Pagi ini, hujan turun dengan lebat. Sera menatap kosong langit yang terus -menerus menurunkan hujannya. Meski hujan
lebat dengan gemerinciknya, namun suara gemuruh kemeriahan pesta masih bisa terdengar olehnya.
Sera adalah seorang putri kerajaan Verohn yang hancur akibat kekalahan. Kehancuran itu hanya menyisakan dirinya bersama kepedihan. Kecantikan yang menawan membuat raja Artur pemimpin kerajaan Onyx membawanya. Sera di jadikan sebagai selir ke-11.
Raja Artur yang membawa Sera melupakan keberadaan sang wanita setelah sesampainya di istana, dia sibuk menyambut kemenangan di istananya bersama wanita-wanita cantik miliknya. Keberadaan Sera seakan tak pernah ada. Hal itu membuat Sera diabaikan oleh dayang-dayang, dan seisi istana. Bahkan perlakuan mereka amat semena. Tinggal di Kerajaan yang menghancurkan kediamannya hal yang amat menyakitkan. Sera dihina terang-terangan sebagai tawanan Kerajaan yang berhasil digulingkan. Lambat laun Sera-wanita tawanan perang dilupakan oleh orang-orang istana bahkan raja yang membawanya sendiri.
Sera hanya termenung dengan kesedihan di setiap detik hidupnya. Pesta hampir diadakan setiap hari, raja Artur adalah pribadi tamak yang menjijikkan. Tapi, memilih mati disini adalah hal konyol yang tak pernah di harapkan Sera. Dua tahun lamanya Sera terkurung di mansion tak terurus bahkan tak layak huni.
Sera mengepal jemarinya kuat, dia mulai bertekad. Di tengah hujan yang lebat, dia menerobos hujan. Di saat semua orang tengah berpesta dan hujan yang lebat dia berpikir tak akan ada yang mengetahui kepergiannya. Namun..
Sera menghentikan langkahnya, kemana dia akan pergi? terlebih saat dia berniat keluar gerbang istana pasti dijaga ketat oleh kesatria yang bertugas. Kerajaan Onyx keamanannya tak bisa diragukan dengan kesatria hebatnya. Terlebih dia juga tak memiliki tujuan. Sera berdiri dengan pikiran kalut di tengah hujan yang menerpanya.
Tak sengaja matanya beradu dengan seorang pria yang rupanya tengah mengamati dirinya, entah sejak kapan. Cukup lama mereka bertatap, kemudian pria itu mendekatinya.
"Nona apa yang tengah anda pikirkan berdiri di tengah hujan lebat ini?" tanya pria itu, sembari memayungi wanita yang tengah diterpa hujan.
Sera mendongak, menatap pria itu. Dia takut, terlebih pria itu tampaknya seorang kesatria. Itu terlihat dari seragam yang dia kenakan. Sera bergidik.
"Bahkan tubuh anda bergetar. Masuk lah nona" suruh pria itu. Tampaknya pria itu salah mengira bahwa wanita didepannya tengah kedinginan.
Sera mengabaikan ucapan pria itu dan memilih tak bergerak dari posisinya.
Pria itu menatap wanita didepannya menyelidik, dia bak penasaran dengan wanita aneh dihadapannya, pria itu tertarik dengan wanita dihadapannya tampak menawan meski tubuhnya kurus.
"Aku belum pernah melihatmu. Lagi mansion ini adalah mansion mati yang telah lama ditinggal. Jadi bisa beri tahu aku siapa kah kamu?"
Sera terdiam, tak menjawab sepatah kata pun. Dia hanya mengusap lengannya.
Pria itu memilih memberikan payungnya pada wanita dihadapannya. Namun, tak disambut. Pria itu memaksa agar wanita itu menggenggam payung pemberiannya.
"Baiklah. Kamu bisa cari aku jika perlu bantuan. Jerrick itu namaku, lalu bisa beritahu siapa namamu?"
