Hai, perkenalkan namaku Ari Shandy
Aku seorang murid SMP kelas 2,
Dan ini ceritaku.....
Ini adalah tahun ajaran baru, seperti yang ku sebut tadi, aku sekarang murid kelas 2.
Di kelas kami kedatangan seorang murid baru, aku mendengar berita ini dari seorang temanku yang bernama Putra, dan kabarnya Dia adalah seorang murid perempuan.
Dia berdiri di depan kelas dan memperkenalkan dirinya, Gadis itu bernama NAIRA, sekilas aku memang memperhatikannya, tapi setelah itu aku mengabaikannya.
Beberapa hari berlalu,
Aku sempat memperhatikan kursi kosong yang kulewati saat akan menuju tempatku yang ada di barisan paling belakang, aku sempat berpikir gadis itu tak hadir, sebab jam pelajaran sudah dimulai.
ternyata Dia muncul dari balik pintu, aku melihat ekspresi wajahnya yang ketakutan.
Tapi berlahan Dia terlihat tenang dan menjelaskan kenapa Dia bisa terlambat, sikapnya yang seperti itu membuatku menjadi penasaran.
Dia memiliki mental yang kuat, terbukti saat satu kelas berorak dan mengejeknya, bukannya takut Dia malah menatap tajam kearah kami, Dia seolah ingin menantang kami.
menurutku alasanya terlambat seperti di buat-buat dan kami nggak suka melihat Dia diistimewakan hanya karena Dia anak baru.
Biasanya kalau kami terlambat Guru pasti akan menghukum, dan ketidakadilan terjadi, kenapa saat Dia terlambat sama sekali tak ada hukuman, itu membuat kami marah padanya, terutama para perempuan-perempuan merasa mereka mendapat saingan baru.
Ditambah sikapnya yang sombong seakan Dia berada di atas angin.
Dia sangat pandai mencari perhatian, terbukti Pak Guru selalu membelanya bahkan Dia juga membantu membawakan buku-buku kami bersama Pak Guru keruangannya untuk diperiksa.
Aini menghampiriku.
Aini adalah teman baikku, sejak duduk di bangku SD kami sudah saling mengenal.
Dulu aku sangat menyukainya, bahkan sampai sekarang aku masih menyukainya, tapi Dia hanya menganggapku sebagai seorang teman dan aku menghormati keputusannya, aku tau alasannya mengapa menolakku, Dia lebih memilih Fauzi yang merupakan sahabat baikku, awalnya aku memang tak terima, namun berlahan aku menyadari perasaan tak bisa di paksakan.
ya, kami memang berteman baik sekarang.
Aini mengutarakan pendapatnya padaku tentang sosok anak baru itu, Dia terlihat tak suka padanya, Dia bahkan mengingatkanku bagaimana mereka waktu dulu di hukum saat terlambat,
"kamu ingat nggak, waktu kita terlambat beberapa menit aja, kita di suruh membersihkan toilet, bahkan kita juga pernah di hukum hormat di tiang bendera sampai aku hampir pingsan"
aku tau Aini paling tidak suka ketidak adilan.
"emangnya Dia siapa? anak presiden?
apa hebatnya Dia, baru juga datang udah cari perhatian"
aku dengan sabar mendengarkan ocehan sahabatku ini.
tiba-tiba Dia mencetuskan sebuah ide,
"Gimana kalau kita kerjain Dia?"
"maksudnya?"
ya, aku tau maksudnya aku cuma ingin memastikan, ini bukan pertama kalinya kami melakukan perbuatan seperti ini.
Aini mendekati tempat duduk gadis itu, Dia mengancam teman sebangkunya yang bernama Lisa agar tak mengadukannya pada anak baru.
Aini membawa tas anak baru dan kami menggeleda isi tasnya, awalnya kami ingin menyembunyikan tas itu, tapi kami takut anak baru mengadukan kami kepada Guru, akhirnya aku meleparkan tasnya kedepan kelas.
kami berpura-pura tidak terjadi apa-apa, sampai saat anak baru datang, aku melihat ekspresi wajahnya yang terkejut saat melihat tasnya berada di lantai, Dia menyusun dan merapikan buku-buku yang berserakan dan membersihkan tasnya yang kotor.
aku berpikir Dia akan diam dan dengan tabah menerima penindasan kami yang pertama.
ternyata tidak,
Dia menantangku!
Dia melotot ke arahku sambil berkecak pinggang,
Dia menunjukku untuk menghadapinya.
jujur aku merasa Dia sombong sekali ditambah dukungan dari teman-teman aku akan membuat gadis ini ketakutan bahkan aku tak sabar melihatnya menangis dan minta ampun.
ya, aku menghampirinya.
aku berkali-kali memanggilnya, bukannya menanggapiku Dia malah cuek, aku merasa sedikit malu, mereka berharap padaku agar anak baru mendapatkan pelajaran.
Dia memang kurang ajar, berani sekali mengabaikanku.
aku mengganggunya, Dia malah melototiku,
aku terus saja mengganggunya dan menarik jilbabnya, dan akhirnya Dia terpancing juga, aku memperhatikan raut wajah kesalnya, hal itu membuatku merasa senang.
