"Bijaklah dalam masa penantianmu, Kelak kamu akan takjub bagaimana Tuhan mempertemukan dengan jodohmu." -Anonim-
☺️ Selamat membaca, semoga berkesan...
✨✨✨✨
Desir ombak laut berderu seperti biasa terdengar bergemuruh di bibir lepas pantai. Hembusan angin kencang pada langit biru, semakin mempertegas sang surya yang memancarkan cahaya begitu terik bagai membakar lapisan kulit. Tugas pun menanti tiada henti bagi penjaga menara suar di Tanjung Priuk, ibu kota Jakarta yang terkenal akan kesibukannya.
Sepasang lampu suar Edam yang sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda, kedua sisi yang saling melengkapi dikala berputar pada porosnya pun memberikan penglihatan untuk menjangkau tempat yang lebih jauh dari batas penglihatan mata memandang.
“HEY JIHAN! KAU ITU WANITA! HATI-HATI!” teriak Pak Handoko, ketua regu yang saat ini sedang mengajari Jihan untuk menggantikan tugasnya, di saat mendekati waktu pensiunnya.
“KAN KATA BAPAK ADA KABEL YANG HARUS DI GANTI BIAR NANTI MALAM TINGGAL JETREKIN SAKLARNYA! LAGIAN KAKI BAPAK UDAH SAKIT GITU MASA MAU NAIK KE SINI!” balas Jihan kembali berteriak dari lantai 17, memanjat pada besi tebal yang melingkar dengan tali khusus keselamatan.
Seorang wanita berusia 26 tahun bernama Jihan Alfaqi, memilih bekerja menjadi penjaga menara suar Edam saat pernikahannya kandas, Jihan memiliki tujuan mulia yaitu untuk meningkatkan keselamatan pelayaran bagi kapal-kapal niaga, nelayan, atau pencari nafkah lainnya di perairan teluk Jakarta yang selalu ramai setiap harinya.
Mempunyai diameter sekitar 8,5 meter dan puncaknya 3,5 meter, untuk naik ke puncak menara, Jihan harus menaiki anak tangga berliku-liku yang mencapai 17 lantai atau setinggi 56 meter. Tugas yang selalu dilakukan Jihan dan kedua pria tangguh lainnya bahkan sampai harus rela hidup terasing dan jauh dari keluarga selama berbulan-bulan lamanya.
“Jihan, ku dengar pria bernama Abimana ini lulusan teknik mesin terbaik dan jabatannya juga sudah tinggi di bawah naungan Distrik Navigasi (Disnav) Kelas I Tanjung Priok,” ucap Burhan, rekan kerja Jihan yang juga merupakan kakak kelasnya ketika dibangku berkuliahan.
(TIN TIN) Suara klakson mobil SUV hitam yang terhenti di depan rumah dinas milik pak Handoko.
Jihan dan Burhan seketika menghentikan langkahnya menatap pada sosok pria tampan bernama Abimana, berpenampilan anak muda masa kini yang mempertegas penampilannya. Tampan, bersih, dan nampak begitu pintar. Jelas disebut sebagai anak gedongan Jakarta yang kaya raya.
“Mau kemana? Kau tidak akan menyapanya?” tanya Burhan seraya bersikap jahil pada Jihan. Meski sudah menikah dan mempunyai dua anak, masih saja Burhan menjahili Jihan agar segera menikah kembali dan melanjutkan hidup tanpa melajang.
“Untuk apa?! Kak Burhan aja yang mengajarkan dan mengajaknya berkeliling, Jihan mau beresin rumah!” sungut ketus Jihan dengan berjalan berlalu pergi tanpa berniat menyapa pria yang akan menjadi Ketua regunya yang baru.
Kedatangan ketua regu yang baru ternyata tersambut dengan perubahan cuaca yang tiba-tiba mendung disertai badai karena memasuki awal musim penghujan. Kejadian tak terduga terjadi di saat kerusakan dynamo pemasok listrik menyebabkan lampu menara suar tak bisa berputar secara optimal, hingga menimbulkan kepanikan di dermaga pelabuhan kota.
Diluar bayangan Jihan dan Burhan, Abimana benar-benar mengambil alih pekerjaan dengan sangat baik dengan lampu suar yang kembali berputar normal. Menyadari kemampuan yang dimilikinya, Burhan pun memujinya sedangkan Jihan hanya menunduk seraya mengucapkan terima kasih.
“Biar aku saja, kau kerjakan saja yang lain,” ucap Abimana pada Jihan dengan intonasi suaranya yang terdengar berat dan dalam, seolah menarik wanita mana pun saat mendengarnya.
“Kau yakin? mengecat menara setinggi 56 meter tidak mudah. Butuh tenaga kerja professional dan dibantu alat seperti gantole atau lainnya,” balas Jihan sembari mengerutkan kedua alisnya.
