Kurasakan ada debar tidak menentu yang tiba-tiba menerjang di balik dadaku, tiba-tiba. Ya begtu mendadak tanpa memberi sinyal. Debar yang aneh itu saat soosk Daffa semakin dekat dari tempatku terpaku. Kucoba mengelus dada dan menguatkan hatiku. Aku tidak boleh kalah, selama ini yang kudapat hanyalah siksa jiwa meski kuakui kami saling mencintai.
Karena aku begitu mencintainya itulah yang membuatku terpuruk dan kalah selama ini. Daffa yang temperamental tidak hanya sering membentakku, tetapi juga menamparku bila dia tak mampu menguasai dirinya. Namun betapa bodohnya aku tetap bertahan berada di sisinya meski itu sakit. Aku tetap menunggu Daffa yang kukenal tiga tahun lalu yang selalu baik, perhatian bahkan selalu menjaga aku dikala aku sakit ataupun aku sedang ada masalah, bisa berubah dan membuang sikap kasarnya terhadapku, tetapi kalaupun tidak bisa, aku memaklumi sekaligus memaafkannya walau aku tahu hal itu adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan dan satu hal itu semua karena aku terlalu cinta.
Sikap kasar Daffa selalu kusepuh denga emas da setiap teman ataupun mama menanyakan penyebab mataku sembab. Tetapi apa yang aku dapatkan pada sosok Daffa belakangan ini, membuatku tidak bisa berpikir dua kali untuk meminta putus. Bukan sekali aku melihatnya bermesraaan dengan Lena. Bahkan kemarin kudpatakan mendaratkan kecupan di pipinya. Sungguh hari itu adalah hari yang begitu menyakitkan buatku.
"Kita putus saja!" Ucapku di antara debaran dahsyat dan airmata yang deras mengalir di kedua pipiku. Sedikitpun tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Hanya mengulurkan tangan pertanda minta maaf.
"Aku minta maaf. Hubunganku denga Lena selama ini hanyalah sandiwara untuk membuat pacar Lena cemburu. Cuma akting kok sayang!" Darahku seketika mendidih. Hubungan sedekat itu hanya sandiwara, tanpa pernah menghargai perasaanku? Lalu apa arti diriku selama ini? Hanya untuk dibentak, bahkan ditampar? Lagipula, jika itu hanya sandiwara, mengapa dia dan Lena harus kaget seperti melihat hantu saat aku memergoki mereka sedang bermesraan?
"Oke aku percaya, hubungan kalian hanya sandiwara, tetapi adegan ciuman kemarin juga cuma akting. Apa kamu tidak merasa? Menggandeng Lena di depanku juga cuma akting?" Sinis aku sambil menatap Daffa.
Tiba- tiba kurasakan lenganku sakit karena genggaman tangan kokohnya saat kucoba untuk menjauh darinya. Aku tahu mata itu sangat mengharap, memintaku tetap berdiri di depannya. Akhirnya ku coba memenuhi permintaannya itu meski ku pilih untuk menunduk, karena aku tidak mau melihat mata itu yang selalu membuatku tunduk, bahkan takluk.
Aku sungguh tidak punya nyali Dan keberanian untuk menatap matanya kalau wajahnya memerah karena penuh dengan amarah. Dan lagi, aku tidak pernah bisa membiarkan mata elang itu dibasahi oleh permata bening dari retinanya. Ya Daffa sering menangis untukku dan kubalas dengan pelukan karena aku sungguh tidak bisa melihatnya menangis.
Terkadang aku heran. Semakin lama aku bersama Daffa, semakin aku tidak tahu siapa dirinya. Ketika mendengar tawanya yang begitu renyah terkadang membuat aku berpikir bahwa Dafa tidak pernah mengenal amarah. tetapi mengapa terkadang hanya karena aku tidak berada di rumah saat dia menelpon, dia pasti marah dan berlaku kasar terhadapku.
Sampai pada beberapa bulan kemudian, kisah cinta yang aku pertahankan sampai pada titik klimaks ada kejadian yang membuat hubungan kami terputus begitu saja.
