Hallo- hallo Hai...
Salam bahagia tanpa batas...
Salam semangat penuh loyalitas...
😎😎😎
Ada pepatah mengatakan... tak kenal maka tak sayang. Kenalan dulu yuk.. 😆
Kenalin nih, panggil saja aku dengan sebutan Miss Dew seorang makhluk ciptaan Tuhan. Banyak hal aku lakukan dalam mengisi kehidupan ini, mulai dari guru privat, konsultan akademik, potografer dadakan sampai penulis amatir.
Jadi, dalam kesempatan kali ini Aku mencoba menulis sebuah cerpen yang tak lain dan tak bukan merupakan sebuah challenge atau tantangan dari seorang author kondang @HK
Semoga karya cerpen ini meninggalkan suatu kesan yang mendalam bagi yang telah membacanya hingga akhir paragraf. Mohon banyak jika banyak kata-kata yang salah dalam penulisan alias Typo, karena jempol ini tak bermata.
Jangan lupa berikan buah mangga yang manis dan like jika kalian menyukainya. Cinta dan harapan ku sangat besar kepada kalian semua.
Tanda Cinta & Sayang setaman impian
🥰🥰🥰🥰
💋💋💋
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
PESAN CINTA TERAKHIR
Dibawah bayangan pohon, Diandra meremas
segenggam tanah diatas sebuah gundukan yang baru saja dibentuk. Semilir hembusan angin, serbuan awan yang menghalangi panasnya sinar matahari seakan turut bersama menemani sang istri yang baru saja ditinggal sang suami.
Bulir bulir air mata pun tak kuasa menetes dan membasahi tanah tempat peristirahatan terakhir Prasetyo Bagaskara, atau yang sering disapa dengan panggilan hangat Tyo.
"Mas Tyo katanya janji akhir pekan ini kita akan jalan-jalan ke pasar malam. Tapi kenapa Mas Tyo malah ninggalin aku sendirian di sini mas. Aku kan sudah janji setiap malam akan tidur sambil melukin mas Tyo," ucap Diandra dengan lirih sambil mengusap sebuah nisan yang bertuliskan nama sang suami.
Penyesalan memang selalu datang terlambat meskipun mereka sudah menjalani pernikahan selama tiga tahun tapi kebersamaan mereka yang sesungguhnya hanya beberapa bulan terakhir. Selama ini Tyo berjuang menunjukkan rasa cinta dan tanggungjawabnya sebagai seorang suami kepada Diandra.
Diandra menikah dengan Tyo bukan atas dasar rasa cinta. Kala itu tepat seminggu sebelum pernikahan Diandra dengan sang kekasih, yang kini sudah menjadi mantan terpaksa harus dibatalkan. Sang kekasih ternyata baru diketahui telah menghamili seorang wanita yang merupakan mantan pacarnya semasa SMA. Diandra memilih mundur dan harus membatalkan rencana pernikahan mereka yang sudah direncanakan sejak lama.
Namun malam harinya, datang Prasetyo didampingi sang ibu ke rumah orang tua Diandra untuk melamar. Diandra yang kala itu penuh rasa kecewa dan dendam menerima lamaran Prasetyo untuk membalaskan rasa sakit hatinya kepada sang mantan kekasih. Hingga seminggu kemudian terjadilah pernikahan dengan mempelai pria yang berganti.
Meski tahu Diandra tak memiliki rasa cinta kepadanya, Prasetyo tetap menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Prasetyo yang selalu sabar menghadapi sikap Diandra dan melakukan apapun permintaan istrinya meskipun tak pernah ada balasan yang sama.
Nafkah batin yang seharusnya menjadi hak Prasetyo tak pernah dia dapatkan sejak malam pertama. Bukan karena Diandra tidak memberikannya tetapi Prasetyo yang tidak memintanya jika belum ada rasa cinta di hati istrinya untuk dirinya. Sikap dingin dan cuek yang selalu Diandra suguhkan setiap hari tidak membuat Prasetyo lelah dan terus berjuang mendapatkan rasa cinta tersebut.
"Dian, semua yang gaji Mas sudah di transfer ke rekeningmu ya sayang. Pergilah berbelanja, belilah apapun yang kamu suka. Insyaallah Mas ridho," ucapnya setiap kali telah menerima yang gaji bulanannya.