Dia mulai mencaciku, kata-katanya membuatku semakin panas.
"Dasar banci, beraninya sama perempuan, besok jangan pake celana, beli rok pakai dan temui aku,itu baru seimbang"
Ucapanya membuatku menjadi bahan tertawaan satu kelas, aku ingin langsung membalasnya tapi aku mendapatkan ide untuk mengerjainya lagi, aku ingin menguji seberapa berani Dia, aku melihat pena di tangannya dan aku merebut benda itu, aku ingin tau apakah Dia akan berani mengambilnya kembali dari tanganku?
beberapa menit aku menunggu aku sudah hampir menyimpulkan Dia memang penakut, ternyata Dia sudah berada di hadapanku, saat aku akan mematahkan pena itu.
aku membiarkan dan menunggu apa tindakan selanjutnya padaku.
Dia menjulurkan tangan padaku
dengan nada kesal
meminta ku untuk mengembalikan penanya,
aku menantangnya untuk mengambil sendiri dari tanganku.
tingkahnya sangat lucu, membuatku tertawa, dengan tinggi badan yang pas-pasan Dia mencoba melompat dan aku membayangkannya seperti anak kelinci.
aku melihat betapa kesalnya Dia, tapi aku semakin menyukai permainan ini, apalagi ditambah dukungan dari teman-teman yang memberi semangat.
Ternyata dugaanku salah, Dia bukan seorang yang mudah dipermainkan, tendangan kakinya ternyata cukup membuatku terkejut, bahkan terasa sangat menyakitkan, Dia berhasil merebut penanya dari tanganku.
Dia membuatku semakin marah dan buru-buru menghentikannya, aku sudah dipermalukan, kali ini Dia harus mendapat pelajaran yang berharga, aku akan memukulnya, tapi Dia menghentikanku dengan ucapannya.
"pukul aja kalau berani, aku nggak takut"
Dia benar-benar menantangku, aku menatap sorot matanya yang bercahaya, disana aku melihat bayanganku, tiba-tiba aku terpaku merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku.
semua terjadi begitu cepat, Dia mendaratkan sebuah tamparan yang cukup keras di pipiku, aku terkejut dan tertegun, Dia berani sekali.
aku sampai bersumpah akan membuatnya menderita, tapi dengan lantangnya Dia mengatakan itu tidak akan terjadi bahkan hanya di dalam mimpiku.
Dia kurang ajar sekali bukan?
Ya, aku marah, aku kesal padanya, belum pernah ada yang seberani itu menantangku, bahkan Dia menamparku di hadapan teman-temanku, harga diriku jatuh, mereka bahkan meragukanku, aku kalah dari seorang gadis dan itu melukai harga diriku.
Pagi itu,
Jadwal pelajaran olah raga, biasanya kami bergantian menggati baju di kelas, yang pertama adalah bagian perempuan, kemudian setelah selesai barulah bagian laki-laki.
semua temanku sudah selesai mengganti baju, aku memang sengaja berlama-lama di kelas, saat aku akan membuka seragam sekolah, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki memasuki kelas, ternyata Dia si anak baru, aku sengaja bersembunyi di bawah meja agar tak terlihat olehnya, aku memperhatikan apa yang sedang di lakukannya, ternyata Dia hanya duduk di kursinya, kemudian Dia terlihat sedang menulis sesuatu, aku terus memperhatikannya dan akhirnya Dia pergi entah kemana, aku jadi penasaran apa sebenarnya yang Dia tulis di buku itu, aku mendekati kursinya dan mencari buku itu, karena penasaran aku melihat-lihat sekilas isi buku itu, ternyata itu buku hariannya.
aku membawanya ke kursiku dan membaca isi buku itu, aku sedikit terkesan dengan kata-katanya dan yang mengejutkan lagi ternyata Dia sedang menyukai seseorang dan orang yang disukainya adalah Ahmad.
setelah membaca buku hariannya, aku mengembalikan buku itu ke dalam tasnya, aku mulai memperhatikan gerak-geriknya.
aku ingat moment Dia curi pandang dengan Ahmad, wajahnya memerah.
hal itu membuatku geleng-geleng kepala sambil tersenyum, aku merasa Dia terlihat seperti orang bodoh.
akhir-akhir ini aku sedikit terganggu dengannya, entah kenapa, aku sering memikirkan gadis itu,
ada yang aneh di dalam sini, bisa-bisanya aku merindukannya, padahal awalnya aku membencinya.
seperti hari ini, aku memperhatikannya lagi, seperti biasa Dia sedang menulis sesuatu di buku harian yang sama, buku yang pernah diam-diam ku baca, jujur aku selalu penasaran semua tentang dirinya, tentang apa yang dilakukannya.
aku memang sedikit jahil, saat Dia pergi entah kemana, diam-diam aku mengambil buku itu lagi dari dalam tasnya, memang keadaan saat itu sepi, karena Dia memang selalu datang lebih awal dan Dia tak memperhatikan ku yang juga sudah dari tadi memperhatikannya di kursi paling belakang.
