"Aku mencintaimu, seperti bulan mencintai langit. Cintaku amerta, tak usah kau ragukan lagi."
•
•
•
"Akara? Kau sedang apa?" tanya seorang gadis. Rambutnya hitam panjang digerai. Ia berjalan pelan menuju kekasihnya yang sibuk berkutat di meja.
"Oh, Nisaka. Kemarilah," sang lelaki berujar lembut.
"Ada apa?"
"Lihatlah." Akara merangkul pundak sang gadis hangat.
Sebuah lukisan, lasangan di bawah sinar rembulan. Indah. Keduanya berdiri bergandengan tangan menikmati bintang jatuh yang turut menghiasi angkasa.
"Wah ... ini indah sekali Aka ...." Matanya berbinar.
"Bagaimana? Aku mengerjakannya dari tadi, lho. Itu adalah kau dan aku." Sang pria menatap ke arah lawan bicaranya.
"Akara memang hebat. Hmm ... Akara, kenapa lukisan kamu di sini terlihat agak pudar?"
"Tidak apa-apa kok. Warnanya keburu habis tadi, yang dipakai untuk melukis bagian itu tinggal sisa-sisa catnya saja," jelas Akara menorehkan senyum.
"Ooh ... aku baru tahu Akara bisa melukis," ungkap Nisaka.
"Ini memang hobi ku sejak kecil."
"Kenapa tidak coba jadi pelukis?" Sang gadis memiringkan kepalanya.
"Begini, Nisaka ... dari awal, aku tidak ingin kalau pekerjaanku merupakan hobi ku. Memang itu menyenangkan, tapi di sisi lain, hobi untukku adalah sebuah pelarian. Kalau itu ku jadikan pekerjaan, aku akan lari ke mana?"
"Kamu bisa lari padaku Akara. Aku kan, kekasihmu. Kamu bisa ceritakan apa saja padaku."
"Tentu saja, Nisaka. Nah, sekarang aku pergi dulu ya." Akara meraih tasnya dan berdiri. Ia kemudian mulai melangkah pelan.
Nisaka turut berjalan ke arah pintu, mengantar sang terkasih.
"Jaga diri."
"Iya, hati-hati!" Sang gadis tersenyum cerah.
Akara kemudian menaiki mobilnya, dan meninggalkan Nisaka yang berdiri tenang.
Sudah hampir setahun lamanya sejak perjumpaan pertama mereka. Pertemuan itu terjadi di sebuah bukit pada malam hari. Kehadirannya seakan rembulan yang indah. Bukit itu gelap, tapi terlihat terang oleh keberadaan sang pria. Nisaka terpana, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Secara kebetulan, mereka cocok. Mereka semakin dekat, dan hingga saat ini, mereka adalah kekasih.
-
Nisaka terbangun dari tidurnya terengah-engah. Ia meraba-raba meja kecil di samping tempat tidurnya, mencari segelas air yang ia harap dapat menenangkannya. Perlahan, ia menguasai kembali kontrol atas dirinya.
"Hhh ... sudah berapa lama aku tidak bisa tidur dengan baik?" gumamnya.
Setahun.
Setahun sudah ia lewati tanpa tidur yang cukup.
Lama-lama semakin parah, dari yang awalnya tujuh jam, enam, lima, hingga sekarang, kalau beruntung, ia bisa tertidur selama dua sampai tiga jam.
Rasanya tidak bisa tidur ... bagaimana? Sangat tidak nyaman. Kantuk kental terasa, tapi bukan berarti ia bisa tertidur begitu saja. Saat ini, satu-satunya yang membuat Nisaka masih waras, menurutnya, hanyalah sang kekasih, Akara.
Baginya, Akara itu sangat luar biasa. Meski dirinya menyimpan banyak sekali kekurangan, Akara tetap berada di samping Nisaka. Setidaknya, itulah yang terjadi selama setahun ini. Ia sepenuh hati mencintai sang pria.
-
-
-
'Nisaka sepenuh hati mencintai Akara'
Ungkapan itu bukan dusta. Hari berganti, lagi dan lagi. Sampai sekarang, tingkah Nisaka masih sama, layaknya seorang remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Akara, Nisaka sayang Akara," ujarnya.
"Kamu mengatakan hal itu lagi? Sudah berapa kali kamu mengatakan hal itu, hah?" Akara menatap ke arah kekasihnya.
"Hehe, aku cinta Akara. Aku mencintaimu seperti bulan mencintai langit. Akara tidak usah khawatir, cintaku padamu amerta, tidak usah kau ragukan lagi."
