“Jika Tuhanku dan Tuhanmu mengizinkan, maka percayalah pada hatimu. Tunggu aku,” gumamku dalam hati.
Selamat Membaca !!!
“Permisi, bolehkah aku duduk di sampingmu ?” Seorang perempuan berjilbab tak kukenal bertanya padaku.
“Oh, silakan.”
Aku memberinya tempat duduk di sampingku. Perempuan berjilbab itu meletakkan tasnya di bagasi kereta kemudian duduk di sampingku. Ia memberikanku senyuman manisnya. Sepertinya ia bukan seorang perempuan pemalu. Aku membalas senyumnya lalu kembali mengalihkan pandanganku ke handphoneku. Aku mengirimkan pesan whatsapp kepada adikku di Jakarta – memberitahunya untuk menjemputku di Stasiun Pasar Senen sore nanti pukul 17.00 WIB.
Aku kemudian menyenderkan kepalaku, memejamkan mataku tetapi bukan hendak tidur. Aku tak mempedulikan perempuan berjilbab di sampingku yang matanya masih tertuju pada gadgetnya. Tangannya terlihat sedang mengetik – mungkin saja ia juga mengirimkan pesan kepada kerabatnya atau mungkin saja ia menuliskan sebuah kenangan pada handphonenya bahwa pagi ini, di dalam sebuah kereta pagi yang akan berangkat menuju Jakarta ia duduk berdampingan dengan seorang pria hitam manis, pikirku dengan percaya diri.
“Aku Nissa. Nissa Efendi.”
Aku kaget mendengar ada suara yang mencoba memperkenalkan dirinya. Aku menyibakkan jaket yang kugunakan untuk menutup wajahku lalu dengan segera membuka mataku. Perempuan berjilbab di sampingku dengan segera menatap ke arahku – ia tahu bahwa aku tidak tidur. Aku akhirnya menyadari bahwa dia memperkenalkan dirinya padaku ketika untuk kedua kalinya aku melihatnya tersenyum padaku. Senyumnya sungguh manis. Manis sekali.
“Oh,,, hai”.
Aku tampak gugup. Perempuan berjilbab di sampingku sungguh bukan perempuan pemalu. Suaraku pun terdengar gemetar. Tapi ia tenang saja - menatapku dengan serius; menunggu aku menyebutkan namaku.
“Aku Daniel. Daniel Kopong”.
Dengan nada setengah gugup aku menyebutkan namaku. Selama ini aku sibuk dengan misi kemanusiaan yang diberikan negara padaku sehingga aku hampir tidak lagi berkenalan dengan perempuan – terakhir aku melakukannya ketika pertama kali aku menginjakkan kakiku disini, kota yang penuh kenangan.
Bagi kebanyakan orang, kota ini merupakan kota pendidikan tapi bagiku kota ini ialah “kota terpahit”. Bila saja bukan untuk menghadiri acara wisuda keponakanku, aku tak akan mau untuk datang kembali ke kota ini.
Jogjakarta – kota terpahit bagiku tapi mungkin tidak baginya – adalah kota yang pertama kali mengajari aku tentang cinta tetapi juga mengajariku bagaimana caranya untuk masa bodoh dengan cinta. Sejak saat itu, masa bodoh adalah sebuah seni bagiku.
Aku lalu memutuskan untuk menjadi seorang anggota TNI – pikirku waktu itu aku akan lebih banyak berkelana di hutan, berperang dengan para teroris yang ingin menghancurkan negeri ini – sehingga tidak lagi memikirkan cinta, perempuan dan juga Jogjakarta. Bagaimana tidak ? Perbedaan agama menjadi penghalang bagiku untuk bisa bersatu dengan Aulia, perempuan berdagu tirus, sedang orang tuaku kala itu sudah merestuiku asalkan aku tetap mempertahankan keyakinanku.
Bagi orang tuaku, perbedaan agama tidak menjadi persoalan, toh di kampungku kedua agama ini – orang-orang yang mengimaninya masih menjaga toleransi dan hidup rukun – yang terpenting ialah aku dan Aulia bisa saling mencintai dan tetap teguh berpegang pada keyakinan masing-masing.
