“Hidup adalah sebuah persiapan panjang untuk sesuatu yang tidak akan pernah terjadi.” – W.B. Yeats
☺️ Selamat membaca, semoga berkesan...
✨✨✨✨
Gelap dan pengap, suatu ruangan sempit yang hanya tersedia sebuah tikar beralas sedikit nyaman yang mereka katakan untuk sebagai penghangat dikala musim penghujan datang. Tidak ada sedikit pun celah, hanya sebuah ventilasi panjang yang berada di atas tembok putih, yang bahkan terlihat mulai usang dan menguning.
Pantaskah mendapatkan perlakuan ini di saat diri hanya mempertanyakan mengapa ia pergi begitu saja tanpa meninggalkan berita di hari pernikahan yang suci? Berdiri dengan sebuah gaun pengantin yang indah pada hari itu, sungguh tidak menyangka hal lainnya akan terjadi dan mengubah hidup begitu terbalik.
Pasungan. Mereka menganggap wanita bernama Ratih mengalami gangguan jiwa tak kala berlari mengelilingi jalan dengan memakai gaun pengantin dan tertawa lepas. Riasan wajahnya yang memudar, membuatnya semakin terlihat menyeramkan tak kala titik air mata menghancurkan garis hitam yang awalnya menghiasi mata kecoklatan yang indah.
Tak hanya itu, lamunan dalam pikiran Ratih yang berkecambuk akan harga diri, nama baik ia dan keluarga, serta dana besar yang sudah dikeluarkan pun membebaninya. Seakan menusuk dan semakin menusuk setiap relung jiwanya di saat ia kembali membuka mata pada pagi hari.
Hujatan memalukan akan seorang wanita berumur yang ternyata ditinggal oleh calon suami pun membuat Ratih hilang akal, hingga tak sadar sering kali menghilang melupakan jalan pulang. Atau bahkan mengejar hewan ternak warga, yang sebenarnya hanya ingin bermain dan melupakan luka lara. Pikirannya benar-benar kosong bagai lempengan koin datar yang tak berbentuk.
“Ratih ... Nak, sadarlah ... kau lulusan terbaik di universitas dan sudah bekerja di perusahaan ternama ... ibu mohon sadarlah dan jangan seperti ini ....”
Lirihan tangis itu begitu menggema menatap tubuh wanita berparas cantik yang kini kian menyusutkan berat badannya.
"Jika saja Ratih tidak harus kehilangan keperawanannya oleh pria itu! Ini semua tidak akan terjadi!"
Tanggapan dari orang tercinta pun begitu menusuk hatinya jika Ratih dapat berucap secara normal. Namun entah mengapa, yang Ratih rasakan hanya ruang kosong tak bertuan, di mana semua terlihat buram begitu tidak jelas dipandang mata.
Meratapi nasibnya dengan berdiam hingga kaku seluruh tubuhnya, bahkan sesekali ia pun buang air dengan tidak mengenal tempat hingga banyak tangan yang harus merawat dan membersihkannya. Bau tubuhnya menyengat dengan rambut hitam yang menjuntai indah pun menghilang karena debu atau sarang laba-laba di atas kepalanya.
Jauh dalam diri Ratih yang masih tersadar, tidak ingin tangan-tangan yang tidak dikenal itu menyentuh tubuhnya terlebih saat membantu ibunya untuk menggantikan pakaiannya yang sudah dua hari tak terganti hingga bau menyengat begitu menyesakkan udara yang terhirup.
Kenapa aku menjadi seperti ini? Apa dosaku? Setelah semua yang kulakukan, apa aku pantas mendapatkannya? Masih adakah Tuhan yang mendengarkanku? Gumam Ratih dalam hati yang sering kali dipertanyakan dengan suara lantang namun tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya.
Kali ini pada suatu waktu menuju senja, tanpa sadar pintu terbuka hanya untuk mengganti udara agar Ratih lebih nyaman dan tidak lagi pengap. Namun dalam tatapan Ratih yang entah sudah berapa hari, minggu, atau bulan itu, Ratih menangkap sosok yang berbeda yang terlihat begitu menarik olehnya.
Sebuah ranting pohon yang melambai saat tertiup angin, bagai memintanya untuk menari bersama dengan alunan lagu yang hanya dapat didengarkan oleh indra pendengarannya saja. Bersenandung riang, Ratih berjalan keluar kamar dengan tidak ada yang mengawasinya.