aku sudah membuka lembaran buku hariannya, tiba-tiba saja Aini sudah berdiri di hadapanku, menatapku dengan penasaran,
"kumu ngapain?
aku buru-buru menyembunyikan buku itu ke dalam laci meja,
aku tau pasti Aini akan semakin penasaran dengan tindakanku, benar saja Dia merebut buku itu dariku.
aku memang selalu mengalah padanya dan membiarkannya membawa buku itu, tak berapa lama Gadis itu malah menghampiri Ahmad yang baru saja datang, Aini bahkan rela menunggu dan menghadang pemuda itu bahkan sebelum Dia masuk kedalam kelas Aini langsung menunjukkan isi buku itu, aku malah penasaran dengan tanggapan Ahmad, ternyata pemuda itu tak marah dan terlihat senang, aku yang tak senang melihatnya dan itu membuatku kesal, bahkan aku bertambah marah saat melihat Ahmad tersenyum pada Gadis itu, Aini memang seperti itu. jujur aku kurang suka dengan sifatnya yang ini, aku tau Aini tak menyukai Gadis itu, Aini berniat mempermalukan Gadis itu, dan aku kurang setuju dengan tindakannya.
saat Gadis itu kembali, aku menunggu Ahmad, aku memperingati Ahmad agar jangan mengganggu Gadis itu, meski Dia tau perasaan Gadis itu padanya, awalnya Ahmad tak setuju tapi aku mengancamnya dan akhirnya Dia mengalah, karena aku tau Dia tak suka mencari masalah denganku, aku juga melarangnya tersenyum pada Gadis itu, entah kenapa aku tak suka melihatnya semakin dekat dengan Gadis itu.
aku juga memperingati Aini untuk mengembalikan buku itu, meski dengan nada sedikit mengancam, Akhirnya Aini mau menurutiku, kami memang sempat bertengkar, Aini merasa aku berubah padanya dan mengatakan aku mulai menyukai Gadis itu.
tentu aku kurang setuju dengan pendapatnya yang tak masuk akal.
apa benar aku mulai menyukai Gadis aneh itu?
entah kenapa Tuhan selalu mempertemukanku dengannya, bahkan di dalam toilet aku dapat mendengar suaranya yang sedang marah-marah memaki seseorang, Dia sedang memakiku bahkan Dia menyumpahiku, tidakannya yang seperti itu membuatku ingin mengerjainya lagi.
aku menunggunya kembali dari toilet, aku penasaran dengan ekspresinya saat aku mempermalukannya.
aku mulai mendekatinya, aku tau Dia kesal melihat kedatanganku, tapi aku semakin ingin mengganggunya.
aku mulai melancarkan aksi, membaca beberapa bait puisi yang di tulisnya didalam buku harian, aku bersemangat saat melihat wajahnya yang mulai memerah akibat menahan rasa malu, aku ingin terus mengganggunya, menunjukkan padanya betapa indah puisi yang ku bacakan dihadapannya, aku bisa melihat matanya mulai melototiku, aku semakin menggebu-gebu, saat akan melanjutkan ucapanku Dia malah membungkamku dengan kertas, Dasar Gadis kurang ajar! aku jadi kesal dibuatnya, jujur aku marah sekali, tapi aku lebih malu karena tindakannya itu dilihat banyak orang, Dia memang pandai menjatuhkan harga diri orang lain.
karena emosi aku hampir memukulnya, kemudian aku malah teringat ucapannya yang menuduhku sebagai banci ditambah tatapannya yang membuatku tak berkutik, aku kesal sekali padanya tapi aku tak bisa berbuat kasar padanya, aku malah melakukan hal yang konyol dengan mencubit pipinya yang cubby seperti bayi itu, ternyata Dia kesakitan, aku malah jadi tak tega, aku menatap dalam matanya saat kami saling berhadapan dan aku dapat melihat bayanganku di bola matanya yang indah itu, kemudian aku melihat sesuatu di sudut matanya.
aku merasa bersalah padanya, tanpa sengaja aku membuatnya menangis, padahal aku tak pernah melihatnya menangis meski aku sudah sering mengganggunya, tapi kali ini Dia menangis, apa sesakit itu?
aku menahan diri untuk bertanya padanya, namun saat itu aku benar-benar terpaku tak berdaya menatap matanya yang penuh kemarahan, Dia sangat marah padaku, aku dapat merasakannya dari beberapa pukulan yang diberikannya padaku, ada yang aneh saat Dia memukulku, aku sama sekali tak merasa kesakitan, aku malah bahagia melihat wajahnya yang lega saat memukulku, di sini tepat di hatiku.
aku tak tau perasaan apa ini, tapi sejak itu aku selalu ingin tau tentang dirinya, ingin melihat wajahnya, ingin melihat senyumnya dan selalu penasaran dengan apa yang Dia kerjakan.
sesekali aku juga mengganggunya,
seperti pagi itu...
