Selamat membaca... Semoga berkesan ☺️
#Dunia tak lagi sama tak selamanya memihak kita. Di saat kita mau berusaha, di situlah kebahagiaan akan indah pada waktunya.# -Anonim-
✨✨✨✨
Tidak pernah terpikir bahwa garis hidup memiliki cerita memilukan hingga akhir menutup usia. Vonis dari sebuah penyakit, bagai mematikan semangat untuk berjuang hidup dikala diri mencoba untuk tetap terus berucap syukur atas anugerah yang diberikan tuhan.
Sejauh mata memandang pada hamparan tanah hijau berbau khas rumput pagi yang masih terlihat basah karena embun, mereka terlihat begitu menikmati waktu bersama bersenda gurau, tertawa lepas, bahkan yang sangat ingin kulakukan yaitu ingin berlari kencang seperti mereka.
Celebral Palsy, itulah yang kedua orang tuaku katakan ketika aku mulai mengerti akan kondisi tubuhku yang tidak dapat bergerak sesuai dengan kemampuan atau yang kuinginkan pada saat itu. Entah karena alasan apa, di usia dini menginjak empat tahun, penyakit ini datang bagai vonis mati.
Kerusakan otak pada penderita cerebral palsy bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan. Namun, aku melakukan perawatan yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan fungsi saraf yang mengatur pergerakan otot tubuh. Penyakit ini juga tidak akan bertambah buruk, tetapi beberapa gejalanya dapat berubah seiring waktu.
Waktu yang terus melaju, hari merubah minggu, minggu merubah bulan. Aku semakin memerlukan alat bantu hanya untuk melakukan aktivitas yang biasa kulakukan. Satu hal yang kutahu, aku tidak akan bisa berjalan normal sehingga memerlukan perawatan seumur hidupku.
Seingat dari sepenggal kenangan yang bisa terlintas jelas, suatu waktu disaat usiaku menginjak 6 tahun, pengdengaranku sunyi, penglihatanku buram, dan kemampuan bicaraku mulai menghilang tak kala hanya bisa menganggukkan atau menggelengkan kepala disaat aku suka atau tidak suka.
Beruntung kedua orang tuaku begitu menyayangiku meski aku adalah anak cacat dari kedua saudara saudariku yang sudah lahir lebih dahulu. Mereka begitu sehat dan aktif bermain, hingga terkadang air mataku menitik tak tertahan berharap keajaiban akan terjadi ketika mama mengajak kami bermain di halaman bersama-sama.
Papa pun bekerja banting tulang tak kenal waktu karena biaya pengobatan serta terapi yang harus rutin ku lakukan bukanlah dalam jumlah nominal yang kecil. Bahkan rumah besar yang kami miliki sebelumnya terpaksa mereka jual berganti menjadi sebuah rumah biasa di sudut kota yang tentunya menjauh dari pusat keramaian.
“MAMA! LANI BUANG AIR KECIL LAGI DI CELANA! LANTAI KOTOR, MA!”
“MAMA CEPAT KE SINI! LANI KEJANG-KEJANG LAGI MA!”
Keluhan yang selalu kudengar tak kala kedua kakakku pun berlari mencoba membantu mama untuk mengurusku. Diusiaku yang kala itu berusia sembilan tahun, berat badanku hanya setengah dari yang seharusnya anak-anak sehat, tulang kering yang terlihat begitu menakutkan bagiku, namun mereka sedikit pun tidak merasa risih karenanya saat menolongku.
Tuhan, apakah kau mendengar doaku di setiap penghujung malam? Apa kau mendengar ketika air mata ini menitik hingga bantal yang menumpu pun basah karenanya. Rambut indah yang ku impikan pun bahkan sampai tercukur habis hingga kini aku terlihat seperti anak laki-laki.
“Lani, kau adalah gadis kebanggaan Mama dan Papa! Jangan sedikit pun patah semangat untuk terus bersama kami, karena ... kau adalah harta berharga yang tuhan berikan.”
Itulah kata-kata yang selalu diucapkan oleh kedua orang terkasih dengan kedua mata yang berkaca-kaca menahan tangisnya. Tak lupa kedua kakak yang selalu mengecup kening atau memelukku pun benar-benar menjadi penyemangat bagiku untuk terus berjuang hidup.
Suntikan yang selalu diberikan setiap tiga bulan, terapi bicara, okupasi, bahkan usaha terakhir yang mereka lakukan di saat usiaku menginjak remaja adalah melakukan operasi ortopedi yang bertujuan untuk mengembalikan tulang dan sendi ke posisi yang benar.
Meski terkadang penyakit ini kambuh dengan kembali membuat sudut miring pada bibirku, atau kursi roda yang akan selalu menemaniku, tangan ini harus selalu aku upayakan untuk bergerak normal mencoba untuk membuat goresan garis, lengkung, dari sebuah cat warna yang indah.
Mempelajari seni dari seorang kakak yang mengambil jurusan seni, aku begitu serius mendengarkannya berbicara atau memperlihatkan buku dan penjelasan lainnya hingga tanpa sadar tangan ini melukis sebuah bayang yang indah dan dapat di jual untuk menghasilkan sedikit uang.
Tangisan, ketidakberdayaan ini pun aku ubah menjadi penyemangat. Tidak lagi aku meratap dengan tangisan sendu memilukan meski di saat penyakitku kambuh kembali, aku hanya bisa terdiam dalam kesunyian dan kegelapan selama beberapa waktu.
Tidak untukku, tidak untukmu. Semua yang terjadi memiliki arti hidupnya masing-masing.
-Selesai-
✨✨✨✨
Hay Kak,
Terima kasih sudah mau membaca...
Aku Fidia K.R, Penulis yang masih belajar menulis.
Sebagai anak sulung, fid suka mempelajari sesuatu terlebih dahulu, meski terkadang jadi bikin ribet diri sendiri. Last, 3 point yang selalu fid ingat, Happy life, positive vibes, and joyful. Menulis bagai wadah buat fid, yang bisa menampung semua rasa & pikiran.✌️😁
Dari itu, cerpen ini sengaja Fid tulis merupakan hasil tantangan dari author @HK. Dengan challenge MENULIS CERPEN BEBAS - RUANG AUTHOR.