Pagi itu seorang anak laki laki yang memiliki rambut dan mata coklat bermain bola di halaman rumahnya, rumahnya terletak di sebuah perumahan di dekat perkotaan, saat sedang bermain anak laki laki itu melihat sebuah mobil putih datang dan parkir di samping rumahnya yang katanya baru saja di beli untuk di tempati sebuah keluarga yang cukup kaya.
Anak laki laki itu terus mengamati sampai ia melihat seorang pria dan wanita yang menggendong seorang bayi keluar dari mobil, lalu setelah itu, matanya membulat saat melihat gadis yang sekiranya setahun lebih muda darinya, keluar dari pintu belakang mobil itu, mata hijau emerald dan rambut blonde yang seakan bersinar di bawa sinar matahari itu membuatnya terlihat begitu cantik di mata sang anak laki laki.
Sorenya, seorang wanita dari keluarga yang baru saja pindah itu mampir ke rumah anak laki laki itu bersama sang gadis kecil, wanita itu yang sepertinya adalah ibunya memberikan sebuah bingkisan sebagai silahturahmi pada keluarga yang tinggal di sebelah rumah barunya.
Gadis itu bersembunyi di belakang ibunya, mengintip dari balik tubuh ibunya malu malu, anak laki laki yang tampak tertarik dan penasaran itu menghampiri gadis itu.
" Hey, ayo ikut aku " ujar anak laki laki itu tanpa malu, langsung menarik tangan sang gadis dan membawanya ke ruang keluarga.
" Tunggu di sini ya.. " setelah itu, anak laki laki itu meninggalkan sang gadis di ruang keluarga dan pergi ke kamarnya, tak sampai satu menit, ia kembali dan membawa dua buah boneka beruang berwarna putih dan coklat.
" Kau suka yang mana? " Tanya anak laki laki itu, setelah beberapa saat gadis itu menunjuk ke boneka beruang warna putih, tanpa berlama² anak laki laki itu langsung memberikan boneka putih itu pada nya.
" Nama ku Akashi, hagiwara akashi, salam kenal " ucap anak laki laki itu dengan senyum nya.
Lalu gadis itu membalas senyuman akashi dengan senyuman kecil namun tampak begitu lembut dan cantik " Himawari Arisu.."
Senyum akashi semakin melebar, dan kini dua anak berumur 12 dan 11 tahun itu berteman.
Musim berlalu, dan musim dingin hampir tiba, angin semakin dingin membuat mereka berdua keluar dengan menggunakan pakaian yang lebih hangat.
" Sudah lama aku tidak pergi ke tempat seperti ini " Ucap Hima sambil menyentuh daun daun yang telah menguning itu.
Akashi tak lanjut bertanya, entah kenapa ia merasa seharusnya tak membicarakan itu lagi, ia melihat ekspresi Hima yang semakin sedih tiap membicarakannya.
Mereka lanjut bermain dengan daun daun itu, lalu tiba tiba Hima terdiam di tempatnya, seperti sulit bernafas ia memegang dadanya, Akashi yang sadar tiba tiba panik dan menghampiri Hima.
" Hima?! Apa yang terjadi?! Ada apa?!" Anak yang berumur 12 tahun itu panik dengan keadaan teman dekatnya, lalu setelah beberapa saat Hima tampak tersiksa ia pingsan di pelukan Akashi, Akashi yang semakin panik mulai menangis dan berteriak memanggil ibunya.
Saat ibu mereka sadar, ibu Himawari segera menelpon ambulan dan ayah Himawari, sedangkan Ibu Akashi membantu menggendong Hiamawari yang telah pingsan sambil menenangkan anaknya.
Setelah kejadian itu Himawari di rawat tiga hari di rumah sakit, Akashi merasa bersalah, saat ia telah di perbolehkan mengunjungi Hima di rumah sakit, ia sangat senang bahkan sampai di sana anak itu langsung memeluk sahabatnya, Hima dengan erat.
