Siang itu, sinar matahari berhasil meluluhkan kesejukan kota Bandung hingga terasa begitu menjanjikan untuk tidak disia – siakan. Memanfaatkan momen tersebut, semagatku meningkat seiring dengan rencana untuk berkumpul dengan komunitas yang aku ikuti untuk melawat ke pusat kota berhias bangunan – banguanan lama disetiap sudutnya. Perkumpulan ini merupakan wadah dari para pecinta sejarah untuk menikmati keindahan Kota Bandung dari perspektif yang berbeda. Kami memiliki kebiasaan mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah, tidak hanya di dalam kota tetapi juga di luar kota. Tak hanya menikmati keindahan arsitektur dan sejarah, komunitas ini mengajakku untuk menempuh perjalanan dan merajut pengalaman dalam menyusuri indahnya kota lama bernuansa legendaris serta membawa sensasi kembali ke masa lalu dari atmosfer sejarah yang dibawanya.
Tergabung dalam komunitas pecinta sejarah ini, petualangan kami mengawali bab baru ketika langkah-langkah kami mendarat di hadapan sebuah monumen bersejarah yang dirajut oleh warisan Belanda. Gedung itu seperti penjara waktu, menjulang dengan megah dan merentangkan cerita tak terkira dalam setiap sentimeter arsitekturnya yang memukau. Saat pintu menuju masa lalu itu terbuka lebar, bukan hanya sejarah yang menyambut kami, tetapi juga aroma legendaris yang mengisahkan kisah-kisah yang terkunci rapat dalam dinding-dinding monumental itu.
Saat kami memasuki gedung bersejarah itu, cahaya matahari yang menyinari ruangan-ruangan yang sebagian besar masih mempertahankan arsitektur aslinya, memberikan kesan megah pada gedung itu. Aku terpukau oleh keindahan dan kemegahan bangunan ini. Kondisi tembok, lantai, pilar kayu, jendela kaca dan patung – patung yang ada disana pun masih terjaga kebersihan dan keawetannya.
Kami dipandu oleh seorang penjaga paruh baya, berpakaian hijau muda dengan lambang intasi yang menaungi lokasi dimana kita berada. Beliau menjelaskan, bangunan ini didirikan pada abad ke 20 dengan pengoperasian sebagai sekolah khusus perempuan di masa itu. Bangunan ini pun kini dinobatkan sebagai cagar budaya kolonial di kota Kembang ini karena merupakan salah satu bangunan tertua disana.
Pada awalnya, semuanya tampak seperti kunjungan sejarah biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, kejadian-kejadian aneh mulai menyelinap ke dalam perjalanan kami. Lorong demi lorong kami lewati dengan nuansa yang cukup gelap karena tidak ada kegiatan operasional di gedung tersebut saat itu. Aku memutuskan untuk memperlambat langkahku, menarik napas dalam-dalam untuk menyerap setiap detail bangunan yang mengelilingiku. Saat berada di lorong gelap yang menghubungkan dua bangunan, aku merasa adanya kehadiran dari mereka yang tidak terlihat. Suasana menjadi begitu kental, seolah-olah waktu berhenti sejenak.
Aku melanjutkan langkahku dan tiba-tiba terhenti di sebuah tangga yang menuju lantai dua. Lantai berwarna merah muda dan kaca patri di dindingnya mencuri perhatianku. Satu per satu anak tangga kulalui perlahan. Saat melangkah ke anak tangga keempat, aku merasakan getaran aneh di udara. Seakan-akan ada sesuatu yang ingin memberi tahu atau menunjukkan sesuatu yang terjadi di masa lalu. Meskipun merasa aneh, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan tanpa terlalu memikirkannya.