Tentu bagi jiwa yang merindukan sosok cahaya, sinar jingga kemerahaan di saat senja begitu menarik perhatiannya. Ratih yang menganggap itu sebagai hiasan janur kuning menuju pelaminan, mengikuti arah cahaya senja hingga tanpa sadar keluar dari rumahnya dan kembali berjalan mengitari rumah warga dengan tidak beralaskan sebuah sendal atau pakaian yang layak untuk di pandang.
“ORANG GILA ... ORANG GILA ... ORANG GILA ....”
Teriakan itulah yang diberikan anak-anak yang tengah bermain di saat Ratih tidak sengaja melewati mereka. Merasa kesal Ratih berteriak pada mereka dengan kata yang tidak dapat di mengerti dan cara bicara yang sudah ia lupakan karena hampir dua tahun sudah ia tidak berbicara dengan siapa pun atau tidak ada yang mencoba untuk mengajaknya berbicara.
Layaknya anak kecil yang jahil, beberapa anak pun mendorong atau menarik baju Ratih memintanya untuk segera pergi. Namun Ratih menganggap mereka berbahaya, hingga mengambil sebuah batang kayu dan mengayunkannya namun secara tidak sengaja memukul anak tersebut hingga terjatuh dan sedikit terluka.
Tangisan anak-anak memecah keheningan senja dengan para warga yang datang dan mengerumuni Ratih dengan hujatan kebencian dan hinaan yang memilukan jiwa. Tak lupa Ratih pun sampai di pukul dikarenakan seorang ibu yang tidak terima anaknya terluka.
“Anakmu itu sudah gila! Terima kenyataan! Bawa dia ke rumah sakit jiwa!”
“Mereka gak punya uang, gimana mau bawa Ratih ke sana! Setidaknya kalian jaga dia! Gimana sih!”
Keluarga Ratih yang datang pun meminta maaf dengan sangat tulus hingga akhirnya hukuman pancung pun Ratih terima karena para warga yang menganggap Ratih sebagai ancaman yang membahayakan anak-anak.
Ratih hanya terdiam seperti biasanya menerima ikatan rantai pada tangannya dan kayu panjang pada kakinya dengan gembok kuat yang tak dapat dilepaskan.
Hari, minggu, dan bulan kembali berlalu dengan penampilan Ratih yang kian lusuh tak terawat.
Meninggalnya sang ibu pun membuat Ratih semakin harus menderita, tak kala anggota keluarganya tidak ada lagi yang bersedia untuk mengurusnya. Semua mengacuhkan karena rasa malu yang tak dapat dikatakan, hingga melupakan hirarki artinya kehidupan.
Kelaparan dan bau tubuh yang menyengat kembali Ratih rasakan di saat keluarga lainnya pindah dan menjual rumah mereka dengan Ratih yang masih terikat seorang diri di dalam ruangan tak berdaya karena merasa lapar dan dahaga yang tak kunjung usai membakar kerongkongannya.
Entah berapa purnama Ratih habiskan seorang diri, menatap pada pantulan cahaya dari ventilasi, Ratih tertegun pada cahaya bulan yang indah berwarna putih menyilaukan. Mencoba meraih cahaya tersebut, namun apalah daya kekuatannya menghilang dengan tubuh kian mengurus yang hanya tersisa tulang kering.
Jika ini adalah kali terakhir aku dapat melihat rembulan, maka tidak akan aku merasa bersedih karena sinar itu begitu indah.
Tatapan sendu itu pun menitikkan air mata untuk terakhir kali, sebelum akhirnya tertutup untuk selamanya. Semua meninggalkannya hingga habis tak ada ruang tersisa, dengan cerita memilukan terdengar tak kala Ratih, wanita cantik yang gila akhirnya menutup usia.
- Selesai -
✨✨✨✨
Hay Kak,
Terima kasih sudah mau membaca...
Aku Fidia K.R, Penulis yang masih belajar menulis.
Sebagai anak sulung, fid suka mempelajari sesuatu terlebih dahulu, meski terkadang jadi bikin ribet diri sendiri. Last, 3 point yang selalu fid ingat, Happy life, positive vibes, and joyful. Menulis bagai wadah buat fid, yang bisa menampung semua rasa & pikiran.✌️😁
Dari itu, cerpen ini sengaja Fid tulis merupakan hasil tantangan dari author @HK. Dengan challenge MENULIS CERPEN BEBAS - RUANG AUTHOR.