Sejak kejadian Dia datang terlambat aku perhatikan sekarang Dia selalu datang lebih awal, aku menggunakan kesempatan itu untuk memperhatikannya lebih dekat,
Dia terlihat sangat imut, saat sedang tertidur, aku terus memperhatikannya aku bahkan tak sadar sudah beberapa menit berdiri sambil menatap wajahnya, saat aku sadar Dia akan membuka matanya aku buru-buru berjalan ke kursiku, aku tak mau Dia salah paham padaku, selama ini Dia berpikir aku sengaja menjahilinya, padahal semua itu ulah teman-temanku.
Sejak aku menaruh hati padanya aku semakin gugup saat berhadapan dengannya, sampai pada suatu hari kami kedatangan seorang Guru baru,
aku menyadari ada yang aneh pada Gadis itu, Dia terlihat ceria dan bersemangat saat jam pelajaran Fisika, aku mulai menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi padanya dan apa hubungan mereka sehingga mereka sedekat itu.
aku mencari informasi tentang Guru itu, yang ternyata Dia adalah tunangan dari sepupunya temanku yang bernama Roy, Roy adalah alumni di sekolah ku, aku mengetahuinya saat berkunjung ke rumah Roy.
aku melihat beberapa foto yang terpampang di dinding rumahnya, aku melihat wajah itu, persis seperti Guru baru itu, di dalam foto Dia sedang berdiri bersama seorang wanita dan beberapa orang yang mungkin keluarga mereka, aku juga memastikan hal itu kepada Roy, ternyata benar dugaanku, Guru itu sudah memiliki pasangan dan pasangannya adalah sepupu Roy.
Semakin hari Gadis itu terlihat dekat dengan Guru itu, tak jarang aku melihat mereka bercanda dan tertawa bersama, jujur aku marah, bisa dibilang aku sedikit cemburu melihat kedekatan mereka.
aku juga sempat melihat mereka bertemu saat pulang sekolah,Guru itu menjemputnya, mereka terlihat sangat bahagia, tapi kenapa ada yang aneh di dalam sini, aku merasa ada yang menusuk di hatiku, perasaan ini lebih sakit daripada saat Aini lebih memilih Fauzi.
saat itu aku memutuskan akan melupakannya, aku mulai membenci hatiku sendiri, bisa-bisanya hatiku berkhianat, seharusnya sejak awal aku membencinya kenapa sekarang aku semakin sulit melupakannya.
Lama aku merenung, bahkan beberapa hari aku sulit menelan makanan, bayanganya bersama laki-laki lain selalu saja menghantuiku dimana pun aku berada.
adakah yang tau, apa sebenarnya yang terjadi padaku?
saat melihatnya aku ingin sekali mengabaikannya, aku ingin sekali membencinya, tapi usahaku sia-sia, hatiku menginginkannya.
aku mendekatinya, aku ingin memberitahunya tentang Guru itu, tapi tiba-tiba aku berubah pikiran dan malah mengatakan sesuatu yang konyol, aku mengatakan Dia seperti perempuan murahan, saat itu aku tak bisa berpikiran jernih, aku benar-benar marah dan membeci sikapnya yang seperti itu, dan aku berhasil membuatnya marah padaku, Dia keras kepala sekali, kenapa tak mengerti dengan maksudku,
sepertinya Dia memang membenciku, aku merasa putus asa, tapi hanya aku yang tau betapa sakitnya hatiku saat Dia salah mengartikan maksudku.
sejak saat itu aku jadi berubah, mereka yang bilang begitu, Putra dan Fauzi mengutarakan pendapat mereka saat kami sedang berkumpul di tempat tongkrongan kami yang biasa, yaitu cafe di dekat sekolah.
ya, kebetulan hari itu adalah hari libur ujian semester.
kami memang sering bertemu di tempat itu, seperti hari ini, mereka berkali-kali bertanya apa yang terjadi padaku, saat aku akan jujur pada mereka aku melihatnya sedang bersama Guru itu, Putra dan Fauzi bahkan membicarakan Gadis itu, mereka cukup terkejut bisa bertemu dengannya bersama Guru itu, mereka ingin mendekat dan menyapa mereka, tapi aku melarang mereka dan mengajak mereka pergi saja, aku terlalu sakit hati melihat kenyataan itu.
mereka akhirnya menyadari perasaanku pada Gadis itu, bahkan aku memberitahu mereka kalau Guru itu sudah memiliki tunangan, tapi aku melarang mereka untuk memberitahu Gadis itu, aku ingin memberitahunya secara langsung, aku takut Gadis itu berpikir aku sedang membohonginya.