Sesampainya di lantai dua, keindahan arsitektur art deco ini semakin terpancar. Aku berjalan menyusuri lorong dan menemukan ruangan-ruangan yang penuh sejarah. Namun, di salah satu ruangan, suasana berubah. Aku melihat seorang wanita usia remaja, berpakaian seragam sekolah dengan rambut panjangnya tergerai. Dia duduk di pojok ruangan, sendiri, diam tanpa ekspresi. Tatapan matanya seolah-olah menembus waktu. Aku tahu dia bukan manusia sepertiku. Sepersekian detik tubuh terasa kaku menatap wajahnya yang pucat dan membisu. Dalam perasaan takut yang menyelimuti, Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku. Bayangan sosok wanita ini terus menghantuiku saat aku menjelajahi ruangan-ruangan lain. Sesekali, pandangannya muncul di balik setiap sudut. Aku merasa hubungan yang aneh dengan sosok wanita ini, seolah – olah dia ingin mengungkapkan sesuatu.
Aku cukup terkejut dengan tepukan di bahu sebelah kananku. Dalam suara lirih, temanku bertanya,”Kamu meliahat sesuatu?”,“Ya”, pungkasku. Dia melanjutkan, “Aku pernah tau cerita dari seseorang yang pernah melakukan kegiatan di tempat ini. Dia bercerita, dia melihat seorang wanita muda yang yang berdiri di salah satu pojok ruangan. Tak lama setelah itu, kejadian aneh terjadi padanya. Meja, kursi, pensil dan buku yang dia gunakan untuk menulis di ruangan itu, tiba tiba melayang tanpa sebab. Dia berlari ketakutan atas apa yang dialaminya. Kabarnya, sosok itu memang sosok iseng yang mendiami bangunan ini sejak lama. Tidak ada yang tau dia berasal dari mana. Semoga Tuhan selalu memberkati dia agar senantiasa tenang di alam sana.” Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku untuk membalasnya.
Melanjutkan perjalanan, kami menemukan lorong yang menghubungkan gedung tersebut dengan bangunan lain di sebelahnya. Meskipun berada di lantai dua, terdapat tangga yang menuju taman di ruang terbuka. Bangunan klasik dengan pintu tua yang tertutup menarik perhatianku. Aku bertanya kepada penjaga tentang bangunan tersebut, dan dia menjelaskan bahwa di balik pintu itu terdapat kamar-kamar untuk para biarawati dan ada gereja di sebelahnya. Tentang biarawati itu, aku merasa ingin tahu lebih banyak, tetapi penjaga menolak permintaan kami untuk masuk dengan alasan wilayah itu merupakan area privat, untuk menjaga ketenangan biarawati yang sedang berada disana. Kami menghormati keputusan tersebut dan melanjutkan perjalanan kami bersama penjaga.
Kami melanjutkan perjalanan dengan menyusuri lorong – lorong megah di lantai dua. Aku merenung saat mengikuti langkah rombongan dari belakang. Di ujung lorong, terdapat tangga menuju lantai satu dengan desain memutar dan nuansa kuning dari cahaya matahari yang menembus jendela berkaca patri berwarna kuning di dindingnya. Dari ujung anak tangga, langkahku terhenti sejenak saat melihat sosok wanita dengan rambut sebahu dan pakaian putih yang kemerahan seperti terkena darah di tengah-tengah tangga yang berputar itu. Dia berbeda dengan sosok wanita muda yang aku lihat sebelumnya.
Aku tak bisa membayangkan apa yang sedang ku saksikan. Wanita itu terlihat seperti keluar dari masa lalu. Tubuhku terasa lemah, tidak sanggup mengikuti rombongan menuruni anak tangga itu dan aku mulai menggerakkan kaki beberapa langkah ke belakang. Wanita itu melangkah ke arahku dan berhenti di ujung anak tangga ditempat aku berdiri sebelumnya. Pandangannya kosong, dan aku merasa terhubung dengannya seolah-olah merasakan berbagai macam emosi yang melingkupinya. Selain menggunakan pakaian berwarna putih kemerahan yang menjulur sampai bawah lututnya, sosok ini memiliki wajah yang pucat, mata hitam pekat, rambut terurai sampai ke bahu dan terlihat bekas aliran darah yang cukup banyak dari pelipis kanannya. Seakan akan warna kemerahan pada baju yang ia kenakan, berasal dari aliran darah dari kepalanya yang meresap ke baju yang ia kenakan.
