Langit gelap menyelimuti pandangan gadis berusia 22 tahun yang tengah berlari menuju sebuah bangunan sambil mengabaikan tatapan mata orang sekitar. Ujung hijab pink-nya diterpa angin tatkala derap langkahnya memburu. Ekspresinya khawatir, bingung dan panik.
Gadis itu segera memasuki bangunan yang ia tuju dan tanpa pikir panjang langsung berhadapan dengan seorang wanita cantik berpakaian rapi, tersenyum ramah, ia menyapa.
"Selamat malam, ada yang bisa Saya bantu?"
"Saya mau satu tiket penerbangan ke Bali, sekarang!" ucap gadis berjilbab pink itu dengan panik seolah sedang diburu.
***
Viryani Riviera atau biasa dipanggil Riry adalah seorang mahasiswi berumur 22 tahun yang sangat sayang keluarganya terutama adik perempuan satu-satunya bernama Nadine Riviera.
Adik perempuan yang manis, gemesin sampai pengen cubit karena saking gregetnya sama kebandelannya. Hingga sering membuat Riry kerepotan. Seperti saat dua Minggu lalu ketika mereka sekeluarga pergi liburan ke Singapura, Nadine atau biasa dipanggil Na menghilang entah ke mana.
Setelah ditelepon berulang kali oleh kedua orang tuanya dan berhasil tersambung ketika dihubungi Riry. Na baru diketahui keberadaannya dan segeralah kakak beserta kedua orang tuanya menuju tempat Na berada saat itu.
Setelah mereka tiba di sana dan menemukan Na, kedua orang tuanya pun segera mengomel serta memarahi Na. Namun sebelum itu terjadi, Riry langsung mengingatkan bahwa mereka sedang berada di tempat umum dengan banyak pasang mata menyaksikan.
Riry sekeluarga kemudian bergegas kembali ke hotel tempat mereka menginap. Setelah ditanya dengan tenang, Na mengaku jika dirinya ingin melihat Museum of Ice Cream sebelum mereka pulang ke Indonesia.
Malam itu Na pun dimarahi oleh kedua orang tuanya, Riry hanya bisa diam menemani Na. Dan sekarang, tiga hari setelah kepulangan mereka dari Singapura. Riry menerima pesan dari adiknya, yang dengan polosnya berkata bahwa dirinya sedang berada di Bali.
"Kakak … aku sedang di Bali dan aku mau menemui temanku!" ucap ceria sang adik ketika Riry menekan Voice Note dari Na.
Seketika itu juga Riry berkata pada kedua orang tuanya untuk meminta izin agar ia bisa menyusul sang adik. Izhar Putro Rizki dan Vita Riviera Purnama, ayah dan ibu mereka pun mengizinkan Riry untuk pergi. Dengan ekspresi khawatir serta menahan amarahnya, kedua orang tuanya membiarkan putrinya berangkat sendiri.
Dan inilah dia, gadis berkerudung pink itu sedang penuh kepanikan, memaksa petugas informasi untuk memberikannya sebuah tiket.
"Maaf Nona, prosedurnya bukan seperti itu."
Wanita di hadapan Riry mengulangi perkataannya dan mulai menjelaskan lagi. Sudah hampir 30 menit gadis itu berkutat di sana, hingga membuat antrian panjang.
"Duduklah di kursi yang ada di sana terlebih dahulu Nona dan tenangkan diri Anda," saran dari wanita tadi.
"Aku ingin segera ke Ba–" ucapan Riry terhenti karena lengannya digenggam oleh seseorang, seketika dia menoleh untuk melihat sang pelaku.
Riry tersentak tatkala ia menatap sepasang mata biru jernih dan memiliki hidung mancung.
"Kan sudah kukatakan, untuk menungguku."
Suara berat terdengar di telinganya. Cowok di hadapan Riry terlihat kesal dan mulai menariknya dari tempat loket.
Riry hanya tercekat dan bingung ketika ia ditarik oleh cowok tak dikenal itu. Sampai tiba di dekat toilet, gadis itu mulai tersadar dan segera membentaknya.
"Siapa kamu? Lepaskan tanganku!" bentak Riry pada cowok yang menurutnya kurang ajar itu.
