Rangkuman Novel Dunia misteri tanpa batas part 1
Author:
Mind-blowing;Reinkarnasi
Prolog (Volume 1)
Seseorang telah terbunuh oleh kakak perempuannya yang sangat ia sayangi dan naasnya seseorang itu adalah diriku sendiri dibeberapa saat yang lalu.
kemungkinan besar akan ada banyak banyak orang yang merasa sedih saat terbunuh oleh keluarga yang sangat dia cintai, atau bahkan dia anggap sebagai sebuah kompas dalam hidupnya.
Namun...
Perasaan bingung yang malah melanda pikiranku saat kakak perempuanku itu menusukkan pisau tajamnya didadaku. Aku pada saat itu sangat syok dan bingung bukan karena 'kakak perempuanku' lah yang membunuhku, namun seseorang yang telah mati yang membunuhku. Yaitu kakak perempuanku yang mati 10 tahun yang lalu.
Dengan artian lain, aku telah dibunuh oleh orang yang jauh lebih dulu meninggal dariku..
Saat itu, Dirinya sambil memeluk tubuhku yang sedang sekarat dengan kesadaranku yang sudah berada diujung tebing yang sangat tajam berbisik, "Maafkanlah kakakmu ini Marie, tidak lain semua ini adalah demi dirimu... Aku benar benar meminta maaf padamu".
Perkataannya yang begitu lembut mengema ditelingaku yang membuatku merasa begitu nostalgia saat mendengarnya. Aku sangat ingin membalas perkataannya pada saat itu, namun aku tidak dapat mengatakan sepatah kata pun padanya, pandanganku semakin kabur dan hampir tak dapat melihat apapun, begitupula dengan suaraku yang tidak mau keluar.
"Aku tahu kamu ingin menanyakan sesuatu padaku, tapi maafkan kakakmu ini, karena aku tidak dapat memberikan jawaban dari apa yang ingin kamu tanyakan itu. Namun, sebagai gantinya..." Terusnya mengucapkan sesuatu namun aku tak sempat mendengarkannya hingga selesai.
Itu adalah kata kata terakhirnya, namun sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya, kesadaranku terlebih dahulu meredup dan aku tidak mampu lagi untuk menahan kesadaranku itu.
Pisau yang sangat tajam menusuk tepat mengenai jantungku. Aku saat itu yang masih bisa menahan kesadaranku saja adalah suatu keajaiban yang amat luar biasa.
Dan...
Pada akhirnya aku saat itu juga mati di pangkuannya... Serta di pelukan sosok yang telah tiada, yaitu kakakku yang amat ku sayangi...
Setidaknya itu beberapa saat yang lalu. Karena sekarang aku malah berada ditempat yang asing dan tidak ku ketahui keberadaannya.
Saat pertama kalinya terbangun aku langsung dikejutkan oleh keadaanku.. yaitu aku terbangun dari kematian.. Aku tidak tau bagaimana bisa aku hidup kembali dari kematianku. Terlebih lagi Aku dibuat kebingungan oleh tempatku pertama kali terbangun dari kematian.
Saat aku terbangun aku sudah berada di tengah daratan tanah berlapis rumput yang disertai dengan langit biru yang melintang luas dan ditemani oleh sinar matahari yang terik namun menghangatkan.
Suasana yang asing pada saat itu membuatku terperangah dan bertanya-tanya dalam pikirku.
"Dimanakah aku saat ini sedang berada dan tempat apakah ini sebenarnya?" tanyaku begitu kebingungan.
Aku tak dapat memercayai apa yang kulihat dan kurasakan... Namun tiba tiba saja terlintas dalam pikiranku bahwa tempat terbangkitnya diriku dari kematian adalah tempat yang tak lain dan tak bukan adalah dunia lain, yaitu dunia yang berbeda dari duniaku.
Aku tidak tau kenapa saat itu aku tiba tiba terpikir mengenai dunia lain didalam pikiranku..
Namun yang pasti, adalah sebuah kebenaran jika aku menyebut tempat ini adalah dunia lain.
To be continued…
World existence
adalah kebenaran jika aku bangkit didunia lain....
Karena aku baru saja membunuh seekor monster berlendir yang mirip dengan yang ada didalam fiksi ataupun game fantasi.
Namun keberadaannya bahkan tidak bisa disebut monster karena terlihat seperti keberadaan yang digunakan sebagai pelengkap.
"Tanganku malah dipenuhi lendir yang menjijikan dan terasa lengket, terlebih lagi aku sama sekali tidak mendapatkan apapun setelah membunuhnya."
Aku sangat menyesal karena telah membunuhnya.
"Namun karena itu, aku jadi benar benar tau jika dunia ini adalah dunia lain yang tidak pernah ku ketahui."
Saat pertama kali terbangun aku berada di dataran rumput yang amat luas dengan cakrawala yang biru dan melintang diseluruh pandanganku.
Memang benar pemandangan yang disuguhkannya sangat indah, namun itu adalah hal yang buruk karena aku tidak tahu dimanakah diriku berada dan seberapa luas hamparan ini.
Bahkan setelah aku berjalan cukup jauh dari tempat awalku terbangun aku tidak menemukan satupun kehidupan selain sekumpulan monster lendir dan beberapa hewan pemangsa.
"Mungkin ditempat ini ada yang namanya mangsa bagi pemangsa..."
Aku tidak tahu apa ini adalah kesialan ataupun keberuntungan yang terjadi padaku setelah setelah dia membunuh diriku ini.
Kakak perempuanku telah membunuhku dalam keadaannya yang bangkit dari kematian dan itu membuatku merasa tidak nyaman dan kebingungan.
Bahkan saking bingungnya, aku merasa bahwa ini adalah kekalahanku.
..
Dunia lain, dunia ini sangat berbeda dengan dunia tempatku tinggal.
Aku bertanya tanya pada diriku sendiri, "Dunia seperti apakah ini? Apakah dunia fantasi sihir, atau mungkin dunia fantasi petualangan." Namun aku tidak yakin jika sesederhana itu. Karena ini adalah kenyataan, bukanlah sekedar fiksi belaka.
Entah dunia seperti apakah ini, yang ingin kupastikan adalah apakah aku bisa hidup didunia ini? Dan layakkah dunia ini sebagai tempat tinggalku.
"Mungkin aku terasa sombong, namun aku tidak ingin menghapus pemikiran itu. Bahkan sampai aku mati untuk kedua kalinya."
Saking syoknya diriku saat itu, mengingat kematianku saja membuatku teringat dengan rasa sakit yang kurasakan saat dia menusuk pisau dan mengacak-acak perutku dengan pisau.
Perkataannya juga membuatku terlalu penasaran.
"Aku sangat berharap aku bisa mendapatkan keabadian dan mungkin kekuatan untuk mencari tahu jawaban yang ingin ku cari. Ini adalah dunia lain dan dunia fantasi, jadi harusnya hal itu bisa terwujud,"
"namun sepertinya dirimu yang tidak beruntung ini akan segera mati untuk kedua kalinya setelah beberapa ekor ular menyerang dan menggigitku beberapa jam lalu...."
. ..
"Keberadaan yang terlalu merumitkan, bahkan dengan keberadaan nya sekarang keberadaan kami menjadi tiada. Namun sialnya ibu harus mati karena kelalaiannya. Maka dari itu terimalah keberadaan kami berdua ini agar kehidupan ibu menjadi seperti apa yang ibu inginkan." ²
. ..
"Aku mohon kepada dirimu untuk bertahan sebentar saja, aku berjanji akan menyelamatkan dirimu.. Yulia tolong bawah gadis ini kedalam kereta! Elia kamu siapkan obat obatan dan ramuan yang tersimpan didalam kereta!!!"
. ..
Apa akhirnya aku terbangun?
"Ahh.. suara mereka mengema dipikiranku, namun aku tidak tau siapa mereka dan ucapkan mereka cukup samar."
Aku baru saja terbangun ditempat yang asing untuk yang kedua kalinya. Namun alih alih aku merasa de Javu, aku malah kebingungan dan merasa sedikit tenang.
Ingatan terakhir yang ku milikki adalah saat aku hampir mati tak berdaya ditengah hamparan rumput yang tak berpenghuni.
Namun sekarang aku berada disuatu ruangan yang sangat besar dan mewah. Juga terasa asing bagiku, aku terbaring dikasur lembut dan terasa nyaman dan secara bersamaan saat aku merasakan kenyamanan kasur itu, aku menyadari bahwa tubuhku tidak bisa bergerak.
"Mungkinkah aku mengalami kelumpuhan sementara?.."
Namun aku tidak tahu apa penyebabnya dan telah mencari tahu apa penyebabnya melalui apa yang ku ingat. Tapi hanya ada satu hal yang terlintas dalam pikiranku dengan cepat, yaitu perkataan dari teman adikku Lena yang mengatakan. "Aku pernah mengalami kelumpuhan setelah lupa untuk keluar dari game virtual."
Dengan artian lain, dia ingin mengatakan bahwa otak dan tubuh manusia tidak akan bisa mengingat rutinitasnya jika terlalu lama tidak melakukan rutinitas tersebut.
Ini adalah kejadian yang paling buruk, bahkan dalam hidupku selama ini.
To be continued.
Shocked Marie
Beberapa menit telah berlalu setelah diriku terbangun.
Aku masih merasa bingung dan tidak tahu apapun. Begitu pula penyebab bagaimana aku bisa mengalami kelumpuhan.
"Aku tidak bisa melakukan apapun dan Hanya bisa terdiam diatas kasur, yang mana ini sangatlah menyebalkan."
Saat sedang terdiam kebingungan aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan tidak lama setelah itu seseorang membuka pintu.
Jelas saja, dia terkejut setelah melihatku yang telah terbangun.
Namun dengan cepat orang itu berkata. "Tunggu sebentar Nona. A... Saya akan segera kembali."
Ucap gadis itu kembali keluar ruangan. Entah apa yang dia ingin lakukan.
Tidak lama setelah itu, dia datang kembali dan menghampiriku sampai sosoknya terlihat olehku. Yaitu seorang gadis dengan pakaian seorang pelayan. Dia membawa nampan berisi makanan beserta air minum
"Sebentar akan saya bantu untuk bangun dan makan." Ucapnya cukup peka dengan keadaanku.
Kebetulan aku langsung merasa lapar tepat setelah aku terbangun beberapa menit yang lalu.
"Nona anda harus segera makan sesuatu!" Ucapnya tiba tiba dengan semangat.
Setelah dia membuatku dalam posisi bersandar, gadis itu langsung menyuapiku makanan berupa bubur yang rasanya cukup asing untukku.. namun sangatlah hangat dan cukup enak dimulutku.
Mungkin mulutku juga terasa sedikit mati rasa sehingga makanan itu sedikit hambar dan aneh. badanku juga terasa sangat dingin, serta penglihatanku yang masih cukup buram dan sangat berat rasanya untuk menahannya agar terus terbuka.
Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri...
.
Setelah bubur itu sudah telah ku habiskan dan keadaan tubuhku membaik setelah memakannya. Gadis itu berdiri, namun tepat setelah ia berdiri... Akhirnya tanganku dapat menggapainya..
Tanganku sangat ku paksakan untuk bergerak sembari aku disuapi olehnya.
Awalnya aku cukup terkejut karena melihat tanganku yang pucat dan memutih, namun dengan cepat aku langsung menenangkan diriku dan langsung mengucapkan kata pertamaku padanya.
"Tee... Terima kasih telah menyelamatkan diriku ini." Ucapku dengan suara yang lirih dan cukup sulit untuk mengatakan hal itu.
"Tidak... Sebenarnya bukan aku yang menyelamatkanmu. Melainkan kakak perempuan nona Vishl lah yang menyelamatkan nona."
Dia tidak sengaja mengubah bahasanya, apakah benar seperti dugaanku?..
"Kalau begitu, dimanakah mereka?" Balasku dengan terbatah batah dan tetap dengan suara yang lirih.
"Nona Vishl sedang berada dirumah kepala desa dan kakaknya... Telah meninggal 10 tahun yang lalu..."
Sepertinya dia adalah Vishl itu sendiri..
"Kalau begitu maaf ketidaksopanan diriku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu untuk mengingat hal itu." Balasku lagi dengan lebih lancar dan sedikit lebih keras.
Aku masih harus membiasakan diriku.
"Tidak masalah. Sepertinya memang benar seperti perkataan kakakku.. bahwa aku tidak akan bisa menipumu." Jawabnya langsung tanpa mengekpresikan bahwa ia sedang terkejut.
Perkataan dan pernyataannya atas jawabannya itu malah membuatku bingung apa yang dia maksud.
"Siapakah kakakmu itu?"
"Tsuki El Sienairy. Dia adalah penyelamatmu, dan dia yang mengatakan banyak hal tentangmu.."
"Aku tidak mengenal atau bahkan pernah bertemu dengan orang yang bernama Tsuki El Sienairy sebelumnya, bagaimana caranya ia mengatakan banyak hal tentangku?"
"Aku tidak tau pasti, namun yang pasti dia sangat mengenalmu.."
"Akan ku ingat ingat soal dirinya.. tapi aku ingin bertanya kepadamu."
"Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Sudah berapa lamakah aku tidak sadar diri? Aku merasa telah melewatkan waktu yang lebih lama dari yang bisa kupikirkan."
Aku benar benar merasa seperti itu. Karena ada beberapa alasan mengapa aku bisa memikirkan hal itu, salah satunya adalah perkataan Yuna.
"Jika dihitung dari tahun kelahiranku. Ini sudah hampir 17 tahun lamanya dan jika dari perkataan kakakku, mungkin sudah 18 tahun lamanya.."
Bahkan dengan beberapa kata dari awal kalimat yang dia ucapkan aku sudah sangat terkejut dengan apa yang dia katakan..
To be continued.
A Maid Girl
Selama 18 tahun lamanya diriku telah tak sadarkan diri. Jika itu memang benar terjadi maka kelumpuhan sementara yang ku alami saat ini adalah hal yang wajar untuk terjadi.
Selama 18 tahun otakku telah kehilangan rutinitasnya dan selama itu juga aku mengalami mimpi mimpi yang amat panjang dan berulang yang seakan tidak memiliki akhir.
Vishl telah menceritakan semua yang ia ketahui padaku. Bahkan dia menceritakan juga apa yang terjadi selama aku tertidur.
Namun, Vishl juga mengatakan sesuatu yang malah menjadi pembahasan panjang dan hampir tidak memiliki solusi.
Yaitu, dia saat ini hampir menginjak usianya yang ke tujuh belas yang artinya dia terlahir satu tahun setelah aku tak sadarkan diri. Namun, secara bersamaan juga ia mengatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia jauh sebelum dirinya terlahir. Tepatnya dua abad yang lalu.
"Pernyataan Vishl begitu tak masuk akal sampai sampai membuatku berpikir keras untuk hal itu." Gumamku mengeluh yang terdengar oleh orang yang sedang mendorongkan kursi roda untukku.
"Nona Vishl memang suka mengatakan hal yang tak masuk akal, saya harap anda bisa memakluminya. " Balasnya.
Dia yang membalas ucapanku adalah pelayan rumah ini dan merupakan pelayan sungguhan.
Seorang gadis yang sama jelita dan cantiknya dengan Vishl. Serta auranya yang terkesan anggun dan elegan. Dia hampir membuatku tidak percaya dengan penampilan seseorang untuk kedua kalinya.
Dia adalah definisi dari pelayan kasta teratas didunia manapun.
Lisbeth Ryet von Ryugu, itu adalah namanya. Dari namanya saja aku sudah bisa menebak bahwa dia adalah seorang bangsawan, namun entah kenapa malah menjadi seorang pelayan yang melayani Vishl.
Kami saat ini sedang menuju perpustakaan dengan diriku yang memakai kursi roda dan didorong oleh Lisbeth. Jelas saja aku tidak akan bisa segera bergerak bebas dengan tubuhku ini.
"Aku bisa memakluminya, namun apakah benar seperti apa yang dia katakan?" Tanyaku pada Lisbeth.
Aku tidak dapat menoleh kebelakang karena leherku yang masih masih belum bisa ku gerakan. Mungkin terkesan sombong karena bertanya tanpa menoleh sedikit pun kepada seseorang yang ditanyai.
Tapi seharusnya Lisbeth mengerti keadaan diriku saat ini, terlebih.. mungkin dia tidak akan menghiraukannya dan malah menghormatiku. Karena entah kenapa diriku yang sekarang menjadi anggota keluarga Vishl dan secara tidak langsung menjadi seorang bangsawan juga.
Sepertinya aku sangat beruntung karena kakak perempuan Vishl menyelamatkanku.
"Dari ekspresinya kemungkinan besar apa yang nona Vishl katakan adalah benar dan nona Vishl terkesan tidak bersemangat hari ini jadi kemungkinan besar juga dia tidak berniat untuk memikirkan hal yang tidak dia perlukan." Balas Lisbeth berpanjang lebar menjelaskan kondisi dari Vishl saat ini.
Dan Dari kata-katanya saja sudah terlihat bahwa Lisbeth sangat khawatir dan mencemaskan Vishl.
Bahkan diriku yang baru bertemu dan berbicara dengannya langsung tahu bahwa Vishl sedang tidak baik baik saja. Apalagi seorang pelayan yang selama ini bersamanya.
"Apa dirinya sedang bersedih? Bahkan diriku saja merasa ada yang aneh dengannya."
"Saya bersyukur nona Marie langsung memahaminya. Memang benar dirinya sedang kesal dan sedih karena kejadian dikerajaan kemarin."
"Hal apa yang terjadi disana?"
"Tidak ada hal yang besar, namun sejak awal Nona Vishl sudah merasa kesal dan tidak senang dengan orang yang ada dikerajaan."
Salah satu masalah yang dialami seorang bangsawan. Mungkin aku akan bertanya langsung kepada Vishl.
Entah bagaimana aku merasa bersimpati kepadanya dan tidak terima karena tahu jika ada sesuatu yang membuatnya merasa kesal dan marah.
"Sepertinya aku benar benar telah terhubung dengannya. Aku merasa tidak terima jika suatu hal membuatnya menjadi kesal ataupun marah."
"Mungkin ini adalah takdir..." Balas Lisbeth setelah mendengar ucapanku.