Sera membuang muka, dengan artian dia tak berniat memberi tahu namanya.
Pria yang mengatakan namanya Jerrick tersenyum kecil. Lalu, dia membalikan badan, meninggalkan wanita yang cukup menarik baginya, dia pergi dengan menerpa hujan lebat.
Sera menggenggam erat payung yang diberikan pria itu "Jerrick" gumamnya menatap datar punggung pria itu yang kian tak terlihat lagi. Lalu Sera melempar payung itu sembarang, dia kembali ke mansion yang lebih seperti penjara. Kebaikan yang ditunjukan oleh Jerrick tak mampu menyentuh hatinya yang telah lama mati.
Esoknya pria bernama Jerrick itu kembali datang. Tapi Sera tak berniat menemuinya. Mansion tak layak ini, bahkan mudah dimasuki, ya pria itu masuk tanpa diundang.
Sera menatap pria itu datar "ada kepentingan apa tuan kesatria kemari?" tanyanya dingin.
"Sepertinya kamu tak menerima payung ku, aku melihatnya tergeletak di tanah" Jerrick tampak penasaran dengan jawabannya.
"Kembali lah tuan, jangan datang ketempat tak seharusnya kamu datangi dan jangan membantu tanpa rasa tulus. Tak semua kebaikan akan disambut baik pula" tegas Sera. Terlebih Jerrick kesatria dari kerajaan Onyx yang turut adil meluluhlantakan kerajaannya dan kebencian pada orang-orang ini tak bisa dimaafkan.
"Itu benar. Aku membawa buah untuk mu. Apa kamu mau?" Jerrick menawarkan, dia hanya kepikiran wanita yang tampak begitu kurus, terlebih tinggal ditempat semacam ini.
"Tidak"
Dahi Jerrick mengernyit "Kamu sangat waspada, tapi aku bukan orang jahat" tegasnya bahwa dia tak memiliki niatan buruk.
Sera berjalan menaiki anak tangga yang tampak usang, catnya bahkan terkelupas. Dia berhenti sejenak kemudian berkata dengan dingin "Jangan ikuti aku. Perlihatkan bahwa anda pria terhormat"
Jerrick terkejut dengan respon tajam wanita itu. Dia meletakan buah itu diatas anak tangga. Dia menatap wanita berambut hitam panjang, namun tampak kusut "setidaknya beritahu namamu" pintanya.
Ya, dia menoleh pelan "Sera. Pergilah anda sudah mengetahuinya sekarang" Sera kembali melangkah.
Jerrick tersenyum kecil, lantas meninggalkan mansion mati itu. Nama, wanita itu dia telah mengetahuinya.
Kemudian beberapa jam kemudian seorang pelayan tua masuk kedalam mansion, ya dia adalah madam Marie satu-satunya yang masih ingat memberikan makan pada Sera. Namun, dia bukanlah orang yang ramah.
Madam meletakan semangkuk bubur diatas meja kamar Sera. Setelahnya dia menatapnya tajam "Buah, siapa yang memberikan ini padamu?" tanyanya menyelidik. Ya, ketika menaiki lantai atas madam Marie menyadari di anak tangga terdapat sekeranjang kecil buah yang ditinggalkan begitu saja.
Sera tak berniat menjawab.
"Jangan memasukan sembarang orang seenaknya ditempat ini. Ingatlah asal usul mu dan jangan bertingkah yang nantinya merepotkan ku" Madam Marie melempar keranjang buah itu dari atas jendela. Menegaskan dia tak akan segan.
Dan lagi Sera hanya diam.
Hari-hari Jerrick lebih sering mengunjungi Sera. Dia tak membawa apapun hanya dirinya. Jerrick sadar bahwa Sera sangat waspada terhadap orang yang baru dia kenal.
Meski Sera abai dan tak menanggapinya, namun Jerrick tampak menikmatinya. Jerrick sangat cerewet, dia ramah, dan perhatian. Dia sering bercerita namun sedikitpun tak Sera tanggapi. Sampai Jerrick bercerita tentang dunia luar yang luas yang berhasil menarik perhatian Sera.