Berhari-hari aku sulit tidur memikirkannya, jujur entah berapa kali aku mencoba melupakan kejadian saat melihatnya di cafe, aku terus membayangkan wajahnya yang terlihat bahagia bersama laki-laki itu, perasaan seperti ini benar-benar menyiksaku, aku bahkan berpikir akan menemui Roy dan memberitahukan semua padanya tentang kelakuan tunangan sepupunya itu.
malam itu aku memang bertemu dengan Roy, kami nongkrong di tempat balap motor, aku melampiaskan semua kegelisahanku dengan ikut balap motor, aku bertanding dengan seseorang yang ternyata adalah Guru itu, Roy tak memberitahuku, aku mengetahuinya saat Guru itu membuka helmnya, aku melaju begitu cepat meninggalkannya di belakang, beberapa saat Dia dapat menyusulku, aku panas dan kembali tancap gas, aku seperti melayang di udara, rasanya semua bebanku ikut terbang bersama angin dingin yang menusuk tubuhku.
aku seperti mati rasa, tanpa sadar aku sudah mendahuluinya.
dalam pertandingan ini aku mengalahkannya,
Dia menghampiriku ternyata Dia mengenalku.
"kamu Sandy kan?"
aku menatap tajam padanya, aku benar-benar muak melihat wajahnya, kalau saja tak bersama Roy, aku akan memberi pukulan di wajahnya.
"kamu sekelas dengan NAIRA kan?"
aku ingin merobek mulutnya saat mengucapkan nama Gadis itu.
"iya Pak?"
"ternyata benar, kamu Sandy kan, kamu jarang hadir di kelas saya, kenapa?"
"Sandy memang gitu, kak. paling Dia nongkrong di kantin"
Roy menyela pembicaraan kami.
"Semester selanjutnya saya nggak akan mentolerir kamu lagi"
"Bapak pacaran dengan NAIRA?"
Dia tertegun mendengar ucapanku, begitu juga Roy.
"NAIRA itu siapa San?"
Roy mulai penasaran.
"maaf Roy, aku hanya sedang memastikan"
aku menunggu jawaban dari laki-laki pengecut yang ada di hadapanku.
"Saya menyukainya, tapi kami nggak pacaran"
"maksud kak, Jerry apa, kak Jerry selingkuh dari kak Raisa?"
"awalnya saya pikir hanya perasaan sesaat, tapi sepertinya saya benar-benar menyuka Gadis kecil itu"
"Brengsek, beraninya, kak Jerry menyakiti kak Raisa"
Roy memberi pukulan tepat di wajah laki-laki itu.
"San, pertemukan aku dengan perempuan murahan itu, ku beri Dia pelajaran"
"ini bukan salahnya, Dia tak tau apa-apa, kakak yang menyukainya, tapi sekarang Dia tak ingin berhubungan lagi dengan kakak"
"aku akan beritahu kak Raisa"
"kakak nggak perduli, sejak awal kakak memang tak ada perasaan dengan Raisa"
"Dasar bajingan kau"
Roy kembali menghadiahinya sebuah pukulan keras di wajahnya.
"pergi dari sini, atau jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan"
laki-laki itu pergi meninggalkan kami, aku dapat merasakan betapa terkejutnya Roy mendengar pengakuan Pak Jerry, aku berusaha menghiburnya namun Dia lebih memilih pulang sendiri.
jujur aku sedikit lega mendengar pengakuan Pak Jerry, ternyata Gadis itu tak sebodoh yang ku pikir, tapi apa benar Pak Jerry benar-benar menyukainya, bahkan Dia sampai rela memutuskan hubungan dengan tunangannya, bagaimana kalau Dia mengejar Gadis itu lagi?
aku benar-benar frustasi, Gadis itu memang luar biasa, pesonanya mampu membuat orang sekelas Pak Jerry jatuh cinta.
Tuhan perasaan apa ini?
aku benci mengakuinya tapi aku ingin memilikinya, karena aku sudah jatuh cinta padanya.
Musim liburan telah berlalu...
aku tak sabar ingin melihat wajahnya,
Dia terlihat murung tak seperti biasanya,
wajahnya yang seperti itu membuatku bertambah khawatir,
aku meminta agar Aini menghiburnya, untung kali ini Aini mau mendengarku, sepertinya Fauzi sudah menceritakan tentang perasaanku pada Aini dan Dia mau membantuku.
Aini juga yang menceritakan tentang siapa sebenarnya Pak Jerry pada Gadis itu, aku merasa lega sekali akhirnya Gadis itu bisa melupakan Pak Jerry.
Tapi saat aku melihat Pak Jerry mencoba mendekatinya lagi, darahku mendidih, aku berkali-kali mengatakan padanya agar jangan menjadi perempuan murahan.
murahan maksudku disini bukan seperti yang di pikirkannya, aku hanya tak ingin kepolosannya di manfaatkan oleh orang lain.
aku tau Dia marah padaku, aku juga tak ingin memaksanya untuk memperhatikanku, awalnya aku hanya ingin menyukainya dalam diam, seperti yang dilakukannya pada Ahmad, sebenarnya seperti apa sih tipe cowok yang di sukainya?
hari itu kebetulan kami pulang lebih awal, kami memutuskan akan mengunjungi rumah Aini, ternyata Gadis itu juga ikut bersama kami, jujur jantungku berdebar saat duduk bersebelahan dengannya di dalam angkutan umum, sepertinya mereka sengaja mengatur agar aku bisa duduk disampingnya, Dia begitu cuek padaku, mungkin Dia tak sadar aku duduk disampingnya, Dia hanya sibuk ngobrol dengan Aini.