Tidak lama setelah pembicaraanku dengan Lisbeth, Suara Vishl terdengar dan semakin mendekat dan menghampiri kami berdua.
"Lisbeth!... Tolong kamu bantu Theta untuk mengambil salah satu buku catatan ibuku didalam peti digudang yang berada di loteng!" Perintah Vishl sambil berlari menghampiri kami.
"Biar aku saja yang membawa Marie ke perpustakaan." Terus Vishl tepat setelah dia sudah mendekat.
"Baik, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu nona Marie." Balas Lisbeth dengan segera dan berpamitan kepadaku.
Yang kemudian Lisbeth pergi meninggalkan kami berdua dan aku lanjut menuju perpustakaan dengan bersama Vishl.
To be continued…
Their conversation
Saat Vishl sedang mendorongkan kursi roda tempatku duduk untuk menuju perpustakaan..
"Marie, sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu," ucap Vishl tiba-tiba kepadaku...
Dengan suara yang pelan dan nada ragu, dia menghentikan langkah dan bertanya padaku.
Aku menjawabnya dengan segera, "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Dan dengan segera pula, Vishl menjawab, "Sebenarnya, siapakah kamu? Apakah kamu orang yang sama dengan orang yang diselamatkan oleh Tsuki? Dan jika iya, bagaimana caranya kamu masih hidup?" balasnya melontarkan banyak pertanyaan sekaligus.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, namun jika ditanya apakah aku orang yang sama dengan orang yang diselamatkan kakakmu itu, maka jawabannya tentu saja iya. Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi selama itu," balasku dengan kebingungan.
"Dan apa maksudmu dengan pertanyaan bagaimana caranya aku masih hidup?" terusku menanyakan apa maksud dari pertanyaan terakhir yang ia tanyakan padaku.
Setelah aku membalas perkataannya, Vishl melanjutkan berjalan menggerakkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan.
"Baiklah, aku akan percaya dengan jawaban itu. Aku akan menceritakannya nanti setelah kita menyelesaikan pertemuan kita di perpustakaan. Karena jika aku menceritakannya sekarang, mungkin akan menciptakan misteri baru," jelas Vishl menolak untuk menjawabnya sekarang.
Setelah itu, dan tidak lama setelah percakapan kami berdua, akhirnya kami sampai juga di perpustakaan. Letaknya berada di pertigaan lorong rumah Vishl, dan itu membuatku tidak tahu seberapa besar rumah Vishl ini.
"Ah, sudah sampai. Tunggu sebentar Marie, aku akan membuka pintu perpustakaan," ucap Vishl tepat kami sudah berada di depan perpustakaan itu, dan Vishl segera berlari ke hadapan pintu yang ia maksud dan akan segera membukanya.
Namun, meski Vishl mengatakan itu adalah pintu, nyatanya itu adalah gerbang besi yang besar dan kokoh. Apakah dirinya serius mengatakan ini adalah sebuah perpustakaan?
Vishl pun membuka gerbang perpustakaan yang dia panggil pintu itu dengan kedua tangannya. Gerbang itu benar-benar besar dan seakan seperti gerbang untuk menuju ruangan tahta kerajaan.
Dan setelah terbukanya gerbang besar itu, betapa terkejutnya diriku saat melihat ruangan yang sangat besar dan hanya dipenuhi oleh rak-rak buku yang menjulang tinggi.
Rak-rak buku yang saling berbaris di masing-masing lantai dan ruangan tengah yang besar membuat seluruh isi perpustakaan itu terasa begitu megah.
"Baiklah, mari kita masuk sambil menunggu mereka! Seharusnya Claret dan Tiara akan segera datang sambil membawa teh dan camilan!" ucap Vishl bersemangat tepat setelah ia membuka pintu perpustakaan.
Kami berdua pun masuk ke dalam, dan setelahnya Vishl membantuku untuk duduk di sofa mewah yang berwarna merah di tengah ruangan itu.
Sungguh pemandangan yang sangat nostalgis karena saat ini diriku dikelilingi oleh rak buku yang saling berjajar dan berbaris melingkar di seluruh penjuru ruangan yang sangat luas, sama seperti ruangan perpustakaan di akademi Vinford tempatku bersekolah dulu...
Dengan segera aku menenangkan diriku dan kembali memulai percakapan dengan Vishl dengan bertanya. "Sebelumnya aku sudah penasaran, apakah dirimu ini adalah seorang bangsawan?"
Aku sudah tahu jawabannya, tujuanku tetap menanyakannya adalah untuk mengetahui bagaimanakah pandangan Vishl mengenai kebangsawanan.
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Vishl menjawab pertanyaanku. "Tentu saja aku adalah seorang bangsawan!" Jawabnya dengan sangat bersemangat dan mengangkat satu tangannya ke atas.
"Namun aku tidak tahu apakah aku sedang menikmati diriku sebagai bangsawan atau tidak..." Terus Vishl menurunkan tangannya.
"Jujur saja aku membenci kehidupan bangsawan, namun secara bersamaan sedikit bersyukur karena terlahir sebagai seorang bangsawan yang hidup di desa ini." Terusnya lagi semakin menurunkan semangatnya.
Dari apa yang dia jawab itu, akhirnya jelas. Bahwa Vishl adalah seseorang yang bingung akan apa yang harus dia pilih.
"Menurutku tidak masalah hidup hanya menjadi seorang bangsawan di desa ini tanpa melibatkan kehidupan bangsawan yang ada di ibukota." Balasku dengan seakan-akan tahu apa masalah Vishl.
To be continued.
…
Mystery of the past
3 hari setelah diriku dibuat terkejut dengan apa saja yang terjadi pada pertemuan diperpustakaan rumah Vishl. Pertemuan itu adalah pertemuanku dengan seluruh orang yang tinggal di rumah Vishl... Meski begitu, hanya ada Vishl dan ketujuh pelayannya.
Disaat pertemuan itu, aku dibuat terkejut dan kebingungan dengan apa yang mereka bahas dan pertanyakan, termaksud juga dengan fakta dimana keberadaan dari salah satu teman akrabku dulu, yaitu seseorang yang bernama Vena L. Vinford.
Saat mengetahui keberadaannya aku dengan terpaksa hanya terdiam dan bersikap seolah tidak tahu apapun saat Vishl mengatakan nama Vinford de Vena.. itu adalah nama yang ia pakai didunia ini sebagai seorang petualang misterius didunia ini.
Mungki lebih tepatnya kenapa aku memilih untuk diam dan tidak memberitahukan bahwa aku mengenali orang yang sering kali mereka sebut dan permasalahkan itu adalah karena aku masih kebingungan dengan bagaimana semua yang Vena lakukan didunia ini dapat membuatku begitu kebingungan.
Karena salah satu hal yang membuatku terkejut adalah hubungan Vishl dengan Vena yang merupakan seorang ibu dan anak. Bahkan diriku ini yang sangat amat mengenal temanku itu tidak dapat membayang seorang pria seperti apa yang bisa membuat sosok dingin dan sinis dari seorang Vena Vinford jatuh cinta kepadanya. Aku tidak dapat menemukan jawaban bahkan logika dari perilaku Vena itu.
"Mungkin bagiku itu adalah sebuah fenomena yang sangat mengejutkan diriku.."
Untung saja sosok Tsuki El Sienairy adalah seorang teman setia dari Vena, bukan sosok yang benar benar adalah kakak kandung dari Vishl. Karena jika iya, mungkin aku sudah mati konyol karena syok.
Sebuah fenomena... sebenarnya bukan hanya dari prilaku dirinya yang membuatku kebingungan dan menyebutkan Fenomena itu. Namun juga dengan perkataan Vishl yang menjelaskan bahwa Vena telah meninggal dunia 2 abad yang lalu.
"Ini adalah permasalahannya, sebuah masalah yang sangat besar dan sangat membuatku kebingungan. Yaitu ibundaku telat mati 200 tahun lalu sebelum diriku dilahirkan.. dan didalam buku yang ditulisnya membuatku penasaran dan berpikir keras untuk hal yang ada hubungannya dengan kasusnya dan kasus Marie, yaitu Waktu!" Ucapnya Vishl berpanjang lebar mengatakan kebingungannya yang dia pendam selama bertahun tahun lamanya.
"Wajar saja dia akan kebingungan, bahkan aku sempat dibuat kebingungan sebelum Vishl mengatakan Waktu... dengan membayangkan apa yang terjadi kemungkinan besar Vena telah melakukan perjalanan waktu."
Mungkin sedikit terlambat untukku menyadarinya, bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa dari dunia lamaku.. yaitu bahwa Jepang dan bahasa yang digunakan dalam buku tulisan Vena adalah bahasa Inggris dengan campuran bahasa Eropa, Yunani, latin dan bahasa Jepang. Maka dari itu mereka hanya bisa mempelajari sepenggal isi dari buku itu.
Desa ini adalah satu satunya penguna bahasa Jepang didunia ini karena sudah suatu tradisi mereka untuk menjaga bahasa mereka agar hanya mereka yang dapat memakai dan memahamnya. Itu adalah sebuah kebiasaan yang kemungkinan besar ditanamkan oleh Vena.
Mungkin orang orang dari duniaku pasti sudah akan mengatakan.. perjalanan waktu yang menjadi nyata dan terealisasi, dan mungkin juga akan menjadi kejadian yang fenomenal hanya dalam waktu sekejap.
"Aku merasa dunia ini aneh. Tidak hanya keberadaanku dan Vena yang berada disini, namun juga terdapat kemungkinan besar bahwa keberadaan adikku Lena ada didunia ini juga."
Salah seorang pelayan Vishl bernama Julyet Finnestia telah membuatku semakin terkejut karena dia memiliki marga nama Finnestia. Namun tidak seperti kecurigaanku, Julyet menjawab, "Nama tersebut adalah pemberian dari guru saya, dia adalah seorang penyihir yang begitu hebat."
Dan jawabannya itu juga membuatku merasa lega karena hampir saja aku menganggap bahwa Julyet adalah anak dari Lena..
"Mungkin seharusnya tanpa bertanya sekalipun aku sudah tau bahwa tidak mungkin adikku itu jatuh cinta kepada seorang pria."
Mendengar ucapan dari Julye aku langsung bahwa orang yang dia maksud itu memang adalah Lena adikku, karena bagiku tidak akan ada seorang pun didunia manapun memakai nama Finnestia.
Dengan cepat juga, apa yang kupikirkan itu dibuktikan dengan terusan dari ucapan Julyet yang sempat terjeda. "Dan guru yang mengajarkan sihir kepada diri saya adalah Lena Finnestia. Seseorang yang telah pergi meninggalkan kerajaan karena sudah lelah dengan bagaimana kerajaan ini bekerja."
Namun secara bersamaan juga, entah bagaimana aku meragukan keberadaan adikku didunia ini. Karena dari yang ku kenali, Lena Finnestia bukanlah seorang yang sebaik itu.
.
"Aku masih benar benar kebingungan meski sudah banyak juga misteri yang terjawab." Ucapku terbaring kaku diatas kasur.
Tubuhku sudah sedikit membaik dan sedikit demi sedikit sudah dapat ku gerakan..
"Apa yang kamu bingungkan Marie?"
Vishl dengan cepat membalas ucapanku. Dia saat ini sedang menyisir rambutnya dengan duduk didepan cermin yang panjang dan berdiri disebelah kasur.
"Rambutku terlalu panjang, mungkin aku akan memotongnya seperti rambut milikmu..." Jawabku mengalihkan pertanyaannya.
"... Kamu tidak mau menjawab pertanyaanku,"
Balas Vishl berhenti mengerakan tangannya yang sedang menyisir rambutnya itu.
"Marie berambut pendek... Jujur saja Aku ingin melihatnya. Tapi Marie dengan rambut hitam panjangnya sudah melekat dengan dirinya, yang bahkan dapat menekankan kesan anggun dan cantik menembus batasannya."
Ucapnya memujiku dengan berlebihan.
"Pujianmu terlalu berlebihan, bahkan masih banyak yang lebih cantik dariku.. contohnya Rika temanku dengan kepintaran dan kecantikanya yang begitu dingin membuat pesona kecantikannya melampuai batas.. atau mungkin temanku yang lain Yuna atau Lena dan si kembar Mei dan Key yang menurutku mereka sangat imut..."
Dan juga Vena yang sama dingin dan cantiknya seperti Rika..
Setelah mendengar jawabanku, Vishl berdiri dari tempat ia duduk dan menatap mataku.
"Seharusnya kamu berterima kasih saat mendengar pujian yang ditujukan untukmu. Aku memang tidak tau seperti apa mereka, namun jujur bagiku sekarang Marie adalah yang tercantik.." ucap Vishl tiba tiba menyangkal perkataanku dan mengatakan pujian yang seharusnya dikatakan oleh seorang laki laki.
Saat mendengar pujiannya itu, entah mengapa membuat jantungku berdegup kencang dengan sesaat dan langsung membuatku seakan akan sedang melihat Vena dalam diri Vishl yang sama sama pernah mengatakan hal itu kepadaku.
"Ah... Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan hal itu... Terdapat suatu kalima didalam buku novel yang dituliskan ibundaku yang sangat ingin ku ucapkan..."
Dan saking miripnya adegan ini, apa yang dikatakan oleh Vishl barusan adalah hal yang sama juga dengan apa yang dikatakan oleh Vena saat setelah mengucapkan pujian itu kepadaku.
"Ahh.. Ternyata memalukan juga mengatakan hal itu kepada seorang wanita, namun aku selalu ingin mengucapkan kalimat yang ku karang itu." Ucapan Vena pada saat itu.
Saat ini dan saat itu juga aku langsung membalas ucapan mereka dengan jawaban yang sama.
"Jika kamu benar benar-benar mengatakan hal itu, mungkin aku sudah jatuh cinta kepadamu..."
To be continued.
Beautiful morning
Sehari setelah malam itu, aku terbangun di pagi yang tenang dan indah, serta saat ini Vishl masihlah tertidur pulas di sampingku.
"Ah... Betapa sialnya diriku karena tidak dapat menikmati hari yang indah nan cerah ini karena aku masih belum terbiasa menggerakkan tubuhku... bahkan untuk bangun dari sini aku harus dibuat kesulitan," keluhku yang tidak dapat bangkit dari tempat tidurku.
Sungguh benar-benar sial dan merepotkan harus mengalami ini semua. Meski akhir akhir ini aku sudah sedikit demi sedikit mulai bisa menggerakkan tangan dan tubuhku, namun tetap saja terasa aneh, kaku, dan tidak biasa saat aku menggerakkannya. Dengan terpaksa, aku hanya bisa terdiam di atas kasur, menunggu Vishl terbangun, yang mana aku tidak yakin jika ia akan bangun dengan semudah itu.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain, aku akan membangunkannya," pikirku, lalu memutuskan untuk membangun Vishl karena aku sangat ingin menikmati pagi indah ini.
"Vishl! Bangunlah!" teriakku untuk membangunkannya. Aku ingin melakukan sesuatu dengan berkeliling desa Vishl ini, termasuk mencari informasi dan perhatian dari mereka.
"Vishl, aku ingin juga menceritakan sesuatu tentang ibumu Vena dan hubunganku terhadapnya," kataku setelah, merasa bahwa saat ini juga lah adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Anggap saja aku ingin Vishl lebih percaya dan mungkin setia kepadaku.
Aku ingin memberitahu bahwa aku berasal dari dunia lain dan bahwa Vena adalah temanku dari dunia tersebut juga. Aku beberapa kali mencoba untuk membangunkan dan tidak lama setelah aku mencoba membangunkannya untuk sekian kalinya, akhirnya Vishl terbangun dengan perlahan dan membuka matanya.
"Apa yang ingin kamu katakan, Marie?" ucap Vishl mengusap-ngusap matanya dan menguap.
"Aku ingin membuka misteri baru dengan mengungkapkan hal yang sebenarnya," kataku padanya dengan serius.
Vishl menyebut semua hal yang tidak normal dan terjadi secara alami dan tidak masuk akal adalah "misteri", maka dari itu aku juga akan mengunakan kalimat itu sama sepertinya.
"Ehh... Ini masih pagi, apa yang ingin kamu bahas?" balas Vishl mengeluh. yang akhirnya balasannya Vishl itu membuatku berpikir dan memilih untuk membahasnya nanti saja.
"Ya, sebenarnya tujuan awalku mengatakan ingin membuka misteri baru itu adalah agar kamu segera terbangun," ucapku, yang berpikir Vishl kemungkinan besar akan segera terbangun dengan cepat jika ia mendengar sesuatu yang serius dan membuatnya penasaran.
"Ahh... baiklah, kalau begitu aku akan lanjut tidur," jawabnya masih mengantuk. Namun dengan segera aku mengatakan permintaanku sebenarnya padanya.
"OI, Vishl... Janganlah tertidur! Tidak bisakah kamu mengajakku untuk berjalan-jalan sedikit saja di pagi hari yang indah ini!?" Dan untuk kedua kalinya, Vishl terbangun. Namun kali ini, dia langsung berdiri dari tempat tidurnya dengan bersemangat.
Aku tidak tau mengapa....
"Ohh! baiklah kalau begitu. Mari kita berkeliling desa!" ucapnya sekali lagi dengan bersemangat.
"Aku senang mendengarnya, tapi kenapa kamu tiba-tiba bersemangat?" tanyaku.
"Tentu saja, karena aku akan mengajak Marie untuk berken... berkeliling desaku!" kata Vishl dengan semangat.
"Tapi seharusnya urutannya yang benar adalah bersiap terlebih dahulu!" balasku.
"Baiklah, kalau begitu, kita akan bersiap terlebih dahulu!" jawab Vishl, lalu kami berdua bersiap dengan mandi, mengganti pakaian, menyisir rambut, dan memakai sedikit riasan. Kemudian, kami pergi dari kamar tepat setelahnya.
Vishl mendorong kursi rodaku menyusuri lorong mansionnya dan menuju pintu utama untuk keluar dari mansion dan dan segera ingin berjalan jalan menuju desa.
"Lisbeth, tolong sisakan makanan untuk kami nanti. Mungkin kami akan kembali sedikit lebih lama karena aku dan Marie ingin berkeliling desa. Aku ingin memperkenalkan Marie kepada desa ini," ucap Vishl berpamitan kepada Lisbeth saat kami bertemu di tengah lorong.
