Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara dikeluargaku. aku mempunyai seorang kakak perempuan sebelumku dan usiaku dengannya hanya beda satu tahun. jadi, aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kakakku, bahkan kami bisa berbagi cerita dalam segala hal termasuk dengan kisah asmara kami.
Sekarang aku sedang tidak mempunyai seorang kekasih dalam hidupku, akan tetapi berbeda dengan kakakku, dia saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang tinggal satu kampung dengan kami.
Namun, hubungan asmara yang terjalin antara kakakku dengan kekasihnya ternyata tidak mendapat restu dari ibuku, alasannya karena ibuku mempunyai sebuah kisah yang membuat dia tidak bisa merestui hubungan mereka. Tapi, karena kakakku sangat mencintai kekasihnya, dia tetap mempertahankan hubungan mereka dan membuat hubungannya dengan ibuku menjadi renggang dan menyalahkan sikap yang ditunjukkan oleh ibuku.
Aku juga ikut menyalahkan atas sikap ibuku yang tidak merestui hubungan kakakku, karena dari penilaianku, laki-laki yang dicintai oleh kakakku itu adalah seorang laki-laki yang baik, bahkan sangat baik. Lantas dimana letak kesalahan laki-laki itu sehingga ibuku tidak menyukainya?
Suatu waktu, kakakku menyepakatiku untuk menyembunyikan sebuah tindakannya, yaitu menyuruhku untuk tutup mulut dan tidak memberitahu ibuku bahwa dia ingin pergi kencan dengan kekasihnya. Aku yang merasa kasihan melihat hubungan kakakku, akhirnya menyetujui kesepakatan itu karena aku masih tidak setuju dengan sikap ibuku yang terlalu keras menolak hubungan mereka.
Namun naas, saat kakakku pulang dari kencannya, ternyata ibuku mengetahuinya.
Plak
Sebuah pukulan dari tangan kiri ibuku menempel di tubuh kakakku, dan itu rasanya sangat menyakitkan karena tangan kirinya itu digunakan dalam keseharian, artinya ibuku tidak menggunakan tangan kanannya dalam bekerja, bahkan menulis dia juga memakai tangan kiri.
"Kenapa kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu?" Ibuku bertanya dengan marah. sementara kakakku yang merasakan sakit di tubuhnya karena pukulan ibuku sudah meneteskan air matanya. Dia nerasa sakit hati karena diusianya yang sudah dewasa ibuku masih memukulnya.
"Aku akan pergi dari rumah ini!" ucap kakakku dengan tersedu.
"Lihat, karena laki-laki itu kamu menjadi anak yang durhaka." Ibuku berkata lagi dengan sangat marah.
"Ibu sangat egois," ucap kakakku secara jelas.
"Bukan egois, tapi karena aku tahu pria itu tidak akan pernah serius denganmu." Ibuku berkata.
Ucapan ibuku menjadi suatu hal yang membuatku sedikit marah, karena telah menaruh rasa curiga dengan mudah terhadap orang lain.
Aku juga merasa bingung melihat perdebatan mereka dan tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa membela kakakku, karena jika aku membelanya dihadapan ibuku maka aku juga ikut menjadi sasaran kemarahan ibuku. Akhirnya aku hanya memilih diam dan meneteskan air mata.
Kakakku tidak menghentikan niatnya untuk pergi dari rumah meskipun aku dan ibuku sudah melarangnya. Dia tetap melanjutkan langkahnya dan meninggalkan rumah kami.
"Bu, kenapa ibu tidak restui saja hubungan mereka?" Aku mencoba untuk berbicara dengan ibuku agar dia bisa merestui hubungan kakakku.
"Tidak akan, Ibu tidak tidak akan merestui nya, lebih baik dia mencari laki-laki lain saja!"
"Bu, laki-laki itu adalah seorang yang baik, aku menjaminnya," kataku ingin membela kakakku.
Tapi sebanyak apa pun aku membela kakakku, ibuku tetap tidak bisa luluh, sehingga aku menyalahkan sikap keras kepala ibuku.