"Di luar apakah aman?" tanya Sera.
"Tentu selama ada aku" jawab Jerrick sedikit menggoda.
Namun, Sera tampak serius "Bisakah, bisakah kamu membantuku melihat dunia luar? Mansion ini memuakan dan aku lelah terkurung di tempat ini, dilingkungan istana ini" Sera terlihat menggebu, namun bukan semangat yang di lihat Jerrick namun kesedihan di raut wajah Sera. Memunculkan pertanyaan dibenaknya, kenapa wanita ini terkurung di tempat ini?.
"Aku berjanji" jawab Jerrick.
Senyum yang belum pernah terlihat, terangkat di sudut bibir Sera. Jerrick terkesima dengan senyum cantik wanita didepannya.
Jerrick tak berniat menanyakan apapun mengenai mengapa Sera terkurung. Dia tau tak akan mendapat jawaban.
Jerrick menemui Madam Marie, dia telah mengamati mansion mati cukup lama dan melihat siapa saja orang yang datang dan hanya Madam Marie.
Madam Marie cukup terkejut atas kedatangan Jerrick di tempat nya "Kesatria Jerrick ada keperluan apa anda datang ketempat saya?" tanya Madam Maria.
"Ah, saya menemui seorang wanita yang tinggal di mansion mati. Saya penasaran. Bisakah beritahu siapa dia?"
Sekarang Madam Marie mengerti atas perubahan sikap Sera yang berseri akhir-akhir ini. Dia juga dengan cepat sadar bahwa keranjang berisi buah yang dia buang adalah pemberian Jerrick pada Sera.
Madam Marie menatap tajam Jerrick "untuk apa anda penasaran pada wanita itu?"
"Tidak ada yang salah dari pria yang tertarik pada wanita" jawabnya sembari terkekeh.
"Tidak. Anda tidak bisa menyukai wanita itu, dia Sera-selir ke 11 yang mulia raja. Putri yang dibawa dari kerajaan Verohn. Dia selir terlupakan yang bahkan tak pernah ditiduri oleh yang mulia raja. Dan dia wanita rendah yang statusnya dibawah pelayan" jelas Madam Marie, menegaskan meski Sera terlupakan namun dia masih tawanan sang raja.
Setelah mengetahui segalanya, Jerrick tak berkata. Pada akhirnya dia mengetahui Sera adalah putri dari kerjaan Verohn, dimana dirinya turut adil dalam kehancuran tempat tinggal wanita itu. Sekarang, Jerrick menyesalinya, wanita ini hancur karena keterlibatanya. Namun, saat itu dia hanya mengikuti perintah sebagai kesatria sang raja.
Seperti janjinya, Jerrick membawa Sera keluar dan dengan mudah dibawanya, terlebih tak ada satupun kesatria yang menyadari bahwa Sera adalah selir terlupakan sang raja. Terlebih Sera sangat kurus tak akan dikenali, terlebih tak mungkin orang-orang berpikir Sera dengan kondisi nya sekarang menjadi salah satu wanita cantik sang raja. Jerrick beralibi bahwa dia membawa seorang pelayan untuk mengambil bahan makanan atas perintah Raja.
Saat menginjakan kaki diluar istana, Sera tersenyum begitu pilu. Ya, lama sekali dia tak merasakan kebebasan. Jerrick yang merasa turut mengambil kebebasan Sera merasa semakin bersalah.
Jerrick membawa Sera ke pasar, diluar dugaan Sera tak menolak dia terlihat antusias, sejenak melupakan kesedihannya.
Jerrick sibuk mengenalkan beraneka manisan yang belum pernah Sera coba. Saat memakannya Sera tak percaya, itu cocok di lidahnya. Dan bahkan Jerrick membawa Sera di sebuah butik, agar Sera bisa menganti baju lusuhnya. Mungkin hal kecil semacam ini yang bisa dia berikan atas kesedihan Sera kehilangan segalanya.