"Hh … bisakah kau tenangkan dirimu terlebih dahulu?"
Nada dingin terdengar dari cowok di hadapannya. Ia menoleh dan ekspresi terlihat datar.
"Kenapa aku harus tenang? Aku tidak mengenalmu dan kamu tiba-tiba saja menarikku!" Riry membalas dengan nada tinggi, mencoba melepaskan genggaman cowok itu.
Sang pemuda hanya menghela nafas lalu melepas genggaman tangannya, tampaknya dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Baiklah, aku minta maaf. Hanya mencoba untuk membantu. Namaku Valendriti Ardinata panggil saja Allen, dan kudengar kamu sedang mencari tiket ke Bali, benar?"
"Ya, benar. Tapi kenapa kamu peduli?" Riry memandang Allen dengan curiga, tetapi juga dengan sedikit harapan. Mungkin dia bisa membantunya.
Allen tersenyum.
"Aku punya teman yang bekerja di maskapai ini. Mungkin dia bisa membantu. Tapi sebelum itu, kamu harus tenang. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dengan panik."
Riry menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya. Dia tahu Allen benar, tetapi kekhawatirannya terhadap adiknya membuatnya sulit untuk berpikir jernih.
"Baiklah." Riry mengangguk.
"Aku akan mencoba tenang. Tapi tolong, bantu aku mendapatkan tiket itu. Dan namaku Viryani Riviera, panggil saja Riry."
Allen mengangguk dan segera mengambil ponselnya, mulai mengetik pesan cepat. Sementara itu, Riry duduk di kursi terdekat, berusaha mengatur nafasnya sambil berpikir tentang apa yang akan dia katakan pada adiknya ketika dia akhirnya tiba di Bali.
***
Sementara itu, di Bali, Na duduk di tepi pantai, menatap laut yang tenang. Dia merasa sedikit bersalah telah membuat kakaknya khawatir, tetapi dia juga senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa bebas.
Namun, dia tahu bahwa kebebasan ini tidak akan bertahan lama. Kakaknya akan segera datang, dan dia akan kembali ke kehidupan lamanya. Tapi untuk saat ini, dia akan menikmati setiap detiknya.
***
Kembali di bandara, Allen akhirnya menutup ponselnya dan menatap Riry.
"Selesai. Temanku akan membantu kita mendapatkan tiket. Tapi kita harus cepat, pesawat terakhir ke Bali akan berangkat dalam satu jam."
Riry mengangguk, berdiri dari kursinya.
"Terima kasih, Allen. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuanmu."
Allen hanya tersenyum.
"Ayo, kita harus segera pergi."
Mereka berdua pun tiba di ruang tunggu, suasananya hampir penuh dengan calon penumpang hingga membuat kursi tersisa satu. Allen pun mempersilakan Riry untuk duduk dan dia berdiri bersandar pada dinding di seberang perempuan itu. Gadis itu segera duduk kemudian melirik, mencoba untuk memindai lelaki yang menolongnya.
Riry memperhatikan Allen dengan seksama. Dia tampak tinggi dan berotot, dengan rambut hitam yang dipotong pendek rapi. Matanya biru, seperti laut dalam, dan ada sesuatu yang sangat menenangkan tentang caranya berbicara serta bergerak. Dia tampak seperti orang yang bisa diandalkan, itu membuat Riry merasa sedikit lebih baik tentang situasinya.
"Terima kasih Allen," ucap Riry, suaranya hampir tidak terdengar dalam suara keramaian bandara.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa bantuanmu."
Allen menoleh ke arahnya, tersenyum.
"Tidak masalah, Riry. Aku senang bisa membantu."
Riry tersenyum balik, merasa sedikit lebih tenang. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja.
Tiba-tiba, pengumuman dari speaker bandara memotong percakapan mereka.
"Penerbangan ke Bali akan segera berangkat. Mohon semua penumpang segera menuju ke pintu keberangkatan."
Mendengar pengumuman itu Riry dan Allen segera beranjak dan melewati garbarata setelah tiket mereka diperiksa. Mereka berdua duduk berdampingan.
