Pagi ini cuaca sangat cerah, burung-burung beterbangan kesana-kemari sambil berkicau mengitari gubuk sawah setengah permanen tempat tinggal keluarga Alif.
Seorang pemuda tampan yang Pagi ini sudah berjanji pada ayahnya akan ikut membantu dalam membajak sawah. Ya, kemarin ayahnya sudah meminjam kerbaunya Pak Nurdin untuk membajak sawah mereka sendiri.
"Alif, kayu bajaknya sudah dipasang belum?" tanya ayah, saat melihat Alif mengganti bajunya bersiap untuk bekerja.
"Udah, Ayah. Tadi sewaktu ayah memandikan ibu, Alif memasang kayu bajakannya." Alif menjawab pertanyaan ayahnya sambil mengenakan baju kerja yang akan dipakai untuk memasuki sawah penuh lumpur.
"Ingat, kalau sudah capek jangan memaksakan diri! Biar ayah yang melanjutkannya nanti, kalau masakannya sudah matang," ujar ayah mengingatkan Alif.
Beginilah keseharian Alif yang bekerja membantu ayahnya mengurusi sawah orang lain sebagai anak seorang bburuh tani.
"Baik, Ayah. Alif pasti kuat melakukannya kok. Ayah aja nguli tiap hari tetap kuat, masa Alif yang masih muda kalah sama Ayah sih." Pemuda yang masih berusia 17 tahun itu tersenyum pada laki-laki yang sudah beranjak memasuki kepala empat.
Kebetulan hari ini libur sekolah, jadi alif bisa full membantu ayahnya jadi kuli tani di sawah milik orang demi biaya sekolahnya dan juga kehidupan keluarganya. Terkadang Alif merasa iri melihat teman-temannya yang bisa main game sepulang sekolah, bisa nongkrong bersama yang lain pakai motor, tapi dirinya baru bisa bermimpi semata.
"Ya sudah. Ayah akan melihat hasil Alif membajak sawah, tetapi kelak kamu harus bisa mengubah hidup kita. Jangan pernah bekerja jadi kuli di sawah orang seperti ayah, belajarlah yang rajin agar kamu bisa menjadi orang yang sukses!"
Sang ayah memberikan sedikit wejangan, sebelum Alif melangkahkan kaki berjalan ke luar rumah. Alif hanya tersenyum sambil membawa seutas tali pemukul kerbau.
"In syaa Allah, Alif akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kita, Ayah." Pemuda itu pun mulai pergi ke areal persawahan yang akan di bajak.
Alif merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya bernama Intan Saliha berusia 10 tahun masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Sedangkan Alif sendiri duduk di kelas 12 salah satu sekolah menengah atas islam terpadu Pasaman Barat.
Keluarganya sangat sederhana, hidup serba kekurangan ditambah kondisi seorang perempuan yang telah melahirkannya lumpuh sejak wanita itu mengalami kecelakaan.
Namun, mereka tetap saling mencintai, walaupun dengan kondisi perekonomian yang serba kekurangan.
***
“Alif, barangah lah sabanta, Yuang. Ko ado teh es paubek awuih,” ucap sang pemilik sawah.
“Mokasi banyak, Tek. Latak an selah di situ dulu, beko Alif minum,” sahut Alif berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan Etek Salma.
Alif pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun baru sekitar lima menit alif kembali bekerja dengan kerbaunya, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang merintih kesakitan di dekat parit kecil tepi jalan raya — pembatas antara sawah yang dibajaknya dengan lalu lalang kendaraan.
Alif pun meninggalkan kerbaunya untuk melihat siapa yang jatuh ke parit. Betapa terkejutnya pemuda itu saat melihat seorang gadis dengan kaki di atas serta kepala nyungsep ke dalam parit.
“Astaghfirullah,” ucapnya menutup mata saat melihat sesuatu yang belum saatnya.
Jangan lupa komentar ya, in syaa Allah kita sambung di PT 2 nantinya. Ini baru belajar bikin cerpen
Bersambung