Pilihanku jatuh padanya. Saat bersamanya aku merasakan hal yang berbeda. Dia pria baik dan menyenangkan. Aku memilihnya, tapi pilihanku untuk temanku. Kenapa aku harus jatuh cinta pada dirinya.
🍁🍁🍁
Entah apa yang telah merasukiku, akupun harus menyetujui permintaan Vio padaku. Mengencani tujuh pria, yang akan dijodohkan dengan dirinya. Konyol memang, hanya demi mendapatkan sebuah tiket pesawat dan penginapan gratis yang ditawarkan olehnya ke negeri seberang.
Kencanku sudah terjadwal dengan rapi, dimulai dengan hari ini dan berakhir di hari minggu.
"Aku hanya perlu kamu bantu aku menentukan mana yang cocok dan terbaik buatku." Vio menjelaskan.
"Ya, aku paham." Jawabku.
"Jadi hari ini, aku harus ke mana untuk bertemu dengan calon pertama kencanmu itu?"
"Star Cafe, nantiku kirimkan alamatnya."
Tok.. tok.. tok..
Aku memandang datangnya suara itu, suara ketukan pintu dan segera menghentikan pembicaraanku dengan Vio dan mematikan handphoneku segera.
"Ayu." Panggil orang itu, orang yang mengetuk pintu ruang kerjaku. Seorang pria dan dia adalah bosku. Arbian, kami biasa memangilnya pak Bian. Tampan, sukses, cerdas dan berkharisma.
Namun aku mempunyai masa lalu yang menyebalkan dengan dirinya. Dia teman SMAku, dan dia yang telah membuatku putus dengan pacarku dulu. Pacarku sukses menghindariku, itu ancaman dari Bian padanya.
Bian pergi setelah itu, menempuh pendidikan yang lebih baik dan sekarang meneruskan perusahaan ayahnya. Setelah bertahun - tahun tak bertemu, aku dan dirinya dipertemukan lagi. Di perusaahan tempatku bekerja saat ini yang juga merupakan perusahaan yang sedang ia pimpin.
"Ya pak." Jawabku.
"Ikut saya bertemu klien, sore ini."
"Hah.." Teriakku.
"Kenapa? kau menolak?"
"Bukannya menolak pak, mohon maaf sebelumnya, tapi kalau boleh tahu sampai jam berapa ya pak?, saya sudah terlanjur janji untuk menemui seseorang setelah bekerja."
"Di mana kamu akan bertemu?"
"Star Cafe"
"Kebetulan sekali, kita juga akan meeting di sana. Aku tunggu kamu di bawah. Bersiaplah."
Sore itu, akupun pergi dengan Bian, bosku. Menemui seseorang yang disebut klien olehnya. Seorang pria yang kurasa seumuran dengan kami. Terlihat ramah dan cerdas.
"Terima kasih atas kerjasamanya." Ucap pria itu mengakhiri meeting kami sore ini.
"Sama - sama pak Rian." Jawab Bian dan tersenyum.
"Mungkin nanti kita bahas ulang, maaf saya tidak bisa melanjutkannya hari ini. Saya sudah terlanjur ada janji. Begitukan bu Ayu." Ucap Rian memandangku dan aku tercengang mendengarnya.
"Maksudnya, janji dengan saya pak?" Tanyaku memastikan.
"Jadi orang yang akan kamu temui adalah pak Rian?" Tanya Bian yang sama - sama terkejut mendengarnya.
"Oh.. maaf, saya memang ada janji bertemu seseorang sekarang, tapi tak menyangka kalau ternyata anda." Penjelasanku sesopan mungkin.
"Jadi bagaimana, kita bisa mulai kencannya sekarang?"
"Kalian akan berkencan?" Tanya Bian yang lagi - lagi terkejut mendengarnya.
Akupun menarik tangannya untuk menjauhinya dari Rian. Hah.. kencan pertama diketahui oleh Bian, rasanya sungguh menyebalkan.
"Kau akan berkencan dengannya?" Tanyanya lagi.
"Ini tidak sungguhan kencan, aku membantu temanku." Penjelasanku.
"Maksudmu?"
"Ya.. itu karena Vio.. " Ku menghentikan ucapanku. Ku berfikir akan satu hal, kenapa aku harus menjelaskan ini padanya.
"Maaf Ini urusan pribadiku, kamu enggak perlu tau."