To be continued.
Village part 1
Setelah keluar rumah dan melangkah beberapa langkah, Vishl membawaku ke sebuah desa yang begitu tentram dan damai.
Desa ini, Vin'yama, didirikan oleh Vena sekitar 200 tahun yang lalu setelah mengungsikan ratusan orang pasca insiden masa lalu, dan dia memutuskan untuk membangun desa baru.
Rumah Vishl ternyata adalah sebuah mansion besar yang berada di belakang desa ini, sedikit di atas gunung bernama 'Yama'. Mungkin maksud Vena adalah 'desa gunung'.
Saat pertama kali melihat desa yang ramai ini, suasana pedesaannya membuatku merasa agak asing. Ini berbeda sekali dengan desa-desa yang pernah kukunjungi di Jepang.
"Selamat pagi, Nona Vishl. Oh.. pasti Anda adalah Nona Marie, senang bertemu denganmu," sapa seorang wanita tua ramah saat mendekati kami berdua.
Wanita itu terlihat sangat ramah, dan entah mengapa aku merasa seolah-olah aku seperti sedang berbicara dengan seorang nenek yang dulu pernah begitu baik padaku, meskipun nasibnya berakhir dengan tragis.
"Ahh, nenek, selamat pagi juga. Hari ini aku ingin membawa Marie berkeliling desa," balas Vishl dengan senyum ramahnya
Aku pun menjawabnya, "Senang bertemu denganmu, namaku Marie. Sepertinya pertemuan ini akan membawa keberuntungan."
Aku mencoba memberi pujian pada pertemuan ini dan berharap sikapku tidak terlalu arogan.
"Semoga perkataan anda terwujud... Nenek akan kembali dulu. Semoga kalian menikmati berkeliling desa," jawab nenek itu sambil berjalan kembali ke lapaknya yang tidak jauh dari tempat kami berbicara.
"Dia adalah orang baik... Aku berharap kamu bisa melihat kebaikannya. Namun, saat ini kesehatannya memburuk," ucap Vishl sambil memalingkan pandangannya.
"Aku bisa merasakan kebaikan hatinya hanya dengan berbicara dengannya. Namun, terlalu baik..."
"Baiklah, mari kita lanjutkan ke tempat di mana aku biasanya bersantai sambil minum teh atau kopi!" seru Vishl tiba-tiba bersemangat untuk memecah keheningan.
"Aku bahkan tidak tahu bahwa kopi ada di dunia ini..."
"Padahal, aku sering minum kopi saat begadang di malam hari..."
"Dan pada saat itu juga aku sudah tertidur pulas..."
"Iya sih, aku juga tidak pernah meminumnya, bahkan mengatakan kopi dipagi ataupun siang hari..."
.
Setelah percakapan singkat, kami melanjutkan perjalanan dan beberapa kali disapa oleh penduduk desa, termasuk anak-anak yang sepertinya menyukai Vishl.
Sambil menuju tempat yang dituju oleh Vishl, aku menyadari bahwa Vishl dan Tsuki adalah sosok yang dihormati dan disukai oleh warga desa ini.
Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap ramah Vishl dan aura berwibawa Tsuki. Selain itu, penduduk desa merasa bahwa pemimpin sebelum Vishl dan Tsuki terlalu misterius dan tidak suka menunjukkan diri. Padahal, Tsuki-lah yang sebenarnya mengatur desa ini bersama para pelayannya sebagai perantara. Tsuki baru muncul di depan publik tiga puluh delapan tahun sebelum kelahiran Vishl dan meninggal dunia dua tahun setelahnya.
Jika aku menyebut kelahiran Vishl, itu akan terdengar aneh karena ibunya, Vena, meninggal dunia dua abad yang lalu. Dan itulah permasalahan utama yang kami hadapi saat pertemuan di perpustakaan.
.
Tanpa disadari, kami telah sampai di tempat yang dituju oleh Vishl.
Tempat itu adalah sebuah kafe dengan nama dalam bahasa asli dunia ini.
Kami masuk dan disambut oleh pelayan dan pemilik kafe.
"Ahh, Nona Vishl, terima kasih atas kunjungan Anda. Silakan duduk di sini," ucap pelayan itu, menunjuk dan menuntun kami ke sebuah meja khusus yang sudah disiapkan oleh pemilik kafe.
Kemudian pemilik kafe berkata, "Riria, apakah kamu sudah menyambut nona yang menggunakan kursi roda?" tanya dia kepada pelayannya.
Riria meminta maaf dan menundukkan kepalanya. "Ah, maafkan kelancangan saya!!! Maaf telah mengabaikan Anda!! nona..."
"Namaku Marie. Tidak apa-apa, jangan salahkan dirimu," jawabku.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Marie!!" ucap Riria sekali lagi.
Pemilik kafe ikut meminta maaf, "Maafkan saya juga karena kelancangan karyawan saya."
"Sudah kukatakan tidak apa-apa. Dia hanya tidak menyadari keberadaanku karena aku terdiam sejak tadi."
"Terima kasih atas pemakluman Anda. Nona Vishl, silakan duduk, dan Riria, bantu Marie untuk duduk di kursi!" ucap pemilik kafe.
Sebelum pemilik itu pergi, dia berpamitan kepada kami berdua. "Silakan pesan kepada Riria. Saya akan ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan," ucapnya seraya menundukkan kepala dan pergi.
"Sungguh, aku meminta maaf, Nona Marie! Maafkan saya juga, Nona Vishl, karena telah bersikap lancang kepada saudari Anda!" kata Riria dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah, tidak masalah! Marie berkali-kali mengatakannya..." ucap Vishl sambil menggoda Riria.
"Ehh, apakah aku justru membuatnya merasa lebih buruk?!" balas Riria seolah hendak menangis.
"Jangan menggodanya, Vishl. Aku tidak seburuk itu sampai-sampai mempermasalahkan hal sekecil ini. Aku bahkan merasa diriku terlalu arogan dengan perkataanku," kataku.
"Tidak! Itu sama sekali tidak terdengar arogan, bahkan setiap perkataan anda terkesan anggun dan misterius!" jawab Riria.
"Heh... maaf-maaf. Kalu begitu Riria, aku ingin memesan minuman yang biasanya dan Marie?" Ucap Vishl mengatakan pesanannya.
"Aku juga ingin minuman yang sama dengan Vishl untuk saat ini."
"Baiklah, dua kopi khas kafe ini dan apakah ada pesanan lainnya?" Tanya Riria lagi menawarkan menu lainnya.
"Kalau begitu aku ingin memesan 2 kue yang biasanya juga." Balas Vishl..
"Baiklah, Akan segera saya antar!" jawab Riria, menundukkan kepala sekali lagi sebelum berangkat menuju tempat pembuatan kopi.
Jika dipikir pikir, tempat ini mirip dengan kafe modern di duniaku, tetapi dengan ornamen dan atmosfer yang jauh berbeda.
"Ngomong-ngomong, apakah cara bicaraku terlalu arogan?" tanyaku pada Vishl, mencari pendapatnya.
"Mungkin, tapi sepertinya mereka tidak mempermasalahkannya karena meskipun terkesan arogan, kata-katamu sebenarnya tidak arogan sama sekali."
"Hmm... Aku hanya berbicara sesuai dengan pemikiran saya."
"Itu artinya, kamu memang tidak benar benar arogan."
"Ya mungkin saja...."
To be continued.
Arrogant persona
Sikap dan cara bicara yang arogan yang telah kutunjukkan sejak tadi tidak lain dan tidak bukan adalah kesengajaan. yang mana, itu adalah bagian dari persona baru yang ingin kubentuk untuk diriku sendiri, Marie Violetta Rosettine.
Nama itu merupakan identitas baru yang telah kubuat untuk diriku yang berada didunia ini, dimana aku meminjam nama "Rosettine" dari keluarga bangsawan yang telah tiada karena terjebak dalam konspirasi kerajaan dan nama "Violetta" yang baru saja terlintas dalam pikiranku beberapa saat yang lalu.
Keluarga yang amat besar Rosettine adalah keluarga bangsawan bergelarkan Viscount yang memiliki banyak sekali anggota keluarga, termasuk 10 anak dan 19 cucu dari kepala keluarga, tanpa menghitung orang tua dan istri kepala keluarga tersebut.
Namun, nasib tragis malah menimpa keluarga ini. Mereka dieksekusi mati di depan banyak orang oleh pemerintah kerajaan yang baru... hal ini bisa terjadi karena sejak awal raja baru itu membenci mereka. Sang raja membuat banyak orang membenci keluarga Rosettine, mengakibatkan mereka dihina dan dicopot gelar bangsawannya secara berturut-turut. Akibatnya, mereka terpaksa hidup sebagai keluarga baron miskin dan pada akhirnya difitnah sekali lagi dengan fitnah yang lebih kejam. Yaitu mereka difitnah sebagai pelaku dari pembunuhan raja sebelumnya, yang menyebabkan mereka dieksekusi mati di depan umum tanpa pengadilan yang adil. Bahkan untuk melakukan pembelaan pun mereka tak bisa.
Nama keluarga mereka pun tenggelam jauh dalam sejarah, sehingga aku bisa dengan mudah meminjam dan mengunakan nama mereka, karena pastinya tidak akan ada seorang pun yang meninggatnya... karena sejak kejadian itu sudah 48 tahun lamanya.
Aku mengetahui cerita tragis ini dari sebuah buku yang tidak sengaja ku temukan di perpustakaan milik Vishl dan dari itu aku tau, bahwa ternyata perpustakaan itu bukan hanya tempat yang megah dan mewah, tapi juga tempat penyimpanan catatan sejarah yang mencakup informasi-informasi yang seharusnya tidak diketahui oleh masyarakat umum.
Aku tidak tahu bagaimana caranya Vishl bisa memiliki akses ke semua informasi itu, namun...
"Dari semua informasi ini, mungkin aku bisa memulai sesuatu yang akan mungkin akan memuaskan bagi diriku," gumamku pelan dan berterima kasih bahwa gumaman itu tidak terdengar oleh siapa pun di sekitarku.
Namun, saat ini aku hanya bisa menunggu karena aku baru saja pulih dari kondisi abnormal itu
.
Saat kami berencana melanjutkan perjalanan untuk keliling desa, kami malah berhenti sejenak di kedai kopi yang secara kebetulan ada di dunia ini, yaitu "Cofi Da'oli," atau "Kopi Harian" dalam bahasa duniaku.
Kedai kopi ini dikelola oleh seorang ayah dan anak perempuannya bernama Riria, yang pemalu dan canggung. Ayahnya adalah master kopi sekaligus chef, sedangkan Riria membantu sebagai pelayan untuk melayani pelanggan mereka.
Vishl tampaknya sangat senang menjahili Riria, Vishl beberapa kali mencoba membuatnya merasa dibodohi atau malu dengan berbagai macam hasutan ataupun ucapan. Tindakan Vishl menunjukkan bahwa semangat dalam dirinya yang belum surut sejak pagi hari tadi, padahal sebelumnya dia sangat sulit untuk bangun, bahkan hampir tidak mungkin, jika aku tidak memintanya.
Entah bagaimana, hubunganku dengan Vishl sekarang seperti saudara, di mana aku adalah kakaknya dan dia adalah seorang adikku. orang orang sekitar kami pastinya akan beranggapan bahwa kamu benar benar adalah saudari. Karena memang seperti itulah setting yang kami atur, yang secara kebetulan juga Tsuki telah mencoba untuk mengatur seperti itu.
"Vishl, mungkin kita sudah terlalu lama di sini... Aku tidak ingin merepotkan mereka," kataku mencoba membujuk Vishl agar melanjutkan perjalanan berkeliling desa.
"Tidak benar! ak..-- saya tidak merasa direpotkan sama sekali!" balas Riria, yang malah menjawab alih-alih Vishl.
"Betul! Lagipula, Riria adalah ala-- maksudku, teman kita!"
"..."
"... Sepertinya kami sudah terlalu merepotkan kalian..," ucapku menghela nafas dan menutup mata sejenak, sambil mengambil uang dan menaruhnya di atas meja.
Kemudian, Riria yang peka segera menghampiriku untuk membantuku untuk pindah ke kursi roda, meskipun dia masih harus mencatat pesanan pelanggan lain.
"Mengapa kamu memilihku lebih dulu? Apakah tidak ada pelanggan yang menunggumu?" tanyaku padanya.
Dan pelanggan yang aku maksud itu malah menjawab, "Tidak ada gunanya memberi prioritas pada orang asing daripada orang yang benar-benar membutuhkan bantuanmu."
Aku tidak tahu siapa dia, tapi entah kenapa aku merasa bahwa memahami apa yang dia maksud..
Riria kemudian menjawab ucapan orang itu, "Aku tidak tahu maksudnya... Namun, memang benar memberi prioritas pada orang yang membutuhkan adalah hal yang wajar."
"Tapi, Riri, maksud dia adalah menjadikan orang lain sebagai alat saat orang yang diprioritaskan mengalami kesulitan," balas Vishl, yang dengan terus terang menjelaskan maksud sebenarnya kepada Riria.
"Ehh! Apakah itu benar?" balas Riria terkejut, melihat orang tersebut.
"Sepertinya benar, tapi sepertinya aku tidak akan membiarkan diriku menjadi alat bagi orang lain, kecuali diriku sendiri," ujarku kembali dengan sedikit tersenyum dan bersikap arogan terhadap orang tersebut.
To be continued.
Village part 2: Tiara flowers shop
Setelah meninggakan kedai kafe itu, aku bersama Vishl mulai berjalan lagi dan berkeliling untuk mampir dibanyak tempat. Termaksud disebuah toko yang menjual bunga, disana aku bertemu dengan pemilik toko itu, dia adalah seorang gadis muda yang tingginya mungkin melebihiku.
"Selamat pagi Nona Vishl, dan...." sapa gadis itu setelah melihat Vishl sekaligus kebingungan saat melihatku.
Wajar saja jika dia tidak mengenalku, mengingat ini adalah kali pertamanya kami bertemu.
"Selamat pagi juga Tiara, perkenalkan dia adalah saudari perempuanku yang pernah ku ceritakan padamu saat itu." Balas Vishl memperkenalkan diriku kepada Tiara.
"Senang bertemu denganmu nona Tiara,"
Tiara Liane Sylvanis II, dia adalah seorang putri mahkota dari kerajaan tetangga Domistica yang telah melarikan diri dari kerajaannya sendiri dan saat ini dirinya menjalani hidup sebagai warga desa ini.
Dengan sengaja menunjukan rasa hormat kepadanya, aku memanggil dirinya dengan sopan, berniat untuk meningkatkan rasa kepercayaannya terhadap diriku.
"... Tidak! Jangan memanggilku sebagai nona! Aku disini bukan sebagai siapapun, hanya seorang penduduk desa nona Vishl!" Teriaknya canggung dan cemas setelah beberapa saat terdiam.
Aku dengan segera melihat sekeliling untuk memastikan sekitar kami dan tidak mendapati seorang pun selain kami dan melanjutkan pembicaraan. "Kamu telah kabur dari kerajaan, bukan diasingkan. Lagipula pastinya akan banyak rakyatmu yang menunggu dirimu... Apalagi orang orang yang berharga bagimu," ucapku ingin menegaskan posisinya saat ini.
Mendengar perkataanku, seketika Tiara termenung dan terdiam. Karena apa yang ku sampaikan adalah kebenaran.
"Marie, jangan terlalu ikut campur!" Ucap Vishl menegurku setelah melihat Tiara yang sedang termenung.
Dengan cepat aku mengakhiri pembicaraanku karena sampai saat ini sudah cukup baik untuk kedepannya.
"Aku tidak berniat ikut campur, hanya saja aku ingin menegaskan posisi Tiara saat ini."
Dan secara bersamaan dengan mengucapkan itu, aku menolehkan wajahku menuju tanaman yang menarik perhatianku sejak pertama kali tiba disini. Yaitu tanaman serupa dengan edelweis namun berwarna merah yang telah mekar dengan indah.
"Ngomong ngomong Tiara, apakah bunga ini sangat langkah?"
Aku mengalihkan topik pembicaraan ini dengan bertanya kepada Tiara sekaligus ingin memastikan kelangkaan bunga yang ku maksud karena penasaran.
Bunga edelweis sendiri merupakan jenis bunga yang sangat dan amat langkah diduniaku. Bahkan terakhir kali aku hidup didunia itu hanya tersisa kurang dari seribu populasi bunga itu dipenjuru dunia.
Dengan apa yang kutanyakan itu, suasana tiba tiba terpecah karena antusias Tiara terhadap bunga yang ku tanyakan padanya. "Nama dari bunga itu Alphium eld, adalah tanaman yang langkah karena butuh lebih dari ratusan tahun untuk tumbuh. Bahkan didaerah Sylvanis hanya tersisa beberapa ribu."
Mendengar itu aku langsung bertanya kembali kepadanya dengan warna yang tidak seharusnya ada dibunga edelweis. Bunga yang berada di belakang Tiara itu nampak merah dan bercahaya.
"Apakah mereka memang berwarna merah?" Ucapku penasaran.
Bunga yang aneh itu seakan memancarkan aura yang sangat panas dari kelopaknya.
"Bunga Alphium itu mungkin telah terpadu dengan sihir didalam intinya." Jelas Vishl menjawab alih alih Tiara yang kutanyai.
"Itu benar, bunga itu telah menyelamatkanku dari racun gigitan ular yang telah menjalar ke seluruh tubuhku setelah bunga itu secara tiba tiba mempunyai sihir." Terus Tiara menjelaskan bagaimana bunga itu tiba tiba memiliki energi sihir.
Mungkin yang mereka berdua maksud adalah transcend sihir yang dimana bunga itu memenuhi suatu kondisi. Aku tau istilah itu dari catatan yang ditulis oleh Vena. Pengetahuan Vena telah melebihi manusia yang murni dari dunia ini sendiri.
"Kalau begitu Vishl jika saja aku memintamu untuk membelinya agar diriku merasakan senang, apakah kamu akan membeli bunga itu untukku?" Ucapku melontarkan candaan karena menyadari nilai dari bunga yang telah melebihi banyak hal mewah didunia ini.