Tanpa terduga, aliran waktu disekitar tubuhku seakan berhenti dan aku merasa kembali kembali ke masa lalu saat aku menatap mata layu wanita itu. Aku melihat dia yang sedang berada didepan sebuah patung yang mirip dengan patung Bunda Maria yang ada di gedung sebelah. Aku melihatnya menangis dalam kesendirian di depan patung itu. Wanita berpakaian putih di lorong yang megah itu kemudian melangkahkan kakinya begitu ringan di lantai marmer yang bersih. Dia memancarkan aura kesedihan yang begitu mendalam, seolah-olah memikul beban berat di pundaknya. Dengan langkah hati-hati, dia masuk ke dalam ruangan yang sepertinya menjadi tempat yang sangat berarti baginya.
Ruangan itu terbuka dengan langit-langit yang tinggi, dihiasi ornamen-ornamen gotik yang menghadirkan suasana religius. Aku melihat wanita itu berdiri di tengah ruangan, memandang Salib besar dengan patung Yesus ditengahnya, yang menggantung di depan dinding altar. Tempat itu tampak begitu sakral, dan hiasan rangkaian bunga berwarna putih disekitarnya, menambah nuansa kesucian di sana. Wanita itu kemudian melangkah ke arah satu pintu kecil di sudut ruangan. Dengan hati-hati, dia membukanya dan memasuki ruangan sempit di baliknya. Aku merasa ada sesuatu yang sangat pribadi dan intim di ruangan itu. Cahaya yang masuk dari jendela kecil menggambarkan ruangan yang dihiasi dengan sederhana, tetapi penuh dengan kehangatan spiritual. Kupikir wanita itu sedang melakukan sesuatu yang sangat mendalam di dalam sana. Aku merasa seolah-olah menjadi pengamat tak terlihat dari peristiwa yang berlangsung. Wanita itu duduk di bangku kayu dengan kepala tertunduk, dan aku dapat melihat air matanya jatuh di lantai kayu.
Kemudian, tanpa suara atau gerakan yang mencolok, dia berdiri dan keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat lebih tenang, tetapi tetap dipenuhi oleh bayangan kesedihan yang begitu dalam. Aku menyaksikan setiap langkahnya dengan ketertarikan dan kebingungan. Mengapa dia begitu terhanyut dalam emosinya? Apa yang telah terjadi dalam ruangan itu?
Saat dia meninggalkan ruangan sempit itu, aku merasa seolah-olah ruangan itu sendiri menyimpan segala rahasia dan beban yang pernah dia pikul. Wanita itu berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai atas. Dia melewati lorong dan ruangan yang pernah kami jelajahi bersama sebelumnya, tetapi kali ini dia terlihat lebih ringan, seolah-olah sesuatu telah dilepaskannya. Tiba-tiba, langkahnya terhenti di depan tangga yang membentang ke keatas. Dia melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga itu dan terduduk di anak tangga keempat, tempat di mana aku merasakan keanehan saat pertama kali melihatnya. Sementara dia duduk di sana, seolah-olah dia berada dalam dunianya sendiri, aku melihat bayangan-bayangan peristiwa yang mungkin pernah terjadi di masa lalunya
Aku seperti dipandu melalui ingatannya yang penuh dengan kebingungan dan emosi. Wanita itu berjalan melalui lorong, melihat patung Bunda Maria, masuk ke ruangan kecil yang penuh dengan doa dan keheningan, dan akhirnya duduk di tangga keempat, tempat di mana dia merasa tersentuh oleh sesuatu yang begitu mendalam.
Tiba-tiba, di tengah-tengah ingatannya, dia berdiri dan berjalan menjauh dari tangga. Dia kembali menyusuri lorong dan melihat patung Bunda Maria lagi. Dengan langkah mantap, dia berjalan menuju tangga berputar di ujung lorong itu. Dia menghentikan langkahnya tepat didepan tangga dengan jendela berkaca patri kuning disebelah kanannya. Dia seketika membalikkan badan ke arahku dan aku merasa seperti terpindah kembali ke saat sekarang, saat aku mulai menatap matanya setelah rombongan meninggalkanku menuruni tangga berputar hingga akhirnya aku menyaksikan semua kejadian di masa lalu yang dialami sosok itu. Kesadaranku kembali seketika.