bisa bersentuhan dengannya membuatku bahagia, jujur pandanganku selalu tertuju padanya, meski Dia tak menyadari itu.
kami bersenang-senang saat berada di rumah Aini, setelah itu mereka sibuk dengan pasangan masing-masing, hanya aku dan Putra yang tak memiliki pasangan, sebenarnya Putra punya, tapi pacarnya tidak satu sekolah dengan kami.
karena bingung mau ngapain, aku mengajak Putra main badmington, tapi ternyata Dia sedang tak ingin bermain, aku akan mengajak Fauzi bermain, tapi saat aku baru saja akan memanggilnya Aini melarangku, ternyata sepasang kekasih itu sedang bermanja-manja,
hanya satu orang yang tersisa yaitu Gadis sombong itu, aku sedikit ragu mengajaknya bermain bersama, namun Aini mempermudah masalahku dengan langsung menyodorkan Gadis itu padaku.
aku memperhatikannya, Dia terlihat bermalas-malasan dan tak bersemangat, aku jadi berpikir mengerjai Gadis itu lagi, aku membuatnya berlari kesana kemari mengejar bola yang ku kirim ke arahnya, sebenarnya aku tak tega melihatnya kelelahan, ternyata Dia tak bisa bermain badmington, ternyata Dia hanya bisa di cintai saja😊.
seru juga mengganggu Gadis itu, Dia terus mengomeliku,
Dia tak mau mengakui kekalahannya, bahkan menuduhku bermain curang, ada saja alasannya kalau Dia tak bisa menerima bola yang ku berikan padanya, katanya pukulanku terlalu keras, kadang Dia kesal dan bilang mau berhenti bermain, tapi sejak mengatakan itu sampai sekarang Dia masih bermain bersamaku.
tingkahnya yang seperti itu sangat menggemaskan, aku jadi ingin melihatnya lagi dan lagi.
Putra memang senang menggangguku, Dia seperti tak rela melihat kebahagiaanku, Dia malah mengajakku bertanding dan Gadis itu malah setuju lagi, aku jadi sedikit kesal.
tapi saat aku melihat Dia yang bersemangat, bersorak menyebut namaku, aku bertambah semangat mengalahkan Putra, jujur aku ingin terlihat keren di depannya, ku keluarkan semua kemampuanku jangan sampai aku kalah dari Putra.
aku sedikit bangga, Gadis itu ternyata mendukungku, kami sempat saling bertatapan dan aku melihatnya malu-malu, sikapnya yang seperti itu, aku sangat suka😍
sampai saat malam ini, aku masih membayangkan wajah Gadis itu, tiba-tiba aku merindukannya, aku sampai berpikir ingin melihatnya didalam mimpi, mungkin sekarang orang berpikir aku sudah menjadi gila, ya tergila-gila padanya.
Hari-hariku berubah setelah mengenalnya, aku menjadi lebih bersemangat, karena ada Dia.
seperti hari ini, aku ingin lebih dekat dengannya, aku meminjam buku catatannya, Dia tanpa bertanya langsung memberikan, padahal aku pikir Dia akan marah padaku, atau seperti biasa cuek padaku, jujur aku berdebar saat dekat dengannya, terkadang aku takut Dia menyadari perasaanku.
aku kesal sekali, melihat Dia yang di dekati orang lain, aku mengawasinya.
sudah berapa orang yang aku ancam agar menjauhi Gadis itu, tapi mereka tak pernah menyerah, ini membuatku menjadi panas dan sialnya Gadis itu memang selalu menanggapi mereka, kenapa Dia harus perduli dengan mereka, aku mau Dia hanya memperhatikanku.
hari ini aku sudah mengatur rencana agar bisa bersamanya, Putra aku jadikan alasan.
untung Putra mengerti maksudku, Dia mengajak kami main ke rumahnya.
awalnya aku dan Putra bermain tenis meja, sekarang Gadis itu selalu mengikutiku, karena Dia tak bisa bersama Aini, mungkin Dia segan mengganggu Aini dan Fauzi yang sedang bermesraan, mereka memang terkadang tak tau malu kalau sedang berduan, mereka pikir dunia hanya milik mereka berdua?
mungkin Gadis itu bosan, awalnya hanya menjadi suporter, sekarang Dia malah ingin menantang Putra, aku melihat usahanya, tapi Putra ini memang tak berperasaan, membuat Gadis itu tak berkutik sama sekali, Dia memang tak berbakat di bidang olah raga, apa bakatnya hanya menjadi imut saja.
aku menantangnya bermain, Dia sangat bersemangat, meski Dia tau berhadapan denganku tak sebanding tapi dimataku Dia sangat hebat, aku berpikir untuk mengalah agar Dia sedikit terhibur, akibat di kalahkan Putra tadi.