Pastinya Vishl juga akan menyadari hal itu.
"... Ma Marie.. apa kamu serius mengatakan hal itu?!" Mendengar ucapanku Vishl terkejut dan membuat ekspresi aneh diwajahnya.
"Ya Tentu saja aku serius.." jawabku dengan cepat menanggapi Vishl.
"Tapi bunga ini adalah bunga pribadiku.." balas Tiara ditengah percakapan kami berdua.
"Itu benar! Bunga ini tidak dijual!!" Kata Vishl memanfaatkan ucapan Tiara.
Yang kemudian, Tiara mengangkat tangannya ke dagu dan akhirnya menyadari candaanku.
"Tapi aku tidak keberatan untuk menjualnya kepada nona Vishl..." Terus Tiara setelah itu.
Yang pastinya membuat Vishl berteriak terkejut. "Kalian sedang bekerja sama kan?!!!"
Dan situasi tersebut membuat Vishl terdiam kebingungan.. karena kemungkinan dia tidak tau aku sedang bercanda atau tidak.
Melihat reaksinya itu membuatku puas dan membuatku tertawa kecil sambil mengucapkan, "maaf aku hanya sedang bercanda..."
"Ahh!!! Bagaimana aku tau kamu sedang bercanda atau tidak jika kamu mengatakannya sedang wajah yang serius itu?!!" Teriak Vishl yang kemudian dia memalingkan wajahnya karena kesal kepadaku.
Sangat jarang melihatnya merasa kesal.. jujur saja ekspresinya saat ini sangatlah imut.
Melihat interaksi dari kami berdua, Tiara tertawa dan membuat Vishl kebingungan.
"Kenapa kamu tertawa Tiara?" Tanya Vishl bingung.
"Tidak, aku hanya berpikir kalian berdua sangat dekat." Balasnya Tiara setetah Vishl bertanya.
Tiara pun tiba tiba berbalik arah dan membuka kaca tempat bunga itu ditutup untuk mengambilnya, yang kemudian entah apa sedang Tiara pikirkan, dia dengan senyumannya memberikan bunga merah menyalah itu kepadaku sambil berkata. "Nona Marie, aku sangat menghormatimu! Terima kasih telah membuatku tersadar, mungkin jika sudah saatnya aku akan bertindak. Terima kasih banyak.."
Dengan cepat aku meresponnya. "Apakah kamu serius? Perkataanku tidak senilai dengan harga bunga ini, bahkan bunga ini bisa saja menjadi harta kerajaan.."
Dan dengan cepat pula, Tiara menjawab. "Tiada yang lebih mahal dari obat yang bisa menyembuhkan perasaan seseorang.. apalagi seorang gadis lemah sepertiku.." jawab Tiara mengucapkan kata puitisnya.
"Ehh!! Tunggu! Apa kamu serius Tiara?!" Balas Vishl terkejut dengan pemberian Tiara itu.
Vishl telat bereaksi, mungkin saja dia sedang melamun.
"Ya, aku serius... Anggap saja ini adalah hadiah!"
Tiara pun menaruh bunga itu ditanganku dan aku dengan senang hati menerima bunga pemberiannya.
"Baiklah aku akan menerimanya..." Balasku.
Vishl pun terdiam sejenak dan akhirnya menjawab.
"Aku tidak keberatan jika kamu memberikannya... Namun aku tidak enak untuk menerimanya." Ucap Vishl ragu.
Yang kemudian dibalas oleh Tiara.
"Kalau begitu anggap saja pemberian ini adalah sebagai balas budiku sesuai dengan janji kita saat kamu telah menyelamatkanku dari kematian dulu." Ucapan Tiara yang dia ucapkan dengan tersenyum itu yang membuat Vishl tidak dapat berkata kata lagi dan pada akhirnya menerimanya.
"baiklah kalau begitu, kami akan menerima pemberianmu."
"Aku tidak sabar untuk menjual bunga ini." Ucapku tiba tiba melontarkan candaan lagi.
"Jangan lakukan itu Marie!!!!" Balas Vishl berteriak.
"..."
To be continued
Thetalia/Theta Finnestia 1
Sejak pertemuanku dengan Tiara, aku selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke tokonya dan pastinya juga berinteraksi dengan penduduk desa lainnya.
Anggap saja itu adalah rutinitas baruku saat waktu senggang disetiap hariku.
Keseharian sebagai Marie Violetta Rosettine tidaklah buruk dan bahkan aku bisa beradaptasi dengan lingkungan dan dunia ini dengan baik, meski banyak sekali misteri yang masih belum ku ketahui.
Termaksud dimanakah adikku Lena berada saat ini, telah ku ketahui bahwa dirinya telah kabur dari kerajaan setelah menyintas dari dunia sebelumnya.
Lena Finnestia, dia adalah adik angkatku didunia sebelumnya dan bisa dibilang kami cukup dekat.. bahkan aku mengingat dengan jelas dirinya yang dengan histeris menjerit dan meneriakkan namaku sekencang kencangnya sambil berlari kearahku yang telah berada di penghujung dari kehidupan.
Dan entah apa yang dia pikirkan setelah kejadian itu sampai sampai dirinya juga dapat berada didunia ini.
Aku mengetahui keberadaannya dari pelayan Vishl yang bernama Theta. Yang mana dia adalah murid dari adikku, dia belajar sihir darinya dan mendapatkan nama baru atau nama lain dari Lena yaitu 'Theta Finnestia'.
Dia adalah seorang gadis penjaga dan pelayan yang memiliki akses penuh dan bertanggung jawab atas segala hal yang ada didalam perpustakaan yang amat besar dirumah ini. Theta juga sangat patuh dengan tanggung jawabnya itu, bahkan hingga saat dia sedang tertidur disofa perpustakaan, tepatnya berada di depanku.
"Padahal saat ini tengah berada dimalam hari yang sunyi, dirinya tertidur pulas sambil mengaktifkan sihirnya yang menyala terang..."
Disaat Theta sedang tertidur, aku yang penasaran mendekat ke wajahnya yang sedang tertidur itu..
"Jika dilihat dengan seksama, wajahnya memang mirip dengan Yuna, tapi kepribadiannya jauh berbeda," ucapku pelan sambil memperhatikan Theta yang tertidur.
Tepat setelah aku mengucapkan itu, Theta dengan perlahan terbangun dan kebingungan. "Nona Marie?" Ucapnya pelan pertama kali setelah terbangun saat melihatku.
"Ahh kamu terbangun... Maaf, aku tidak bermaksud,' jawabku masih belum menjauhkan pandanganku padanya.
Dan pada akhirnya dia benar benar terbangun dan aku kembali menjauhkan pandanganku dari wajahnya.
Namun, saat memundurkan tubuhku yang baru saja bisa menggerakkan kaki, aku tersandung meja dan hampir saja terjatuh..
Hampir... Karena dengan cepat Theta menangkapku...
Layaknya seorang tuan putri, Theta menangkapku dengan gemulainya dan sedikit memalukan bagiku....
Karena ini adalah momen satu satunya diriku diperlakukan seperti ini. Biasanya aku yang melakukannya kepada Yuna ataupun Lena saat mereka terjatuh...
Dan kejadian itu membuat Kami berdua sempat saling bertatapan dengan cukup lama.
"Maaf... Tidak, apakah nona Marie tidak kenapa Napa?" Tanya Theta terkejut dan cemas kepadaku.
Secara bersamaan saat Theta mengucapkan itu, dia juga membantuku untuk duduk dengan perlahan.
"Sungguh memalukan berada diposisi itu, namun aku sangat berterima kasih kepadamu. Sepertinya aku masih tidak bisa benar benar leluasa dalam bergerak..." Jawabku berterima kasih setelahnya.
"Maafkan kelancangan saya," ucap Theta tiba tiba setelah mendengar perkataanku.
"Kelancangan apa yang kamu maksudkan?"
"Saya telah membuat nona Marie berada di situasi seperti itu.."
"Tidak tidak, justru itu adalah kesalahanku sendiri.. justru aku yang ingin minta maaf karena telah membangunkan dirimu."
"Baiklah jika memang seperti yang dipikirkan nona Marie. Tapi, kenapa nona tidak tidur dah malah datang ke perpustakaan?" Tanya terheran.
AkhirnyabTheta bertanya kepadaku dan aku aku telah menunggunya untuk menanyakan hal itu kepadaku.
Karena..
"Aku ingin kamu menjawab dengan jujur dimanakah keberadaan adikku Lena sedang bernaung?!"
Agar misteri tidak semakin menyebar luas begitu saja.
To be continued.
Relationship and Theta Finnestia 2
Waktu terus berjalan hingga satu bulan penuh semenjak aku terbangun dari tidur yang amat panjang dan tinggal dirumah Vishl.
Selama satu bulan itu juga aku telah berkomunikasi dengan banyak orang, dan sedikit demi sedikit mengembalikan kondisi tubuhku dari kelumpuhan, yang akhirnya aku sudah mulai membaik dan dapat menggerakan tubuhku secara leluasa, meski tidak seselusa itu.
Kemarin malam saja aku hampir saja terjatuh saat diperpustakaan..
kemarin malam... tepatnya 7 jam yang lalu atau satu jam sebelum akhirnya tengah malam tiba. Aku bersama dengan Theta sedang diperpustakaan, yang mana aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengenali dirinya dan pastinya juga untuk mencari segala informasi yang kubutuhkan untuk mengetahui bagaimana keadaan dari adikku Lena. Namun, alih alih theta memberitahuku secara langsung, dirinya mengunakan suatu sihir untuk menyampaikan semua yang ingin ku ketahui.
Sebuah sihir yang diberinama olehnya, 'penyuratan instan', yaitu sihir yang memanfaatkan sistem peleburan bukti surat itu dari dunia ini setelah penerima membacanya.. lebih tepatnya, setelah surat itu dibuka, maka surat tersebut akan langsung menjadi abu dan isi surat itu langsung tersampaikan didalam ingatan si penerima.
"Bagaimanapun, aku akan menjaga segala rahasianya.. jadi maafkan diri saya karena tidak dapat memberitahu nona secara langsung dan terpaksa memakai cara lain untuk hal itu." Jelas Theta menunduk dan meminta maaf kepadaku.
Aku kemarin tidak dapat menolak perminataanya, bagaimana tidak.. dia bersikap seperti itu dan Theta juga beralasan takut jika terjadi kebocoran informasi dalam bentuk apapun.. dia mengatakan bahwa dirinya telah menyadari bahwa segala informasi kertas maupun lisan yang menyinggung tentang adikku itu, otomatis akan terdengar dan terbaca oleh pengintai yang selama ini mengotak atik sistem..
Untungnya, selama ini aku hampir tidak pernah secara gamblang dan blak blakan dalam menyebutkan nama Lena dan aku menyebutnya dengan adikku atau ungkapan yang lainnya.
Entah hal semacam itu benar adanya atau tidak, namun Theta mengatakannya dengan serius.. jadi aku tidak ada pilihan lain selain percaya padanya.
Namun meski begitu, informasinya masih belum terkirim kepadaku.. Theta saat ini masih berusaha untuk mengatur sihirnya, agar sistem Dapat menganggap informasi yang akan Theta kirimkan adalah pesan yang tidak ada kaitannya dengan Lena.
Dan aku saat ini berbaring diatas sofa perpustakaan sambil membaca buku Vena untuk kesekian kalinya.. karena aku masih dibingungkan oleh beberapa hal.
"Entah itu buku ini, Vena , bahkan dunia ini. Mereka sama sama membingungkan..."
Sambil berbaring, aku membaca baca buku yang vena tulis itu selama berjam jam karena tidak bisa tertidur.
"Pagi pagi sudah mengeluh..."
Suara Vishl terdengar.. dia baru saja terbangun dan langsung menuju perpustakaan... bahkan dia belum mengganti pakaian tidurnya.
Vishl saat ini berada didepanku yang sedang terbaring, yang kemudian ia duduk disofa yang sama tempatku berbaring sambil membaca buku.
"Setidaknya gantilah bajumu yang terbuka itu..." ucapku tepat setelah vishl duduk.
"Kenapa? Aku baru saja terbangun dan sedikit malas... Lagipula dirumah ini hanya ada perempuan.." balas Vishl..
Dan apa yang dia katakan itu memang benar, tidak ada see-- seorangpun laki laki dirumah sebesar ini. Bahkan penjaga gerbang rumah ini adalah seorang perempuan.
"Tapi meski begitu, setidaknya pakailah sesuatu..."
Bukannya aku bersikeras untuk menyuruh dirinya menutupi tubuhnya itu, namun aku tidak ingin Vishl memperlihatkan bekas gigitanku yang ada ditubuhnya itu secara terang terangan!
"Kenapa kamu malu? Bukankah kamu sudah melihat yang bahkan belum dilihat oleh tunanganku?" Balas Vishl lagi menggodaku.
"Bukan itu maksudku, aku tidak sengaja meninggalkan bekas gigitan di dekat dadamu itu..."
"... Bukankah ini bagus? Aku bisa memamerkan--"
"Sudahlah pakai saja selimut ini!" Balasku dengan cepat dan melemparkan selimut yang daritadi ku kenakan.
"Baiklah..."
Setelah itu, entah aoa yang Vishl pikirkan. Dia ikut tiduran disebelahku dan mengenakan selimut itu kepadaku dan kepada dirinya.
"Pagi ini sangat dingin, lebih baik kamu juga mengenakan selimut ini.." ucapnya Vishl.
Tapi, entah bagaimana juga aku tiba tiba menginggat suara rintihan vishk yang sebelumnya ku coba untuk melupakannya karena suaranya itu terngiang ngiang didalam pikiranku..
.. .
(Thetalia Pov)
Namaku Thetalia Finnestia dan diriku baru saja dibuat cemburu oleh hubungan nona Vishl dan nona Marie... bahkan aku hanya bisa mas--
Tidak, aku hanya bercanda.
Aku tidak tahu apakah mereka menyadari keberadaan diriku yang masih berada diperpustakaan saat mereka mereka membicarakan hal itu. Bahkan saat kemarin malam.
Sebelumnya aku tidak mengetahui hubungan seperti apakah yang dapat membuat nona Vishl merasa nyaman, bahkan aku baru saja mengetahuinya kemarin malam dan diperjelas olehnya sendiri hari ini.
Sepertinya guruku Lena akan menghadapi kesulitan..
"Baiklah, mari abaikan topik barusan. Sihirku hampir selesai dan aku ingin istirahat sejenak.."
Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan berjalan ke arah mereka dengan sikap yang biasa.
Meski ini mendadak, namun jika dipikir pikir.. mungkin banyak sekali orang yang bertanya, kenapa seorang yang adalah murid dari penyihir paling berbakat didunia ini menjadi pelayan seorang bangsawan Cellestine?
Jujur saja jawabannya sangatlah sederhana, karena Nona Vishl adalah penyelamat hidupku yang pertama.. dan nona Lena adalah penyelamat keduaku..
Kejadiannya sudah cukup lama, yaitu saat diriku masih menjadi seorang bangsawan dikerajaan Domistica, yang mana saat itu, saat nona Marie berumur 5 tahun dan diriku berumur 7 tahun.
Dia telah mengulurkan tangannya untukku keluar dari kurungan yang selama ini mengurung diriku yang masih kecil itu.
Aku selama 7 tahun telah mengurung diri dari kehidupan sosial karena keadaanku yang dianggap aneh dan berbeda dengan yang lainnya.. itu karena diriku terlahir dengan rambut dan mata yang berwarna putih, begitupula dengan kulitku yang berwarna putih pucat.
Alasanku mengurang diri adalah aku saat itu tidak kuat untuk menerima ejekan dan makian dari bangsawan lainnya, karena mereka juga memaki kedua orang tuaku dengan mengatakan, "Lihatlah mereka, mereka telah melahirkan dan membesarkan anak monster!"
Sungguh masa lalu yang suram.. sampai akhirnya nona Vishl datang mampir ke kediaman keluargaku dan bertemu denganku. Dia telah menyelamatkanku... Dan sejak saat itu, nona Vishl sering datang untuk bertemu dan bermain denganku..
Namun itu semua berakhir setelah kerajaan Domistica melibatkan keluargaku sebagai salah satu kambing hitam dari kesalahan mereka dan membunuh habis keluargaku bersama dengan keluarga Rosetine dan beberapa bangsawan lainnya.. itu sudah berpuluh puluh tahun lamanya... Dan akhirnya aku telah dihidupkan kembali oleh penyihir dan guruku yang bernama Lena sekitar 18 tahun yang lalu, tepat sebelum kematian dirinya..
To be continued...
Starting (Volume 1 End)
Satu minggu telah berlalu semenjak informasi tentang Lena tersampaikan kepadaku.
Sunggu ajaib dan mustahil saat merasakan langsung sihir yang tiba tiba membuatku ingat semua informasi yang tertulis disecarik kertas.
"Dan aku langsung merasa dan lega saat mengetahui kabarnya..."
Didalam informasi itu, mengatakan Lena saat ini tinggal dengan damai dan tenang disebuah desa terpencil disuatu kerajaan yang jauh dari Aliansi kerajaan domistica. Lena saat in menjalani hidupnya sebagai seorang penyihir bukit tinggi dengan nama barunya Lereina Finnestia.. dan pastinya dia terpaksa harus membuang namanya Lena. Karena nama itu terlanjur dikenal banyak orang meski dia juga didunia ini memiliki nama aslinya, bahkan gelar sebagai keluarga kerajaan. Yaitu Tiara Lofenia de Domistic arc.
"Entah kenapa aku merasa dia tidak menyukai nama aslinya didunia ini..."
Takdir begitu baik kepadaku karena takdir saat ini seakan sedang menuntunku untuk bertemu dengannya, yang mungkin saja takdir juga akan mempertemukan kami semua.
Meski aku yakin hak itu tidak akan terjadi... tapi, setidaknya aku akan bersyukur jika diberikan petunjuk lebih untuk misteri ini..
Aku masih harus menyusun banyak sekali kemungkinan, agar kemungkinan itu dapat menjadi suatu kepastian. Dewi delta, aku memohon kepastianmu!!
.
"Hm Marie.. kenapa kamu melamun?" Ucap Vishl terheran karena melihatku sedang terdiam dimeja makan.