"Oke, semoga kencanmu menyenangkan." Ucapnya dan berlalu pergi begitu saja.
Bian tampak kesal. Ah.. aku membuat bosku kesal. Aku tak peduli, ini memang masalah pribadiku, kenapa dia masih harus ikut campur urusanku. Lupakan, aku punya misi sekarang.
Sekitar satu jam kami berbincang, bertanya satu sama lain. Rian pria dewasa, pekerja keras, sukses dan sangat berterus terang. Calon pertamanya saja sudah sesempurna ini. Bagaimana dengan calon - calon berikutnya.
Haripun berganti dengan cepat, kali ini aku berkencan dengan seorang dosen. Pertemuanku kali ini pun berlangsung di sebuah perpustakaan di tengah kota.
Aku kembali bersiap, menghabiskan secangkir teh beraroma mint yang selalu hadir di meja kerjaku. Aku tak melihat Bian seharian ini. Sepertinya Bian menghindariku, kenapa juga aku mencarinya.
"Kau terlambat sepuluh menit." Ucap pria yang ku tahu dari Vio bernama Radit.
"Maaf, maaf.. tadi macet sekali jalan menuju ke sini." Penjelasanku padanya.
"Itu bukan alasan, seharusnya kau bisa berangkat lebih awal." Ucapnya penuh penekanan.
Wah.. aku seperti seorang mahasiswi yang sedang dimarahi oleh dosennya karena telat. Pria ini sangat memperhatikan waktu.
"Minumlah dulu." Ucapnya lagi sambil menyerahkan sebotol air mineral padaku.
Aku tersenyum sendiri, sifatnya memang tegas, tapi ternyata begitu perhatian. Sejujurnya aku bosan, kenapa juga kami berkencan di perpustakaan. Bagaimana aku mencari tahu tentang dirinya. Sedikit bicara saja aku sudah di pandang banyak orang.
Kencanku yang ketiga akhirnyapun tiba. Kali ini aku berkencan dengan seorang pemain basket. Jujur pria ini tampan sekali. Pertama kali ku melihatnya aku mematung, tak berkedip tepatnya. Kenapa ada makhluk setampan ini. Tinggi, badan atletis dan senyumnya manis. Satu kata untuknya sempurna.
"Hallo aku Raka." Sapanya menghapus lamunanku tentang dirinya.
"Hai, aku Ayu. So, hari ini kita mau ke mana?"
"Kau ingin melihatku bermain basket."
"Oh.. boleh." Ucapku cepat.
Siapa yang tidak penasaran dengan sosoknya. Melihat aksinya bermain merupakan sesuatu yang ku harapkan darinya.
Sampailah kami, ia menyebutnya ini ruang timnya untuk berlatih. Banyak sekali teman prianya. Semua tinggi - tinggi, tapi Raka paling bersinar menurutku.
Hemm.. bukan menurutku saja. Banyak wanita yang datang ke sini, meneriaki namanya. Banyak sekali pengagumnya. Tiba - tiba aku merasa banyak mata yang memperhatikanku, mata - mata wanita itu. Sepertinya tidak suka melihatku di posisi yang dekat dengan Raka. Sedangkan mereka jauh di bangku penonton.
"Aku akan bermain sebentar lagi, lihatlah aksiku."
Duh.. kenapa kata - katanya membuat hatiku bergetar. Tak berapa lama kemudian, giliran Raka yang bermain. Wah lompatan yang tinggi dan lemparan yang keren dan selanjutnya apa yang terjadi. Sebuah bola menghampiri wajahku. Yah aku mencium bola dan jatuh pingsan saat itu. Sesadarnya, aku sudah ada di tempat tidur dan melihat Raka ada di sampingku. Setelah kejadian itu, aku sedikit takut dengan bola.
Haripun berganti, aku menghela nafas pagi itu. Ini adalah hari keempat ku berkencan. Secangkir teh beraroma mint kembali hadir di meja kerjaku. Kisah cinta seperti apa yang akan terjadi nanti, lamunku.
"Brukk.."
"Tolong rapikan file - file ini. Kamu harus menyelesaikan semuanya hari ini juga. " Ucap Bian padaku dan berlalu pergi.