Di dalam pesawat, suasana tenang dan hening. Hanya suara mesin pesawat dan percakapan rendah antara penumpang yang terdengar. Riry duduk sambil menatap ke luar pada langit yang gelap. Sementara itu, Allen duduk di sebelahnya, ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah beberapa menit, pramugari mulai membagikan minuman dan makanan ringan. Riry memilih segelas air mineral, sementara Allen memilih kopi hitam. Mereka berdua makan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.
Setelah menyantap makanannya, Riry pun bertanya pada Allen.
"Allen, apakah kau terbiasa bepergian dengan pesawat dan apa tujuanmu pergi ke Bali?"
"Ya. Pekerjaanku membuatku sering dinas luar menggunakan pesawat dan aku ke Bali untuk menjemput adik lelakiku yang belum juga pulang." Allen menjawab dengan nada kesal. Riry terkejut mendengar jawaban Allen.
"Oh, jadi kamu juga memiliki adik yang membuatmu khawatir," katanya, mencoba meredakan suasana.
Allen tersenyum sedikit.
"Ya, sepertinya kita berdua memiliki masalah sama. Adikku Allan, dia selalu mencari petualangan dan sering lupa bahwa dia memiliki keluarga yang khawatir tentangnya."
Riry tertawa.
"Itu terdengar sangat familiar. Na, adikku juga seperti itu. Dia selalu ingin menjelajah dan mencoba hal-hal baru, dan seringkali melupakan bahwa dia masih muda serta ada banyak hal yang tidak diketahuinya."
Keduanya pun saling menceritakan tentang adiknya masing-masing. Hingga Riry tertidur, sedangkan Allen menatap gadis tersebut.
Ia terdiam sejenak, menatap Riry yang tertidur dengan wajah tenang. Dia merasa terpesona oleh kecantikan serta kepolosan gadis itu. Dia tidak bisa menahan senyum saat melihat betapa Riry tampak damai saat tidur.
Allen memutuskan untuk tidak mengganggu tidur Riry. Dia memilih untuk tetap duduk di sampingnya, menikmati momen keheningan yang tenang di dalam pesawat. Dia merasa nyaman dengan kehadiran Riry di sisinya, seolah-olah mereka telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.
Sementara itu, Riry terus tidur dengan damai, tidak menyadari pandangan penuh perhatian dari Allen. Dia bermimpi tentang petualangan yang menunggunya di Bali dan bagaimana dia akan bertemu kembali dengan adiknya. Riry tersenyum dalam tidurnya, merasa lega bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan ini.
Sesaat sebelum mendarat, Allen membangunkan Riry. Agar ia memakai sabuk pengamannya. Pesawat mendarat dengan selamat. Mereka langsung menuju Arrival dan mencari taksi.
"Di mana adikmu menginap, Riry?" tanya pemuda itu sambil melihat ke arah puncak kerudung pink Riry.
"Uhm … penginapan Mawar Bulan di Seminyak," jawab Riry setelah membuka ponselnya.
"Kebetulan, adikku juga di sana. Ayo kita bersama ke sana!" usul Allen yang mendapat anggukan dari Riry. Mereka berdua pun menaiki taksi yang sama dan memberikan tujuan mereka.
Sesampainya mereka di sana, Riry dan Allen melihat sebuah bangunan indah nan menawan. Riry terpukau dengan pemandangan penginapan di kala dini hari. Tapi mata Riry mendadak terbelalak ketika ia melihat sosok yang dikenalnya.
"Na!" ucapnya seketika saat adiknya Na tampak mengenakan pakaian agak terbuka dan tanpa hijab.
Allen melirik perempuan di sampingnya yang kelihatan geram dan hampir meledak. Namun pandangannya teralihkan pada saat ia mendengar suara seseorang yang familiar menurutnya. Ia melihat seorang laki-laki mengejar gadis yang dipanggil Na oleh Riry itu, sambil membawa selembar kain yang nampak seperti kain hijab. Allen pun murka dan memanggil adiknya.
"Allan!"
Teriakan Allen membuat semua mata menatapnya.
"Eh? Ada Abang …." ucap Allan tanpa dosa sambil menyembunyikan kain hijab yang ia genggam.
Dengan tegap Allen melangkah mendekati Allan, ekspresinya penuh dengan kekesalan.
"Allan, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu membawa kerudungnya?"
Allan terlihat sedikit terkejut dan cemas.