"Maaf, Aku hanya terpikirkan sesuatu..."
"Ah... pastinya kamu akan memikirkannya. Tapi sebaiknya kita sedikit bergegas untuk menyelesaikan sarapan kita, ini sudah melewati 1 jam dari jadwal."
"Ya itu kan salahmu...."
"Ahh iya juga sih..." balas Vishl memalingkan pandangannya.
Saat ini Aku sedang sarapan pagi bersama Vishl dan para pelayan. Mungkin akan aneh seorang bangsawan berbagi makanan bersama dengan pelayan mereka, namun dirumah ini tidak ada yang namanya perbedaan kasta. Semuanya sama, hanya saja peran mereka berbeda.
"Claret! Makanlah brokolimu!"
"Nona Thetalia, apa kamu benar telah menemukan buku yang selama ini ku cari?"
"Ya aku menemukannya, sebelum berangkat nanti.. akan ku antarkan kepadamu nona Lisbeth."
Jujur saja, suasana memakan bersama bangsawan yang ku pikirkan akan sangat sunyi dan hampir tidak ada hal yang menarik. Namun setiap saat makan bersama mereka, pemikiranku itu terpecahkan dengan sangat mudah...
Mereka dengan senang dan asiknya menikmati makanan dengan mengobrol satu sama lain. Bahkan seseorang yang sangat pendiam seperti lisbeth dan Thetalia saling menikmati obrolan mereka, mereka juga terlihat sangat dekat.
Suasana seperti ini jujur mengingatkanku pada mereka, yaitu Vena, Rikka, Reina, Yuna, bersama denganku dan adikku Lena sedang tinggal bersama diluar negeri. Bahkan hampir semua dari kami memiliki pelayan masing masing dan saat kami makan bersama, seperti inilah suasananya.
.
Ditengah suasana itu, aku memakan sarapanku sambil memikirkan banyak hal, aku tidak benci suasana itu, makanya diriku yang tidak menyukai keramaian ini tidak merasa terganggu sama sekali.
"Anuu.. nona Marie, aku ingin bertanya denganmu," ucap Julyet yang duduk disebelahku tiba tiba.
Dia adalah salah satu pelayan yang memiliki peran dibagian kebersihan.
Mendengernya, aku dengan ramah pun membalas perkataannya itu. "Apa yang ingin kamu tanyakan Julyet?"
Dia lebih pendek dariku, dan dia memiliki rambut panjang, yang saking panjangnya rambutnya hampir menyentuh tanah.
Entah dia yang terlalu pendek atau rambutnya yang terlalu panjang.
Tingginya mungkin sekitar 145. Wajahnya begitu imut dengan mata lentik yang sama lentiknya dengan Vishl. Serta sifat pemalunya membuat dirinya semakin ingin ku angkat dengan kedua tanganku....
"Nona Marie, beberapa saat lalu, saat aku ingin membersihkan kamar nona Vishl, aa.. aku tidak sengaja mendengar suara rintihan nona V...-"
"Ah, mungkin dia sedang melakukan rutinitasnya sebagai seorang gadis, dia mungkin ingin segera bertemu dengan pangerannya." ..
"Apa maksud nona Marie masturbasi?"
"Eh, kamu tau dari mana kata itu!"
"Begini begini, aku sudah berumur 17 tahu..."
"Ah iya juga sih...."
Bagaimana ini, aku tidak bisa beralasan...
"Tapi tapi jika nona vishl melakukannya sendiri, kenapa aku juga mendengar suara nona Marie! Apa yang sedang kalian lakukan?!" Tanya Julyet lagi bersemangat.
Aku lupa jika Julyet yang terlihat mungil ini pernah tertangkap basah olehku sedang membaca novel romantis antara perempuan. Yang dimana itu pastinya akan membuat dirinya penasaran.
"Ahh!!! Aku sudah sangat kenyang! Sepertinya aku tidak bisa menghabiskannya..." teriak Vishl mengulet karena merasa kenyang dan entah kenapa bisa disaat yang tepat.
"Tapi nona, itu masih banyak seka——"
"Ahh, aku juga sudah kenyang. Vishl sebaiknya kita segera bersiap siap!!"
Balasku memotong bertujuan mengalihkan perhatian dengan memanfaatkan.
"Kalau begitu, mari segera berkemas..." jawab Vishl berjalan ke arah pintu keluar ruangan.
Kemudian aku berdiri dari tempat dudukku dan berpamitan kepada Julyet dengan memanfaatkan alasan yang ada disaat yang tepat ini.
"Maaf Julyet, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku akan memberitahumu disaat yang tepat." Ucapku dengan mengusap usap kepalanya.
Dan dengan begitu aku berjalan ke arah Vishl dan dengan diikuti Thetalia dan Lisbeth yang juga menghentikan makan mereka, yang kemudian semuanya juga berhenti makan.
"Eh, kenapa kalian berhenti makan?" Tanya Vishl kepada mereka dengan kebingungan.
"Karena itu tidaklah sopan bagi kami."
"Tidak tidak, kalian lanjutkan saja makannya... lagipula aku ingin sedikot diet" balas Vishl dengan memalingkan matanya dan sedikit tersipu.
"Pokoknya kalian lanjut makan saja.." terusku.
"Baiklah jika itu perintah.." lanjut mereka kembali duduk ditempat masing masing.
Namun tidak dengan Thetalia dan Lisbeth yang tetap berdiri dan berjalan ke arah kami.
"Kami berdua memiliki tanggung jawab untuk membantu nona berdandan..." ucap mereka bersamaan.
"Ahh, iya juga ya. Maaf merepotkan.."
"Ehh.. jika kalian masih ingin makan, silahkan makan saja dulu."
"Tidak, justru kami sudah merasa kenyang. Kalau begitu mari kita segera ke kamar!" Jawab lisbeth bersikeras.
"Lisbeth, kenapa kamu bersemangat sekali..." ucap Vishl terheran...
.
Dengan begitu, kami berempat pun keluar ruangan meninggalkan mereka dan segera menuju kamar vishl untuk bersiap siap.
Karena...
Kami akan berangkat menuju ibukota kerajaan Domistica, yaitu tempat yang akan menjadi permulaan bagiku untuk melaksanakan semua rencanaku.
"Ngomong ngomong Vishl, apa kamu terpikirkan perkataanku kemarin?" Bisikku ke telinga Vishl saat ditengah lorong.
"Bagaimana tidak?!!!" Balas vishl yang malah berteriak dan membuat Lisbeth dan Thetalia kebingungan.
The capital and The First Wine
Jujur saja, tidak ada hal penting yang terjadi selama perjalanan kami menuju ibu kota. Bersama dengan Vishl, Lisbeth, dan Thetalia, aku berangkat menuju ibu kota domestica, menaiki kereta kuda pribadi milik Vishl...
Tidak ada yang terjadi selain percakapan di dalam kereta sambil menunggu beberapa jam untuk sampai ke ibu kota kerajaan.
Dan kini, kami telah tiba di ibu kota, dan ketika aku menginjakkan kaki pertama kali, aku langsung dibuat terkagum oleh suasana ramai dan megah di kota tersebut.
.
"Ahh!! Sudah setahun sejak terakhir kali aku datang ke sini," kata Vishl di sampingku sambil melakukan peregangan kecil setelah duduk didalam kereta selama berjam jam..
Dan disaat itu juga Vishl menarik tanganku dan langsung berlarian ditengah ramainya orang yang berlalu lalang dengan semangat. Akibatnya kami terpisah dari Thetalia dan Lisbeth
"Jangan menarik tanganku begitu saja! Lihat kita terpisah dengan mereka!" Marahku kepadanya tepat setelah kami berhenti.
Kami berhenti didepan sebuah bar.
"Maaf.... tapi ayo masuk ke dalam bar ini! Aku sudah berumur 18 tahun! Jadi aku ingin meminum minuman yang elegan!" Jelas Vishl menunjuk nunjuk ke arah bar dibelakangku.
"Memangnya kamu anak kecil sampai bersemangat seperti itu?!" Marahku lagi.
Setelah itu aku terdiam, berpikir sejenak karena apakah wajahku terlihat wajar untuk minum didalam, aku sendiri mati tepat diumurku bertambah menjadi 17.. jadi mungkin saja umurku secara biologi mengikuti umurku sebelum mati.
"Hei vishl, terlihat seperti umur berapakah aku?" Tanyaku pada vishl memastikan daripada aku kebingungan sendiri.
Jujur aku tidak peduli dengan umur, karena aku sendiri mulai meminum wine saat umur 15 dan saat aku masih mengurung diri didalam rumah. Namun yang ku takutkan adalah, kepada bagaimana pandangan orang orang melihat diriku.
(Note: apa yang dilakukan Marie tidak untuk ditiru)
"Mungkin seorang wanita berumur 20 tahun? Kamu juga cukup tinggi daripada aku dan wajahmu yang tampak cantik dan dewasa. Tapi ya aku tidak tau secara detail karena kamu sendiri hampir sangat jarang mengeluarkan ekspresi ataupun emosi secara alami."
"... kalau begitu baiklah ayo kita masuk, aku juga jadi penasaran dengan rasa minuman didunia ini!" Balasku yang entah bagaimana dengan semangatnya memutuskan untuk ikut minum dengan Vishl.
Mau bagaimana lagi, sekalinya diriku ini merasa kekurangan pasti akan langsung melakukan sesuatu untuk melengkapi kekurangan itu......
.
Kami berdua pun masuk ke dalam tanpa ragu dan langsung disambut oleh pelayan disana.
Salah satu dari mereka mengarahkan kami menuju bangku kosong ditempat yang cukup istimewah.. yang dimana mereka tahu bagaimana cara mengistimewahkan setiap pelanggan mereka.
Bahkan pelayan itu menarikan kursi untuk kami dan kami pun duduk dengan senang hati, namun saat mulai duduk aku tidak sengaja menjatuhkan pena yang ku bawa dan saat ingin mengambilnya, secara bersamaan pelayan itu juga berniat mengambilkannya untukku, sehingga tangan kamu berpapasan dan hampir saling bersentuhan.
Namun entah secara reflek atau apapun itu, tanganku langsung menghindar tepat tangan pelayan itu hampir mengenai tanganku. Yang membuat pelayan itu terkejut kebingungan.
Bukan keanehan jika aku benar benar menghindari kontak fisik dengan pelayan itu, karena... pelayan itu adalah seorang laki laki.
"Anu nona, ini penamu terjatuh..." ucap pelayan itu mengambilnya untukku.
"Terima kasih."
"Ada apa Marie?" Tanya Vishl melihat kejadian itu.
"Tidak ada, hanya penaku yang terjatuh dan dia mengambilkannya untukku."
"Ahh, terima kasih ya," ucap Vishl berterima kasih pada pelayan itu setelah mendengar perkataanku.
"Tidak masalag nona," jawab pelayan menunduk dan segera pergi.
Yang kemudian pelayan lain datang untuk mencatat pesanan kami, yang membuat kami berdua pun melihat lihat menu.
"Hm, aku mau wine ini. Tolong pastikan wine pertamaku ini adalah yang terbaik," ucap Vishl berlagak seperti tuan putri yang baru saja menginjak dewasa.
".... kalau begitu aku sama saja dengannya." Ucapku juga mengatakan pesanan setelah pelayan itu melihat ke arahku.
Kami pun memesan beberapa makanan juga yang kemudian pelayan itu meninggalkan kami untuk menyiapkan pesanan kami.
"Apa tidak apa boros dibar dan dihari pertama?"
"Sudahlah sudahlah, mari kita nikmati saja," jawab Vishl yang masih berlagak seperti tuan putri.
"Padahal kamu sendir8 beberapa hari lalu bilang ingin mencoba mengurangi pengeluaran bulanan, namun saat ini malah mengeluarkan uang empat kali lipat dari jumlah uang bulanan yang ingin kamu kurangi itu..."
"Jangan ingatkan aku soal itu..."
"..."
Ditengah obrolan kami, seseorang mendatangi kami berdua dengan membawa sebotol wine.
"Permisi nona nona sekalian, saya selaku pemilik bar ini ingin secara langsung menuangkan minuman nona." Ucapnya.
"Ah baiklah, cepatlah aku sudah sangat haus," balas Vishl dengan wajah datar.
"Aku juga mau dipercepat..."terusku.
"Baiklah, maafkan saya..." jawab orang itu yang kemudian membuka dan menuang sebotol wine itu dengan perlahan, kemudian dia kembali menutupnya dan meletakannya pada wadah besi yang mewah dan penuh dengan es didalamnya... adegan yang membosankan...
"Ini adalah wine terbaik kami, yaitu wine anggur yang berusia lebih dari empat ratus tahun! Yang juga berasal dari negri zamrud yang merupakan pemproduksi wine terbaik didunia ini!" Jelasnya panjangan lebar seteleh menuangkan wine itu.
"Baiklah sudah selesai... kau sudah dipersilahkan pergi..." ucapku kasar menanggapi orang itu.
Aku merasa daritadi dia sedang mencoba untuk menggodaku, karena dia dengan pelayan yang mengambilkan penaku itu adalah orang yang sama.
To be continued
First Raiz (Volume 1 End)
"Dia memang menganggu, tapi apa tidak apa mengusirnya dengan sekasar itu, Marie?" tanya Vishl setelah aku mengusir pria menjijikan itu. Aku dengan santainya menjawab setelah meletakkan segelas wine, "Tak apa, lagi pula aku tidak nyaman ketika dia mencoba untuk menggodaku."
"Iya juga sih, aku pastinya akan melakukan hal yang sama denganmu jika berada di posisimu," balas Vishl sependapat denganku. Yang Tak lama setelah percakapan itu, makanan yang kami pesan mulai berdatangan, begitupula dengan wine mahal yang dipesan Vishl.
"Wine dan steak yang sama-sama mahal, ini adalah hidangan yang kutunggu-tunggu." Ucaku Karena aku cukup penasaran dengan makanan di luar rumah Vishl. Didalam rumah itu, rasa dari makanannya sangat khas dari restoran keluarga Vinford yang dikelola langsung oleh Vena. Tentu saja aku tidak heran, karena chef mereka akan mewariskan resep dan tekniknya selama berabad-abad.
Rumah itu sendiri sudah memiliki sejarah yang unik.
Aku pun dengan tidak sabarnya langsung memakan steak yang dihidangkan di depanku. Baunya sangatlah harum, dagingnya begitu lembut dan sangat juicy. Jika dibandingkan dengan daging yang pernah kumakan, ini mungkin sudah masuk ke dalam kategori wagyu Jepang A5.
"Daging ini sangat enak, tapi sayangnya aku tidak bisa memakannya terlalu banyak," ucap Vishl, mengingat bahwa dia sedang diet. Mendengar ucapannya Aku pun dengan tujuan usilku, langsung mengambil garpu milik Vishl dan menusuk daging itu untuk kususupkan kepadanya. "Bukankah sangat sayang jika menyia-nyiakan daging yang sangat lembut dan lezat ini?" Lalu aku terus menyuapinya sampai daging steak milikku juga ikut termakan olehnya.
"Ahh, aku melupakan sesuatu!!!" teriak Vishl, baru menyadari bahwa dia sudah memakan terlalu banyak daging. "Marie! Kamu sangat jahat sampai-sampai menggunakan lembaran sihir penghasut untuk menggodaku!!" Terus dia sambil marah kepadaku dan menyadari bahwa aku meletakkan kertas kecil yang tertulis mantra sihir dilangit langit mulutku.
Ya, ini adalah salah satu sihir yang ada di dunia ini, yakni sihir tertulis, atau mantra yang dituliskan atau disimbolkan pada suatu objek seperti kertas dan lainnya.
Di dunia ini, ada 2 jenis sihir, yaitu sihir tertulis dan sihir rapalan, atau bahkan sihir tanpa rapalan. Sihirnya memiliki sistem yang sangat kompleks yang dapat di analogikan dan dipelajari dengan ilmu dari dunia kami.
Bukan hanya sebuah sihir yang bisa langsung terwujud, namun suatu kompleksitas pada suatu sistem yang sangat rumit dan akhirnya dapat tervisualisasi dan memberikan dampak di dunia nyata.
Oh ya, sihir rapalan juga dibagi menjadi beberapa bagian, seperti sihir metafisik dan sihir realitas. Sihir metafisik tidak akan berfungsi di dunia ini dan hanya dapat dilihat tanpa tahu efek yang sebenarnya.
Contohnya seperti saat memutar balik waktu untuk memperbaiki sesuatu, namun setelah memutarnya, sesuatu akan terjadi dan mengembalikan sesuatu itu ke awal. Atau efeknya hanya sementara. Sedangkan sihir realitas adalah sihir yang benar-benar dapat terjadi dan berdampak, namun sihirnya tergantung pada realitas dalam pikiran penggunanya.
Semakin kompleks cara sihir itu dipikirkan, maka sihir itu akan dapat teralisasikan dalam skala yang besar, bahkan dapat mengubah realitas itu sendiri.
Namun, di dunia ini hanya terbatas dalam dimensi ketiga dan kebanyakan orang tidak memiliki kompleksitas dalam berpikir, serta orang yang bisa menggunakan sihir rapalan ini hanya dapat dihitung dengan jari.
Karena kebanyakan orang hanya dapat menggunakan sihir dasar dan bahkan tidak dapat menggunakannya sama sekali. Sepanjang sejarah, penyihir yang mendapat penyihir besar hanya dapat mengubah realitas bahwa manusia tidak bisa menggunakan sihir sampai ranah di mana ia bisa mengubah daratan benua menjadi lautan.
Dan aku tahu itu dari buku Vena. Serta sekarang, di depanku ada seseorang yang dapat menggunakan sihir perapalan tingkat tinggi, yang masih belum kuketahui kekuatannya.
"Namun, itu salahmu sendiri karena tertipu dengan sihir yang amat kecil ini," ucapku membalasnya sambil menutup mataku dan lanjut meminum wine. Aku sudah tahu rasa daging steak itu, jadi aku tidak perlu memakannya terlalu banyak.
"Baiklah, sekarang tinggal menunggu hidangan selanjutnya."
"Sudahlah, aku benci, Marie!" balas Vishl kesal.
Mendengarnya aku terdiam sesaat.