Benar saja Dia sangat senang, saat berhasil mengalahkanku, Dia bahkan menyemangatiku, agar aku harus banyak latihan, memang Dia ini selalu bahagia dan suka menasehati.
kami sedang berkumpul di dalam rumah, aku langsung mencari keberadaan Gadis itu, tiba-tiba aku cemas saat tak melihatnya dimanapun, aku mencarinya kesemua tempat, ternyata Dia sedang melamun di taman, Dia tidak kepanasan apa, duduk dibawah terik matahari?
aku bertanya, apa yang dilakukannya, Dia menjawab datar pertanyaanku,
"lihat bunga"
ada apa dengannya, Dia sedang sedih, tapi kenapa?
memikirkan Pak Jerry?
aku mengajaknya masuk, aku tak suka melihatnya seperti itu, kenapa Dia masih saja bersedih padahal aku selalu di sini.
aku memberikannya segelas air dingin, Dia meminum air itu.
beberapa menit kami hanya diam, duduk berjauhan, saling menyelami pikiran masing-masing.
aku bertanya padanya,
kenapa Dia melamun, Dia menjawab tak ada apa-apa.
aku kesal padanya, pasti Dia memikirkan Pak Jerry, apa yang membuatnya tergila-gila pada laki-laki penipu itu.
"makanya jadi perempuan jangan terlalu polos, jadi dimanfaatin, kan"
aku malah keceplosan ngomong karena kesal melihatnya terus-terusan melamun.
"maksud kamu aku murahan, seperti ucapanmu waktu itu"
Dia memang seperti itu, mudah terpancing, kalau menyangkut harga diri.
aku bertanya padanya, apa yang membuatnya tak bisa melupakan laki-laki itu.
Dia dengan polosnya mengatakan.
"apa salah kalau menyukai seseorang?"
"nggak salah, sih"
"terus kenapa kamu selalu bilang aku murahan"
"aku nggak maksud ngomong gitu, kamu salah mengerti"
aku mencoba menjelaskan.
"suka aja kamu bilang murahan, gimana kalau yang lain"
"maksudnya, kamu udah di....?"
"bukan gitu, aku cuma ngasih contoh aja, emangnya menurut kamu gimana sih yang nggak murahan itu?"
aku bingung menjawab pertanyaannya, tiba-tiba aku teringat dengan tulisan di buku hariannya yang bunyinya seperti ini:
"Cinta sejati tidak berdasarkan ciuman ataupun sentuhan hanya butuh kasih sayang dan perhatian"
Dia malah terdiam dan kemudian mengatakan aku munafik.
"apa benar seperti itu?"
tiba-tiba mendekatiku, aku melihat wajahnya mulai medekati wajahku, jujur aku merasa kepanasan, tubuhku mengeluarkan keringat, apa Dia sedang menguji imanku?
Dia sudah tidak waras, aku tak siap dengan tidakannya yang mendadak, Dia melingkarkan tangannya di pundakku, mendekatkan wajahnya, beberapa menit Dia memandang wajahku, ini pertama kalinya aku tak berdaya, kemudian Dia melihat ke arah bibirku, aku hampir tak bisa bernafas berhadapan sedekat ini dengannya, aku menarik tubuhnya sehingga bibirnya menyentuh bibirku, aku berpikir tak mau melepaskan kesempatan ini, aku takut Dia berubah pikiran.
ini pengalaman yang tak terlupakan, aku merasakan manis bibirnya yang imut itu, apa yang membuatnya seberani itu, apa Dia memang menyukaiku, kata-katanya tak sesuai dengan tindakannya, aku pikir Dia Gadis lugu, ternyata aku yang terlalu meremehkannya.
aku menyaksikan betapa cantiknya wajahnya yang memerah karena malu dengan perbuatannya itu, padahal sebenarnya akulah yang berperan besar dari kejadian itu.
mungkin Dia tak sadar karena terbawa suasana, kami menjadi canggung, dan terdiam beberapa menit,tiba-tiba Putra datang dan duduk diantara kami.
aku berusaha bersikap biasa, saat semua terlihat baik-baik saja Putra malah menjodohkan kami, mengatakan kami cocok menjadi sepasang kekasih.
suasana kembali menjadi canggung, Gadis itu malah mengatakan hal yang konyol, Dia malah menyatakan ingin menjadi pacar Putra.
Dia memang bodoh, bukannya terlihat natural Dia malah membuat Putra tertawa dengan candaannya yang tak bermutu.
aku jadi kesal padanya, padahal aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya.
aku pergi meninggalkannya.
Putra mendekatiku, bertanya apa aku marah padanya.
"kamu cemburu ya?"
Dia meledekku, bukan hanya Putra Aini dan Fauzi juga menertawakan kebodohanku.
"kalau suka kenapa nggak langsung di gas aja sih"
ucap Aini.
"aku bantu deh"
Aini ini malah meremehkanku,
"nggak perlu, aku bisa sendiri"
"dengan mengirim surat?"
Aini ini blak-blakan sekali, Dia ingin mempermalukanku di hadapan pacarnya dan Putra.
"San, kamu beraninya sama kita-kita doang, masa kalah sama Fauzi"
sepasang kekasih itu malah menunjukkan cara menembak seorang Gadis dengan benar.
Putra menggeledah isi tasku dan menemukan surat yang sudah susah payah kutulis, mereka tak tau aku sampai bergadang menulis surat itu.