Aku selalu berdoa agar di seluruh dunia, keyakinan tidak menjadi penghalang bagi lelaki dan perempuan yang saling mencintai.
“Dari Jogja ?” Nisaa bertanya lagi. Aku menarik napas panjang lalu menghembusnya pelan sebelum menjawabnya. Nama kota itu – ah, aku tak ingin mengenangnya lagi.
“Ya, aku dari Jogja tapi bukan orang Jogja. Aku hanya menghadiri wisuda salah satu keponakanku yang berkuliah disini,” jawabku seadanya.
“Lalu kamu ? Berlibur, atau orang asli Jogja ?” Aku mulai memberanikan diri bertanya padanya dan tak mau lagi memikirkan kota itu dan seluruh kenangan pahitnya.
“Aku pun hanya berlibur, sekarang mau kembali ke Jakarta.”
Kami kemudian diam. Sejenak aku mencoba melupakan kenangan pahit tentang kota ini dan ingin terlihat lebih akrab dengan Nissa. Nissa berulang-ulang kali memberikan senyuman manisnya ketika memandang ke arahku.
“Katakan, dari mana asalmu ?” Nissa bertanya lagi. Aku menatapnya sebelum menjawab. Dalam hati aku berpikir, apakah ia juga akan sama seperti orang lain yang dengan percaya diri akan mengatakan bahwa Flores itu ada di Papua ketika aku menjawab asalku dari Flores ?
“Aku dari Flores. Flores itu ada di NTT. NTT itu kepanjangannya Nusa Tenggara Timur, tapi aku lebih suka menyebutnya Nusa Toleransi Terindah,” Aku menjawab secara lengkap sebelum ia akan bertanya lagi Flores itu ada dimana.
Nissa tampak diam saja. Sepertinya ia tak seperti orang lain di luar sana yang masih mengira bahwa Flores itu ada di Papua. Mungkin saja Nissa adalah seseorang yang punya pendidikan tinggi.
“Dulu aku punya banyak teman kuliah dari Flores. Mereka semua baik, ramah, sopan dan menghargai orang lain. Aku bersyukur sekali punya teman seperti mereka. Dari mereka aku banyak belajar tentang Flores.”
“Oh ya ? Puji Tuhan jika kamu sudah tahu banyak tentang Flores”.
Aku sedikit lega. Setidaknya perempuan berjilbab yang duduk di sampingku ini tidak seperti anak-anak muda kebanyakan di luar sana.
“Sampai sekarang kami masih sering bertemu karena banyak yang masih bekerja dan menetap di Jakarta. Dari mereka juga lah aku belajar menghargai sesama yang berbeda keyakinan.”
“Seperti itulah kami disana. Kami hidup berdampingan, rukun dan tidak saling mencela satu sama lain.”
Entah apa yang menyebabkan kami lebih tertarik membicarakan keyakinan kami ketimbang bertanya mengenai pendapat masing-masing tentang Jogja, tetapi aku sedikit lega. Setidaknya masih ada orang yang mau menghargai perbedaan keyakinan.
“Indonesia itu indah. Indah karena keberagaman budaya. Kalau kita tidak bisa menerima keberagaman kita masing-masing, sebaiknya jangan pernah mengakui bahwa kita orang Indonesia dan mencintai Indonesia.”
Nissa hanya mengangguk. Ia menawarkanku sebotol minuman air mineral. Aku menerimanya dan meminumnya. Kami terlihat seperti dua sahabat yang sudah berkenalan sejak lama, berada dalam kereta yang sama dan tujuan kami pun sama. Kami bersama-sama akan menuju ke Jakarta.
“Di Jakarta, kamu tinggal dimana ?” Aku semakin berani bertanya karena Nissa memang teman mengobrol yang baik.
“Aku di Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Cempaka Putih," Nissa menjawab hemat sesuai pertanyaanku.
“Sudah berkeluarga ?” Maksudku ialah ketika ia menjawab ia sudah berkeluarga maka akan lebih menjaga sikapku saat berbicara padanya.
“Belum”, jawab Nissa tenang. Ia tampak biasa saja dengan pertanyaanku.
“Aku ingin menikah dengan orang Flores."