"Ya, maaf-maaf, aku terlalu berlebihan. Aku hanya ingin mencoba sihir yang kupelajari itu." Aku meminta maaf kepadanya, namun ia tetap terdiam dan memalingkan wajahnya. Melihatnya yang masih kesal, aku pun berdiri dan membalikan pandangannya untuk kembali memandangku dan aku mencium bibirnya saat itu juga.
"Sudahlah, maafkan aku. Aku tidak mau melihat wajah cantikmu yang berseri ini menjadi cemberut." Ucapku setelah melepaskan ciumanku.
"Ma-- Marie?! Apa yang kamu lakukan?!!" tanyanya kebingungan dan tersipu setelah aku kembali duduk.
"Aku hanya menciummu seperti biasanya," balasku menjawab dengan memiringkan kepala.
"Ta-- tapi bagaimana jika ada yang melihat?! Bukankah rencanamu juga akan menjadi kacau balau?!"
"Ya memang... tapi mau bagaimana lagi, aku tidak dapat membiarkan boneka cantikanku membuat wajah muram seperti itu." Ya benar, bonekaku.
Tepat setelah itu, suara Thetalia dan Lisbeth terdengar setelah pelayan bar menyambut mereka. Yang akhirnya mereka pun diantar oleh salah seorang pelayan ke meja kami setelah melihat bros yang mereka kenakan sama dengan bros yang kukenakan dan Vishl kenakan.
"Ahh, nona Vishl dan Marie.... ada apa denganmu, nona Vishl?" Ucap Thetalia.
"Tidak seperti dirimu yang biasanya. Seharusnya kamu akan menunjukkan ekspresi bangga saat ini," terus Lisbeth yang ingin mengatakan "ekspresesi nona Vishl yang sesungguhnya adalah saat dia merasa bangga karena bros ini adalah idenya."
"Apa maksud kalian.... aku tidak apa, kalian duduklah..." ucap Vishl, masih tersipu. Namun, tidak lama setelah itu, tiba-tiba suara langkah kaki mendekat dan suara seorang pria terdengar. Namun, saat suara itu terdengar, tiba-tiba saja Vishl menjadi terdiam hening dan memasang topeng lainnya.
To be continued
prolog (Volume 2)
Arc 2. Prolog.
Seorang pria tiba-tiba muncul di belakang Vishl dan menyapanya, seolah-olah mereka sudah saling kenal.
"Lama tidak bertemu, Vishl..." ucap pria tersebut di belakang Vishl. Sedangkan aku benar benar tidak tau apa hubungan pria itu dengan Vishl, namun kemungkinan besar bahwa pria itu adalah bangsawan dengan status yang tinggi. Karena dia didampingi oleh 2 orang ksatria yang nampak mencurigakan bagiku.
Vishl dengan perasaan tidak nyaman setelah mendengar sapaan itu langung menyapa kembali pria itu, "Ah pangeran Julius, ada apa seorang pangeran datang ke kedai kecil ini?" Balas Vishl dengan mata yang mati. Seolah dirinya mencoba untuk mengubah kesan tentang dirinya..
Dan benar saja, tidak lama setelah itu. Vishl kembali menjawab sapaannya tepat sebelum orang yang ternyata adalah tunangannya membalas sapaan Vishl. "Ahh maafkan diriku. Maksudku lama tidak bertemu juga pangeran julius." Ucapnya berdiri dan menghadap ke arah orang itu.
Jujur saja, ini adalah pemandangan terburuk yang tidak ingin ku lihat. Maka dari itu, aku juga ikut berdiri sambil memperkenalkan diri dengan sikap yang sombong. ""Hm, jadi kamu tunangan dari Vishl. Perkenalkan, aku adalah kakak jauh Vishl, Marie Violetta," ujarku pada pangeran itu sebelum berdiri dari bangku tempatku duduk.
Mendengar perkataanku sikap terkejut pastinya akan muncul dari semua orang di sana, termasuk Vishl, Thetalia, dan Lisbeth yang bahkan telah mengetahui tujuanku.
"Aku ingin memulai sebuah permainan", itu yang ku katakan kepada mereka bertiga beberapa saat lalu. Namun aku tidak mengatakan rencanaku, karena caraku ii adalah cara yang nekat dengan memanfaatkan situasi yang ada maupun pernah ada.
"Kau! Beraninya berbicara seperti itu kepada pangeran!!" teriak seorang ksatria perempuan di belakang pangeran, marah sambil mendekatiku.
Tanpa lama dan membuang waktuku yang begitu berharga, aku melanjutkan perkataan dan perkenalanku "Rosettine... baiklah, akan kuulangi. Namaku Marie Violetta deyour Rosettine." Nama itu kugunakan setelah melihat situasi yang pernah terjadi. Sengaja ku perjelas kebohongan ity dengan menambahkan "deyour," yang berarti sebelumnya, mantan, dan leluhur dalam bahasa dunia ini.
Dan ya, masih sesuai dan tepat seperti apa yang baru saja aku pikirkan. Tidak hanya pangeran saja yang terkejut, namun kedua ksatria itu, bahkan semua orang didalam bar itu.
Karena seperti yang ku jelaskan sebelumnya. Keluarga Rosettine telah menjadi korban kebusukan kerajaan selama bertahun tahun.. dan tidak ada yang tau hal itu, selain itu juga keluarga rosettine tidak tersisa sama sekali. Dengan begitu aku saat ini ingin memberikan kesan bahwa diriku sebagai keluarga keluarga Rosettine yang masih hidup, ataupun leluhur Rosettine yang masih hidup dan ingin menuntut apa yang telah diperlakukan oleh kerajaan terhadap keluarga Rosettine.
"Itu tidak mungkin!!!" Bentak pangeran membantah. Yang mana itu juga masuk kedalam ribuan kemungkinan yang telah ku pikirkan. Sedangkan pengawal ksatria itu menjadi diam.
Aku dengan cepat langsung menjawabnya bantahan itu, dengan tertawa kecil. "Anak muda zaman sekarang tidak tau sopan santun ya?.." ucapku menekankan intimidasi terhadap pangeran. "Jika kau masih tidak percaya, coba saja periksa identitasku dengan sihir Imdcidlis, seharusnya penyihir kerajaan memiliki setidaknya satu penyihir yang mampu melakukannya." Terusku.
"Sihir imcidlis?! Bahkan penyihir terakhir yang bisa mengenakannya dikerajaan ini telah meninggal 70 tahun yang lalu!" Ucap ksatria perempuan itu lagi dan diikuti pangeran yang langsung menghadap ke arah ksatria itu yang membuat ksatria itu membungkam mulutnya dengan kedua tangannya karena tidak sengaja keceplosan informasi yang penting.
Sepertinya keberuntungan sangat memihak kepada diriku. Bahkan aku baru mengetahui sihir itu beberapa hari yang lalu saat membaca buku diary Vena.
"Tidak.. bahkan tidak usah dicek terlebih dahulu, aku berani bersumpah telah melihat Marie bangkit dari kematiannya saat ia tidur selama beberapa dekade." Ucap Vishl tiba tiba.
Baiklah, takdir sekarang yang telah mendukungku karena telah membuat Vishl kembali seperti semula dan mengatakan hal yang masih universal, jadi pendeteksi sumpah tidak akan dapat mendeteksi seratus persen kebohongan didalamnya, bahkan tidak dapat mendeteksi seratus persen kebenarannya juga.
Ini ide yang bagus!
"Bahkan saya Thetalia Finnestia, sebagai salah satu murid penyihir Finnestia yang masih hidup juga berani bersumpah atas apa yang dikatakan nona Vishl!" Ucap Thetalia mendukungku, dan diikuti oleh lisbeth yang juga mengatakan, "Saya juga tidak dapat menyangkal mereka."
Improvisasi dari mereka benar benar yang terbaik, bahkan pangeran kini tidak dapat berkata apapun dan terlihat gelisah. "Baiklah, saya akan percaya, kalau begitu saya ingin undur diri terlebih dahulu.." ucapnya dengan gelisah dan langsung berniat pergi dari bar ini.
"Hey lihatlah mereka membuat pangeran terlihat gelisah!"
"Keluarga rosettine? Apa ini sebuaah konspirasi?!"
"Pangeran saat ini sedang gelisah dan panik?!"
Suara suara pembicaraan pengunjung lain terdengar. Mereka langsung membicarakan apa yang baru saja terjadi, memang mulut dari orang orang dimanapun tempatnya tidak dapat diragukan kepedasannya.
"Kalian diamlah semua! Anggap apa yang barusan terjadi tidak terjadi!! Atau akan ku penggal kepala kalian satu persatu?!" Teriak ksatria satu lagi yang daritadi terlihat tenang. Setelah itu ksatria laki laki itu menghampiriku, "Nona Marie kan? Maaf sebelumnya, tapi aku akan mengikuti permainanmu," ucapnya tepat didepanku.
"Baiklah kalau begitu, kami pamit undur diri terlebih dahulu." Ucapnya lagi setelah sedikit menjauh dari hadapanku.
Setelah itu, mereka bertiga pun langsung pergi meninggalkan bar begitu saja.
"Baiklah, sebaiknya kita duduk kembali.. Theta Lisbeth, pesanlah sesuatu. Kalian tadi pago tidak menghabiskan makanan kalian kan?" Ucapku mengembalikan keadaan dan duduk ditempat seperti semula. Namun Entah kenapa Vishl masih memalingkan wajahnya dariku.
"Ahh, baiklah saya tidak bisa menolaknya." Jawab jukir Lisbeth melihati menu yang diikuti oleh Theta yang membalas, "kalau begitu saja juga ingin memesan sesuatu."
Dengan begitu, suasana kembali menjadi normal dan seperti sebelumnya. Suasan panas seketika menghilang.
"Anuu.. Marie, terima kasih telah menyelamatkanku..." Vishl yang daritadi masih memalingkan wajahnya ke diriku, tiba tiba berterima kasih kepadaku. Dia merasa terselamatkan oleh persuasiku yang mengakari masalah yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Namun tak apa, selama dia kembali tersenyum.
"Sama sama juga, aku juga terlalu bersemangat dan membuat kalian ikut ke dalam masalah yang ku buat. Seharusnya aku meminta maaf, tapi juga aku bingung apakah aku harus meminta maaf kepada kalian, karena kalian sendiri yang telah membuat improvisasi yang begitu mengagumkan itu," ucap berpanjang lebar.
Karena jika mereka hanya terdiam saja daritadi, mereka tidak akan terkena masalah. Namun jika mereka tidak bergerak, aku juga akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk membuat pangeran yakin dan merasa ragu seperti itu.
"Tidak, aku kan bilang. Apapun yang terjadi denganmu, maka aku juga harus terlibat didalamnya!" Ucap vishl.
"Saya telah memutuskan untuk setia kepada anda, jadi apapun masalah majikan saya adalah masalah bagi saya.. dan tentunya pelayan lainnya." Terus lisbeth sambil minum wine yang dia tuang sendiri dari botol wine Vishl.
"Oi lisbeth bukankah itu wine milikku?!" Teriak Vishl setelah melihat dan menyadari Lisbeth yang daritadi sudah minum wine miliknya. "Ahh aku tidak tau, maaf." Balas Lisbeth. Dan mereka pun bergaduh...
"Lagipula aku ingin membalaskan dendamku terhadap kerajaan dan membalaskan dendam teman masa kecilku yang telah dibunuh kerajaan. Terlebih lagi, nona marie adalah kakak dari guru saya dan kakak dari penyelamat saya, serta saya adalah pelayan yang sangat mengagumi anda. Jadi sudah wajar jika saya memihak nona Marie." Jelas Thetalia berpanjang lebar ditengah kegaduhan Vishl dan Lisbeth.
"Sudah ku duga kalian adalah partner keduaku yang sangat cocok denganku."
Namun tetap saja mereka tidak sesempurna keberadaan Vena dan Rikka, namun juga mereka masih memiliki apa yang tidak dimiliki oleh mereka berdua...
To be continued..
Side story: Julyet
Eps spesial 1.
Namaku Julyet. Julyet Nia Farnius II, ya.. nama seorang bangsawan atau mungkin keluarga bangsawan, namun diriku adalah pelayan putri Vishl dan nona Marie.
Putri Vishl telah menyelamatkanku 5 tahun yang lalu dan itu saat dia berumur 20 tahun. Ini mungkin aneh, karena umurnya saat ini baru saja menginjak 18 tahun.. namun itulah yang sebenarnya.
Mungkin aku akan menceritakannya dan membongkarnya, sebuah serpihan dari misteri yang dimiliki putri Vishl. Yaitu putri Vishl adalah seorang vampir yang memiliki kondisi aneh, yakni ketika ia mati, ia akan bertambah muda. Aku tidak tau bagaimana itu bisa terjadi, namun itulah yang pernah ku lihat sendiri.
Bahkan, semua pelayan... yaitu lebih dari 20 pelayan telah mengetahui kondisinya. Namun kebanyakan mereka juga tidak dapat muncul dan hanya bekerja dibalik bayangan. Hal ini dikarenakan ingatan nona Vishl juga terpangkas sesuai dengan umur yang dimiliki, jadi untuk menyesuaikan ingatannya, beberapa pelayan tidak menunjukan dirinya.
Jika putri mati diumur 20 tahun dan hidup kembali menjadi muda, misalnya 18 tahun, maka ingatannya 2 tahun yang terlama akan dihapuskan. Kira kira seperti itu yang diceritakan oleh Thetalia dan Nona Lisbeth.
Entahlah aku benar benar tidak tau bagaimana cara kerjanya, Aku membenci hal yang rumit!
"Begitu pula dengan kondisi nona Marie yang entah kenapa juga sangatlah aneh!"
Coba bayangkan, seorang manusia biasa telah mati. Apa yang akan terjadi? Pastinya tidak ada. Namun yang terjadi saat nona Marie mati adalah waktu akan benar benar terhenti!
Bagaimana caraku tau? Itu jelas karena aku telah menyaksikannya secara langsung! Yang entah bagaimana saat nona Marie mati, waktu akan benar benar terhenti, termaksud dengan nona marie itu sendiri. Namun tidak denganku!
Aku telah mengalaminya 2 kali semenjak aku datang ke rumah ini. Saat pertama kali, aku tidak tau apapun yang telah terjadi, karena waktu disekitarku benar benar terhenti tanpa tau penyebabnya. Dan yang kedua, yaitu saat beberapa minggu yang lalu, atau lebih tepatnya hari ini?
"Pokoknya itu sudah berlalu beberapa minggu yang lalu bagiku, namun itu terjadi pada hari ini. Yaitu nona Marie dibunuh oleh bandit saat mencoba melindungi nenek penjual manisan ditengah desa yang sedang diserang dan putri Vishl bersama Thetalia dan pelayan lainnya tidak berada dimansion. Hanya ada aku seorang dan melihat nona marie ditembakan panah tepat mengenai kepalanya, yang membuat kepala nona marie menjadi hancur seketika."
Jujur saja, aku yang melihat itu sangat syok bahkan terpikirkan selama berhari hari, meski tau waktu telah berhenti dan dengan perlahan memundurkan diri ke waktu dimana nona marie masih mengunakan kursi rodanya.
Dan anehnya, nona marie sendiri benar benar tidak mengingat hal itu. Hanya aku seorang diri yang mengingatnya, sampai sampai membuatku hampir depresi karena terngiang ngiang oleh kejadian itu, dimana penduduk desa dibantai, dan nona marie dibunuh.
Namun, disaat itulah nona marie mulai berbicara kepadaku dan mulai dekat denganku. Dia jadi lebih sering berbicara padaku, selayaknya seorang kakak.
"Yang mungkin saja, nona marie hanya merasa kasihan kepadaku..."
Jadi, itulah misteri dari mereka berdua yang tidak dapat ku jelaskan lebih dari ini. Karena aku juga tidak dapat menjelaskannya, terlebih aku sangat membenci sesuatu yang rumit dan tidak ku pahami....
Mau bagaimanapun, aku ingin mengatakan dan menceritakan anomali yang ku saksikan secara langsung
"Mau itu nona marie, ataupun putri Vishl, mereka sama sama misterius dan merumitkan.. bahkan dengan hubungan mereka berdua saja sudah terasa begitu rumit untuk ku pahami."
Jadi, sekian dariku.. kepalaku saat ini serasa seperti ingin meledak saat memikirkannya....
Kalau begitu, sampai berjumpa kembali..
To be continued
A night
.
"Ahh!! Sampai juga di penginapan!!!" Teriak lega Vishl sambil meregangkan seluruh badannya. Kami berempat baru saja tiba di penginapan sebelum waktunya makan malam, dan untungnya kami tidak kehabisan kamar.
Besok adalah hari festival kerajaan untuk merayakan ulang tahun Kerajaan Domistica. Banyak orang akan datang dari luar kota, bahkan dari luar kerajaan, entah itu untuk berjualan, bertamasya, atau alasan lainnya...
"Mungkin aku ingin tidur lebih cepat hari ini. Aku sangat mengantuk karena belum tidur pulas selama seminggu ini," ucapku sambil membalas ucapan Vishl, lalu ambruk begitu saja di atas ranjang.
"Baiklah, tapi jangan sampai besok tidur lebih dari empat jam setelah matahari terbit," kata Vishl.
"Ini adalah piyama Anda, nona," ucap Lisbeth setelah itu sambil meletakkan piyama di ranjang sebelahku. "Ya, aku tahu itu dan Terima kasih, Lisbeth. Aku akan mandi terlebih dahulu dan segera tidur," ucapku membalas mereka berdua secara bersamaan.
Jujur, hari ini sangat melelahkan. Aku harap besok tidak membuatku merasa selelah hari ini.
Besok, seluruh kerajaan akan dipenuhi oleh pawai, stan, dan orang-orang yang berlalu-lalang untuk menikmati acara besar ini atau orang orang yang melakukan kegiatan lainnya.
"Marie, sepertinya ada masalah dengan saluran airnya. Aku akan keluar dan menanyakan kepada pelayan penginapan," ucap Vishl setelah mengetahui bahwa keran air dikamar mandi bermasalah setelah mengeceknya.. Ia keluar dari kamar dan berniat untuk bertanya kepada pelayan penginapan.
"..."