Namun, Sera menolak "Tidak kamu tidak perlu berbuat sejauh ini pada ku. Aku berterima kasih, meski aku bersikap dingin namun kamu masih berbaik hati. Itu sudah cukup" ucap Sera. Sera tak berniat berlebihan menikmati kebaikan Jerrick. Dia mendekati nya hanya ingin pergi keluar dan melarikan diri dengan aman.
Namun, seorang kesatria penjaga tadi rupanya ada ditempat yang sama. Dia menyapa Jerrick "Jerrick cepatlah kembali dan bawa bahan makanan bersama pelayan itu" suruhnya.
Mau tak mau Sera membatalkan niatnya dan pada akhirnya kembali ke istana menyesakan itu.
Sera terus menunggu momen keluar dari istana ini lagi. Namun, tak kunjung terjadi. Jerrick tampaknya cukup sibuk akhir-akhir ini, dia hanya mengunjungi Sera sebentar. Dan tentunya setiap dia datang selalu membawa buah tangan, Sera tak menolaknya dan menikmati makanan apapun tanpa waspada diracuni. Dia cukup percaya pada Jerrick atas kebaikan yang ditunjukkan.
Pertemuannya dengan Jerrick tak sesering dan selama sebelumnya. Sera merasa sepi, tampaknya dia mulai nyaman dengan keberadaan Jerrick disisinya. Terlebih atas perhatian Jerrick selama ini berat badan Sera kembali ideal, wajahnya berseri, dia semakin menawan.
Sampai di suatu waktu Jerrick kembali datang dan berniat membawa Sera keluar menikmati kebebasan. Disini terlihat tatapan mereka yang intens, tatapan dalam penuh cinta. Ya, dua orang yang belum pernah tau mengenal cinta dan tengah kasmaran.
Hari-hari mereka lebih indah, tertawa, dan semakin dekat. Sera pun melupakan rencananya melarikan diri, bahkan kesakitannya sedikit terlupakan. Dia tak mampu melawan perasaan yang semakin menggebu. Dia tak mengerti sebenarnya, namun dia menyukai setiap detik kebersamaan nya dengan Jerrick.
Lalu suatu ketika mereka terjebak hujan dan memilih meneduh di sebuah tempat ibadah. Cukup lama hening, lalu Jerrick menggenggam tangan Sera.
"Aku mengetahui tentang mu, ceritamu dan bagaimana kamu terkurung ditempat mansion menyedihkan itu dan aku minta maaf" ucap Jerrick dengan tulus, suaranya bahkan menahan tangis dia sungguh tulus atas segala ucapannya itu.
"Berapa lama kamu tahu?" tanya Sera.
Namun, Jerrick hanya menatapnya. Sera menyimpulkan bahwa Jerrick mengetahuinya sudah sejak lama.
Sera tampak kaget, dia hendak menarik tangannya namun dia tak berhasil Jerrick menggenggam tangannya kuat. Jerrick menatap dalam Sera "Aku turut adil di sana, apakah kamu bisa memaafkan pria buruk ini?"
Air mata Sera menetes, dia seketika ingat bagaimana dia hancur atas kehilangan hal-hal berharga. Tapi, sekarang ini dia tau bahwa Jerrick tidaklah seburuk itu. Bagaimana pun Jerrick mengobati lukanya, disaat dia tahu bahwa dirinya tak menguntungkan.
Jerrick mengusap air mata yang menetes di pipi wanita yang dia kagumi. Sera menggenggam kedua tangan Jerrick yang menyentuh pipinya "Ya, aku membenci orang-orang yang menghancurkan rumahku amat sangat" gumamnya. Mereka berdua menatap dengan air mata yang menetes "tapi terimakasih" lirih Sera.