Beberapa hari berlalu, ternyata berita kepergian kakaku dari rumah sudah tersebar diseluruh kampung, sehingga banyak orang-orang yang menyalahkan ibuku karena terlalu keras terhadap kakakku. Bahkan orang-orang secara langsung menyalahkan ibuku dihadapanku. Sebagai anak, meskipun aku juga beranggapan bahwa ibuku salah, tapi aku tidak suka jika orang lain secara langsung menyalahkan ibuku dihadapanku. Ya, aku benci orang yang mengatai ibuku terhadap masalah kakakku.
Kakakku sudah berbulan tidak pulang ke rumah, dia bertahan dengan sikapnya. Di saat dia tidak tinggal di rumah, rasanya dia merasa bebas untuk terus berhubungan dengan kekasihnya karena tidak ada yang melarangnya. Sementara ibuku ternyata tidak tahan dengan itu, dia tetap memikirkan kakakku, sehingga menyuruhku untuk menyusul dan menyuruh kakakku untuk pulang.
Aku menjalankan perintah ibuku dan menyusul kakakku.
"Kak, ayo kita kembali ke rumah, ibu menyuruhku untuk menjemput, Kakak!" ajakku kepada kakakku yang ternyata masih tetap tidak ingin kembali ke rumah sebelum ibuku merestui hubungan mereka.
"Kalau begitu kakak bisa menyuruh laki-laki itu datang melamar kakak untuk menunjukkan bahwa dia serius." Aku memberikan sebuah ide, mungkin dengan begitu ibuku akan luluh karena melihat keseriusan laki-laki itu.
Lama aku membujuk kakakku, tapi tetap tidak membuahkan hasil. Sepulangnya aku ke rumah, aku mencoba untuk membujuk ibuku.
"Bu, sudahlah. Sampai kapan kalian terus begini, restui saja hubungan mereka. Apa ibu tahu bahwa orang-orang kampung banyak yang telah menyalahkan sikap ibu."
Saat aku berkata begitu, ibuku terlihat termenung dan seperti memendam kesedihan. Ternyata dia juga mengetahui bahwa orang-orang membicarakannya.
Suatu ketika ibuku mengatakan kepadaku bahwa dia akan menyetujui hubungan kakakku. Ya, ibuku sudah luluh dan menurunkan egonya untuk anak perempuannya. Dia akan menunggu keseriusan laki-laki itu untuk datang melamar kakakku.
Beberapa bulan berlalu, namun kekasih kakakku tidak pernah melihatkan batang hidungnya untuk mendatangi ibuku. Aku juga bertanya-tanya, tapi aku tidak mendapatakan jawabannya.
Pada suatu malam, pintu rumah kami diketuk menandakan ada orang yang datang. Aku keluar untuk membukakan pintu, dan saat pintu terbuka, aku melihat kakakku bersama dua orang tetangga kami berdiri di depan pintu.
Aku tidak bisa menahan air mataku karena melihat kakakku kembali dengan membawa tas saat dia pergi dari rumah ini. Aku bergegas memanggil ibuku dan menyuruh untuk melihat siapa yang datang.
Tangis kakakku pecah saat melihat ibuku menghampirinya. Dia memeluk ibuku dengan sangat kuat.
"Maafkan aku, Ibu." Kakakku berkata dengan tetesan air mata yang membanjiri pipinya.
Ibuku tidak bertanya kenapa kakakku kembali ke rumah, yang dia tahu bahwa anak perempuannya yang telah dia kandung selama sembilan bulan, dan dia lahirkan telah kembali kepelukannya.
Tetanggaku yang ternyata sengaja dibawa oleh kakakku untuk mengantarnya kembali ke rumah juga ikut meneteskan air mata melihatnya.
Setelah kepulangan kakakku, kami tidak bertanya alasan kenapa dia kembali, karena yang kami tahu kakakku tidak lagi menjalin hubungan dengan pria itu.
Akhirnya dari kisah itu aku mengetahui bahwa selama ini ibuku benar, dia tidak pernah salah. Dia pernah mengatakan bahwa laki-laki itu tidak serius menjalin hubungan dengan kakakku, dan ternyata itu benar. Aku yang dulunya ikut menyalahkan ibuku karena sikapnya, sekarang berbalik sangat membelanya. Jika ada para tetangga yang mengungkit kisah asmara kakakku yang mengatakan ibuku salah, maka aku akan membantahnya dengan keras dan akan mengatakan bahwa ibuku benar, ibuku benar, ibuku benar dan tidak pernah salah.