Wanita itu memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Aku merasa seolah-olah dia tahu aku ada di sana, menyaksikan setiap langkahnya. Dan tanpa peringatan, dia memanjat jendela di sebelah kirinya dan menjatuhkan diri dari ketinggian. Aku seperti membeku di tempatku. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Hanya rasa takut dan ketidakpercayaan yang melanda. Aku menatap jendela tempat dia menghilang, seolah-olah berharap ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Namun, ketika aku melihat ke bawah, di tanah tempat dia seharusnya terbaring, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Darah membasahi tanah dan baju yang ia kenakan. Tubuhnya terlihat tergeletak tak bernyawa. Wanita itu telah pergi, meninggalkan misteri yang begitu dalam dalam hatiku.
Ketidakpercayaan melanda pikiranku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya terdiam kaku, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Aku terduduk dibawah jendela berkaca patri dengan napas terengah engah dan keringat yang membasahi tubuhku. Teman-temanku dari bawah tangga memanggil namaku, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Aku menatap mereka dengan tatapan kosong, belum sepenuhnya menyadari bahwa aku baru saja menjadi saksi dari suatu tragedi yang tak terbayangkan. Kisah wanita itu, yang melibatkan perjalanan emosionalnya di dalam ruangan kecil hingga momen tragis di jendela itu, akan selalu terukir dalam ingatanku. Sesuatu yang begitu pribadi dan sakral, seakan – akan aku telah melihat potongan hidupnya yang sebenarnya. Masa lalu dan masa sekarang bersatu dalam serangkaian kejadian yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
Beberapa teman mendekati tangga dan memandangiku dengan tatapan heran. Salah satu dari mereka bertanya dengan khawatir, "Arkan, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu berkeringat sebanyak ini? Apa yang kamu alami disini?" Aku hanya bisa tersenyum simpul, mencoba meredakan ketegangan mereka, namun hatiku masih dipenuhi rasa takut dan bingung.
Temanku yang lain merangkul bahuku dan menyuarakan keheranannya, "Kamu melihat sesuatu, bukan? Ceritakan pada kami." Dengan pelan, aku bercerita tentang pengalaman aneh yang baru saja kualami. Bagaimana aku melihat wanita itu di masa lalu, tangisan dan kesedihannya, tragisnya, dan bagaimana dia mengakhiri hidupnya di depan jendela itu.
Penjaga gedung yang mendengar ceritaku tersenyum dan mendekat, "Kamu bisa melihatnya, ya? Jangan khawatir, banyak orang yang merasakan kehadiran mereka di sini." Ia lalu menceritakan bahwa kejadian itu menjadi cerita turun temurun di wilayah sini. Wanita itu adalah seorang yang pernah tinggal dan menempuh pendidikan di sana pada masa lalu. Ceritanya terus berkembang seiring berjalannya waktu, dan banyak yang percaya bahwa rohnya masih menghantui gedung tersebut. Beberapa orang pernah mengaku melihat sosok wanita berbaju merah yang menjatuhkan diri dari atas jendela. Mereka melihat sosok berbaju merah yang menjatuhkan diri dari sisi jalan depan gedung itu.
Perjalanan kami di gedung peninggalan Belanda itu tidak lagi terasa seperti kunjungan sejarah biasa. Seakan-akan gedung itu sendiri memiliki ruang dan waktu yang berbeda, membiarkan kita melihat lebih dari sekadar arsitektur dan batu bata. Kita melihat kisah hidup, kegembiraan, kesedihan, dan tragedi yang membentang sepanjang masa. Dan meskipun kehadiran wanita itu telah meninggalkan jejak yang dalam dalam hatiku, kami semua merasa tanggung jawab untuk menghormati dan mengenangnya. Rombongan akhirnaya dipandu menuju taman depan untuk beristirahat. Suasana menjadi lebih tenang, namun kebingungan masih merayapi pikiranku. Aku duduk di kursi taman dengan pandangan kosong, mencoba memproses semua yang baru saja terjadi. Teman-teman mencoba menghiburku, namun rasa aneh dan takut tetap melekat.