Lalu Jerrick menempelkan dahinya pada Sera, dan tidak ditolak oleh Sera. Jerrick berkata lembut "aku mencintaimu"
Sera mengangguk-angguk pelan. Lalu mereka berdua saling mengecup bibir. Cinta memang rumit, pada siapa,dan tanpa diduga menjamah hati dan membuat kegelisahan. Selang beberapa detik, seorang pendeta masuk. Dan tanpa pikir panjang mereka melangsungkan pernikahan di sana tanpa memikirkan konsekuensinya.
Jerrick Carlos dia adalah kesatria Earl tingkat ketiga. Dia berada di titik itu atas usaha dan kontribusinya selama perang. Dia adalah yatim piatu dari keluarga biasa saja. Dan sekarang setelah memutuskan menikahi Sera dia memilih melepaskan segala yang pernah dia capai dan melarikan diri ke kerajaan tetangga. Dia hanya berharap ingin memberikan kelimpahan cinta pada Sera-wanitanya.
Awalnya Sera tak ingin menjadi batu sandungan bagi Jerrick, meninggalkan segala pencapaiannya hanya untuk bersama dirinya. Tapi, Jerrick menyakinkan Sera bahwa dia melakukan hal itu atas keinginannya sendiri. Jerrick pula memilih meninggalkan kerajaan tempatnya besar agar Sera tak terbayang tempat mengerikan itu.
Kehidupan mereka setelah melarikan sangat damai. Hari-hari dilalui dengan penuh cinta. Hingga kabar bahwa Sera tengah mengandung. Kebahagian mereka semakin berlipat, terlebih Jerrick adalah pria pekerja keras dan bertanggung jawab. Kehamilan Sera menuju 9 bulan, sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. Mereka tak sabaran menantikan buah cinta mereka.
Namun, semuanya dengan cepat sirna. Raja Artur tiba-tiba mengingat Sera selir yang tak pernah dia anggap. Raja ingin bertemu dengannya kembali, dia ingin bermain-main. Adanya Sera adalah bentuk kemenangannya menggulingkan kerajaan Verohn. Namun, saat mengetahui Sera menghilang Raja Artur murka. Dia memerintahkan seluruh kesatria nya mencari wanita itu ke sepanjang penjuru. Sampai mereka berhasil ditemukan dan dibawa paksa kembali ke kerajaan Onyx.
Jerrick tak mampu melawan, dia hanya sendiri dan tak memiliki kekuatan. Saat tau yang membawa Sera adalah Jerrick terlebih dia menikahi Selir ke-11 milik nya. Raja Artur memerintahkan untuk menyiksanya dipenjara bawah tanah. Jerrick dan Sera berada dipenjara berbeda.
Sera bersedih bukan karena dirinya dipenjara namun karena Jerrick terkena masalah akibat dirinya. Akibat egois akan perasaan cinta.
Raja Artur menatap Sera yang tengah bersedih "Berani sekali wanita rendah ini bermain dibelakang ku. Sungguh menjijikan" teriaknya lantang.
Sera tak menjawab apapun yang dikatakan Raja Artur, dia lebih tak peduli yang dipikirkannya sekarang adalah suaminya.
Melihat respon Sera raja Artur murka, dia mencengkeram kuat dagu Sera "kamu cantik, sayang sekali aku belum sempat menyentuhmu. Namun, kamu malah memberikan ke pria lain. Sama-sama hina" tekan sang Raja, dia menepis wajah Sera kasar.
Sera menatap pria berperawakan keras, dia amat jijik pada pria dihadapannya ini "Dia suami saya yang mulia, pria yang menikahi saya dengan sah. Dia berhak atas saya" Sera meninggikan suaranya.
Raja Artur yang melihat Sera berontak semakin marah, dia menampar kerah pipi Sera sampai berdarah. Setelahnya dia menunjuk kearah Sera "Siapapun yang berani melawan pada akhirnya mati di hadapanku" ancamnya. Raja Artur merasa terhina, atas tindakan Sera yang menikah dengan kesatria yang berada ditingkat paling rendah darinya. Raja Artur pergi meninggalkan Sera dengan emosi memuncak.