Ada apa dengan dirinya. Kenapa dia harus menyuruhku merapikan file - file sebanyak ini. Sepertinya dia sengaja melakukannya, dia memang senang menyulitkanku. Aku harus bisa menyelesaikan ini semua, sebelum kencanku terjadi nanti.
Sore hari, setelah menyelesaikan semuanya akupun memulai kencanku yang keempat, Dimas namanya. Seorang pemilik resto yang pandai memasak. Kencanku kali ini pasti menyenangkan perutku.
"Bagaimana rasanya, enak?"
Aku menggangguk dan tersenyum menatapnya. Pasti sangat menyenangkan punya kekasih yang pandai memasak. Dia pasti menjamin sarapanku, makan siangku dan makan malamku selalu tersedia.
"Aku berencana pergi ke luar negeri tahun depan." Ucapnya tiba - tiba.
"Aku bisa mengembangkan bakat dan karierku di sana." Lanjutnya.
"Berapa lama?" Tanyaku.
"Mungkin setahun, dua tahun, lima tahun, atau mungkin selamanya."
Aku sungguh terkejut mendengarnya. Jika memilihnya berarti harus setuju ikut dengannya. Selamanya, oh tidak ini sulit. Tapi kadang cinta bisa menghapus kesulitan. Dia bisa menjadi pelengkap dan penyempurna kelak.
Lanjut kencanku kelima. Kenapa pria kali ini terlihat lebih muda dariku. Wah aku berkencan dengan pria muda. Orang bilang umur tidak menjadi penghalang, kenapa tidak mencoba mengenalnya terlebih dahulu.
Yah.. kamipun berkenalan. Seorang pria muda yang tampan dan tinggi. Mukanya terlihat familiar, akupun berfikir, apakah pernah bertemu dengan dirinya sebelum ini.
"Permisi, boleh minta tanda tanganya."
"Oh, boleh." Jawabnya pada wanita yang tengah menghampirinya.
Ia menandatanganinya dan tersenyum semanis yang ia bisa.
"Akting kakak keren saat bermain film 7 Cinta dari 7 pria. Kenapa tidak bersama kak Sherly saja kak." Ucap wanita itu sambil melirik tajam ke arahku.
Aku paham sekarang, siapa pria yang ada di hadapanku saat ini. Daren, yah itu namanya. Seketika aku mempunyai banyak musuh karena bersamanya sekarang.
"Kau tak apakan?" Tanyanya setelah wanita itu meninggalkan kami.
"Mengejutkan, apakah selalu seperti itu?"
"Tidak juga, tidak semuanya seperti wanita tadi. Mungkin lain kali kita bisa berkencan di tempat yang lebih sepi."
Duh.. fikiranku traveling mendengar ucapannya. Kenapa dia harus mengatakan di tempat yang lebih sepi. Maksud dari kata lain kali di sini apa, dia bermaksud berkencan denganku lagi.
Daren pria yang bersemangat, penuh dengan cerita menarik. Haripun berlalu dengan cepat. Malampun berganti dengan pagi. Kencanku tinggal hari ini dan esok.
"Kau akan pergi." Ucap Bian mengagetkanku.
"Ah.. iya.." Jawabku.
"Berkencan lagi?" Tanyanya dan aku diam, melangkah melewatinya.
Dia menarik tanganku, menghentikan langkahku. Membuat tubuhku menabrak dirinya.
"Kau kenapa? ini sudah di luar jam kerja, aku berhak untuk pergi." Protesku.
"Yah.. kau benar." Melepaskan tangannya yang menggenggam tanganku.
Bian pergi, tangannya berkeringat, wajahnya terlihat lelah. Ada apa dengan dirinya. Dia tampak tidak bersemangat seperti biasanya.
Aku sampai, di sebuah rumah sakit yang cukup besar di tengah kota. Pria yang ku kencani saat ini adalah seorang dokter. Sangat sibuk sepertinya, berkencan di kantin rumah sakit. Dokter Leo, itu namanya.
"Maaf belum bisa mengajakmu ke tempat yang lebih baik."
"Oh.. tak apa." Jawabku.
Pekerja keras sekali pria ini. Tanggung jawabnya besar. Waktunya habis untuk bekerja. Dia berhak mendapatkan wanita yang memahami pekerjaannya. Mungkin itu alasannya mengajakku berkencan di sini.
"Maaf Dok, mengganggu istirahatnya. Ada pasien memerlukan pertolongan segera. Dia dalam perjelanan ke rumah sakit, sebentar lagi sampai." Seorang suster menghampiri kami.
