Cinta pertama adalah hal terindah bagi sebagian orang. Tak terkecuali untuk gadis cantik bernama Melodi Rianka atau yang lebih akrab disapa Melodi. Seorang penulis yang berhasil mengutarakan perasaan nya kedalam setiap tulisan nya. Ia berhasil membuat tokoh cinta pertamanya menjadi karakter yang sempurna dalam novel ciptaan nya. Novel tersebut berjudul "Tak Selalu Harus Dimiliki".
Mungkin bagi sebagian orang cerita dalam novel tersebut hanyalah rekayasa. Namun, tidak bagi melodi. Ia senang berhasil menumpahkan segala perasaan nya mengenai sosok pria bernama Kenzy Argawiyata. Cinta pertama sekaligus seseorang yang pernah menjadi teman Melodi.
Jika tidak berkenalan dengan Kenzy mungkin Melodi tidak akan bisa merasakan apa itu perasaan suka yang mendalam. Tujuh tahun yang lalu, tepat pada saat Melodi baru saja pindah dari sekolahnya yang dulu. Melodi mengenal Kenzy yang merupakan teman sebangku sekaligus ketua kelasnya. Sosok Kenzy yang hangat berhasil membuat Melodi jatuh cinta terhadap nya. Untuk pertama kalinya gadis itu merasakan perasaan menggelitik seolah kupu kupu menemani harinya.
Perasaan salah tingkah hanya dengan beberapa ucapan dari Kenzy pun sudah sering ia alami. Melodi bahkan sempat mengira bahwa dirinya sudah gila. Selama tiga tahun Kenzy menjadi teman bagi Melodi. Hingga tiba pada satu Minggu sebelum kelulusan, Melodi yang tidak ingin dirinya menyesal karena tidak pernah menyatakan perasaan nya kepada Kenzy pun memberanikan diri pada hari itu.
Hari itu, di lapangan basket tepat setelah Kenzy berlatih melodi memberikan air kepadanya lalu mengajaknya mengobrol. "Makasih Mel, bentar lagi ini lapangan gak akan bisa kupakai jadi aku ingin berlatih dengan bebas hari ini. Apa itu terlihat aneh?" tanya Kenzy kepada melodi sembari membuka penutup botol air putih yang diberikan oleh melodi. Melodi menggeleng dengan cepat ia kemudian menjawab "itu gak aneh, aku kemarin juga puas puasin pakai ruang seni karena bentar lagi aku gak akan bisa pakai ruang seni yang bagus kayak di sekolah ini" Melodi menjelaskan dengan terburu buru membuat Kenzy tertawa.
"Mel Mel, mau dimana aja bakat kamu juga akan tetap sama" Kenzy mengelus kepala Melodi sejenak membuat pipi Melodi bersemu merah. "Itu.. ada yang mau aku omongin.." melodi menahan tangan Kenzy lalu mendongak menatapnya dengan serius. Kenzy yang melihat keseriusan melodi pun kemudian mengangguk. Melodi diam sejenak lalu kemudian berbicara dengan perlahan namun jelas "aku suka sama kamu" kalimat itu sontak membuat Kenzy terkejut namun ia masih diam mendengarkan melodi. "Mel-" begitu Kenzy ingin berkata melodi langsung menyela kembali "Aku tau kamu bakal nolak, aku gak mengharapkan jawaban iya dari kamu, aku cuman mau ngungkapin perasaan ku. Aku gak mau nyesel suatu saat nanti" mendengar penuturan melodi Kenzy pun menghela nafas.
Ya, tidak ada yang bisa ia lakukan Kenzy memang tidak berniat untuk berpacaran. Namun, ia terkesan dengan keberanian Melodi. Kenzy kemudian tersenyum lalu kembali mengusap rambut halus melodi. "Keberanian itu sangat bagus Mel" melodi ikut tersenyum dan mengangguk bagaimanapun ia sudah tau kalau Kenzy memang tidak akan membalas perasaan nya. Karena Kenzy sendirilah yang berkata bahwa ia tidak ingin berpacaran. Dan rupanya ucapan Kenzy sedari kelas satu itu adalah suatu hal yang nyata.
Pada akhirnya melodi dan Kenzy lulus tanpa adanya penyesalan maupun keberatan. Baik dari melodi maupun dari Kenzy yang mendengarkan pernyataan melodi. Kembali kesaat melodi menutup buku hasil buatan nya.
"Cie, laris nih" bisik seorang pria tepat di telinga Melodi. Suara yang sangat melodi kenali dengan jelas. Suara tunangan nya, Kenzy Argawiyata. Seseorang yang menyandang status sebagai tunangan Melodi Rianka semenjak satu tahun yang lalu. Sekaligus tokoh utama dalam novel yang melodi buat. "Ken, sejak kapan kamu kembali ke Indonesia?" Melodi bertanya sembari memberikan senyuman kepada Kenzy. Senyuman manis itu sangatlah Kenzy rindukan untuk waktu yang lama.
"Barusan tadi pagi, aku langsung kesini begitu lihat novel kamu yang dikirim sama adikmu, bagus juga" Kenzy, pria itu tersenyum senyum sendiri seolah ia menyadari tokoh utama dalam novel tersebut adalah dirinya dan Melodi. Kenzy sendiri berkuliah di Jepang, itu semua berhasil ia lakukan karena memperoleh biayasiswa dan dukungan dari keluarga termasuk Melodi. "Orang cuman novel" kata Melodi dengan malu malu disusul tawa renyah dari seorang Kenzy, sang tokoh utama.