Selamat membaca, semoga berkesan ☺️
#Sebenarnya tidak ada cobaan yang begitu berat karena Tuhan hanya memberikan cobaan pada mereka yang kuat.# -Anonim-
✨✨✨✨
“Jika mereka meninggal, buang saja mereka ke hutan!”
Malam berkabut di pertengahan tahun yang kelam. Kala itu perang wilayah terjadi tak kala para penguasa dibutakan oleh ambisi masing-masing. Berlari dan bersembunyi, untuk apa dilakukan ketika derap langkah itu tertembak oleh butir peluru panas begitu mematikan.
Para warga berlarian ketika rumah mereka terbakar sang raja api yang menyala merah membara. Tidak ada udara segar tersisa yang dapat hirup, hanya beberapa sudut ruangan yang dapat menjadi jalur lain untuk mereka segera melarikan diri dari bencana ini.
Tapi, kemana kaki ini harus terus berlari? Di mana ayah, ibu, kakak, atau adikku? Apakah mereka baik-baik saja? Haruskah aku kembali?
Pertanyaan yang timbul dari seorang remaja berusia delapan belas tahun bernama Tobias. Terpaksa terpisah dari keluarganya di saat gelombang warga yang tengah sibuk melarikan diri, Tobias yang kala itu terlelap tertidur, mendapati dirinya terbangun dalam gumpalan asap hitam di atas rumahnya, penuh sesak, dengan suhu udara yang panas.
Memecahkan jendela kaca, Tobias melompat keluar dengan peluh yang menitik. Langkahnya semakin kencang menuju perbatasan kota dengan tidak memakai alas kaki atau pakaian yang layak untuk berpergian. Sungguh nista sekali penampilan Tobias saat ini yang hanya menggunakan celana boxer pendek dengan kaus dalam putih tak berlengan.
Kota di pinggiran bukit yang indah itu pun berubah menjadi lautan api dengan suara bergema membelah langit malam. Jeritan mengerikan begitu memilukan pendengarn Tobias di saat berdiri tertegun pada sebuah mobil tak bertuan di pinggir jalan utama. Perhatiannya tertuju pada anggota keluarganya yang sedikit pun tidak terlihat batang hidungnya.
“Aa-apa yang terjadi? ... Kenapa?! APA YANG TERJADI!!”
Teriakan kesal Tobias pun tak kalah mengalahkan keramaian malam di mana teriakan lainnya yang meminta tolong pun masih terdengar jelas tak jauh darinya. Tidak lagi ada kedamaian, Tobias melihat truk-truk besar datang dengan para pria kokoh berseragam membawa senjata di tangannya, terlihat begitu menyeramkan hingga membuat remaja tersebut bungkam tak dapat berkata.
Dengan kasar, perlakuan tidak manusiawi yang menarik atau mendorong para warga pun begitu membuat Tobias merana tak kala menatap kedua saudarinya yang menangis saat tertangkap dan menaiki truk besar itu, namun tidak terlihat sedikit pun di mana perginya kedua orang tuanya.
Tobias melangkah hingga kejadian tak terduga terpaksa ia saksikan di mana butir peluru panas itu mendarat tepat mengenai tubuh kedua orang tuanya saat mencoba melakukan perlawanan. Kemarahan yang tak terbendung pun menguasai Tobias yang kala itu sedang dalam pelatihan ujian masuk tentara perdamaian negara.
Tobias dengan gagah melangkahkan kakinya pada medan perang yang akhirnya mulai melakukan agresi penyerangan. Dengan penuh luluh lantah, Tobias berjalan kembali menuju rumahnya yang kala ini hancur habis tak tersisa. Hitam pekat, itulah yang Tobias lihat sejauh mata memandang.
Batin pun menjerit akan kehilangan yang harus dia saksikan di depan mata, begitu dengan mudahnya nyawa berakhir begitu saja. Ambisi yang membutakan hati dan pikiran, merubah akal pikiran menjadi tidak manusiawi tak kala hewan buas sekali pun memilih mangsanya.
Tobias bergabung bersama puluhan anak muda atau prajurit yang tersisa dengan menyerukan keadilan. Bukan hanya seragam dan senjata api yang menemaninya, Tobias pun memilih medan tempur yang tidak diinginkan oleh tentara lainnya, tak kala jalur bukit begitu terjal dan berbahaya.
Hanya dengan sepuluh pemuda lainnya, gerakan menyelimuti hutan bukit berlangsung dramatis dengan dentuman peledak tak tentunya tidak luput dari hujaman butiran peluru, namun sedikit pun tidak menurunkan semangat juang Tobias.
Satu per satu rekan seperjuangannya gugur hingga hanya tersisa empat orang yang bersembunyi dari balik bukit. Dengan sebuah peledak yang berhasil melumpuhkan truk-truk besar itu, Tobias berhasil menyelamatkan kedua saudarinya dan beberapa warga lainnya dengan langsung membawa mereka ke titik aman untuk mendapatkan perlindungan.
Kembali melangkah dengan tegap, tersadar akan kesanggupan diri yang menjunjung tinggi harkat dan martabat. Apa kau hanya akan berdiam diri, memangku tangan di saat panggilan jiwa datang untuk bergema dengan lantang?
Tentu tidak.
-Selesai-
✨✨✨✨
Hay Kak,
Terima kasih sudah mau membaca...
Aku Fidia K.R, Penulis yang masih belajar menulis.
Sebagai anak sulung, fid suka mempelajari sesuatu terlebih dahulu, meski terkadang jadi bikin ribet diri sendiri. Last, 3 point yang selalu fid ingat, Happy life, positive vibes, and joyful. Menulis bagai wadah buat fid, yang bisa menampung semua rasa & pikiran.✌️😁
Dari itu, cerpen ini sengaja Fid tulis merupakan hasil tantangan dari author @HK. Dengan challenge MENULIS CERPEN BEBAS - RUANG AUTHOR.