Nilai nilai dan nilai. Hanyalah sebuah angka yang mengubah kehidupan seseorang. Hanya karna nilai, seseorang tidak bisa masuk universitas yang diinginkannya. Hanya karna nilai, seseorang bisa masuk universitas yang di inginkannya. Hal itu membawa 2 perubahan yang teramat sangat berbeda. Mengejar sebuah angka bernilai kan sempurna menjadikan seseorang ter obsesi dengan sebuah angka yang dia anggap sempurna namun susah untuk meraih nya. Aku hidup dalam keluarga yang tidak mempermasalahkan nilai angka berapapun. Saat kecil, aku memiliki cita cita untuk menyembuhkan penyakit seseorang. Ya, tidaklah lain adalah dokter. Menjadi seorang dokter tentunya tidak mudah, perjuangan yang tak kalah hebat serta mengejar sebuah angka sempurna yang tercetak jelas di atas kertas berisikan perjuangan ke jerih payahan. Semua itu membuatku tersadar betapa gigihnya seseorang agar bisa meraih sebuah cita cita yang sudah di idam idamkannya. Merelakan masa muda dengan belajar. Merelakan masa percintaan. Maupun merelakan waktu indah semasa bangku SMA.
Kalau kata orang, masa masa sma itulah masa terindah. Masa masa remaja berseragam merasakan cinta monyetnya. Namun berbeda denganku, aku sangat ingin merasakan hal hal itu. Namun, aku kembali pada tujuan awal cita cita yang sangat ku inginkan sejak kecil. Mengenakan jas putih bersama stetoskop yang tertera di leher menjadi hal yang sangat kupuja puja. Teringat satu hal bahwa ekonomi adalah segalanya. Aku hidup dalam keluarga yang hanya berkecukupan makan 2 kali sehari. Membayar uang sekolah dan selebihnya kami pertimbangkan. Terpikir di benakku bahwa mimpi menjadi seorang dokter muda sukses hanya sebatas khayalan semata. Menggunakan jas putih dan stetoskop namun membayar uang sekolah saja kami sudah kewalahan. Semua itu tidak menjadikan diriku untuk lemah dan pasrah. Menjadikan sebuah kekurangan untuk motivasi adalah pilihan tepat yang harus kita ubah dalam hidup. Menjadi tulang punggung serta membahu sebuah cita cita adalah beban terbesar adalah nikmat beban yang tiada tara.
"San, lu udah liat informasi nya belum? Ada kesempatan buat lu san" Terhanyut dalam lamunan, kini usapan tira membuyarkan lamunanku.
"Ada apa? Ada informasi apa? " Tanyaku kepada tira dan kembali melanjutkan aksi melamun ku
"Kemarin ada pajangan di mading kalau ada pembukaan beasiswa ugm bagi siswa yang berprestasi. Daftar sana, lumayan kan beasiswa prestasi" Ucap tira.
Mendengar hal itu, aku bergegas pergi menuju mading untuk melihat apa yang baru saja kudengar. Ternyata benar, ugm sedang mengadakan program beasiswa bagi sisa berprestasi. Kesempatan yang besar bukan??? Aku bertekad untuk mengikuti program tersebut untuk meringankan beban orang tuaku. Sebab, aku tahu aku tidak akan bisa meraih nya jika tidak sekarang. Syarat yang mereka camtumkan pun hanya sebuah target angka sempurna yang harus kuraih. Program ini memiliki target untuk meraih nilai rata rata 95 untuk beasiswanya. Aku pun dengan semangat menyetujui persyarakatan tersebut. Bagiku, itu cukup mudah. Menjadi seorang siswa berprestasi di dalam kelas serta angkatan sudah menjadi gelarku di sekolah. Kini aku memiliki sebuah target yang harus raih. Lagi dan lagi, yang harus siswa cari adalah sebuah angka bertuliskan angka sempurna yang didapatkan dengan jerih payah.