"Abang tenang dulu. Bukan aku pelakunya …." ujar Allan dengan panik.
"Kamu itu selalu saja membuat masalah!" hardik sang kakak pada Allan, ia merasa ciut dan bungkam.
Riry pun mendekati Allen setelah mengenakan Hoodie-nya pada Na.
"Tenanglah dulu Llen, kita dengarkan cerita mereka terlebih dahulu …." ucapnya mencoba menenangkan pemuda itu sambil menatap tajam pada Na dan Allan.
Allen menarik nafas dan menenangkan dirinya. Ia pun mulai tenang dan melihat adiknya lagi.
"Cerita!" perintah Allen yang membuat Allan mulai menceritakan kejadiannya dengan takut.
Ia berkata saat dirinya hendak melewati kolam, dia mendengar teriakan dan bergegas ke sana. Namun tidak ada siapapun di area kolam itu. Hingga ia bergidik ngeri. Sesaat Allan ingin beranjak, dirinya mendengar suara minta tolong dari arah ruang ganti.
Allan bergegas ke sana dan melihat pintu ruang ganti yang ditahan oleh sebuah tongkat kayu panjang. Allan membuang kayu tersebut dan melihat gadis berpakaian agak terbuka sedang panik.
Gadis itu bertanya di mana hijabnya? Allan yang tidak tau, hanya bisa menggeleng. Setelah itu gadis tersebut berlari panik hendak segera kembali ke kamar penginapannya dan Allan menemukan kerudungnya. Lalu mereka bertemu dengan Kakak-kakaknya.
"Jadi ini ulah 'teman' yang sangat sangat kamu banggakan itu Na?" tanya Riry dengan penekanan, Na hanya mengangguk takut.
"Sudah Kakak bilang berulang kali, teman-temanmu itu tidak ada yang benar. Dan sekarang sudah kejadian kan, masih belum sadar sayang?" imbuh Riry dengan nada geram dan khawatir.
Na langsung murung, Riry yang melihat hal itu segera memeluknya.
"Makanya, dengarkan kata Kakak. Alhamdulillah tidak ada kejadian yang lebih buruk menimpa kamu," ucapnya dengan nada sedih dan berpikir andai dia bisa datang lebih awal.
"Alhamdulillah adikmu ditemukan ya Ry," ucap Allen yang membuat gadis tersebut menatap wajahnya, ia pun tersenyum manis sebagai jawabannya.
Allen merasa jantungnya berdetak kencang dan dunianya cerah. Rasa nyaman yang diberikan oleh Riry masih ia ingat. Mereka berniat pulang setelah tiga hari di Bali.
***
"Bolehkah aku minta media sosialmu, Ry?" tanya Allen yang agak canggung.
"Boleh!" Riry pun memberitahukan kode sosmed-nya.
Mereka pun berpisah saat pesawat telah mendarat di Bandara Cinta.
***
"Itulah cerita pertemuan pertama Mama dan Papa, sayang."
Suara lembut terdengar senang setelah menceritakan kisahnya.
"Jadi Paman sama Bibi dulu bandel ya Ma?" tanya polos seorang anak laki-laki berusia 6 tahun.
"Jangan ditiru lho Alvarenza Mama," tegurnya.
"Ndak Ma," jawab sang anak yang kemudian bergumam.
"Apalagi Mama dan Papa kalau marah seram …."
"Hum? Ada apa sayang?" tanya mamanya bingung.
"Ndak. Ndak apa-apa Ma," jawab Ren sambil tersenyum.
"Kak Ryyyy kan sudah kubilang jangan ceritakan kejadian memalukan pada Ponakanku …." rengek Na yang cemberut.
"Sebagai pelajaran bahwa pergi tanpa izin terlebih dahulu bisa membuat bahaya bagi diri sendiri," tukas Riry yang meminum es lemonnya.
"Anak Papa. Sedang apa nih sama Mama dan Auntie?" tanya Allen yang tiba-tiba menggendong Alvarenza.
"Bercerita."
Allan pun muncul di belakang kakaknya dan merasa sedikit malu. Mereka berlima pun tertawa lepas.
˚꒰ა Tamat ໒꒱˚
Sidoarjo, 19 November 2023