Diandra hanya mengangguk tanpa memberikan sebuah senyuman apalagi pelukan hangat. Terkadang Tyo merasa iri dengan istri diluar sana yang selalu tersenyum bahagia saat sang suami mendapatkan uang gajian. Tapi inilah yang harus diterima oleh Tyo saat dirinya nekat melamar gadis yang patah hati.
Setiap pagi, sebuah kecupan manis diberikan pada kening istrinya sebelum Tyo berangkat kerja. Sedangkan Diandra hanya membalasnya dengan mencium punggung tangan suaminya sebagai bakti seorang istri. Kehidupan rumah tangga yang sangat dingin, terkadang hanya Tyo yang bercerita dan Diandra yang mendengarkan tanpa berkomentar apapun.
Tiga tahun usaha yang Tyo lakukan berhasil setelah seminggu Diandra dirawat di rumah sakit karena penyakit maagnya yang kambuh. Demi Diandra, Tyo rela mengambil cuti penuh untuk menemaninya selama dirawat di rumah sakit. Menjaga selama dua puluh empat jam, tidak meninggalkan Diandra sedetikpun kecuali untuk mengurus administrasi dan membeli makanan.
Wanita mana yang tidak tersentuh melihat betapa tulusnya Tyo menjaga Diandra tanpa lelah. Hingga di malam itu tak sengaja Diandra mendengarkan Tyo yang mengigau dalam tidurnya.
"Maafkan Mas, Diandra maafkan Mas karena tidak becus sebagai seorang suami. Mohon maafkan Mas sayang dan jangan tinggalkan mas. Mas janji akan selalu pulang tepat waktu dan tidak akan lembur lagi."
Sebegitu bersalahkah Tyo karena Diandra sakit? Ya memang benar, karena Tyo beberapa hari lalu sering pulang telat. Tyo mengira jika Diandra tidak melewatkan makan malamnya karena setiap Tyo pulang Diandra sudah tidur duluan. Ternyata Diandra sama sekali tidak makan, bahkan lebih parahnya Diandra melewatkan makan siang juga. Kebiasaan buruk Diandra tidak suka makan, jika bukan karena dipaksa oleh Tyo wanita itu pasti tidak makan seharian.
Diandra tanpa sadar meneteskan air mata setelah mendengar igauan sang suami saat tidur. Tangannya dengan lembut mengusap rambut sang suami, selama pernikahan tak pernah dia lakukan. Ini yang pertama kali.
Harusnya Diandra yang takut ditinggalkan oleh Tyo. Harusnya Diandra yang merasa bersalah telah menyusahkan suaminya. Malam itu dia dasar, Prasetyo sangat mencintainya dan berjanji akan berusaha membalas rasa cintanya untuk suaminya itu. Selama ini Diandra mengunci hatinya untuk cinta manapun. Dia tak mau kembali merasa sakit hati karena sebuah pengkhianatan.
❤️❤️
Malam ini terasa lebih hangat dibandingkan malam -malam sebelumnya. Bintang-bintang terlihat begitu indah menghiasi langit malam. Tyo yang baru saja tiba di rumahnya sedikit heran karena tidak bisanya lampu di rumahnya mati.
Panik, Tyo langsung berlari masuk kedalam rumahnya takut terjadi sesuatu dengan Diandra. Namun saat saklar lampu dinyalakan pemandangan berbeda Tyo lihat.
"Di-Diandra itu ka-kamu sayang??" ucap Tyo dengan gagap, cenderung ketakutan seperti melihat hantu.
Diandra terkekeh saat melihat reaksi sang suami yang tidak biasa. Sama tidak biasanya seperti penampilannya malam ini. Diandra memakai gaun tidur satin yang sangat tipis dan menerawang, sangat cantik dengan make up sederhana. Tak lupa, sentuhan parfum menambah daya pesona pikatnya semakin memukau.
"Ia mas, ini Dian istri Mas. Kalo bukan siapa lagi dong??" jawab Diandra tepat di samping telinga Tyo.
