Uhm..bukankah aku sudah mati? Kenapa aku masih merasakan hiruk-pikuk kehidupan? Apa ini alam baka? Bukan, ini masih dunia manusia. Kalau begitu...apa yang terjadi padaku? -Claure
---
"Siapa kau?!" pekik Claure di dalam gelapnya kamar yang dia tempati kepada seorang lelaki. Claure melihat lelaki tersebut hanya menatap dingin wajahnya.
"Ku tanya sekali lagi, siapa dan ada gerangan apa kau kemari?!"
Gadis yang biasa dipanggil Claure itu melempar sebuah bantal pada lelaki yang ada di depannya. Hal mengejutkan yang membuat kedua mata Claure terbelalak kaget hingga dia susah meneguk air ludahnya sendiri yaitu bantal yang dia lempar menembus tubuh pria itu.
"Reinkarnasi," satu kata keluar dan terucap dari bibir pria itu. Tunggu 'reinkarnasi'? Apa yang dia bicarakan? Mana ada hal yang seperti itu di dunia ini. Claure terkekeh kecil akibat pemikiran liar yang spontan merasuki otaknya.
"Hello, apa kau terlalu sering membaca novel supranatural? Udah minum Aqua belum?" Claure turun dari kasur yang dia tempati. Dia merasakan seluruh tubuhnya sangat ringan seakan suatu saat dapat terhempas begitu saja ke udara.
"Kau sudah mati. Tyvonnia Claure," pria tadi masih menatap dingin Claure setiap perkataan yang dia lanturkan sangat tidak jelas menurut otak dan pikiran Claure.
"Ma..mati? Mustahil jadi ini di.." antara syok dan terkejut ketika Claure menatap sekelilingnya dia hanya melihat beberapa jasad yang sudah tidak bertuan. Seketika dia terduduk karena tidak percaya terhadap apa yang dilihat oleh kedua bola matanya.
"Mereka semua sudah aku bawa kepada Tuhan, tetapi kau tidak akan ku bawa kesana," pria tadi masih menatap Claure. Setelah menatap Claure lebih dalam dia merasakan suatu perasaan yang tidak seharusnya makhluk seperti dirinya miliki.
"Ka..kamu siapa?" Claure yang masih belum paham dengan situasi yang sedang terjadi hanya bisa terduduk dan terpaku pada posisinya saat ini. Tubuhnya gemetar hebat. Apalagi dia baru saja menyadari kalau ada sebuah sabit yang cukup besar sedang bersandar pada dinding ruangan itu.
"Hm, aku malaikat maut yang bertugas mengantar nyawa manusia ketika ajalnya tiba. Tetapi untuk beberapa manusia akan diberi kesempatan agar bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dia perbuat selama hidupnya dahulu. Dan itu disebut Reinkarnasi. Intinya, Tuhan memberikan kamu kesempatan untuk dapat kembali hidup," pria yang menyebut dirinya malaikat itu hanya berkata tanpa menunjukkan ekspresi wajahnya.
"Ka..kalau kamu mengatakan aku sudah mati, ba..bagaimana bisa aku menyentuh bantal tadi?" ujar Claure sambil menatap lelaki itu horor.
"Kau belum sadar kalau dirimu sudah tiada,"
"Apa untuk kembali hidup ada syarat?"kata Claure setelah dia mulai tenang.
Setelah sudah mulai paham dan terbiasa dengan situasi nya, Claure berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Malaikat itu.
"Kau hanya perlu mentraktir aku mie ayam dunia manusia, jus naga dunia manusia, pizza dunia manusia, terus uhm.." Malaikat itu tampak berpikir sejenak walau ekspresi nya masih kelihatan datar
"Tunggu-tunggu, ini aku direinkarnasiin untuk menjadi manusia yang lebih baik atau malah disuruh jadi babunya malaikat sih?! Itu juga semua makanan yang kamu sebutin hanya ada di dunia manusia mana ada di dunia lain. Emang di dunia malaikat ada hal seperti itu atau di dunia lain yang entah-berantah juga ada?" Claure melipat kedua tangannya di depan dadanya dan mengembuskan nafas kesalnya.