Penjaga itu mendekati dan mengajakku berbicara lebih lanjut. "Setiap orang memiliki cerita dan masalahnya masing-masing. Kami di sini hanya menjalankan tugas untuk menjaga dan merawat tempat ini. Terkadang, kita bisa merasakan kehadiran mereka yang pernah tinggal di sini. Namun, yang penting adalah menjalani hidup dengan baik dan memberikan penghormatan pada masa lalu. Wanita itu telah membawa cerita hidupnya ke dalam ruangan – ruangan di gedung ini. Entah dia ingin mencari pengakuan, pembebasan atau mungkin hanya ingin mencari kedamaian. Kita tidak pernah tahu beban apa yang dia pikul sepanjang hidupnya."
Aku menatap ke arahnya, mencari jawaban yang tak kunjung kudapatkan. “Kenapa aku bisa melihatnya? Kenapa dia memilih untuk menunjukkan diri padaku?” tanyaku, mencoba meresapi setiap aspek misterius dari peristiwa yang baru saja terjadi. Penjaga itu menyentuh pundakku dengan lembut. “Beberapa orang memiliki kemampuan untuk merasakan atau melihat kehadiran yang sudah tiada. Mungkin dia merasa kamu memiliki kemampuan tersebut atau mungkin dia hanya ingin ceritanya diabadikan oleh seseorang.”
Kami terus berbincang, dan penjaga itu menceritakan lebih banyak tentang sejarah gedung tersebut. Ternyata, gedung ini pernah menjadi tempat pendidikan bagi para biarawati pada masa lalu hingga masa kini. Mereka tinggal di sana dalam ketenangan dan kesederhanaan, menjalani kehidupan rohani yang penuh dengan doa dan pelayanan. Wanita yang muncul di hadapanku, menurut cerita turun temurun, adalah salah satu biarawati yang mengalami tragedi di masa lalu. Kehadirannya masih terasa di gedung ini, mencoba menyampaikan ceritanya kepada siapa pun yang bisa merasakannya. Aku merasa terhormat bisa menjadi saksi kehidupannya, meskipun hanya melalui pengalaman yang tidak bisa dijelaskan dan belum bisa mengetahui masalah apa yang dia alami hingga membuatnya begitu pilu.
Beberapa temanku yang masih penasaran bertanya pada penjaga tentang cerita wanita itu. Penjaga menganggukkan kepala, "Cerita itu sudah menjadi bagian dari gedung ini. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa menghormati dan mengenang mereka dengan doa." Kami semua duduk bersama di taman depan, merenungkan kejadian yang baru saja terjadi.
Saat senja mulai menyelimuti kota Bandung, kami meninggalkan gedung peninggalan Belanda itu. Meskipun masih ada rasa campur aduk dalam hati, aku merasa lebih tenang. Pengalaman itu memberiku pandangan baru tentang sejarah dan kehidupan. Beberapa teman memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya, tetapi aku memilih untuk pulang, membawa ingatan tentang wanita dan ceritanya yang melibatkan masa lalu dan sekarang.
Setelah kejadian itu, aku merasa hubungan yang lebih dekat dengan komunitas pecinta sejarah yang aku ikuti. Kami menjadi lebih saling mendukung dan saling menghargai. Kita belajar bahwa sejarah tidak selalu terbatas pada benda-benda mati, tetapi juga bisa mencakup roh dan cerita yang masih hidup di dalamnya. Hingga hari ini, gedung peninggalan Belanda itu tetap menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi. Masyarakat sekitar percaya bahwa kehadiran wanita itu masih terasa, terutama bagi mereka yang terbuka terhadap pengalaman spiritual. Aku sendiri masih terkadang merasakan kehadiran wanita itu, mengingatkanku akan kehidupan yang singkat namun meninggalkan jejak yang mendalam.
Kisah ini mengajarkan padaku bahwa sejarah tidak hanya tentang benda mati dan peristiwa masa lalu yang terdokumentasi. Ada kisah-kisah yang masih hidup, roh yang masih merayap di antara dinding-dinding tua. Dan terkadang, kita dapat menjadi saksi dari pengalaman yang melebihi pemahaman manusia.