Ahhh.... Panas dingin seluruh tubuh Tyo, ketar ketir hatinya. Sebagai seorang pria normal yang telah lama memendam hasrat tentu Tyo tak menampik menginginkan Diandra. Tapi Tyo tak terlalu yakin, takut ini hanyalah mimpinya semata.
"Aaaaawww mas sakit!!!!" pekik Diandra kesakitan, Tyo sengaja mencubit pipi Diandra cukup kuat.
"Ahhh maaf sayang, mas sengaja. Mas kira ini hanya mimpi atau imajinasiku saja. Malam ini kamu sangat cantik sayang, sangat berbeda," sahut Tyo sambil menahan gelora dalam dirinya. Adrenalin mulai membuat suhu tubuhnya meningkat dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mas suka??"
Diandra mulai menggoda, dia sengaja melingkar tangannya pada leher Tyo.
"Suka banget sayang. Sudah lama mas menginginkan hal ini sayang."
"Maafkan aku Mas, yang selama ini tidak menjadi istri dengan baik. Dan malam ini izinkan aku memenuhi kewajiban ku sebagai istrimu Mas. Aku mencintaimu, Prasetyo Bagaskara," ucap Diandra dengan begitu dalam.
"Mas, kok menangis??" Diandra panik saat melihat Tyo meneteskan air mata. Mungkinkah dia terlambat menyatakan cinta, atau Tyo sudah memiliki tambatan hati lain. Pikiran buruk itu mulai mengusap diri Diandra.
"Mas menangis karena bahagia sayang, Mas bahagia sekali, sangat bahagia. Mas juga mencintaimu Diandra Kavia Rahadi."
Keduanya pun merengkuh malam panjang nan syahdu setelah sekian purnama bersama. Melampiaskan rasa cinta terhadap pasangannya, meraih bahagia bersama. Dan setelah malam ini berlalu, keduanya mulai menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia.
☘️☘️☘️
Hampir tiga jam Diandra masih setia disamping pusara Prasetyo, meski ini adalah takdir Tuhan dia belum mengikhlaskan kepergian suaminya. Semua orang yang mengantar kepergian Tyo sudah meninggalkan tempat pemakaman, tidak dengan Diandra.
Langit sudah menampakkan cahaya jingga di ujung timur, pertanda senja akan segera hadir. Meski berat Diandra harus segera pulang, dia ingat pesan suaminya untuk selalu menjaga kesehatan.
"Mas Tyo, Dian pulang dulu ya. Diandra akan selamat menjaga cinta kita Mas. Assalamualaikum," ucap Diandra diakhir sebuah ciuman pada nisan.
Belum genap sehari kepergian sang suami menyisakan rasa hampa nan kosong. Diandra membayangkan setiap kegiatan mereka di kamar yang penuh kenangan ini. Diandra merasakan penyesalan teramat sangat, mengapa tidak mulai mencintai sang suami sejak di hari pertama mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
"Mas, Diandra rindu Mas," gumamnya begitu lirih.
Diandra memeluk bantal yang digunakan oleh Tyo setiap malam. Masih tertinggal sisa aroma tubuh suaminya itu, mungkin itu bisa menjadi obat rindu.
Namun mata Diandra tertuju pada sebuah laci di meja yang biasa digunakan suaminya ketika bekerja dirumah. Rasa penasaran pun hadir.
"Apa ini??"
Diandra melihat sebuah kotak berwarna merah jambu dilengkapi sebuah pita. Rasa penasarannya semakin besar, dia ingin membukanya dan melihat apa isi didalamnya. Ternyata didalamnya ada sebuah surat dan buku diary milik Prasetyo.
Dear Diandra, istriku tersayang.
Mungkin setelah kamu menemukan surat ini, Mas sudah tidak ada lagi disampingmu setiap hari. Mas tidak akan pernah bisa lagi memelukmu saat tidur dan selalu menjagamu selama dua puluh empat jam. Maafkan Mas harus pergi menjauh dan tidak akan kembali.
Terima kasih sudah memberikan cinta dan rasa sayang yang begitu besar untuk Mas. Selamanya Mas akan menjaganya hingga hembusan napas terakhir. Percayalah sejak awal hanya kamu cinta Mas, hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hati ini hingga akhir hayat.