"Ya maap, tadi sebelum kesini aku ngelewatin pasar dulu jadi mungkin bau-bau wangi makanan di perjalanan masih kebayang di pikiranku," lelaki yang menyebut dirinya malaikat itu hanya menggaruk tengkuk lehernya yang sebenarnya tidak gatal.
Claure menggelengkan kepalanya menandakan dia kesal. Ga disangka olehnya sosok malaikat yang tadi nya dingin tak berekspresi bisa semenyebalkan ini.
"Kalau untuk masalah jenis makanan itu sebenarnya di kerajaan si rakus itu ada kok," malaikat tadi bicara perlahan dan membuat Claure tersentak.
"Hah? Apa yang kamu katakan?"seru Claure karna tidak terlalu mendengar apa yang dikatakan malaikat itu.
"Tidak kok. Uhm, mhm kalau syarat ketika kamu sudah bereinkarnasi kamu harus melakukan banyak tindakan kebaikan karna waktu mu hanya 2 Minggu,"
"Jadi aku bisa menemui orangtua ku?" mata Claure mulai berbinar, dia terpikir kan bagaimana nasib orangtuanya setelah tau kalau dia sudah tiada. Sedih? Tentu saja.
"Tidak, aku tidak bisa memberikan izin untuk itu,"
"Kenapa?"
"Karna aku akan mengambil ingatanmu baik ingatan sebelum kamu mati hingga ingatanmu setelah mati. Lebih tepatnya ingatan setelah dirimu bertemu diriku seperti saat ini,"
Claure sedikit terperanjat dengan penuturan malaikat itu. Kalau begitu aku akan melupakan semua hal yang telah ayah dan bunda berikan kepadaku, pikir Claure.
"Ya sudah lah apa yang terbaik saja," kata Claure setelah mencoba memaklumi situasi dan kondisi yang dia jalani saat ini.
Malaikat yang sedang bersama Claure memperhatikan setiap ekspresi Claure apalagi setelah dia memberitahu kalau Claure tidak dapat menemui orangtuanya lagi, gadis itu tampak sedikit murung.
'Gadis ini padahal anak yang baik kenapa harus bereinkarnasi segala?' Pikir malaikat itu untuk sesaat ketika kamar mayat yang mereka tempati hening.
"Tuan kapan reinkarnasi ini dilakukan?"ujar Claure memecahkan keheningan kala itu.
"Kapan kamu siap akan aku laksanakan,"
"Bagaimana sekarang?" senyum Claure mekar. Seketika malaikat itu dapat menyimpulkan kalau Claure adalah tipikal anak yang ceria.
"Baiklah, persiapkan diri dan mental mu sebelum kita memulainya,"
"Anu..tuan,"
"Hm?" malaikat itu mengambil sabit yang tadinya tersandar di dinding dan mulai membuat sebuah lingkaran dengan pola-pola yang tidak dapat Claire pahami.
"Kalau boleh tau sebelum aku pergi aku ingin menanyakan namamu,"
"Makhluk seperti kami tidak memiliki nama. Kamu berdiri di tengah sana!"
"Kalau begitu aku panggil Ranel aja ya, hehehe," Claure tersenyum lebar kepada malaikat itu sambil berjalan menuju tengah lingkaran yang baru saja selesai dibuat Ranel, Sang malaikat yang diberi nama oleh manusia.
"Hm, terserah kamu saja. Oh iya, setiap manusia yang bereinkarnasi akan mendapatkan sedikit kemampuan spesial dari Tuhan. Sebelum waktunya habis, kamu harus bisa mengendalikannya. Tenang saja nanti akan ada seseorang yang dapat membantumu untuk mengendalikan kemampuan itu. Dan sekali lagi aku tegaskan kalau kemampuan ini digunakan hanya untuk kebajikan. Aku harap kamu dapat mengetahuinya walau esok tidak dapat mengingat apapun.
"Baiklah Ranel aku akan berusaha menjaga kemampuan itu untuk kebaikan. Semoga kelak kita bertemu lagi," Gadis itu melambaikan tangannya kearah Ranel sambil tersenyum.
//Swoossshh//
...
Kini hanya tersisa Sang Malaikat yang diberi nama Ranel oleh Claure. Ya, setelah upacara reinkarnasi jiwa manusia-manusia itu akan terbawa secara langsung kedalam tubuh baru mereka. Dengan ingatan pemilik tubuh baru itu, mereka dapat menjalani kehidupannya tanpa harus memiliki satupun tanda tanya.