Penginapan ini memiliki kamar mandi langsung di dalam kamarnya, kondisinya sangat meyakinkan dan bersih. Aku suka penginapan ini.
"Tapi mengapa saluran air harus bermasalah di saat seperti ini? Sepertinya keberuntungan sudah tidak berpihak kepadamu di malam hari ini ini."
"... Tidak ada gunanya mengeluh, karena memang ada masalah dengan saluran air mereka. Kita harus pergi ke pemandian umum yang untungnya tidak jauh dari sini," ucap Vishl kembali dengan cepat dan menyuruh untuk pergi ke pemandian umum.
"Entah mengapa aku merasa sangat malas, tapi juga aku tidak dapar tertidur tanpa membilas tubuhku terlebih dahulu." Jadi, karena hal sepele itu, aku pun terpaksa mengikuti saran Vishl.
Sepertinya keberuntunganku memang benar-benar sudah sirna dan lenyap malam ini. Yang malah Kini aku mengalami sial karena ulahku sendiri yang menuliskan mantra sihir keberuntungan takdir beberapa saat lalu.
Padahal, aku tidak menggunakan energi sihir milikku sendiri, melainkan hanya secercah sihir yang aku kumpulkan dari helaian rambut Vishl. Itu juga karena aku tidak memiliki energi sihir...
"Ehh... aku tiba tiba saja merasa mengantuk?... sangat mengantuk...? maaf, aku sepertinya tidak jadi ikut. Kalian tinggalkan saja aku. Aku benar-benar tidak dapat menahan rasa kantuk yang sangat berat ini--." Ucapku tepat sebelum akhirnya tertidur dengan lelap.
Ini aneh, aku belum pernah mengalami kantuk yang sampai membuatku tertidur begitu cepat sebelumnya. Aku benar-benar tidak tahu apa penyebabnya. Namun, ini adalah kondisi paling langkah yang pernah aku alami.
Saat ini, aku berada dalam mimpi dan menyadari hal tersebut. Mungkin inilah yang disebut lucid dream. Ini adalah kali pertama aku mengalami lucid dream didunia ini.
Entah sudah berapa jam semenjak aku tiba-tiba tertidur, tapi aku tidak dapat membangunkan diriku sendiri dalam dunia mimpi ini. Aku merasa tidak nyaman dan tertekan. Bahkan lucid dream yang aku alami tidak seindah dan sesuai seperti yang ku bayangkan, karena mimpi adalah representasi dari pikiran, logika, dan apa yang dipikirkan orang yang dialami.
Meskipun aku mencoba mengubah isi mimpi dengan apa yang kupikirkan, tapi itu tidak semulus dan sejelas yang kuduga. Aku bahkan tidak bisa mengesampingkan logika sendiri.
To be continued.
Lucid Dream / MS
Aku mencoba untuk mengeluarkan imajinasiku, namun itu segera bertentangan dengan logikaku. Mimpi ini, aku benar benar membencinya..
Mimpi hanyalah ingatan yang tidak penting dari representasi pikiran dan logika si pemimpi. Setidaknya itu yang bisa ku jabarkan tentang mimpi..
"Aku ingin segera terbangun, namun aku tidak dapat melakukannya. Karena saat melakukannya aku malah mengalami hal yang disebut orang orang ketindihan."
Ini benar benar fenomena yang aneh, aku merasakan tubuhku seakan melayang diruang hampa. Meski aku tau, mungkin saja apa yang ku rasakan timbul dari pikiranku. Namun tetap saja rasanya begitu aneh bagiku.
"Baiklah aku akan mencoba untuk memikirkan apa yang mungkin saja dipikirkan teman temanku saat mengalami fenomena ini.."
Dan ya, setelah aku mengucapkannya. Tiba tiba saja muncul ada 2 planet yang saling bertabrakan jauh didepanku, yang setelah itu planet itu berubah menjadi visual game yang berulang ulang dan akhirnya terbentuk dunia baru yang memiliki beragam cerita didalamnya... yang kemudian, sosokku muncul didunia itu dan terjadi begitu banyak kebingungan yang terjadi diantaraku yang sedang berjalan diatas dataran rumput yang ditutupi oleh langit malam yang penuh dengan bunga berwarna merah dan ungu.
"Saat menggabungkan imajinasi mereka, malah menjadikan visual yang aneh didalam mimpiku.. tapi juga, aku sedikit menikmatinya..." Setidaknya itu sebelum saatnya aku berada didalam kehampaan yang tidak memiliki ujung.
Disaat itu juga, aku langsung tersadar setelah aku mengira diriku sedang tertidur pulas dihamparan rumput sambil ditemani langit malam yang indah.
Aku tiba tiba saja berada didunia yang tidak lagi membuatku melayang layang didalam ketidak sempurnaan imajinasiku. Kakiku menapakkan dirinya di atas benda yang transparan didalam ruang gelap yang hampa dan sunyi itu. Bahkan saking sunyinya aku bisa mendengar suara detak jantungku dan merasakan nadiku yang berdenyut.
Dari situ aku tau, itu bukanlah ruang hampa udara. Melainkan ruangan hampa yang tidak memiliki apapun, bahkan suara dan rona warna.
"Karena saat aku melihat tanganku sendiri aku sangat terkejut dan dibuat kebingungan oleg hilangnya tanganku dari pandanganku ini."
Yang pada akhirnya aku menyadari.
"Bahwa tempat ini adalah dimensi yang benar benar merupakan ruangan hampa tanpa apapun didalamnya. Bahkan aku harus menyadari eksistensi tubuhku terlebih dahulu untuk mengetahui keberadaan tubuhku."
Dengan artian lain dan dengan kemungkinan yang besar. Aku berani mengatakan dan menyebut dunia ini adalah dunia metafisik yang mengharuskan diriku meyakini keberadaanku sendiri sebagai realitas didalamnya. Karena keberadaan diriku saat ini adalah keberadaan abstrak yang tidak bersifat fisik, namun ada.
Tapi...
"Bagaimana bisa diriku yang sebelumnya hanya bermimpi bisa sampai didunia tanpa adanya apa apa disini?! Dan apakah dimensi ini?!!"
Ini jauh berada diranahku, karena bukanlah diriku jika berada didalam situasi ilmiah teoritis seperti ini..
Aku saat ini sedang kebingungan dan berpikir sambil terus menjaga keberadaanku. Aku berpikir memilirkan 2 hal sekaligus diwaktu yang sama.
Dan saat aku sedang panik dan kebingungan. Suara tiba tiba terdengar diruang hampa itu. Tidak, ku tarik perkataanku. Suara itu langsung datang melalui kepalaku. Suara itu terdengar nyaring dan tidak asing bagiku.
Dan akhirnya ku teringat, milik siapakah suara yang memanggilku itu.
"Marie, Marie." Suara itu terdengar memanggil namaku. Suaranya begitu jauh dan lembut, namun perlahan seakan mendekat ke arahku.
"Ya, suara ini tak lain dan tak bukan adalah milik kakak perempuanku yang sudah sangat lama sekali tidak ku dengar."
To be continued.
Reunion and A main Issue / MS
14.5,2 Welcome to main problem/Lain.
"Akhirnya kita dapat bertemu. Keberadaanku telah hampir menghilang karena terlupakan oleh keberadaanmu yang saat ini hanya satu seorang didunia dan waktu manapun."
Suara itu mendekat kepada diriku dan aku terperangah saat mendengar suara itu, hingga aku dibuat terkejut saat melihat segerombolan kupu kupu biru yang berterbangan ke arahku dan kupu kupu itu segera berkumpul dan membentuk wujud seorang perempuan.
Yang mana setelah wujud itu telah tampak, semakin diperjelas bahwa suara perempuan dan perempuan yang berada didepanku saat ini, memanglah kakak perempuanku.
"Azurea?" Ucapku menyebut namanya karena terkejut saat melihat wujudnya itu.
Ini adalah kedua kalinya ia menampakan diri setelah kematiannya saat aku berumur 7 tahun, yang mana ini adalah satu dari sekian banyaknya misteri yang selama ini menghantuiku.
"Lama tidak bertemu Marie adik perempuanku yang manis." Ucapnya menyapa tersenyum ke arahku.
"Jadi, apa mau mu saat ini? Apa kau akan membunuhku untuk kedua kalinya?!" Balasku bersikap dingin karena jujur saja aku kesal padanya karena telah membunuhku.
Terlebih, dia meninggalkan begitu banyak misteri. Juga dengan bagaimana dirinya dapat memiliki kekuatan yang sampai bisa membuatku hidup kembali.
"Aku minta maaf, jangan cemberut dong adik manisku.." jawab kakakku itu sambil menyubit pipiku yang entah kenapa aku dapat merasakan sakitnya cubitan darinya.
"Hei hentikan! Ini terasa sakit!"
Padahal, daritadi aku hampir tidak bisa merasakan indra peraba fisik dari tubuhku.
"Ku bilang hentikan!" Bentakku sambil memegang tangannya yang terasa dingin itu.
"Ya... bagaimana ya, habisnya aku masih sangat ingin memanjakanmu.. jadi aku tidak bisa menahan diri." Balasnya melepaskan tangannya.
Jujur suasana ini mengingatkanku saat aku masih hidup bersama dengannya. Namun saat ini adalah hal yang berbeda. Tatapannya, entah bagaimana tatapan dari seseorang yang begitu penuh dengan kilauan dan kasih sayang kini menjadi tatapan kosong yang terasa begitu hampa.
"Entah apa yang sudah kau alami, namun aku tidak bisa mengelak dan tidak bisa berbohong dengan bagaimana perasaanku saat ini menjadi senang dan dibanjiri oleh rasa rindu... Azurea... aku sangat merindukan dirimu selama 10 tahun lamanya semenjak kematianmu saat itu dan jujur saja aku begitu bahagia saat bertemu denganmu pada saat itu, meski pada akhirnya aku terbunuh olehmu."
"Ekhem, baiklah sebelum aku menyampaikan sesuatu kepadamu. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Balasnya bereaksi malu dan tersipu dengan memalingkan wajahnya.
Namun saat ia kembali menghadapkan wajahnya ke arahku, dia sedikit salah arah.
Ini hanya kemungkinan, yaitu bahwa dirinya mengalami sesuatu yang mungkin sangat tragis sehingga dirinya sudah menutup hatinya sendiri dan secara tidak langsung menutup pandangan dirinya terhadap dunia.
Diduniaku ada suatu kalimat yaitu. "Semakin dalam deritanya, semakin dalam pula dirinya menutup diri." Jadi aku hanya mencocoklogikan saja...
"Baiklah, aku akan bertanya kepadamu. Kenapa dirimu membunuh adikmu yang dirimu katakan dengan jelas bahwa dirimu sangat menyayanginya?" Tanyaku memulai.
"Kalau itu, kamu akan mengetahuinya dalam beberapa saat lagi. Setelah kamu bangun, kamu akan mengetahuinya." Jawabnya tersenyum kepadaku.
Lalu, aku masih belum puas dengan pertanyaanku. Maka aku bertanya lagi kepadanya.
"Kalau begitu, bagaimana caranya dirimu bisa hidup kembali dan memiliki sesuatu semacam sihir yang amat besar?"
Benar, sembari tadi aku melihat aura berwarna biru muda dan biru tua yang saling menari mengitari dirinya. Auranya juga sangatlah besar, bahkan aku melihat aura biru itu menumpuk diruangan hampa ini.
"Heh.... jadi kemampuan milik key ikut terbawa olehmu.."
"Hah apa maksudmu?"
"Sial! Aku tidak sengaja keceplosan dan melakukan spoiler kepdamu!"
"Kenapa kau malah terkejut seperti itu...."
"Yaampun, tidak ada pilihan lain selain menceritakannya kepadamu sedikit."
"... "
Dia malah berbicara sendiri. Dan setelahnya, dia menceritakan benar benar sedikit tentang apa yang baru saja dia ucapkan secara tidak sengaja.. aku pun juga menanyakan banyak hal kepadanya.
"Jadi, apakah mereka semua terkirim ke dunia lain?" Pertanyaanku sebelum ke pertanyaa terakhir yang ingin ku sampaikan.
"Ya pastinya. Namun beberapa dari mereka bernasib buruk dan ada juga dari mereka yang berpencar jauh dari kalian."
"Kalau begitu, pertanyaan terakhir. Apa maksudmu dari hanya ada satu didunia dan waktu manapun." Tanyaku terakhir kalinya.
"Seharusnya kamu sudah tahu, coba pahami saja kata kata kakakmu itu. Itu adalah salah satu petunjuk yang sangat berharga untukmu."
.
"Baiklah, tidak ada yang dipertanyakan lagi kan? Jujur saja aku sedikit terkejut saat melihat kamu tidak terkejut sama sekali melihat kakakmu ini yang hidup kembali..."
"Alih alih aku terkejut karena keberadaanmu, aku malah merasa dendam kepadamu.."
"Ya... soal itu maafkan aku.. ini hampir waktunya untukmu bangun. Kamu sudah berada didimensi ini selama ratusan tahun... kalau begitu aku ingin mengatakan pemberitahuan terakhir. Marie, mungkin kamu telah mengetahuinya terlebih dahulu. Namun aku ingin memberitahukannya kepadamu."
"??"
"Marie Violetta deyour Rosettine, nama baru itu telah diterima oleh dunia ini semenjak kamu mendeklarasikannya kepada Julius. Dan kini tujuan barumu adalah menguak semua mistery yang ditinggalkan oleh teman temanmu. Termaksud juga dengan misteri bagaimana aku bisa berada didepanmu saat ini. Kalau begitu, diriku sebagai penyihir penyintas, Azurea Rose pamit undur diri..." ucap azurea berpanjang lebar dan dengan perlahan dirinya menghilang.
"Jadi tak lain dan tak bukan ini adalah permainan antara diriku dan dirimu.."
"Ya begitulah."
"Ehh, tunggu bagaimana aku bisa keluar dari sini?!" Teriakku bertanya kebingungan.
"Kamu tinggal membayangkan seperti yang kamu lakukan sebelumnya. Kekuatanmu adalah logikamu itu sendiri..." balasnya dan segera menghilang seutuhnya.
... ..
.
.
.
"Jujur, aku menyesal karena tidak mengatakan salam perpisahan kepadanya. Karena ketidaktahuan diriku pada saat itu."...
To be continued.
2ND Death
"Marie ini sudah pagi! Bangunlah!"
Suara keras terdengar, namun aku masih dalam keadaan tertidur.
Suara itu berasal dari vishl, aku tau itu.
Makanya aku pun akhirnya membuka mataku dan disaat itu juga aku merasa aneh. Termaksud juga dengan mataku yang terasa berat untuk terus menahannya agar tetap terbuka dan kepalaku yang terasa pusing.
"Maaf, aku terlalu lama tidur..." ucapku menguap dan melihat ke arah Vishl.
"Tumben kamu telat bangun. Apa kamu lagi sakit?" Ucap vishl sedang menata rambutnya didepan cermin.
"Seharusnya tidak, namun jika memang iya aku akan tetap pergi.."
".... tadi pagi sekali, undangan dari raja datang dan jika perlu aku bisa menolaknya untukmu."
"Tidak tidak! Apa memang semudah itu menolak undanga? Terlebih ini adalah undangan langsung dari raja kan?"
"Ya sebenernya tidak juga, hanya saja aku hanya ingin kamu beristirahat kamu terlihat kecapekan juga. Lagipula apapun akan ku lakukan jika itu demi kamu."
"Hm... Vishl, apa barusan kamu mencoba untuk mencoba menggodaku?."
"..."
Vishl hanya terdiam setelah mengatakan itu dengan wajah datarnya.
"Ahh, mereka ahirnya datang!.." ucap vishl mengalihkan perhatiannya ketika suara ketukan pintu terdengar tepat setelah aku bertanya padanya.
Pintu terbuka dan Lisbeth bersama dengan Thetalia masuk ke dalam kamar.
"Permisi nona, ini cincin yang sesuai dengan permintaan nona.." ucap lisbeth setelah itu sambil menunjukan kotak berisi cincin emas yang tampak mahal.
"Terima kasih banyak lisbeth.... sekarang aku baru saja selesai merias diriku, jadi apakah Marie mau mendatangi undangan?." Balas Vishl yang telah menyelesaikan riasannya.
Wajahnya kini menjadi tampak lebih dewasa, cantik, dan anggun. Riasan yang sederhana namun riasan Vishl telah meningkatkan pesona dirinya. Nilai negatifnya Vishl sama sekali tidak tampak imut...
Aku mendengar ucapan Vishl pun lansung menjawabnya.
"Tentu saja aku akan datang... karena mau bagaimanapun ini adalah permainanku." Balasku membalas perkataan Vishl, namun diriku malah mengangkat selimut dan kembali terbaring...
"Kenapa malah tidur lagi!"
"Maaf, aku masih sedikit mengantuk..."
"..."
Aku benar benar masih mengantuk, namun ya aku tidak akan terlenahkan oleh rasa kantuk.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan segera mandi dan bersiap.." balasku lagi dan segera berniat beranjak dari ranjang.
Namun
Saat diriku menapakkan kaki diatas lantai kayu ruangan itu...
.
Benar, aku baru saja mati dengan cara yang mengenaskan... yaitu sebuah peledak meledak dan menghancurkan tubuh dengan sangat cepat, namun entah rasanya itu terasa lambat untukku dan malah rasa sakit bisa ku rasakan saat kulitku yang tercercah kemana mana..
Namun juga...
Diriku saat ini masih hidup didalam waktu yang berhenti dan disaat tubuhku yang hanya menyisahkan kepala... disaat itu aku melihat tubuh Vishl yang ikut terhenti sedang menangis..
Waktu disekitarku benar benar terhenti dan waktu perlahan memundurkan dirinya hingga disaat diriku masih sedang duduk diatas kasur.
Aku tau akan kondisiku saat ini dan ini adalah suatu kekuatan yang didunia ini disebut dengan Einma. Namun aku tidak tau jika ada kekuatan yang dapat membuat seseorang hidup kembali dengan memundurkan waktu.
Dan saat memikirkannya, aku tiba tiba saja terpikir suatu perkataan yang entah darimana dan siapa yang mengucapkannya.
