"Gue gak akan kasih ampun, cowok itu bakal abis di tangan gue hari ini juga! Mati lo, yan,"
Shira terbangun dari tidurnya dengan mata terbelalak, tubuhnya dibasahi keringat, padahal di luar hujan deras. Mimpi tanpa wujud itu masih membuatnya bingung. Apa maksudnya? Dan mengapa? Rincinya, mimpi itu tidak tergambar, hanya sepenggal suara. Bisa dibilang semacam bisikan, tapi tidak terdengar ditelinga. Membingungkan, apakah efek menonton drakor While You Where Sleeping?
Ah, Shira baru sadar kalau jam menunjukkan pukul 6 pagi. Ia bangun terlalu siang. Untung saja hari masih hujan, ia bisa mengulur sedikit waktu untuk datang ke sekolah. Karena biasanya keterlambatan bisa ditolerir dengan alasan cuaca.
Setelah sekian lama berkutat di kamar mandi, lalu pindah ke depan cermin, Shira mulai mendengar omelan sang Ibu yang sudah menggema. Lantaran sopir Shira sudah membunyikan klaksonnya dari depan gerbang rumah. Shira langsung mengambil tas nya lalu lari keluar kamar. Tak lupa ia mencium tangan ibunya sebelum berangkat. Sayangnya, gara-gara si sopir terlalu rajin, Shira sampai tidak sempat sarapan. Tapi positifnya hujan sudah reda. Matahari mulai bersinar dibalik mendung. Tak lama lagi pasti gerbang sekolah segera ditutup.
Benar saja, sampai di sekolah ternyata Shira adalah orang kedua terakhir yang masuk gerbang. Dibelakangnya masih ada seorang siswa laki-laki dengan jersey volly berwarna merah-hitam. "Apes banget gue ketemu cowok ini," batin Shira. Guru piket melirik tajam ke arah mereka berdua. Shira pun kabur sebelum diinterogasi ini dan itu. Padahal, hari ini seharusnya free. UAS telah berlalu, bahkan sekarang classmeeting hari terakhir. Lapangan sudah ramai. Persiapan final volly dan futsal. Para penonton pun sudah mengerumuni sepanjang garis lapangan. Shira hampir tidak kebagian tempat.
"Woe Ra! Sini!" panggil Renata, salah satu teman Shira yang duduk dibawah pohon jambu bersama teman-temannya yang lain. Renata si baik hati itu juga sudah menyiapkan tempat untuk Shira. Dengan senyuman kecil Shira berjalan menghampirinya. Namun karena tidak memperhatikan jalan, Shira menabrak seseorang yang sedang berjalan di depannya.
"M-maaf ya, gue gak sengaja," ucap Shira. Namun tidak digubris oleh sosok dengan hoodie abu-abu yang lengkap dengan masker itu. Ia melanjutkan jalannya tanpa menoleh sedikit pun. "Kurang ajar, gue dikacangin," gumam Shira sambil melanjutkan perjalanannya kembali.
"Kenapa sih? Drama banget, kayak nabrak gajah aja," gerutu Renata setelah Shira duduk disampingnya.
"Gajah apaan? Ngaco!" balas Shira.
"Tumben banget lo telat, Ra. Gak niat sekolah ya lo?" tiba-tiba pertanyaan Lauren itu mengingatkan Shira dengan kejadian sebelum ia bangun tidur tadi. Akan terdengar konyol kalau Shira memperpanjang pemikirannya. Tapi tidak ada salahnya juga berbagi cerita. "Tau gak sih? Entah mimpi atau apa, ada yang bilang kalau seseorang bakal mati hari ini, inisial yan,"
"Yanto?" tebak Cansa.
"Keknya bukan, yan itu kata-kata akhirnya. Soalnya dia ngomongnya gini, Mati lo yan," balas Shira. Refleks teman-temannya pun ikut memikirkan nama orang dengan akhiran -yan. "Riyan, Zayyan, Parulian, Merdian, Febian, Alvian..."
"Ah udahlah naif banget percaya begituan. Setiap hari pasti ada yang mati kok. Banyak banget nama orang dengan akhiran -yan, bisa jadi dia yang gak disekitar kita," timpal Lauren. Semua orang pun setuju. Mereka mengabaikan mimpi Shira dan mulai menyaksikan pertandingan dengan antusias.
