-29 Februari 2015. “
Kebisingan hujan menutupi semua suara yang ada, desiran angin yang menerpa membawa semua kata-kata pergi mengikutinya. Terlihat satu keluarga di luar pemakaman mencoba memanggil pemuda itu dengan teriakan.
Namun, itu sia-sia, lebatnya hujan sudah menghilangkan pancaindra. Pemuda itu menghela nafas pendek, tanpa suara kemudian dipersekian detik setelah itu ia berkata.
“ Sudah satu tahun...” Ucapnya, mengheningkan semua kebisingan hujan yang ada di sekitarnya.
Tak lama, hujan berhenti setelah hilangnya pemuda tadi.
28 Februari, 2016.
Hujan telah turun sejak pagi, mematikan seluruh sektor yang biasanya sudah ramai dikunjungi. Fenomena aneh ini sudah terjadi dua kali, hujan yang selalu turun saat pagi dan berhenti saat hari mulai gelap.
Sementara, seorang gadis bernama Layla, duduk diam di depan jendela, menatap kosong ke luasnya langit di atas sana. Ia kemudian mulai menggumamkan sesuatu pada hujan yang turun saat itu.
Wajahnya mulai sayu, ia sudah terlihat putus asa akan segalanya. Tangan dan bibirnya gemetar tidak karuan. Ia merasakan sebuah penyesalan yang sangat amat dalam di setiap rintik hujan yang jatuh kebumi. Sudah satu tahun ia dihantui dengan rasa ‘bersalahnya’ akan suatu hal yang tidak dapat ia perbaiki.
Napasnya mulai terisak, ia mulai tidak terkendali. Pikiran Layla dipenuhi dengan seluruh perasaan yang sudah lama ia tahan, air matanya mengalir tak tahan menahan semuanya.
Pemuda kemarin ada di sana, ia berdiri menyandarkan tubuhnya ke tembok tepat di sebelah Layla berada.
“ maaf, Loka, maafkan aku...” Rintih Layla mendekap tubuhnya.
“ Andai saat itu aku tahu.. mungkin aku tidak akan mengatakan hal itu..”
“ Lupakan saja.. itu sudah satu tahun, “ ucap pemuda itu.
“Aku tidak bisa melupakannya, bayangmu selalu terlintas pada benakku..” Lanjut Layla, melepaskan semua kerisauannya.
“ Ikhlaskan saja semuanya. Kau masih harus tetap hidup dengan atau tanpa dirinya, hadapilah kenyataan.” Kata pemuda itu dengan nafas dinginnya.
“ Setelah apa yang aku katakan kepadamu, kamu masih tetap bersikukuh berjalan di sampingku. Ada yang aneh dengan kepalamu!!” Layla mulai memukul-mukul bagian dari jendelanya.
“ Andai hari itu, kamu tidak menyelamatkanku!!” Tangisannya semakin menjadi, kedua orang tuanya mulai mendengar apa yang terjadi dalam kamar anaknya.
“ Loka, jika saja aku tahu. Biarkan aku tetap hidup bersamamu..”
“ Dia sudah meninggal.“ timpal pemuda itu.
Pemuda itu pergi, menghilang dari sana. Ia sudah lelah dengan semuanya, ia hanya berharap kalau Layla dapat melepaskan masa lalunya. Tak lama orang tua Layla masuk ke kamar anaknya, memeluk erat putri satu-satunya itu.
Ibu dan ayahnya adalah saksi bagaimana batin anaknya itu tersiksa, sudah berbagai macam cara mereka lakukan untuk menenangkan dan membangun kembali semangat hidupnya, namun tetap tidak membawakan sebuah hasil.
Bahkan orang tua dari Loka juga membantunya hingga sekarang, tapi akhir-akhir ini mereka sibuk dengan makam anaknya. Setiap hari mereka memastikan agar makam tempat terakhir anak lelakinya tidak hancur karena hujan.
29 Februari. . . .
Badai angin disertai hujan mengamuk di seluruh bagian kota, di tengah lebatnya hujan seorang gadis berlari menuju pemakaman. Layla, ia sudah memutuskan untuk menghadapi rasa bersalahnya, dengan setiap tetesan air menghapus air mata yang jatuh dari matanya, Layla berjalan ke makam Loka. Di sana, di tengah kericuhan badai, ia berbicara pada makam Loka, menceritakan segala sesuatu yang dirasakannya.
Badanya jatuh, bertekuk lutut di hadapan makam Loka. Ia menangis sejadi-jadinya ingin melepaskan semua perasaanya.
“Maafkan aku, Loka,” ucap Layla dengan suara gemetar.
“Maafkan aku karena membuatmu tidak tenang selama satu tahun ini, aku tahu kamu tidak suka apa yang telahku lakukan selama ini...”
“ kamu pernah bilang padaku, kalau kematian akan datang pada sesuatu yang bernyawa, tapi aku tetap tidak dapat menerimanya. Tidak secepat itu!!”
“ Semua kata-kata yang kamu ucapkan selalu memenuhi pikiranku, aku bingung harus bagaimana..”
“ Tapi, hari ini aku tahu. Apa maksud dari kata-kata yang kamu ucapkan pada hari itu. “
“ Aku harus tetap melanjutkan hidupku, tapi itu tetap sulit bagiku. “
Tetasan air yang deras, menutup seluruh ucapan itu. Menguburnya pergi masuk ke dalam sela tanah pemakaman ini. Dari pintu masuk pemakaman, orang tua Layla dan orang tua Loka datang dengan wajah yang cemas.
Pemuda itu tiba-tiba saja muncul berdiri tepat di belakang Layla, menahan air mata dengan satu tangannya. Tubuhnya gemetar, tak menyangka hari yang telah lama ia tunggu akhirnya tiba.
Kedua orang tua Layla dan Loka mulai mendekat ke arah mereka, semuanya tidak menghiraukan badai yang sedang menerpa.
Hingga pada akhirnya hujan perlahan mulai mereda, Layla yang sudah mencurahkan isi hatinya sekarang merasa sangat lega, mungkin ini akan menjadi titik baru dalam hidupnya.
Mereka semua berpelukan di depan makam Loka, melepaskan semua masa lalu yang selama ini mengekangnya.
Sementara pemuda itu tetap berdiri, menangis melihat mereka berlima. Perasaannya ikut lega, satu tahun itu waktu yang lama. Sekarang akhirnya pemuda itu dapat meninggalkan mereka berlima tanpa kenangan hidup yang masih dibawanya.
Di balik baju hitamnya itu tertulis, “ Loka—1 Februari 1992-28 Februari 2015 “ dengan tinta putih yang mulai memudar dari dunia.
Setelah melepaskan semuanya Layla dan keluarganya mulai pergi bersamaan dengan terlihatnya cahaya matahari yang sudah lama tak pernah dilihatnya. Cahaya yang tidak biasa, memancarkan segala kehangatan yang penuh akan kerinduan.
Saat sampai di pintu pemakaman, untuk terakhir kalinya Layla melihat kembali makam Loka dari jauh. Betapa terkejutnya ia, Loka sedang berdiri di sana, membelakangi dirinya.
Loka memegang batu nisannya, ia melihat ke arah Layla sambil melemparkan senyuman tipisnya. Melambaikan tanganya sembari berkata dengan lembut untuk terakhir kalinya.
“ Selamat tinggal. Layla”
Tamat