Seperti kataku, yang kulakukan saat ini adalah fokus mengerjakan soal soal latihan yang kudapat dari guru untuk persiapan ujian akhir semester. Aku tidak bermain dengan semua ucapan ucapanku, semua kukorbankan. Mulai dari jam tidur, jam makan, bahkan jam istirahat sudah kugunakan untuk belajar. Aku takut menyesal di kemudian hari, sebab tak ada kesempatan lain yang bisa kuraih jika bukan ini. Orang tua ku tidak akan mampu membayar semua tagihan yang akan keluar saat kuliah nantinya. Biayanya cukup besar, bahkan biaya pendaftaran dan uang gedung saja belum mencapai angka gaji yang didapatkan ayahku. Aku sadar diri, jika ingin kuliah setinggi langit, maka usaha yang harus kulakukan harus setinggi langit pula. Tidak ada kesempatan lain yang bisa kugunakan untuk meraih cita cita ku selain disini. Maka aku akan mengerahkan seluruh tenaga yang kupunya demi mendapatkan sebuah angka bernilai yang mengubah kehidupan
Tiada kata lelah jika ingin sebuah hasil yang baik. Mempercayai sebuah pepatah berbunyi "usaha tidak akan mengkhianati hasil" Menjadi sebuah motivasi terbesarku untuk meraih pencapaian. Aku percaya. jika ada usaha, maka ada pula hasil nya. Ujian semester akan diadakan 2 hari lagi. Ujian ini, akan menjadi penentu sebuah masa depanku. Ntah akan jadi seperti apa. namun, aku telah mengorbankan seluruh waktuku untuk berkutat dengan sebuah soal soal dan pembahasan yang akan keluar nantinya.
Hari demi hari berjalan. Ujian semester pun sudah mencapai titik terang. Aku mengerjakan soal dengan baik, meski harus mengorbankan jam tidurku. Aku tidak pernah menyesal akan hal itu. Aku percaya, semua yang kulakukan pasti akan memberikan hasil dikemudian harinya. Aku terus berdoa kepada Tuhan agar diberikan hasil yang paling terbaik untukku kedepannya. Ntah bagaimana hasilnya, aku harus tetap menerimanya bukan?
Pengumuman beasiswa belum diumumkan, sesaat setelah pembagian rapot. Ternyata posisiku pun sama seperti semester sebelumnya. Menempati peringkat 1 kelas 12 IPA 1 dan peringkat 1 pararel sudah menjadi makanan sehari hari untukku. Aku menanti nanti sebuah pengumuman yang menjadi penentu masa sebuah masa depan. Berharap banyak pada sebuah program beasiswa tidak ada salahnya bukan? Sebab nilai adalah segalanya. Hanya itu yang bisa kulakukan demi masa depanku. Jika aku tidak mendapatkan program ini, maka selepas kuliah aku hanya akan mencari sebuah pekerjaan untuk membantu perekonomian keluargaku. Jika nilai adalah segalanya, maka perekonomian menjadi syarat kedua yang harus terpenuhi. Keluargaku belum cukup mampu untuk membiayai ku sekedar ukt yang kudapat nantinya. Aku harus merelakan cita cita ku demi sebuah keselamatan keluargaku. Ayahku pun sudah cukup tua, sudah waktunya bagi dia untuk pensiun dari sebuah dunia pekerjaan. Ibuku hanya seorang penjual es cendol depan sekolah sma. Aku tidak pernah malu dengan pekerjaan orang tuaku. Hanya saja, jika membebani mereka dengan biaya yang akan kutempuh nantinya membuat mereka lebih bekerja keras kedepannya.
Pengumuman beasiswa akan diumumkan sore di lapangan basket sekolahku. Seluruh siswa berkumpul untuk mendengar pengumuman yang mereka nantikan. Kesempatan ini begitu besar bagi mereka. Saat sedang menunggu, terdengar sebuah ketukan mic yang mengalihkan seluruh atensi siswa di lapangan
"Cek cek, baik semuanya. Selamat sore semua"
"Sore pak" Sapa seluruh siswa dengan suara yang lantang
"Seperti informasi sebelumnya, disini saya akan mengumumkan kan bagi siswa yang meraih program beasiswa universitas gajah Mada" Kata demi kata yang di ucapkan membuat ritme jantungku berdetak kencang.
"Terdapat 3 siswa peraih nilai tertinggi yang mencapai rata rata 96,7 2 orang dan
97,2 untuk 1 orang. Diraih oleh muhammad bagus widya jaya kusumo, revina novandini dan aulia Rahma susanti. Berikan tepuk tangan untuk mereka semua"
Deg. Seketika jantungku berhenti berdetak? Aku masih termenung dengan apa yang baru saja kudengar. Sedangkan 2 siswa lainnya sudah berjalan menuju tengah lapangan untuk meraih pencapaian mereka. Aku bergegas mengikuti langkah yang menjadi tangga untuk masa depanku. Usahaku pun tidak sia sia, mengejar sebuah angka sempurna yang harus kudapatkan untuk meraih semua ini. Benar kata orang, nilai mengubah segalanya. Kini, masa depanku baru saja kumulai. Aku akan berusaha untuk mengandung sebuh gelar bertuliskan dr. Tunggu aku jas putih, perjalanan ku baru saja kumulai...