"Hm, aku akan menggunakan nama manusia itu sepertinya,"
---
"Huah aku telat!" seorang gadis remaja berusia 16 tahun tengah berlari terbirit-birit menuju pintu keluar rumahnya.
"Nata tunggu dulu ini bekalnya," sosok wanita paruh baya dapat kalian lihat disini.
"Aduh ma, ga perlu repot-repot deh,"seru Nata sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru
"Udah bawa aja gih ni bekal,"mama Mata menyodor paksa bekal yang sudah dia sediakan untuk anak semata wayangnya itu.
"Yaudah deh ma, Nata bawa ya bekal nya. Dada Mama," Gadis yang bernama Nata itu berlari sambil menghadap ke belakang lalu melambaikan tangannya kearah ibu nya.
Sebenarnya, Nata sudah cukup terlambat kesekolah. Bagaimana tidak, gadis itu harus mencatat beberapa catatan sekolah yang belum sempat dia kerjakan dikarenakan tugasnya sebagai sekretaris yang harus selalu mencatat materi di papan tulis setiap pelajaran. Lelah? Tentu saja, tapi entah kenapa Nata merasa kalau dia sudah nyaman dengan pekerjaannya sebagai sekretaris itu.
//Braakkk//
"Adu..duh, maap aku terburu-buru. Sekali lagi aku minta maaf ya," Nata yang spontan menunduk ketika dia merasa seperti menabrak seseorang justru orang yang ditabraknya keheranan.
"Gapapa kok kak. Kakak mau sekolah ya?"
"Iya hehehe,"
"Kalau gitu bareng yuk kak. Jam segini mana ada angkot yang bakal lewat. Dari seragam kakak sepertinya kita satu sekolah," ketika Nata menatap sosok yang dia tabrak, dia melihat seorang lelaki yang cukup berdada bidang, wajah cakep, ditambah bola mata nya yang berkilauan karena pantulan sinar matahari.
"Ehm...tapi aku ga enak sama kamu,"
"Gapapa kak ayo lah, kita sudah telat," lelaki tadi memasukkan Nata paksa ke dalam mobil yang dibawanya. Lalu dia juga ikutan masuk dan menyetir mobil yang dia bawa.
"Anu..maaf merepotkan, aku benar-benar tidak menyangka bakal telat seperti ini," Nata hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu. tetapi lelaki yang menumpanginya hanya menggelengkan kepala pelan.
"Ga kok kak, gapapa. Ngomong-ngomong kakak kelas berapa?"
"11.A,"
"Aku kelas 10.C kak, nanti di sekolah kita bisa ketemuan ga kak? Soalnya aku mau minta bantuan kakak sih hehehe," lelaki itu masih bicara terkekeh akan tetapi dia masih tetap fokus pada mobil yang sedang dia kendarai.
"Boleh kamu mau kakak tolongin apa?"
"Jelasin aku materi fisika please kak, otak aku terlalu dangkal untuk ngertiin pelajaran Pak Tono," dengan ekspresi memohon dan pandangan masih tertuju pada jalanan lelaki itu sedikit menoleh ke arah Nata lalu tersenyum.
"Ranel, panggil aja aku Ranel kak,"
"Kalau kakak namanya Nata. Senang bisa berkenalan dengan Ranel,"
Tak terasa mereka sudah tiba disekolah. Untung saja masih ada 3 menit sebelum bel sekolah berdering kencang. Nata yang antusias menunggu Ranel yang sedang memarkirkan mobilnya tengah sibuk mengecek peralatan sekolahnya.
"Astagfirullah, pena! Pena aku pakai acara ketinggalan di kasur pula," gumam Nata sambil menepuk jidatnya.
"Kak ada apa kak?" Ranel yang muncul tiba-tiba dari samping Nata membuat gadis itu sedikit melompat ke belakang.
"Haduh nel, ga usah pakai acara ngagetin napa,"
"Eh hehehe, maap deh kak. Kakak kenapa tadi?"