Hal yang melegakan Raja Artur tak menyadari bahwa Sera tengah hamil, perut Sera tak menonjol seperti kebanyakan Ibu hamil lainnya, meski dia tengah hamil tua.
Tiba-tiba Sera diseret paksa, tangannya dirantai, bak penjahat yang tak terampuni, diluar amat ramai. Orang-orang menyoraki nya sebagai wanita pendosa yang menyelingkuhi yang mulia. Tapi, Sera tak peduli. Sejak awal suami yang patut dia hormati adalah Jerrick. Raja Artur tak pernah menikahinya dan hanya mengatakan dirinya sebagai selir, dimata Sera itu tidak sah dan tak akan pernah.
Sera membelalak kaget, tergantung seorang pria yang sudah tak bernyawa. Itu Jerrick suaminya. Sera bahkan tak tau bahwa Jerrick dihukum gantung. Air mata Sera menetes deras, dia memaksa agar kesatria yang menjaganya melepaskan dirinya. Sera sampai memohon agar para kesatria penjaga membiarkannya pergi. Tak tega melihat Sera seperti itu, kesatria itu melepaskan Sera. Lalu kesatria lainnya pun membantu menurunkan tubuh Jerrick atas izin yang mulia raja.
Dari singgasananya sang raja hanya tersenyum puas, menyaksikan kehancuran wanita yang berani meninggikan suaranya.
Sera berlarian, air matanya menetes deras. Sesekali jemarinya mengusap air mata yang tak henti menetes. Sera meletakan pelan kepala sang suami diatas pahanya, dia mengelus rambut sang suami.
Dia berusaha tegar, sembari menatap sang suami pilu "maaf" lirihnya. Sera mencium kening sang suami dengan air mata yang tak hentinya menetes. Lalu genggaman tangan Jerrick terbuka, terdapat sebuah kertas "Jangan menyalahkan dirimu. Faktanya aku selalu mencintaimu~Sera sayangku"
Sera semakin menangis histeris, dia kehilangan suami yang sangat dicintai. Pria yang merelakan apapun demi dirinya. Sera mengepal kuat jemarinya, sembari menatap Raja Artur tajam.
Kemudian atas perintah Raja, kesatria kembali menyeret sera ke penjaranya. Kesedihan mendalam menyelimuti Sera. Lalu, ditengah malam tiba-tiba saja dia merasa kontraksi. Tubuhnya terasa tak nyaman, dia tahu bayinya akan lahir. Namun, di kondisi ini bayinya juga akan ikut mati. Sera menggigit kain bajunya, berusaha agar suaranya tak terdengar selama dia melahirkan bayinya. Dengan usahanya, dia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki. Sera memeluk bayinya cepat, dia tak menangis seperti bayi kebanyakan. Saat Sera menatapnya, bayinya ikut menatapnya dengan mata berkedip. Sera tersenyum dengan air mata yang kembali menetes "Jerrick anak kita telah lahir, dia anak laki-laki. Kamu pasti senang, kamu berkata jika anak kita lahir kamu akan bermain bersamanya setiap hari" Sera terisak, mengingat bahwa hal indah seperti itu tak akan terjadi.
"Ya ampun.."
Sera menoleh, Madam Marie tampak terkejut melihat Sera melahirkan bayi, terlebih tali pusarnya masih terpasang dengan bayi yang penuh darah.
Sera menatap madam Marie, dia memohon "Madam bisakah rahasiakan ini. Aku mohon, bantu aku madam" ucap Sera putus asa.