Leo menatapku, ada rasa tak enak dengan situasi yang sekarang terjadi.
"Pergilah, orang itu membutuhkanmu. Aku sekalian pamit ya." Ucapku meyakini dirinya.
"Terima kasih Ayu, aku antar kamu." Pintanya dan aku mengangguk. Melangkah bersama menuju loby rumah sakit.
Saat ku tiba di Lobby, aku terdiam. Tatapanku fokus pada satu orang. seorang pria yang terbaring dan dibawa masuk oleh beberapa petugas medis saat itu. Aku mengenalinya, itu Bian apa yang terjadi dengan dirinya. Sore tadi dia masih tampak baik kenapa malam ini dia di sini dan tergeletak lemah.
"Bu Ayu." Ucap pak Hendra yang merupakan salah satu security tempat kami bekerja.
"Ada apa dengan Pak Bian?" Tanyaku yang mulai khawatir melihatnya.
"Saya juga kurang tahu bu, saat saya ke lantai atas untuk patroli. Saya lihat pak Bian sudah pingsan."
"Terima kasih ya pak, saya bantu urus di sini, bapak bisa kembali ke kantor." Pintaku.
Apa yang terjadi dengan dirinya. Aku menemaninya duduk di sampingnya yang sedang tertidur. Menatap wajahnya dan tampak tenang. Akupun ikut tertidur menemaninya.
🍁🍁🍁
"Kau sudah bangun, yuk bersiap." Ucapnya membingungkanku.
"Bersiap untuk apa?" Tanyaku menatap dirinya yang begitu rapi dan tampak sangat baik seperti tidak terjadi apapun semalam.
"Berkencan."
"Maksudmu?"
"Aku teman kencanmu berikutnya." Ucapnya mengagetkanku.
"Memangnya kau sudah baikan?"
"Sudah, makanya aku sudah boleh pulang sekarang."
Apa yang sedang terjadi, pria terakhir yang kukencani adalah bosku sendiri. Pria yang sudah cukup lama ku kenal. Pria yang selalu hadir di setiap hari - hariku. Hari ini dia sangat berbeda, sangat menyenangkan bersamanya. Aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya.
"Maaf, aku minta maaf." Ucapnya.
"Maaf untuk apa?"
"Seharusnya aku tak mengatakan yag sebenarnya saat itu."
"Aku yang salah, aku yang tidak bisa menerima kenyataan. Malah justru menyalahkanmu." Ucapku dan tersenyum padanya.
🍁🍁🍁
Berakhir sudah.. semua kencan sudah ku jalani. Ini saatnya ku menunggu hasil keputusan dari Vio. Siapa yang akan dia pilih.
"Aku sudah tahu siapa yang akan ku pilih." Ucap Vio saat menghubungiku.
"Siapa?" Tanyaku.
"Bian, gimana menurutmu?"
Aku terdiam, kenapa harus Bian. Saat ku mulai menyadari bahwa Bian berarti buatku.
"Yu, kok diam, kamu setujukan dengan pilihanku. Kamu pasti memilih Bian jugakan?" Tanyanya mengagetkanku.
Aku memang memilih Bian, tapi aku tak rela jika pilihanku untuknya.
"Kenapa Bian?" Tanyaku.
"Karena Bian cocok denganmu."
"Hah.." Teriakku dan saat itu pintu ruang kerjaku terbuka. Sosok Bian berdiri dan melangkah menghampiriku dengan senyum yang khas di wajahnya.
"Kau memilihku." Ucap Bian tepat di hadapanku.
"Kencan yang ku buat ini, sebenarnya untuk menjodohkanmu, bukan untukku." Aku tersenyun mendengarnya dan tersipu menatap Bian.
Fakta yang mengejutkan, aku tak pernah berfikir bahwa yang ku lakukan selama ini adalah untuk diriku sendiri. Pria yang ku temui semua baik, tapi kencanku dengan Bian sangat membekas. Mungkin karenaku sudah lama mengenalnya, akupun merasa nyaman dengan dirinya. Mengenalnya membuatku paham, bahwa yang lalu bukanlah kesalahannya. Dia mempedulikan dari dulu hingga sekarang.
-Selesai-
Semoga menyukai ceritanya, tinggalkan jejak kalian ya..😊