"Ehm..mhm kakak gapapa kok,"
"Aku tau kakak bohong. Kakak butuh pena kan? Nih pakai aja pena Ranel dulu. Gimana Ranel tau? Soalnya ucapan kakak sedikit terdengar oleh Ranel. Oh iya kak, lain kali usahakan jangan bohong ya. Kalau butuh apa-apa Ranel siap ngebantuin kakak. Dada kak, mangats belajarnya ya," Ranel berlari kecil sambil melambaikan tangannya ke Nata. Sedangkan Nata sedikit tertohoq akibat ucapan yang barusan dilanturkan Ranel.
'Bagaimana bisa aku sepeduli itu terhadap manusia? Apa itu karena tubuh ini?' batin Ranel yang masih memiliki kesadaran kalau dia malaikat.
---
Ketika istirahat sekolah,
"Ta, Nata!"
"Paan sih Kel?"
"Tuh ada adkel nyari lu. Cogan anjir adkelnya,"
"Preett, mau lu ama dia? Sono tembak biar berkah,"
"Kasihan ntar mati anak orang,"
"Bukan tembak gitu Kelsya sayang. Dah lah, bentar Nel," pekik Nata ke arah pintu kelasnya sambil memasukkan buku-buku pelajaran yang dia gunakan tadi kedalam tasnya. Lalu dia berlari kecil menghampiri Ranel.
"Kakak itu teman kakak tadi bicarain aku ya?" tanya Ranel dengan memasang wajah sok polos.
"Udah lah biarin saja dia. Udah sering aku ngadapin teman macam dia,"
"Kakak sabar bat ya. Aku kalau di posisi kakak udah risih tau ga kak, soalnya kurang suka di dekatin cewe centil. Tapi ya kalau kakak beda lagi. Soalnya kakak itu aku sering liat suka bodoamatin suatu hal yang buruk. Lalu kakak selalu bertindak tegas jika suatu kebenaran dianggap salah. Jadi ingat kasus waktu di kantin itu loh kak," Ranel memulai percakapan diantara dua orang yang dikira pasangan oleh siswa dan siswi yang ada di sekolah itu.
"Oh yang waktu kakak protes karna ada yang ngambil bakwan bibi kantin diam-diam ya? Hahaha, padahal itu hanya hal sepele kenapa kakak sampai seperti itu ya mengadili bibi kantin hahaha," tawa Nata seketika mengumbar ke udara. Ranel yang melihat itu hanya tersenyum sambil sesekali terkekeh dengan tingkah Nata.
"Kak, aku dengar semester 2 ini kakak bakal langsung naik ke kelas 12 ya?"
"Eh, kamu tau?"
"Ya tau lah, kan itu berita yang sempat heboh kemarin,"
"Ahm, iya juga ya. Kamu mau kakak ajarin fisika yang mana?" Terlihat oleh Ranel mata Nata yang mulai berbinar-binar.
'Sepertinya kelebihan kamu adalah otak yang cerdas ya Clau?' batin Ranel sejenak hingga memberi kesan bengong dari mata Nata.
"Nel? Ranel?" Nata melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Ranel sambil terus-menerus menyebut nama dari pria itu.
"Eh..eh.. maaf kak aku melamun tadi,"
"Yasudah kamu bawa buku ga kesini?"
"Ngga kak," seketika suasana menjadi hening hanya terdengar sorak-sorai dari siswa-siswi yang sedang menikmati waktu istirahat mereka.
"Nel.."
"Ya kak?"
"Kita disini ngapain?"
"Belajar,"
"Trus belajar apa?"
"Fisika materi aku kak,"
"Kalau mau mencari cara/hitungan fisika kamu biasa lakukan dimana?"
"Buku,"
"Trus bukunya mana?"
"ASTAGFIRULLAH KAAAKKK, KETINGGALAN DI MEJA RANEL KAK," pekik Ranel yang kemudian berlari sekencang mungkin menuju kelas nya meninggalkan Nata yang masih melongo menatap kepergian Ranel yang sedang mengambil buku,
Selama menunggu Ranel datang, Nata memasang headset lalu memutar lagu favoritnya sambil melihat ke arah lapangan basket. Disana dia melihat beberapa siswa yang sangat menikmati permainan mereka tersebut lalu pandangannya beralih ke arah beberapa siswi yang sedang asik menyantap makanannya ada yang dibeli dari kantin dan juga ada yang membawanya sendiri dari rumah.
Ketika sedang bersantai ria menikmati lagu yang diputar, Nata kedatangan segerombolan salah satu geng perempuan yang cukup ditakuti di sekolah itu.