Setelah itu keduanya menjadi semakin dekat, dan semakin dekat.
Saat Akashi berumur 17 tahun, ayahnya mendapatkan pekerjaan di luar kota, membuat keluarga mereka harus pindah.
" Pindah?!.. l-lalu.. bagaimana.. aku.. aku gamau sendirian.. " mata Hima mulai berkaca kaca saat mengatakannya.
Akashi menghela nafas lalu menepuk kepala sahabatnya itu.
" Aku tau kamu anak yang berbeda sekarang, kamu pemberani sekarang, penyakitmu pun sudah mulai hilang bukan? Dan akhir akhir ini temanmu semakim banyak.. kau takkan kesepian.. " Ujar Akashi.
Mata Himawari semakin berkaca kaca, ia bisa saja menangis saat itu juga, namun Hima mengusap matanya lalu memeluk Akashi erat erat.
Akashi menghela nafas lega dan tersenyum lalu membalas pelukan Hima " Pasti, dan jika sudah waktunya, aku akan menjemputmu dan membawamu jalan jalan lagi, oke? "
" H-hey! " Himawari menggapai lengan remaja itu, lalu ia berbalik.
" Ya? "
" Apa kamu.. Akashi? Hagiwara akashi? " Tanya Himawari dengan penuh harapan.
" Aku harus pergi " Hima melihat akashi menggengam tangan gadis itu dan gadis itu bersandar di lengan akashi, tak salah lagi jika mereka berpacaran.
" Tapi kenapa.. aku yakin itu dirimu.. tidak salah lagi.. " guman Himawari yang merasakan perasaan kecewa di hatinya.
Namun itu tak membuat hima menyerah, Hima mencari tau tentang Akashi bagaikan seorang detektif, namun entah kenapa perhatiannya terpaku pada suatu kasus kecelakaan mobil yang menewaskan dua orang dewasa dan satu anak selamat dengan luka parah di kepalanya, menyelidiki kasus itu, Hima mengetahui bahwa kecelakaa itu berada di kota sebelah, Hima yang sudah membulatkan tekat pergi ke tkp yang dulu dan memeriksa rumah sakit terdekat.
Korban 5 tahun lalu, pasien bernama Hagiwara akashi benar ada, dengan modal kebohongan kerabat jauh. Bahkan Hima mendapat foto korban tersebut dari salah satu polisi saat mengangkut tubuh korban, tak salah lagi itu Akashi.
Dan ternyata sahabatnya itu mengalami lupa ingatan.
Membuat hati kecil Hima benar benar sakit, mengetahui yang ia temui bensr benar sahabatnya namun tak menyenalnya sama sekali.
Tapi Hima juga lega karena itu benar benar sahabatnya, ia pernah melihat ada luka di dahi Akashi, dan Hima rasa itu penyebabnya.
Berbagai cara Hima lakukan, bahkan sampai bisa di bilang mengganggu hubungan Akashi dengan pacarnya.
Musim gugur datang..
" Sudah cukup! Kau hanya membuat kepalaku sakit dan membuat hubungan ku dengan Ina merenggang! " Seru Akashi.
" Tapi.. aku yakin kau- "
" Berisik! Aku tak memerlukan masalalu ku! Aku masih hidup dan aku tak membutuhkannya! Jika kau tak terima maka jangan ganggu aku dan pergi! " Bentak akashi membuat Hima mematung.
" Baik.. aku pergi.. maaf mengganggu.." Hima berbalik dan pergi dengan langkah pelan.
Satu bulan kemudian, kampus mengadakan acara piknik di sebuah taman pinggir kota, saat itu musim gugur kembali datang, taman pinggir kota itu menjadi populer akhir akhir ini karena tempatnya yang begitu cantik saat musim gugur.
Tanpa sadar ia terhanyut dan melamun, bayangan muncul di pikirannya, seorang gadis kecil yang bermain dedaunan di depannya.
