Dania pulang ke rumah sudah larut malam. Hal ini sudah biasa dilakukannya, bahkan sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari.
Sebenarnya orang tua Dania sudah melarang, tetapi ia tidak mengacuhkan nasehat orang tuanya terutama sang ibu.
Saat Dania melangkah menuju kamarnya, sebuah suara menginterupsi dan menghentikan langkah Dania, “Dania, kamu dari mana saja, Nak. Kok selalu pulang larut malam begini?"
“Bukan urusanmu!" jawab Dania sambil menoleh, “Jadi, jangan ikut campur!"
“Ibu bertanya, karena Ibu khawatir padamu, Dania. Kau ini anak perempuan. Tidak baik perempuan keluar rumah hingga larut malam," ujar Dewi ibu Dania.
“Ibuku?" Dania mendengus, “Sejak kapan aku keluar dari rahimmu, Tante? Aku bukan anakmu. Jadi, jangan bersandiwara seolah-olah aku anakmu dan kau ibuku!"
Dania masuk ke kamarnya dan membanting pintunya.
“Ya Tuhan sampai kapan Dania bisa menerimaku sebagai ibunya? Kak Stevi, aku mohon doamu, supaya Dania bisa menerimaku sebagai ibunya," batin Dewi.
“Uhuk-uhuk! Sebaiknya aku segera istirahat, tubuh ini sedang tidak sehat," gumam Dewi.
Keesokan harinya, Dania pergi kuliah ia hanya berpamitan dengan sang ayah saja.
Dania mengendarai motor dengan ugal-ugalan di jalan. Tiba-tiba ada sebuah mobil dari arah berlawanan menabrak Dania, semuanya terjadi begitu cepat hingga Dania tak sempat menghindar. Akhirnya ia jatuh terpental dan juga luka-luka.
Para pengguna jalan pun menghubungi ambulans dan membawa Dania ke rumah sakit.
Dewi dan Mario sudah berada di rumah sakit, karena mendapatkan kabar tentang Dania, saat ini mereka tengah dalam sebuah perdebatan.
“Mas, aku mohon biarkan aku yang mendonorkan ginjalku untuk Dania, Mas!"
“Kamu gila Dewi? Kamu sendiri sedang sakit parah saat ini, bagaimana bisa ingin mendonorkan ginjalmu pada Dania, huh?!"
“Kamu dengar sendiri, kan, hanya ginjal milikku yang cocok? Lagi pun hidupku tidak akan lama lagi. Jadi izinkan aku untuk mendonorkan ginjalku pada Dania. Setidaknya, ini sebagai pembuktian, bahwa aku menyayangi Dania seperti anakku sendiri," ujar Dewi dengan tatapan memohon.
Mario hanya bergeming, Dewi memegang tangannya mencoba meyakinkan sang suami. Mau tak mau Mario pun mengangguk.
Beberapa minggu kemudian, operasi Dania telah berhasil dan Dania sudah diperbolehkan pulang. Betapa senang hati Dania sudah terbebas dari rumah sakit dan ia bisa pulang ke rumah.
Pada awalnya Dania tidak merasa curiga, tapi lama-kelamaan ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Mario.
“Ke mana Tante Dewi, dari tadi Dania tidak melihatnya, masa iya, anaknya pulang dari rumah sakit nggak disambut, cih!"
“Kamu ingin bertemu dengan ibumu? Ayo ikut Papa!" ajak Mario.
Di sinilah mereka sekarang tepatnya di sebuah pemakaman, Dania hanya menangis pilu sembari mengucap kata maaf, setelah sang ayah menceritakan bahwa Ibu sambungnya yang sedang sakit parah bersikeras mendonorkan ginjalnya.
Usai mendonorkan ginjalnya kondisi kesehatan Dewi semakin buruk sampai akhirnya Tuhan menjemputnya.
“Ibu, Dania minta maaf."