"Ya, aku tahu," balas sang pria. Ia mengacak-acak rambut kekasihnya itu. Lalu membiarkannya berantakan, menari-nari dibawa angin. Keduanya tersenyum.
Itu terjadi di bukit yang sama dengan bukit di mana mereka bertemu untuk kali pertama. Saat ini senja, mereka bercengkrama bersama menikmati indah dan menakjubkannya panorama.
-
-
-
-
-
"Nisaka sepenuh hati mencintai Akara."
Lalu ini apa? Apa ... yang sebenarnya terjadi?
Dilihatnya penampilan Akara yang berubah seratus delapan puluh derajat. Kulitnya pucat memutih, pecah-pecah. Pakaiannya koyak, dengan darah di sana-sini.
Nisaka tak berkedip, bergerak pun tidak. Ia gemetar tak percaya atas apa yang ia lihat.
"Kenapa, Nisaka?"
Sang gadis terdiam.
"K-kamu ... s-siapa? K-kamu bukan Akara."
"Aku siapa? Tentu saja aku Akara. Pertanyaan bodoh macam apa itu?"
"Jangan bohong ... kamu bukan Akara."
Akara tersenyum. "Lalu aku siapa?"
"Aku tidak tahu ... tapi tidak mungkin kamu itu Akara! Kamu bawa Akara ke mana?! Kembalikan Akara!"
"Nisaka ... ini aku, Akara."
"Bu-bukan ...."
"Kamu tidak percaya?"
"Bagaimana bisa aku percaya?"
"Baiklah, mari aku ceritakan sebuah kisah ...."
•
•
•
Anak itu gemar sekali melukis. Kapan pun ada kesempatan, yang dilakukannya adalah bermain dengan seni. Sahabatnya sebatas kanvas, kuas, cat, dan peralatan serupa.
Ia sering kali sendirian. Tapi itu bukan masalah, selama dia bersama 'sahabat-sahabatnya', ia baik-baik saja.
Kecintaannya pada seni bukanlah hal yang normal pada usianya. Kemampuannya terus berkembang, dari lukisan sederhana, hingga lukisan indah yang layak untuk diperdagangkan.
Suatu hari, ia membawa sahabat-sahabatnya itu bermain bersama di bawah pohon di sebuah bukit. Lagi, ia menciptakan karya.
Setelah cukup lama bereksperimen dengan warna, karyanya itu selesai. Anak itu dengan bangga memperhatikan setiap sudut lukisannya. Ia tersenyum, bukti kepuasannya.
Ia berkejaran dengan kupu-kupu yang melintasi dunianya. Berlarian ke sana kemari selagi menunggu lukisannya sempurna.
Lukisannya kering beberapa lama kemudian. Di saat itulah, anak laki-laki itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Ia menuruni bukit dengan sumringah, menggendong peralatan melukisnya, dan memeluk hasil lukisannya erat-erat.
Sayangnya, peristiwa nahas itu terjadi.
Saat menyebrangi jalan, sebuah mobil kencang melaju. Sepertinya sang pengendara tidak menyadari keberadaan seorang anak kecil yang sedang melintas. Anak itu tertabrak, dan ia meninggal di tempat.
Sampai akhir hayatnya pun, ia ditemani oleh sahabat-sahabatnya yang ia sayangi. Lukisan yang baru saja diselesaikannya bersimbah darah, begitu pun peralatan lukis-melukisnya, juga dirinya. Tapi ia tersenyum. Setidaknya, ia tewas bersama hal-hal yang ia sukai.
•
•
•
"Bagaimana?"
"Kisah apa itu ... kenapa kau ceritakan ini padaku? Apa hubungannya Akara dengan cerita ini?"
"Masih belum sadar juga?"
Nisaka hanya diam.
"Siapa menurutmu yang menabrak anak itu?"
"Siapa ...? Lagi pula, apa hubungannya ...?"
Akara tertawa. "Siapa? Kau bertanya siapa?"
Nisaka tak berkata apa pun. Ia melihat sosok misterius yang berbicara di depannya dengan tatapan kebingungan, sekaligus takut.
"Kamu yang membunuhnya! Pelaku tabrak lari hari itu adalah kamu!"
Ia syok seketika. "A-apa?"
"Heh, jangan bertingkah seolah kamu tidak tahu apa-apa. Aku tahu, hari itu, kamu memang merasa menabrak sesuatu kan? Tapi kau diam saja! Kau tidak mencoba untuk sekadar mengecek atau memastikan! Kamu bahkan tidak punya niatan untuk itu!"