Aini merebutnya dan menyimpan surat itu, mereka berani sekali menindasku, padahal biasanya aku yang menindas mereka.
mereka malah mengancamku kalau aku membalas perbuatan mereka, mereka menjadikan Gadis itu sebagai kelemahanku, mereka ingin memberitahu Gadis itu kalau aku menyukainya, kelakuan mereka selalu membuatku pusing.
sebenarnya mereka teman terbaikku, aku bahagia memiliki mereka, meski terkadang mereka menyebalkan.
sejak kejadian di rumah Putra, aku menghindarinya, jujur setiap melihatnya jantungku berdegup kencang, entah kenapa melihat wajahnya membuatku membayangkan saat Dia menciumku, entah Dia atau aku, yang jelas aku tak bisa melupakan kejadian itu.
mungkin Dia berpikir aku sengaja menghindarinya, andai Dia tau betapa kacaunya perasaanku saat ini, terasa serba salah, saat berdekatan dengannya aku gugup tapi saat jauh darinya aku rindu.
ada yang tau penyakit apa ini?
aku tak bersemangat, aku selalu ingin menyendiri, mereka bilang aku nggak asyik.
setiap kumpul dengan mereka, aku malah sering melamun dan tak pokus.
Pulang sekolah Putra dan Fauzi mengajakku ke sebuah tempat, mereka bilang tempat yang bisa mengobati penyakit gelisah karena jatuh cinta, apa maksud mereka sebenarnya?
aku ikuti saja mau mereka, ternyata mereka mengajakku bertemu dengan Gadis itu, NAIRA!
Aini dan Lidiya sedang bersamanya, ini pasti rencana mereka, aku ingin pergi mereka malah menahanku, mereka bilang jangan jadi pengecut, mereka bosan melihatku yang seperti orang bodoh dan sering benggong.
apa aku segitunya dimata mereka?
aku gugup sekali saat bersamanya, bingung mau ngomong apa, dengan bodohnya malah tanya alamat rumah, kalau Dia jawab aku senang kalau nggak di jawab juga nggak masalah, aku sedang mengalihkan perasaan gugup ini agar terlihat lebih natural.
ternyata Dia malah menjelaskan secara detail dimana alamat rumahnya,
Dia sengaja ya, mungkin Dia ingin aku datang kerumahnya?
Dia menatapku, seperti ada sesuatu yang ingin di sampaikannya, beberapa menit kami hanya diam, mungkin hanya pikiranku saja seperti itu, aku malah ingin mengajaknya pulang bersama, tapi sepertinya Dia betah berlama-lama bersamaku, tiba-tiba Dia bertanya tentang kata-kata yang aku sukai dari buku hariannya.
jujur aku bingung apa maksudnya, sepertinya Aini sudah bicara yang aneh-aneh padanya, apa sebenarnya yang mereka katakan pada Gadis ini,
mereka ingin mempermalukanku dihadapan Gadis ini, mereka pasti sudah menjelek-jelekkanku, kenapa harus bicara masalah buku harian itu lagi sih,
aku memberitahukan semua isi hatiku padanya, kata-kata yang pernah ku ucapkan saat di rumah Putra, Dia malah tertawa membuatku semakin bingung dan malu.
saat aku mengetahui kata-kata itu hanya salinan dari novel yang sering dibacanya, aku jadi bertambah malu.
aku sudah terlanjur malu, mungkin tak masalah kalau jujur padanya tentang perasaanku,
ya, aku menyatakan cinta padanya, ternyata Dia memberikan jawaban yang menggantung, jujur aku sedikit kecewa, aku menikmati hari ini, hari dimana bisa lebih dekat dengannya duduk di sampingnya, merasakan getaran yang sulit ku jelaskan, aku tak ingin berpisah darinya, ingin selamanya bersamanya, menggenggam tangannya, mendengarkan isi hatinya, aku memang terlalu memujanya, kami harus berpisah, aku tak pernah puas menatapnya, menunggunya menghilang dari pandanganku, aku mengantarnya sampai masuk kedalam rumah, tapi masih ada waktu, aku tak sabar menunggu hari esok, mungkin Dia menerimaku, atau mungkin menolakku, jujur aku penasaran, seandainya tak bisa bersama aku ingin memberikan hadiah untuknya, aku menemui Aini, menanyakan pendapatnya tentang NAIRA, aku bahagia mendengar pendapat Aini, Dia mengatakan NAIRA juga menyukaiku.
Aini memberiku beberapa saran tentang hadiah yang akan ku berikan untuk Naira, kata Aini Naira suka benda yang lucu dan imut seperti boneka, aku jadi kepikiran membelikannya sebuah boneka beruang yang lucu, malam itu aku mencari barang yang lucu dan imut sepertinya, aku sudah tak sabar menunggu hari esok, tak sabar melihat wajahnya, tak sabar melihat senyumnya.
Tuhan mungkinkah aku bisa bersamanya?
tiba-tiba semua berubah menjadi gelap, beberapa bayangan bersamanya berlahan menghilang.