Pesan Mas hanya satu, hiduplah dengan bahagia sayang. Lanjutkan hidupmu dan jangan berlarut dalam kesedihan. Percayalah Tuhan sudah menentukan takdir kebersamaan kita. Tapi mas percaya kelak kita akan dipersatukan kembali di tempat terindah nanti.
Diandra Kavia Rahadi, aku mencintaimu dengan sangat.
Penuh cinta
Prasetyo Bagaskara.
"Mas Tyo... huuuuuu aku juga mencintaimu Mas."
Tumpah seluruh air mata yang dia tahan sejak awal membaca surat tersebut. Pesan terakhir yang begitu indah dari sang suami. Kenapa bisa Tyo menyadari jika waktunya sudah tak lama lagi saat menulis surat tersebut?
Diandra segera menghapus air matanya, ada satu hal lagi yang harus dia buka. Semua buku diary bersampul biru tua bertuliskan nama sang suami, Prasetyo Bagaskara. Diandra mulai membaca lembar pertama dari buku diary tersebut. Semakin lama Diandra mulai terhanyut dalam tumpahan cerita Tyo akan kesehariannya. Tak terlewatkan sedikit kejadian yang terjadi, semuanya tertuang pada tulisan tangan.
Hingga Diandra sampai dimana dia mengetahui rahasia besar mengapa Tyo melamar dirinya saat pernikahan tersebut hendak dia batalkan. Ternyata Prasetyo tak pernah melepaskan pengawasannya sedikit pun akan kehidupan Diandra sejak dulu.
"Kenapa.... kenapa.... kenapa Mas ga pernah bilang sejak awal Mas kenapa???? Mas Tyo......"
Tangis Diandra semakin deras, kenyataan jika Prasetyo telah mencintainya sejak lama.
"Mas Tyo... Mas Tyo..... "
Diandra memeluk dua benda itu dengan erat, mendekapnya di dada.
"Ya Alloh Nak, kenapa?? Kenapa kamu seperti ini sayang? Apa yang terjadi," cemas Bu Widya melihat sang menantu tengah meringkuk di lantai sambil menangis. Bu Widya adalah ibunda Prasetyo Bagaskara.
"Bu... kenapa ibu ga bilang kalo Mas Tyo adalah orang yang menyelamatkanku saat di Anyer dulu Bu. Kenapa aku baru tau sekarang? Padahal aku selama ini mencarinya Bu. Ternyata dia adalah suamimu sendiri, Mas Tyo!!!!"
Diandra berhamburan memeluk erat sang ibu mertua, menumpahkan segala rasa yang telah bercampur aduk menjadi satu. Diandra sendiri bingung harus meluapkannya seperti apa.
Ya, Bu Widya emang susah lama mengetahui alasan Prasetyo melamar Diandra dan beliau juga mengetahui jika Prasetyo pernah menyelamatkan Diandra yang tenggelam di Pantai Anyer. Trauma yang sempat di alami Diandra menjadi alasan mengapa Tyo tidak menceritakan semua kebenaran itu. Takdir telah menggariskan Prasetyo selalu menjadi penyelamat hidup Diandra, termasuk rasa malu karena calon suami Diandra melakuka pengkhianatan.
Tiba-tiba Diandra teringat pesan suaminya agar selalu bahagia. Jika dia terus larut dalam kesedihan pasti akan mempengaruhi kesehatannya. Sekarang Diandra harus lebih mengutamakan kesehatannya.
"Mas Tyo, tenanglah di alam sana. Dian akan selalu bahagia dan menjaga kesehatan. Dian ga akan lagi nakal, Dian selalu makan tepat waktu dan juga rajin minum vitamin. Demi calon anak-anak kita Mas. Dian akan selalu menjaganya Mas. Terimakasih atas segalanya, Aku sangat mencintaimu Mas Tyo."
Ya.. Diandra saat ini tengah mengandung janin kembar berusia 3 bulan. Wujud buah cinta dan kasih sayang antara Prasetyo Bagaskara dengan Diandra Kavia Rahadi. Kenangan terindah yang di tinggalkan suami tercinta. ❤️
☘️☘️☘️☘️☘️
Cerpen ini didedikasikan untuk :
Challenge Menulis Cerpen Bebas Ruang Author