Namun, Madam Marie berbalik dan meninggalkannya. Di sana Sera semakin takut jika Madam memberi tahu orang-orang. Tapi, beberapa detik kemudian Madam datang membawa baskom berisi air juga kain. Bahkan madam memiliki kunci sel. Madam rupanya membujuk kesatria penjaga. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah pelayan yang telah lama melayani Sera di mansion mati. Dia hanya ingin membantu membersihkan luka Sera, sebelum dia mendapatkan hukuman berat. Tak diduga kesatria penjaga memberikan kunci dengan mudah. Sebenarnya kesatria itu iba pada Sera terlebih Jerrick adalah rekannya dan banyak bercerita mengenai seorang wanita cantik yang dia kagumi, sebelum akhirnya menghilang. Sekarang kesatria itu tau siapa wanitanya. Namun, kesatria itu hanya bisa membantu sedikit, dia tak berani lebih, dia takut bernasib sama. Lalu selama mengunjungi Sera, madam meminta agar kesatria itu mengawasi jika ada yang datang.
Madam Marie membantu membersihkan paska persalinan Sera. Madam datang memang berniat mengunjungi Sera.
Madam Marie meminta sang bayi, Sera memberikannya. Di sana Madam memandikannya "Dia tampan" kata Madam, raut wajahnya tampak sedih.
"Terimakasih" ucap Sera, dia hanya bisa berucap kata itu.
Lalu air mata Madam menetes "kasihan sekali nasib mu nak, ditawan negeri orang. Bahkan kamu tak dibiarkan merasakan cinta lama" Madam sebenarnya sangat menyayangi Sera. Dia menganggap nya sebagai putrinya. Disaat orang-orang abai pada Sera dia tetap tinggal di sisi Sera. Dia tak bisa memberikan lebih pada Sera, Madam Marie hanya seorang pelayan tingkat rendah. Madam bukannya tidak ramah, dia tak ingin terlihat baik bagi Sera dan membuat Sera terlena. Madam ingin Sera waspada terlebih dinegeri yang menawanya. Saat Sera melarikan diri bersama Jerrick Madam mengetahui nya, namun memilih diam dan berharap mereka akan bahagia. Hanya saja takdir yang sungguh miris, Madam tak menyangka pada akhirnya mereka tetap ditemukan dan berakhir memilukan.
Sera memohon pada Madam untuk menjaga putranya. Sera tahu dia bukan orang baik dan hanya bisa menyusahkan Madam. Madam memeluk Sera, dia akan membantu menyembunyikan dan menjaga putranya. Sebelum benar-benar pergi, Sera mengendong putranya untuk terakhir kali "Maafkan Ibu. Tapi Ayah dan Ibu sangat mencintaimu" Sera mengecup pipi putranya, saat itu lah untuk pertama kalinya putranya menangis. Segera Sera menenangkan nya dengan memberi asi. Setelah sang putra tertidur tenang, Sera memberikannya pada Madam.
Perpisahan yang amat berat. Namun, demi keselamatan Sera menguatkan diri. Madam keluar dari penjara dengan hati-hati membawa bayi laki-laki yang baru dilahirkan itu dengan sembunyi-sembunyi.
Lalu esoknya, Sera diseret kembali. Sera yang baru melahirkan tampak lemah. Sera tak tau dia akan dikejutkan dengan apa.
Ditengah lapangan dengan di tonton oleh warga. Sera diikat di sebuah kayu. Lalu panah melesat tepat di jantungnya, darah keluar dari mulutnya. Sera menatap sang Raja yang tampak puas "Suatu saat dirimu akan mati lebih mengenaskan dan keturunanmu tak akan bisa membela diri. Mereka akan dipermalukan lebih, karena apa yang aku lakukan dan suami ku Jerrick bukanlah dosa yang hina... " disisa tenaganya Sera berkata lantang. Kemudian dia pergi meninggalkan dunia dengan lega, putranya telah aman.
Raja Artur berteriak lantang "lihatlah bagi penghianat akan mati mengenaskan" teriak sang raja lantang, lalu diberi sorakan puas oleh warga. Disini raja Artur sangat puas, dia menikmati setiap detik permainannya.
Faktanya yang berkuasa akan selalu menginjak-injak orang yang lemah. Meski si lemah benar, namun pendukung penguasa akan menutup mata dan membenarkan segala yang di lakukan si penguasa.