"Hei kak! Apa-apaan lo ini? Baru kenal Ranel ga usah sok lugu!!" seru salah satu dari mereka sambil mendorong bahu Nata.
"Lo ga usah banyak harap deh buat dapetin Ranel, dia bukan tipikal yang suka dengan cewe muka pas-pasan kayak lo. Lihat tubuh lo itu! Dekil, kotor, juga ini headset murahan kan? Paling cuma 20 rebu kalau dijual. Mana mau Ranel sama cewe rendahan kayak lo," perempuan lainnya yang merupakan anggota geng itu menarik paksa headset yang terpasang di telinga Nata, tetapi Nata hanya menghadapi mereka dengan diam.
"Woi bisu lo ya? Ga bisa apa bilang ya atau ga apa yang gua katakan?!" Raina yang merupakan ketua dari geng itu mendorong Nata dari kursi hingga dia terjatuh.
"Aduh," mulut Nata hanya bisa mengeluarkan 1 kata itu, dia mengelus roknya yang mengenai tanah tadi dengan tangannya.
//Deg//
Seorang siswa laki-laki yang melihat hal tersebut tiba-tiba diam terpaku. Pikirannya saat ini tengah bercabang. Pertama, dia harus ngelindungi Nata karena itu juga tugasnya sebagai malaikat. Kedua, dia sangat dan sangat marah sebagai manusia karena melihat Nata yang sedang diinjak-injak seperti ini.
"BRENGSEK KALAU GUA BICARA GA DIDIAMIN BISA GA?" sebuah tamparan dari Raina hampir saja mengenai Nata tetapi hal itu tercegah karena Ranel menepis tangan Raina dari Nata.
"Kamu ga tau malu ya Rai? Udah jelas-jelas gua nolak lu masih juga kelewatan gini pakai acara ngebully anak orang lagi! Kau tau gua paling ga suka lu makai cara seperti ini buat dekatin gua!! Lu katain kak Nata brengsek, tapi sebenarnya lu itu lebih brengsek!!" Ranel hampir saja ingin menghajar Raina tapi tangannya di tahan oleh Nata.
"Sudah Nel kok kamu yang marah sih? Aku aja yang dibully ga kenapa-napa tuh,"
"Tapi kak dia sudah keterlaluan,"
"Sudah biarin saja ya," Nata tersenyum lebar kearah Ranel. Senyuman Nata mengingatkan Ranel akan senyuman hangat sebelum Claure bereinkarnasi menjadi Nata.
'Sial perasaan apalagi sih ini, dengar kamu ini bukan manusia yang bisa bebas memiliki banyak perasaan. Kamu itu malaikat tolong ingat itu. Ranel hanyalah sosok nama dan manusia yang lahir karena tugas mu sebagai malaikat,' batin Ranel sambil terus membuang semua perasaan yang tidak seharusnya tertanam dalam jiwa sosok Malaikat.
"Nel kita mulai yuk belajar nya, kakak juga mau ke kelas bentar lagi,"
"Ranel ngikut kakak aja kapan mulainya,"
Sudah hampir 2 minggu Claure menjalankan kehidupannya sebagai seorang Nata. Dan selama itu pula Nata melakukan banyak hal baik dengan bantuan Ranel, Sang malaikat. Identitas Ranel yang merupakan seorang malaikat masih belum diketahui oleh diri Nata. Selama 2 minggu itu, Nata memanfaatkan kepintarannya untuk mengajari Ranel dan teman-teman seangkatan Ranel. Terkadang, setiap pulang sekolah Nata dan Ranel pergi ke pelosok daerah di kota mereka dan mencari anak-anak yang kurang mampu untuk diajari ilmu baca tulis oleh Nata. Menurut Nata pribadi dia tidak keberatan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Bahkan dia merasa sangat senang dengan kehidupannya semenjak Ranel datang menghampiri Nata.
Karena saking dekatnya Ranel dan Nara tak banyak yang mengira mereka pacaran. Tentunya hal tersebut tidak dipedulikan oleh 2 orang sahabat ini. Walau mereka tampak saling tidak peduli dengan urusan percintaan, tetapi jauh dari lubuk terdalam hati kalau mereka berdua saling menyukai bahkan saling mencintai.