Lalu tiba tiba Akashi tersadar saat ada beberapa mahasiswi yang membicarakan tentang salah seorang mahasiswi di jurusan lain tiba tiba pingsan saat pelajaran dan langsung di bawa ke rumah sakit, namun hampir satu bulan gadis itu belum juga di nyatakan sembuh, malah semakin parah.
Gosip itu memang sudah beredar namun baru kali ini Akashi merasa penasaran.
Akashi merasa itu ada hubungannya dengan sesuatu, rasanya familiar, namun itu membuat kepalanya tiba tiba begitu sakit, dan ia pun terjatuh.
. . .
Dua hari berlalu, dan saa malam hari sebelum natal akhirnya Akashi sadar, namun dengan hadiah semua ingatannya telah kembali, dokter dan pengasuh Akashi merasa lega namun rasanya ada yang mengganjal di hati akashi.
Ia berpikir.. berpikir dan terus berpikir.. lalu akhirnya menyadari sesuatu.
" Himawari..Himawari Arisu.. aku mengenalnya... Aku mengingatnya.."
Tanpa pikir panjang Akashi menarik infusnya dan berlari keluar rumah sakit dengan pakaian pasien nya, udara dingin menusuk kulitnya saat berlari, akashi pergi ke rumah gadis se kelasnya yang saat itu membicarakan tentang Himawari.
Setelah sampai dan akashi bertanya, gadis itu mengatakan bahwa ia mengenal teman dekat dari Himawari di kampus, setelah meminta alamatnya Akashi berniat segera pergi, namun karena teman akashi itu khawatir ia memberikan jaketnya, akashi menerimannya lalu kembali berlari, untungnya rumah gadis itu tak jauh dari sana setelah bertanya juga padanya perihal Himawari, gadis itu segera menceritakannya.
" Saat itu wajah Arisu sangat pucat, bahkan aku benar benar kaget saat tau ia memiliki penyakit yang semakin parah berada di tubuhnya... Lalu ia di rawat di sebuah rumah sakit di dekat rumahnya di kota sebelah setelah di pindahkan dari rumah sakit dekat sini "
Akashi tau letak rumah sakit di perbatasan, hanya ada satu rumah sakit yang paling besar dan memiliki pelayanan lengkap di perbatasan dan Akashi tau dimana itu.
Akasi memberhentikan Taxi dan segera kesana, di malam natal itu, salju mulai turun tapi yang Akashi pikirkan hanyalah Himawari.
Himawari Arisu meninggal karena penyakitnya.
Tubuh Akashi lemas, ia berlutut di lantai, tatapannya kosong, penyesalan menguasai hatinya.
Bukan salahnya ini terjadi, hanya saja takdir tak menginginkan mereka bersama lagi, semenjak Akashi pindah, dan selamanya.
Di Malam natal itu, hanya duka yang menyelimuti keluarga Hima dan Akashi.
Setelah pemakaman Hima..
Sebuah kertas yang terlipat di berikan pada Akashi oleh ibu Hima.
" Untuk : Hagiwara akashi
Maafkan aku sudah mengganggumu yang kini memiliki hidup lebih baik, kini di hidupmu aku hanyalah sekedar pengganggu yang tak di kenal, tapi andaikan kau kembali mengingat ku, kenangan kenangan kita, betapa bersyukurnya aku.. teman pertamaku, satu satunya sahabatku.. yang terbaik yang pernah ku temui..
Kau tau? Boneka yang kau berikan saat kita pertama kali bertemu masih ada di kamarku, masih cantik seperti dulu.. tak berubah sedikitpun.. perasaan bahagia dan istimewa..
Sebenarnya.. aku ingin mengatakan ini secara langsung padamu, namun sepertinya aku kehabisan waktu ya, haha.. benar.. penyakitku semakin parah... Aku takkan bisa selamat kali ini, walaupun kedua orang tuaku percaya aku akan hidup, namun aku sendiri tak yakin.
- Himawari Arisu "