"Kekuasaanmu adalah kehidupanmu sendiri. Tiada hal yang akan membuatmu benar benar terbunuh. Karena ada kekuatan yang berada didalam dirimu dan salah satunya adalah kekuatan dari Mey dan Key yang menyatukan kesadaran mereka kedalam alam bawah sadarmu, karena mereka ingin dirimu tetap hidup dan agar semuanya tetap dalam kendalimu." Isi dari perkataan seseorang menjelaskan panjang lebar.
Aku tidak tau darimanakah perkataan itu datang. Namun aku hanya bisa memastikan bahwa dia adalah orang yang cukup dekat denganku.
"Baiklah! Meskipun ini bukanlah einma, aku akan tetap menganggap ini adalah einma milikku. Karena aku tidak bisa dan tidak memiliki kesimpulan yang kuat untuk mengungkapnya."
Meski aku masih amat kebingunan, aku tersadar bahwa diriku tidak dapat berada ditengah kebingungan ini. Maka dari itu waktu kini akhirnya berjalan kembali dan berada tepat disaat sebelum aku menapakkan kakiku ke dasar lantai kamar ini.
"Vishl, gunakanlah pendeteksi rapalan," ucapku tepat setelah waktu kembali berjalan dan langsung membuat Vishl kebingungan.
"Heh kenapa tiba tiba?" tanya Vishl dengan sangat kebingungan..
"Sudahlah, gunakan saja."
"Ahh.. Baiklah..."
Vishl akhirnya menurut dan Setelah itu, vishl mengangkat lengan pakaiannya dan mengangkat tangannya sambil menutup jarinya dan menyisakan jari telunjuk dan tengah (peace pose). Dia mendekatkan tangannya ke mata yang kemudian semacam lingkaran muncul diantara dua jarinya itu.
"Ada kertas rapalan sihir pemicu bawah tempat tidur! Tepatnya diarah marie turun dari kasur!" Ucap vishl sangat terkejut mengetahui hal itu.
"Bagaimana cara nona marie bisa mengetahuinya? Saya tidak bisa mendeteksinya!" Terus thetalia ikut terkejut dan kebingungan.
Karena hampir tidak ada sihir didalamnya dan hanya cukup untuk memicu satu gerakan. Intensitas mana kalian terlalu tinggi jadi tidak akan dapat merasakannya.
"Jujur saja aku juga tidak mengetahuinya dan aku baru saja mati untuk sekian kalinya..."
"Apa maksud nona Marie?!"
"Tubuhku terpecah berai dan tangisan Vishl begitu keras. Hanya itu yang ku ingat beberapa saat lalu."
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Apa yang kamu katakan marie?!"
Aku memutuskan untuk menceritakan kepada mereka apa yang baru saja ku alami dan disaat aku menceritakan kepada mereka, Lisbeth mengecek bawah kasurku.
"Terdapat peledak dibawah ranjang kalian berdua. Peledak ini lah yang membuat tubuh nona Marie ikut meledak ketika nona marie memicunya." Ucap Lisbeth menjelaskan sambil membawa peledak yang baru saja dia ambil dari bawah kasur.
"Maafkan kelancangan saya. Karena saya melihat semuanya, semua yang terjadi saat waktu benar benar terhenti." Ucap Lisbeth yang membuatku ikit terkejut.
That Blunder Embarrassed Her
"Jadi begitu?" Ucap Vishl ditengah perjalanan menuju istana kerajaan.
"Kira kira seperti itu lah yang ingin ku lakukan."
Ucapan Vishl tadi adalah isyarat bahwa dirinya telah benar benar memahami apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Disaat diriku sedang menjelaskan, tidak terasa tinggal beberapa meter lagi kami akan sampai diistana kerajaan yang akan segera menjadi panggung utama dimulainya permainan.
Untuk saat ini aku bisa mempekirakan 2 kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu diriku yang menjadi tersangka dan diriku yang dihormati oleh sang raja karena penyesalan atas nama baik kerajaannya sendiri.
2 ending yang sangat bertolak belakang, namun seperti itulah kemungkinannya. Tergantung dari bagaimana raja memikirkannya.
"Sebelum itu, saya ingin menyampaikan peringatan kepada nona Marie..." ucap thetalia dibelakang kami dengan tiba tiba ditengah kami sedang berjalan.
"Peringatan?"
"Nona Sophia... putri 3 raja yang cukup licik... menurut saya dirinya cukup diwaspadai." Terus theta..
"Dia? Apa yang bisa diwaspadai dari orang yang bahkan mengira dirinya menang hanya karena berpikir bahwa kepergian adikku karena dirinya?"
Bahkan, dirinya dengan sombong mendeklarasikan bahwa dirinya baru saja mengusir pengkhianat kepada publik? Dia terlalu berbicara besar dan bertindak besar. Memang mungkin dia cukup pintar, namun itu tetaplah hanya cukup pintar. Pikirannya yang tidak ingin kalah terhadap apapun dan terlalu percaya diri dengan apa yang dia tidak ketahui terlalu besar dan kekanakan.
"Maafkan kelancangan saya... jujur saja saya sedikit ragu nona Marie bisa membuat nona Sophia tunduk.." terus Thetalia lagi menghentikan langkahnya.
Aku yang mendengar ucapannya itu, langsung ikut menghentikan langkahku dan berbalik arah ke arahnya.
"Tidak akan ada yang bisa membuat lubang besar diantara tembok yang ku susun, bahkan itu ilmu pengetahuan ataupun sihir sekalipun. Semua yang ku rencanakan adalah sesuatu yang mutlak.."
Aku sengaja sedikit membesarkan prestasiku. Jujur saja aku tidak menyukai sikap sombong, namun juga aku tidak menyukai sikap rendah diri. Namun....
Untuk kali ini berbeda, aku ingin menyombongkan diriku tak lain adalah untuk meyakinkan Thetalia..
"Karena diriku ini adalah kakak dari keberadaan yang kalian anggap sebagai penyihir dunia tertinggi... Deyour Finnestia dan secara langsung diriku juga memiliki Einma yang sama dengan dirinya."
Namun ya tetap saja, apa yang kukatakan hanyalah pembesar besaran dari apa yang seharusnya.. maaf aku harus membuatmu percaya dirimu dengan cepat, karena aku tidak memiliki waktu lebih banyak.
Aku mengatakannya dengan penuh kesombongan dan pastinya nilai pandangan mereka terhadapku bertambah.. namun...
"Maafkan kelancangan saya, maafkan kekhilafan saya, dan maafkan kelalaian saya. Seperti yang saya duga, saya telah terkena cuci otak.." ucap Thetalia seketika itu segera berlutut.
Aku kebingungan dengan apa yang dia katakan. Sampai...
"Teh nona Vishl yang telah saya tukar dengan milik saya ternyata benar benar memiliki racun dan saya tidak mengira racun itu bisa mencuci otak saya.."
"Ahh... maafkan aku juga karena langsung berpikiran kamu telah meragukanku. Padahal kamu kemarin telah membantu secara langsung."
"Tidak, saya yang meminta maaf karena salah mengambil tindakan. Saya telah melanggar sumpah saya kepada guru saya!"
"Hmm... ahh sumpah itu. Seharusnya tidak akan terjadi apapun karena itu bukan dari isi hatimu sendiri.. namun sepertinya benar benar ada yang dikirim untuk membuatku terpojok..."
"Ehh!! Aku hampir saja meminum racun?!"
"Nona Vishl itu adalah reaksi yang paling lambat yang pernah dibuat oleh manusia."
"..."
"Ya bagaimana bilangnya, aku juga terkejut.. tapi aku lebih terkejut saat melihat marie yang sombong tadi..."
"Entah kenapa aku jadi curiga kepadamu Vishl..."
"Eh aku tidak tau apapun..."
"Ahh maaf nona, sisa obat tadi yang nona suruh buang lupa saya buang.."
"Woi."
.
Baiklah, setelah sedikit kejahilan Vishl itu yang tidak kuketahui dan membuatku merasa malu kami melanjutkan perjalanan menuju istana kerajaan dengan suasana canggung diantaraku dan Thetalia.
Aku sudah berkata sombong kepadanya dan bahkan berkata seolah diriku menanggap dirinya meragukan diriku. Jujur aku tidak enak kepadanya....
"Entah kenapa saat ini aku ingin membakar Vishl hidup hidup.."
".... tidak tidak!! Memangnya kamu sedendam itu kepadaku?!"
"Tidak juga, hanya saja aku memanggangmu sedikit..."
"Mangganti bahasa itu percuma saja!"
Baru kali ini diriku ini dibuat merasa seperti ini didunia ini.
"Salahkan saya juga Nona Marie..." ucap Thetalia merasa bersalah dan masih merasa canggung dan tidak enak karena sudah meragukanku, meski itu bukan benar benar dirinya.
"Ini bukan salahmu, ini adalah salah Vishl yang memanfaatkan kelengahanku... jadi kamu santai saja."
"Baik, terima kasih atas kemurahan hati nona Marie." Balas Thetalia menghentikan langkah dan menunduk berterima kasih kepadaku.
""Tidak tidak, sudahlah jangan membahasa hal tadi. Memikirkannya saja membuatku meraasa malu!"
"Aku baru tau, marie bisa merasa malu juga..."
"Ahh, baiklah akan segera ku jadikan tumbal kamu seketika sampai diistana.. kan aku lupa ingin menyampaikan satu hal lagi.."
"Apakah itu?"
.
To be continued..
"Jujur, pada akhirnya aku juga menyampaikan jika sophia harus sedikit diwaspadai karena sifat kenakan kanakannya itu...."
Changes that become the cause of the disturbance
Saat ini, kami akhirnya berada tepat didepan gerbang istana kerajaan..
Sebelum itu, entah apa yang dipikirkan oleh Lisbeth, Dirinya memintaku, Vishl dan Thetalia untuk mampir ke toko baju yang ada dibeberapa puluh meter dari istana kerajaan.
Tujuan Lisbeth meminta kami untuk berhenti adalah, dirinya ingin membeli dan menganti seragam pelayan wanitanya yang feminim itu dengan seragam pelayan yang lebih tomboy dan gagah. Yang membuat kesan terhadap dirinya seketika itu berubah. Dia juga menguncir rambut panjangnya dengan gaya pony kuda.
"Terima kasih atas pengertiannya, dengan begini saya sebagai Lisha akan mendukung permainan nona Marie dengan sebagai pelayan pribadi yang ditakuti..." ucap Lisbeth menjelaskan peran yang ingin dia mainkan..
Bahkan diriku tidak memaksanya untuk memainkan peran, atau bahkan permainan ini.. namun dia saat ini menunjukkan inisiatif dirinya terhadap permainan yang akan ku mulai ini.
Dia memikirkan hal mendadak itu pastinya karena perkataanku sebelumnya.. "Setidaknya mungkin akan lebih mudah jika ada seorang pelayan petarung yang siap melindungi kapanpun." Yang mana aku mengucapkan hal itu baru beberapa menit yang lalu saat perjalanan.
"Aah, benar juga nona Lisbeth berasal dari keluarga bangsawan ksatria. Saya hampir melupakan hal itu." Ucap Thetalia mengingat sesuatu..
"Ehh, apa benar seperti itu?!" Teriak Lisbeth pada saat yang malah terkejut dengan fakta itu.
.
Namun tetap saja meski mengubah gaya dan kesan dirinya.. aura dan sikapnya yang biasa tetap tertinggal pada dirinya. Tapi mungkin saja dirinya masih belum mengubah sikapnya karena masih belum dimulainya..
Setelah itu dan saat ini, kami sudah berada didepan gerbang istana kerajaan yang kokoh dan berdiri menjulang ke atas.. tiada prajurit disekitar hanya ada orang orang yang berlalu lalang disekitar taman yang luas kerajaan. Karena acara utama festivalnya sendiri berada didekat istana kerajaan.
Namun tepat setelah kami datang, 2 prajurit mendatangi kami dan dengan segera menanyai kami.. yang pastinya Vishl yang pertama kali ditanyai...
"Permisi nona Vishl, ada apakah nona bersama yang lain datang kemari?" Ucap prajurit yang tidak mengetahui apapun itu.
Dia benar benar tidak tahu apapun..
Vishl mendengar pertanyaan prajurit itu segera mendekat dan menjawabnya... namun tepat setelah Vishl baru ingin memjawab, Lisbeth mencegah Vishl dan dirinya memajukan diri kepada prajurit itu.
"Apakah kinerja dan komunikasi pasukan kerajaan begitu buruk? Seharusnya kalian berdua wajib mengetahui tamu undangan yang diundang secara langsung oleh sang raja!"
"Maafkan kami, namun sepertinya undangan itu terlalu mendada..."
"Apakah dengan kalian mengatakan kami tidak mengetahui mengenai hal tersebut sudah bsia dijadikan alasan?!! Kinerja dan komunikasi diantara kalian sangatlah buruk!!!"
Dan tidak ku sangkah, Lisbeth yang lembut dan terkesan pendiam itu akan membentak marah kepada prajurit yang ada dihadapannya..
Namun, sepertinya belum sampai disitu..
"Dan, siapa yang menyuruh kalian berdiri?! Kalian semua berlututlah!!!" Teriak Lisbeth dengan kencang dan melepaskan Einma miliknya untuk membuat kedua prajurit itu berlutut.
Namun, tidak hanya dua prajurit yang ada dihadapan kami, semua orang yang berada didalam jangkauan Einma milik Lisbeth juga akan ikut berlutut, kecuali kami.
"Sampah seperti kalian tidak pantas berdiri dihadapan Nona Marie dan Nona Vishl!!" Teriak Lisbeth lagi yang memperkuat Einmanya.
Lisbeth yang lembut dan dingin kini telah bersembunyi digantikan oleh Lisha yang pemarah dan sangat Loyal kepadaku...
Lisha digambarkan oleh Lisbeth sebagai gadis yang sangat menghormati dan patuh terhadap diriku.. dia pemarah dan tidak segan dengan orang lain, sosoknya seperti seorang gadis yang telah memutuskan untuk melindungi orang yang telah menyelamatkannya. Permainan perannya juga hebat, namun yang lebih hebatnya lagi, lisbeth bisa membuat dadanya yang besar itu seakan akan menjadi kecil....
"Baiklah terima kasih Lisbeth..." ucapku kepada lisbeth..
"Baik nona Marie." Balas Lisbeth setelah itu.. yang kemudian, Einma miliknya terhenti begitu saja.
Karena, aktif tidaknya Einma tidak dapat digunakan sesuka hati dan hanya bekerja dengan beberapa pemicu. Makanya, aku kagum dengan Lisbeth yang bahkan bisa memanipulasi emosinya untuk mengaktifkan Einma miliknya...
Setelah Einmanya terlepas, Semua orang yang berada dibelakang kami beberapa berlarian dan bebeberapa lagi kebingungan.
Jelas, karena mereka tidak tahu apapun yang telah terjadi. Terlebih, seseorang yang tidak memiliki sihir akan terasa hampa ketika dikendalikan oleh Einma..
"Apa yang kalian tunggu?! Cepat buka pintunya!!" Teriak Lisbeth lagi yang marah sekali lagi.
Kemudian, pintu pun dibuka oleh para prajurit itu dengan menyuruh rekan mereka yang berjaga didalam..
Sebenarnya terdapat pintu kecil yang bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki izin.. dari situ, kedua prajurit itu masuk dan menyuruh teman mereka untuk membuka gerbang besar itu...
"Hm... lisbeth apakah kamu kemasukan sesuatu?" Ucap Vishl sembari menunggu gerbang terbuka sepenuhnya.. dia bahkan memiringkan kepalanya karena kebingungan sekaligus penasaran dengan perubahan lisbeth barusan.
"Jangan membuat seolah olah tubuh saya dirasuki oleh hantu atau sejenisnya...." balas Lisbeth dengan dirinya sendiri.
"Bahkan, aku sampai tercengang dengan akting yang kamu lakukan...."
"Tidak sehebat nona Marie, namun saya sangat senang bisa mendengar pujian dari nona.." balas Lisbeth yang kembali sebagai Lisha saat bertepatan pintu itu sudah terbuka sepenuhnya.
Dibakik gerbang itu, rupanya kami sudah disambut oleh banyak prajurit dan beberapa ksatria yang dalam posisi siap siaga.. seakan sedang menghadapi monster.
"Apakah kalian tidak tau ini daerah kerajaan?! Sihir yang kalian gunakan dianggap mengancam dan kalian akan diinterogasi!" Ucap salah ksatria yang nampak memiliki pangkat yang cukup tinggi..
Lish... Lisha yang mendengarkan perkataan kesatria itu pun langsung marah dengan seketika.. yang kemudian ia menggunakan Einma miliknya lagi...
"Semuanya, apapun itu, benda mati, makhluk hidup... bersujudlah atas ketidaksopanan kalian!!!!" Teriak lish... Lisha sekencang kencangnya karena amarah sudah memuncak dan meletus begitu saja karena perilaku yang tidak sopan dari para ksatria dan prajurit yang menghadang kami berempat.
"Lisha, Cukup! Einma milikmu mungkin juga memengaruhi orang orang yang ada didalam istana.." Ucap Thetalia menegur Lisha seolah olah dirinya adalah kakak dari Lisha.
"Maaf ayunda Theta..." balas Lisbeth yang benar benar mengikuti peran Thetalia sebagai seorang kakaknya yang mendadak itu...
Entah kenapa, jika dipikir pikir mereka selalu memiliki pemikiran yang sama dan seakan saling terhubung....
"Kami hanya ingin mendatangi undangan dari sang raja.." ucap Vishl menjelaskan sambil menunjukan kertas undangan yang ditanda tangani oleh raja.
Yang kemudian, aku juga ikut menjelaskan...
"Benar seperti apa kata Vishl, kami hanya ingin mendatangi undangan dari raja kalian.. jadi maafkan perilaku Lisha, dia hanya merasa sedikit marah sejak tadi pagi...." ucapku sambil meminta maaf.
"Itu tidak perl--!"
"Sudahlah Lisha, jangan membuatnya semakin rumit..."
"Baik Nona, maafkan saya!" Balas Lisbeth yang menjadi tanda akhir dari sedikit permainan peran ini..
Jujur ini sudah rumit dan aku tidak mau semakin rumit...