Jawaban ini membuatku kaget. Sungguh kaget. Apakah ia mulai jatuh cinta padaku ? Atau mungkin karena ia menyukai Flores ? Atau, ia hanya bercanda ? Aku sudah mulai berpikiran sombong. Percaya diriku mulai berlebihan.
“Aku ingin merasakan langsung seperti apa kehidupan orang-orang di sana, di Flores,” lanjut Nissa lagi.
Kebingunganku akhirnya terjawab. Rupanya Nissa bersungguh-sungguh ingin menemukan pendamping hidup orang Flores. Tapi belum tentu aku. Bisa saja orang lain. Bisa saja yang seiman, atau juga beda keyakinan. Yang pasti bukan aku. Gumamku dalam hati.
“Kamu sudah menikah ?” Aku memalingkan wajahku ke arah Nissa. Kaget. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Sudah sejak lama aku berusaha menghindar dari pertanyaan ini. Aku sudah lama memutuskan untuk masa bodoh tentang cinta dan tentang perempuan. Kenangan pahit yang aku alami kala itu sungguh membuatku takut untuk jatuh cinta lagi.
“Haruskah aku menjawabnya ?”
Nissa membisu menatapku. Ia masih tenang.
“Kamu tentu dapat melihatnya apakah di antara kedua jari manisku ada cincin atau tidak,“ lanjutku sambil menunjukkan kedua jari manisku padanya. Ia hanya tersenyum. Aku lagi-lagi dibuat bingung olehnya. Apa maksud dari senyumnya itu ? Apakah di dalam hatinya ia merasakan sebuah kebahagiaan ketika tahu kami sama-sama belum menikah ?
“Kenapa kamu belum menikah ?”
Kali ini aku terpaku menatapnya. Kedua bola mataku tak bergerak. Aku menatapnya tajam. Darahku serasa berhenti mengalir. Apa maunya ? Apa yang ia inginkan ? Akankah aku harus menceritakan lagi kenangan pahitku itu ? Jika aku menceritakannya, apakah ia akan mengatakan bahwa tidak semua perempuan sama seperti perempuan di masa laluku ? Bagiku, itu semua hanya kalimat basi yang tak ingin kudengar lagi dari mulut seorang perempuan, meskipun ibuku sekalipun yang mengatakan itu.
“Jangan tanyakan kenapa tapi tanyakan kapan aku akan menikah maka aku menjawab tidak akan,” jawabku pelan dengan nada berbisik.
Aku melihat jelas wajah yang memerah pada wajahnya. Tentunya ia kebingungan. Tapi syukurlah, dia mengerti dan tidak lagi bertanya. Mungkin saja ia tahu aku pernah mengalami luka hati yang teramat dalam. Atau mungkin saja ia berpikir bagaimana caranya meluluhkan hatiku.
Nissa masih diam. Ia memandangi arlojinya lalu berdiri dan mengeluarkan jaket dari dalam tasnya.
“Bolehkah bahumu kupinjam ? Sebentar saja. Aku ingin menyenderkan kepalaku sejenak.”
Aku membisu. Aku tak mengatakan apa-apa. Jantungku berdegup kencang ketika Nissa dengan segera menyenderkan kepalanya di bahuku sedangkan aku belum mengiyakannya. Nissa mungkin tahu aku ketakutan sehingga ia mengatakan sekali lagi dengan mata terpejam “sebentar saja, tidak lama."
Aku tak mampu berbuat apa-apa lagi selain diam dan membiarkan Nissa menyenderkan kepalanya di bahuku. Aku melihat arlojiku. Waktu sudah menunjukkan jam 10.37 WIB dan aku tak tahu kereta kami sudah sampai di belahan bumi mana.
Jantungku berdegup dengan sangat kencangnya. Nissa mungkin ikut merasakan itu.
Sejenak aku mengingat kembali kenangan pahit yang dulu pernah kualami. Bahuku adalah alas kepala paling empuk milik Aulia. Aulia selalu menggunakan bahuku sebagai alas kepalanya ketika ia sedang mengantuk atau pun ketika ia hanya ingin aku memanjakan dirinya sendiri.