Aku masih ingat kejadiannya. Hari itu hari Rabu di akhir Desember. Ketika aku baru saja akan membaringkan tubuh di pembaringan, setelah pulang dari sekolah yang melelahkan. Tiba-tiba Mama, masuk kamar. Saat itu, aku melihat wajah mama nampak begitu tegang titik lalu dengan tersendat, mulailah meluncur kata-kata itu. Kata-kata yang seketika membuat badan aku mengejang!
Sungguh, semula aku tidak ingin percaya dengan kata-kata itu! Sama sekali tidak ingin! Kata-kata itu pasti cuma omong kosong! Mama tidak sedang mencandai aku titik pasti itu titik tetapi... Kali kalau sedang mencandai aku, mengapa ekspresi wajahnya seperti itu? Dan detik itu juga aku terpuruk!
Ini benar-benar memukul aku titik aku rasakan sepertinya ada sesuatu yang hilang begitu saja dari hidup aku ini... Kali tetapi, Dafa memang sudah pergi siang ini, sesaat setelah sebuah mobil menghantam tubuhnya.
Januari... Kali sampai beberapa bulan kemudian, bayang Daffa masih terus hadir di hari-hariku. Rasanya begitu sulit memisahkan angan aku dengan bayangannya. Apalagi saat aku sedang berada di taman sekolah yang biasa kami singgahi, tempat di mana dia selalu menghujani aku perhatian dan amarah bahkan tamparan jika Daffa tidak bisa mengontrol emosinya. Walau bagaimanapun Daffa adalah sosok yang begitu aku cintai meski dia sering menyakitiku titik rasanya dapat turut hadir di hadapanku titik sampai kemudian surat itu datang!
Sepucuk surat beramplop merah muda, ada apa ini sebenarnya? Pelan-pelan aku mulai membuka dan membacanya.
Dear Jinggaku...
Tuhan, tolong jaga Jingga, temani dia di kalau aku tidak bisa menemaninya titik bikin dia tersenyum titik aku memang pria yang bodoh, bodoh karena telah membuat wanita yang menyayanginya menangis.
Jingga... Kali maaf bila aku telah lukai hatimu. Maaf bila aku telah membuatmu meneteskan air mata titik selama ini aku selalu marah padamu tanpa alasan yang jelas karena aku takut kehilangan kamu. Aku terlalu naif Jingga... Kali hingga aku selalu menjadikan penghianatanku menjadi tameng karena ketidaksiapanku jika kamu mulai tidak mencintaiku lagi titik padahal aku sungguh tahu, kalau kamu selalu ada buat aku dan selalu mau memaafkan kesalahanku padamu.
Jingga... Kali aku kasar padamu karena aku mau meyakini diriku bahwa kamu hanya mencintai aku seorang, tetapi aku sadar kalau semua yang kulakukan malah membuat kamu sakit Dan sesuatu yang sangat keliru.
Jingga... Kali beberapa hari ini, aku merasa takut aku tidak tahu apa itu semua. Aku tidak pernah punya perasaan seperti ini sebelumnya. Apa mungkin ini firasat akan ada sesuatu yang terjadi pada aku ya?
Pokoknya nanti, kalau ada sesuatu yang menimpa aku, aku ingin kamu tetap kuat dan janji tidak akan menangis lagi karena aku titik mengenai Lena, dia Bukan siapa-siapa aku, aku hanya meminta tolong padanya karena aku hanya ingin tahu kalau kamu benar-benar mencintai aku Jingga!
maaf karena raga ini telah lukai ragamu. Aku janji tidak akan melukis luka Dan air mata di hatimu.
Maafkanlah diriku ini, Jingga...
Love you
Daffa
Tak terasa air mata ini mengalir sejadi-jadinya. Daffa aku tidak pernah sedikitpun berubah dan tidak pernah punya niat untuk tidak mencintaimu lagi titik karena bukan aku yang berubah, tetapi kamu yang telah berubah.
Kenangan tinggallah kenangan titik tidak ada yang berarti selain duka dan air mata ataupun tawa bahagia. Kalau tidak kedua-duanya, Bukan kenangan namanya. Selamat jalan Dafa, semoga kamu tenang di sana titik satu hal yang harus kamu tahu, kalau aku tidak pernah menyesal karena telah mencintai kamu. Selamat tinggal Daffa...
By Masyita