Ranel yang merupakan seorang malaikat itu merasa sangat tergantungi jika dia memikirkan tentang perasaan yang dia miliki. Karena malaikat tidak diizinkan untuk mencintai atau memiliki rasa ingin memiliki makhluk yang lain.
"Kak nanti bisa ikut aku ke tempat biasa kita nongkrong yuk,"
"Boleh kok, kakak ikut aja sama keputusan Ranel,"
Ketika pulang sekolah, Ranel membawa Nata ke suatu tempat kosong. Tempat itu sepertinya sudah tidak ditempati bertahun-tahun.
"Kak, terimakasih sudah ngajarin Ranel selama ini ya. Terimakasih telah ngebantuin Ranel selama ini. Terimakasih telah memberitahu Ranel bagaimana rasanya menjadi makhluk yang diciptakan Tuhan memiliki emosi," Ranel berbicara sambil menahan tangisnya. Ini adalah hari terakhir dia dapat melihat sosok seperti Nata.
"Ranel, kamu bicara apa sih? Kamu ngira kakak mau pergi ya? Hei sudahlah hentikan pikiran aneh itu. Kakak ga pergi kok, kakak akan selalu ada di dekat Ranel. Oh kamu sedih gara kakak akan tamat tahun depan?" Nata ngejinjit kecil dan mengelus rambut Ranel secara halus dan lembut.
"Kamu bukan Nata, kamu adalah Claure. Maaf aku ga ngasih tau kamu tentang ini sebelumnya hiks.." Ranel mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Dia akan sangat malu jika itu dilihat oleh malaikat lain yang juga bertugas di bumi.
"Maksud kamu?" Nata memiringkan kepalanya polos sebagai tanda kebingungan.
"Aku..aku adalah malaikat dan kamu adalah manusia yang memiliki nama Tyvonnia Claure dan kamu sudah mati. Kamu yang sekarang adalah reinkarnasi dari Claure. Dan waktu kamu didunia sudah habis, ini masanya untuk mengantarkan nyawamu kepada pemilik dirimu yang sebenarnya," tiba-tiba muncul sebuah sabit besar dari tangan Ranel. Dia menatap Claure berwujud Nata dengan iba dan heran.
"Kamu ga takut?" seru Ranel sambil menatap kedua bola mata Nata.
"Untuk apa aku takut kalau aku akan pulang ke rumah ku yang sebenarnya Ranel? Aku rasa kamu bukan manusia biasa hal itu dapat dilihat dari sabit yang keluar secara tiba-tiba di tanganmu. Walaupun kamu bukan manusia biasa atau kamu adalah malaikat seperti yang kamu katakan aku sangat berterimakasih untuk waktu yang sudah kita luangkan bersama. Sebelum kamu mengambil nyawaku, biarkan aku mengutarakan beberapa kata perpisahan. Aku mencintaimu Ranel, sangat dan sangat mencintaimu. Meskipun kau bukanlah manusia, walau kita tidak bersatu aku sudah sangat senang menanam perasaan ini kepada orang yang layak seperti kamu. Terimakasih untuk segalanya ya," Nata memeluk tubuh Ranel sambil sesekali meneteskan air mata. Ranel sedikit terkejut dengan ekspresi Nata. Terkejut karena dia tidak menyangka kalau orang yang selama ini dia sukai ternyata juga menyukainya.
Ranel membalas pelukan Nata sambil berkata, "Aku juga mencintaimu. Sayang sekali aku adalah sosok malaikat dan itu sangat dilarang jika kami memiliki perasaan seperti ini. Maaf Nata, sudah saatnya kamu pergi."
Ranel menusuk jantung Nata dengan Sabit yang dibawanya. Dan membiarkan Nata yang kekurangan darah itu mati di tempat. Sesekali Ranel menatap dingin ke arah jasad Nata yang hanya harus dilihat oleh salah satu manusia lain di sekitar tempat itu.
---
"Sungguh aku senang karena telah diberikan kesempatan sebagai malaikat maut yang dapat belajar dari kalian manusia. Walau terkadang perasaan yang kalian tanam kepada diri kami merupakan larangan dari Tuhan. Sekali lagi terimakasih atas segalanya Tyvonnia Claure, semoga kau dapat mendapatkan tempat yang layak disana," -Ranel
~TAMAT~