Tiga jam kemudian pertandingan telah usai. Para siswa berangsur-angsur meninggalkan lapangan. Shira mampir ke WC karena tak tahan ingin buang air kecil. Saat berada di WC, tanpa sengaja Shira mendengar obrolan seseorang dari luar.
"Pemikiran lo busuk! Batalin semua kalau gak mau tersesat lebih jauh!,"
"Lo gak usah sok nasehatin gue, keputusan gue udah bulat,"
Shira tidak membuka pintu walau kencingnya sudah selesai. Ia terus mendengarkan hingga akhirnya, kalimat terakhir yang ia dengar sama persis dengan kalimat yang ia dengar dimimpinya. Shira segera membuka pintu, namun tak ada siapa-siapa. Ia berlari meninggalkan WC. Dilihatnya dari jarak 5 meter, sosok berhoodie abu-abu yang sempat ditabraknya tadi.
Shira curiga kalau dialah yang barusaja mengobrol di WC. Pasalnya hanya dia yang terlihat dari arah WC. Shira menjaga jarak agar tidak ketahuan kalau sedang mengikuti oramg itu. Hingga akhirnya mereka tiba kembali di lapangan yang masih ramai dengan orang-orang yang sedang melakukan operasi semut. Beribu kali Shira memikirkan apa yang akan dilakukan oleh sosok berhoodie abu-abu itu? Dan siapa targetnya? Namun pemikiran Shira sangat terlambat. Di depan matanya, Shira menyaksikan sosok berhoodie abu-abu itu mengeluarkan pisau tepat saat ia berjalan dibelakang seorang siswa dengan jersey bertuliskan nama Brian.
"BRIAN!!!" Shira meneriakkan namanya. Sontak Brian menoleh ke belakang. Ia shock melihat perutnya yang telah ditikam. Ia terjatuh di lantai dengan bersimbah darah. Lalu tiba-tiba Shira tersadar kalau dirinya sedang berdiri di hadapan Brian sambil memegang pisau. Ia bingung dan linglung, sedang apa dirinya berada disana.
"B-b-brian...," Shira terbata-bata sambil memastikan kalau yang tergeletak di depannya benar-benar Brian, lelaki yang ia temui saat di gerbang tadi. Brian berusaha menghindari Shira namun ia sudah tak berdaya. Para siswa mulai berkerumun. Karena kejadiannya di lapangan, banyak sekali yang melihatnya secara langsung. "Woy tolongin woy!" teriak seorang siswa yang panik melihat keadaan Brian.
"Ra? Ini bener-bener lo? Gue gak nyangka!" ucap Renata yang baru datang.
"Kenapa? Gue ngapain, Ren?" tanya Shira masih bingung.
"Gak usah sok bodoh lo! Gue lihat semuanya dari ujung sana, lo tikam Brian, psikopat lo, Ra!"
Badan Shira gemetar mendengar perkataan Renata. Tanpa disadari ia menjatuhkan pisau yang masih berlumuran darah dari tangan kirinya. Matanya terbelalak melihat benda tersebut, seakan tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia perbuat. Semua orang meneriakinya "PSIKOPAT!"
-------------‐----------‐----------------
"Saya gak tahu temen saya punya kepribadian ganda. Selama ini dia bisa pake sisi kanan dan sisi kirinya dengan baik. Contohnya saat nulis, kadang pake tangan kanan, kadang kiri, dan dua-duanya mulus. Ya saya kira dia emang bener-bener pinter, makanya otaknya seimbang gitu. Tapi selama ini saya tau kalo dia naksir Brian. Sayangnya dia ditolak waktu ungkapin perasaannya. Pagi itu kami masih sempet nongkrong bareng. Saya heran waktu dia mau nyamperin kami, dia kayak nabrak sesuatu gitu, padahal gak ada apa-apa. Terus dia bilang ke kami kalau baru aja dapet mimpi, seseorang bakal mati dengan nama akhiran -yan. Saya bener-bener gak nyangka kalau ternyata dia sendiri pembunuhnya," ungkap Renata saat diinterogasi polisi seusai pemakaman Brian.