Aku memejamkan mataku – berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kenangan pahit itu dalam ingatanku. Dan ternyata aku mampu melakukannya – aku tak mengingat lagi Aulia – karena aku pun akhirnya tertidur pulas. Entah apa yang akan dipikirkan oleh orang lain ketika melihat pemandangan itu namun mereka pasti akan berpikir bahwa kami adalah sepasang kekasih beda keyakinan – Nissa berjilbab sedangkan pada leherku, aku mengenakan sebuah kalung salib yang terbuat dari kayu.
Aku baru menyadarinya lagi ketika aku mendengar suara kereta yang lain. Aku membuka mataku dan berusaha mengenali tempat dimana kereta kami sedang berhenti. Aku lalu membangunkan Nissa – memegang bahunya dan menggoyangnya – ketika aku tahu kereta kami sedang berhenti di tengah rel kereta Cipinang dan aku mengenalinya ketika melihat tulisan Halte Bussway Pasar Enjo.
Kereta-kereta dari Jawa biasanya akan berhenti sejenak disini menunggu aba-aba untuk melanjutkan perjalanan karena disini sudah banyak lalu lalang kereta-kereta LRT dalam kota.
“Maaf aku ketiduran,” kata Nissa sambil menggosok matanya. Aku diam saja dan tak ingin menanggapi perkataannya.
“Siapa yang akan menjemputmu ?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tak mau terlihat gugup di depan Nissa.
“Aku sendirian. Tak ada yang menjemputku,” aku hanya mengangguk sambil merapikan tasku karena sebentar lagi – kurang dari lima belas menit – kereta yang kami tumpangi akan memasuki Stasiun Pasar Senen. Aku ingin cepat-cepat agar kenangan masa laluku tak lagi menghantuiku.
Nissa berdiri dan mengambil tasnya ketika terdengar suara dari pengeras suara yang mengumumkan bahwa kereta akan masuk di Stasiun Pasar Senen. Aku hanya diam sambil meliriknya. Pikiranku masih kacau. Sedangkan Nissa tampak santai. Ia tak memikirkan ajaran agamanya bahwa aku bukan muhrimnya ketika ia meminjam bahuku dalam perjalanan tadi. Ia tersenyum ketika memandang ke arahku.
“Aku masih ingin bertemu denganmu lagi. Harus.”
Aku kaget mendengar apa yang dikatakan Nissa. Ia memberikan handphonenya kepadaku dan memintaku mengetik nomor whatsappku. Pikiranku lagi-lagi kacau dibuatnya. Apa maunya ? Kenapa ia harus ingin menemuiku lagi ? Waktu liburanku sudah selesai dan aku harus mempersiapkan diri untuk misi kemanusiaan di Libanon minggu depan. Bagaimana mungkin kami akan bertemu kembali ?
“Bolehkah aku bertanya sesuatu ?” Pertanyaan Nissa mengejutkanku sedangkan aku sudah bersiap untuk turun dari kereta.
“Apa ? Bertanyalah,” kataku pelan.
“Apakah kamu tak berkeinginan untuk mewujudkan toleransi yang ada di kampungmu ? Maksudku, apakah kita boleh mewujudkan bersama-sama bahwa perbedaan keyakinan bukan saja bisa hidup berdampingan sebagai tetangga tapi bisa hidup berdampingan dan memenuhi cinta dalam satu atap ?”
Aku tertunduk kaget. Wajahku memerah. Aku tak menjawab pertanyaan Nissa. Aku berpaling lalu melangkah keluar dari kereta tanpa menghiraukan dirinya lagi.
“Jika Tuhanku dan Tuhanmu mengizinkan, maka percayalah pada hatimu. Tunggu aku,” gumamku dalam hati.
Aku terus berjalan meninggalkan Nissa yang masih berada di dalam kereta dan menemui adikku yang sudah menungguku. Aku mungkin terlihat begitu kejam meninggalkannya sendirian. Tapi yang aku inginkan saat ini ialah segera pulang dan menyeruput segelas kopi hitam, barangkali pekat dan pahitnya mampu mengusir segala kenangan pahit yang sepanjang perjalanan berusaha menghantuiku kembali.
_ s e l e s a i _