“Kalau begitu kau cukup membantuku saja dari belakang, tapi biar aku yang mengerjakannya.”
Selang waktu yang berjalan tak terasa kedekatan ketiga penjaga menara suar semakin dekat. Saling lebih mengenal lebih jauh, baik Jihan dan Abimana pun bagai saling menyembuhkan luka masa lalu mereka yang kelam, di saat memilih menyandang status yang sering kali dicap sebagai dampak terburuk dalam lingkungan masyarakat luas, hingga suatu keadaan tak terduga terjadi dan menyadarkan perasaan mereka masing-masing.
Pada sebuah malam di pertengahan musim penghujan, gelombang air laut menghamtam batu karang dengan badai dan kilatan petir yang ikut menyambar. Terlihat sebuah kapal nelayan dengan beberapa orang di atasnya terhempas menabrak tebing karena salah satu lampu suar yang mati.
Dengan sigap Burhan mengganti lampu suar namun keamanan pelabuhan tak kunjung datang. Sebuah kapal yang khusus digunakan untuk para penjaga suar pun terpaksa berlabuh di tengah ombak yang mengamuk, memaksa keahlian berlayar Abimana dan Jihan harus di uji.
Jihan yang memang pandai menyelam membantu para nelayan dengan memberikan pelampung dan membawa mereka menuju kapal dengan Abimana yang siaga menunggu mengendalikan kemudi arus kapal agar sesuai dengan putaran rotasi lengkungan ombak laut yang tinggi.
“TIDAK! ABIMANAAA!!!” teriak Jihan ketika tanpa sadar ombak setinggi kapal menghanyutkannya tenggelam ke dalam arus laut di saat selesai menyelamatkan pada nelayan naik ke atas kapal.
Muncul dan tenggelam, Abimana berjuang untuk tetap mengambil nafas akan hidupnya yang dipertanyakan apakah akan kembali dengan selamat. Resiko pekerjaan yang berbahaya tentu seharusnya membuat diri tersadar akan kesiapan waktu ajal yang tidak diketahuinya.
Tidak berpikir panjang, Jihan kembali menyelam meski hidupnya pun menjadi taruhan tak kala kapal melaju dengan sistem navigasi otomatis dengan peralatan canggih yang dapat menyelamatkan para nelayan kembali ke daratan. Menelisik sekitarnya, Jihan pun berhasil meraih Abimana.
Keduanya terombang-ambing tak menentu dengan hujan deras dan ombak laut yang semakin ganas. Dengan kesadaran yang tersisa, Abimana bangkit ke atas sebuah kayu yang mengambang dan menarik Jihan untuk naik ke atas untuk memeluknya erat meski saat ini pundaknya terluka akibat hentakan batu karam saat terbawa arus laut.
“Bahumu ... Abi, bahumu terluka!” Jihan mendekap dan menekan luka dipundak Abimana untuk menghentikan pendarahannya.
“Tidak apa-apa, tenanglah ... Jihan, kita pasti selamat, percayalah padaku,” balas Abimana tersenyum di tengah rasa sakit dan kondisi cuaca yang semakin memburuk.
Berjuang bertahan hidup, keduanya saling berpelukan dan berucap untaian doa-doa di tengah ombak laut dan hujan deras yang tak kunjung usai. Terus berdoa hingga sedikit demi sedikit hujan mereda dan ombak laut pun menyusut ke bibir lepas pantai, semakin landai dan tenang.
***
Untaian terima kasih diberikan bukan hanya dari penduduk sekitar yang berprofesi sebagai nelayan, namun penghargaan pada keduanya yang gagah berani mempertaruhkan hidupnya. Abimana pun memberanikan diri mengutarakan perasaannya dengan acara resepsi pernikahan yang tidak terduga.
Tertawa bersama, sungguh senja yang indah untuk mereka habiskan bersama tak kala Burhan pun membawa keluarganya untuk berlibur selama beberapa hari dan tinggal di rumah dinas masing-masing. Senja jingga kemerahan pun tertutup gelap bintang berawan putih.
Sepasang lampu suar Edam yang tidak akan pernah padam, berputar tiada henti memberikan cahaya di tengah gelap malam, meski hujan badai atau pun sinar matahari terik seolah ingin membakarnya.
-Selesai-
✨✨✨✨
Hay Kak,
Terima kasih sudah mau membaca...
Aku Fidia K.R, Penulis yang masih belajar menulis.
Sebagai anak sulung, fid suka mempelajari sesuatu terlebih dahulu, meski terkadang jadi bikin ribet diri sendiri. Last, 3 point yang selalu fid ingat, Happy life, positive vibes, and joyful. Menulis bagai wadah buat fid, yang bisa menampung semua rasa & pikiran.✌️😁
Dari itu, cerpen ini sengaja Fid tulis merupakan hasil tantangan dari author @HK. Dengan challenge MENULIS CERPEN BEBAS - RUANG AUTHOR.