Nisaka terkejut. Sangat. Ia tidak tahu kalau selama ini dirinya adalah ... pembunuh. Air matanya menetes perlahan.
"A-aku ...."
"Tak bisa menyangkal, bukan begitu?"
Nisaka berpikir sejenak, sesenggukan. "Baiklah! Katakan saja itu memang aku! Tapi aku benar-benar tidak tahu apa-apa!"
"Dan kamu hidup selama ini seakan tidak ada apa-apa, betapa menakjubkannya itu!"
"Selama ini aku tidak tahu! Lagi pula ... lagi pula apa hubungan semua ini dengan Akara? Memangnya Akara ...." Nisaka terhenti di tengah-tengah kalimatnya.
"Akara apa?"
"Jangan bilang ... yang kutabrak waktu itu adalah ... Akara? Tapi ... itu tidak mungkin kan? Akara sudah dewasa, bukan anak-anak seperti yang kau ceritakan!"
Akara mengernyih. "Kamu ingin tahu?"
Nisaka mengangguk pelan.
Akara menatap tajam wajah sang gadis. "Kala. Seorang anak lelaki dengan mata cokelat terang. Rambutnya hitam legam. Dan kau tahu? Anak itu masih berumur sembilan tahun. Sungguh malang sekali. Karena keteledoran orang dewasa yang tidak memperhatikan jalan dengan benar ... karena kecerobohan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab ... bakatnya terbuang sia-sia."
"Kala ...? Kalau begitu selama ini ... Akara itu siapa?"
"Kau ingin tahu?"
"Tentu saja! Aku mencintainya! Cintaku padanya amerta!"
"Kau sudah tak peduli lagi dengan kenyataan bahwa kamu menabrak lari seorang anak kecil dan membunuhnya? Karena cinta? Cinta itu fana. Berapa kali pun kau bilang cintamu amerta, atau segala omong kosong tak berguna dari mulutmu, semua itu tidak mengubah kenyataannya! Cintamu itu fana!"
"Itu masa lalu! Dan lagi, ia memang sudah tewas! Lalu mau apa lagi?! Cepat beritahu saja aku di mana Akara berada! Aku benar-benar sayang padanya! Cintaku tidak fana! Cintaku benar-benar amerta!"
"Miris sekali. Coba kutanya padamu, apakah kamu masih mencintaiku dalam wujud ini? Apa kamu masih menyayangiku ketika wujud Kala yang kupakai? Masihkah kau menerimaku?" Akara menekankan kata cinta dalam kalimatnya.
"Kamu bukan Akara. Bagaimana mungkin aku mencintaimu?"
"Dengar, Aku ini Akara. Sudah berapa kali kubilang padamu? Aku ini Akara."
"Kamu bukan Akara. Siapa kamu? Kembalikan! Kembalikan Akara!"
"Aku, Akara, bukanlah siapa-siapa. Coba saja kau tanyakan pada orang-orang di sekitarmu. Mereka tidak akan tahu kalau aku ada. Hanya kamu yang bisa melihatku."
"A-apa ...? Bohong ...."
"Akara adalah hasil manifestasi rasa bersalah yang secara tidak sadar tertumpuk dalam dirimu. Dalam diriku, tersimpan juga jiwa Kala yang berpadu. Menjadi sebuah makhluk baru yang hanya hidup dalam kepalamu," jelasnya.
"Ti ... tidak mungkin ...."
"Tentu saja mungkin."
"Selama ini ... Akara ... tidak benar-benar ada?"
"Tentu saja. Semua itu hanya ada di kepalamu. Itu semua hanya khayalanmu."
"Akara hanyalah ... ilusi?"
Akara tertegun. "Ya, aku hanya sebuah ilusi. Halusinasi yang tercipta atas kejadian hari itu. Dan ini adalah salam perpisahan."
"Hanya karena itu ... Akara muncul karena ... masa lalu yang bahkan aku sendiri tidak tahu ...?"
Akara menghela napasnya pelan. Ia kemudian berserah pasrah, tersenyum. Dengan tenangnya ia berkata, "Nisaka, masa lalu tidak pernah mati. Amerta, seperti ungkapan cinta yang sering kali kau tujukan padaku."
Ia memudar perlahan. Lama-lama semakin pudar. Partikel-partikel tubuhnya luruh terbawa angin malam. Malam ini, di sini. Di bukit tempat pertemuan pertama mereka, setelah tepat satu tahun lamanya.