Pada suatu hari, hiduplah seorang wanita yang tinggal di sebuah rumah di tepi laut, ia bernama
Aishela Nadila yang tinggal bersama neneknya dalam sebuah rumah yang kumuh. Ia tinggal di
rumah itu, karena orang tuanya yang tidak peduli padanya, entah itu tidak mau mengurusnya,
ataupun merawatnya, sehingga ia di bawa oleh orang tuanya ke pada neneknya saat ia masih
kecil.
Untungnya, dengan seiring berjalannya waktu pun,ia kini telah menjadi seorang wanita yang
ceria,kini umurnya yang telah beranjak 14 tahun, dan parasnya yang sangat cantik. Yah,meskipun ia tinggal bersama neneknya, namun ia tidak pernah bertanya apapun tentang orang tuanya, yang ia tahu hanyalah, orang tuanya yang tinggal di sebuah kota yang sangat jauh, dan sangat sayang padanya layaknya orang tua pada biasanya, padahal jika dia tahu alasan mengapa dia tinggal bersama neneknya dan tidak bersama kedua orang tuanya, pasti ia akan sakit hati akan hal itu.
Pada suatu ketika saat ia sedang bermain dengan ketiga temannya yang bernama Kania, Vania, dan Olivia di sebuah pinggir laut, mereka pun berbincang-bincang dan duduk di 2 buah ayunan kayu yang di bangun oleh mereka berempat.
Kini mereka sedang berbincang-bincang tentang impian mereka masing-masing. Olivia kini ingin
pergi ke bandung, Kania ingin berlibur ke Bali, sedangkan Vania ingin pergi ke Hutan, iya Hutan,
ketiga temannya pun sempat kaget, serta tertawa karena impian yang Vania inginkan sangat
aneh, ia sangat ingin pergi ke hutan karena penasaran dengan isinya, dan ingin bertemu dengan hewan-hewan yang ada di hutan, yah, tidak heran mendengarnya karena ia sifatnya memang aneh.Dan Aishela kini ingin mendaki ke gunung,ia ingin mendaki gunung bersama kedua orang tuanya, ia sangat mengharapkan akan hal itu dari kecil.
Mereka berempat pun menulis impian mereka di sebuah kertas origami yang di bawa oleh salah
satu temannya yaitu Olivia,dan membuat kapal di kertas origami yang telah mereka tulis impian
mereka tadi. Sehingga, mereka berempat pun menaruhnya di tepi laut, seakan-akan air laut pun membawa kertas kapal yang terbuat dari origami tersebut terbawa oleh derasnya air laut pada siang itu.
Sore pun tiba,kini mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing.Saat diperjalanan pulang, Aishela pun berpikir, jika ia pergi ke gunung, bagaimana rasanya?seindah apa pemandangan rumah-rumah dari atas gunung?apakah ia akan mendakinya sampai puncak?apakah pemandangannya seperti apa yang ia harapkan?
Tanpa ia sadari,ia pun telah sampai di rumahnya, Aishela pun bertanya kepada neneknya tentang gunung,seindah apa gunung,se tinggi apa,dan masih banyak lagi yang ia tanyakan pada neneknya.
Malam pun tiba,ia tidur setelah beberapa menit makan malam bersama neneknya.Dan ia pun
bermimpi,ia bermimpi sedang berada di atas gunung bersama kedua orang tuanya,di mimpi
tersebut Aishela terlihat begitu bahagia,entah itu bahagia karena akhirnya ia bertemu dengan kedua orang tuanya,ataupun bahagia karena ia akhirnya bisa melihat pemandangan rumahrumah dari atas gunung yang begitu indah.
Di mimpi tersebut,ia sedang berada di depan tenda,entah itu sedang meminum minuman
hangat yang di buat oleh seorang perempuan yang merupakan sosok ibunya, ataupun sedang
membantu membuat makanan yang di sajikan oleh sosok perempuan itu, sedangkan ayahnya
sedang mengecek, apakah tenda yang buatnya sudah benar-benar kuat dan terpasang rapih,ia
sibuk akan hal itu.
Dan mereka pun tidak lupa berbincang-bincang satu sama lain. Yah, anak mana yang tidak
merindukan sosok kedua orang tuanya yang tidak pernah ia temui selama 14 tahun?.Pagi pun
tiba, Aishela pun terbangun dari tidurnya, dan. ia pun masih membayangkan mimpinya yang ia
mimpikan semalam, hingga akhirnya ia menangis, entah itu menangis bahagia karena di mimpinya bertemu orang tuanya,atau menangis karena merindukan kedua orang tuanya. Dan sang nenek yang sedang memasak itu pun mendengar suara tangisan dari kamar sang cucu,sehingga ia langsung menghampirinya, ia pun bertanya mengapa Aishela bisa menangis, Aishela pun menceritakan mimpinya ke pada sang nenek.
Dan si sang nenek pun terkejut saat mendengar apa yang di mimpikan oleh Aishela,ia terkejut sampai tidak memberikan reaksi apapun untuk apa yang di mimpikan oleh Aishela. Ia hanya menenangkan si sang cucu dan hanya terdiam saja, tidak memberikan jawaban apapun tentang
mimpi Aishela itu.
Aishela pun berhenti setelah beberapa menit ia menangis,hingga si nenek langsung pergi begitu
saja karena ia sedang masak. Siang pun tiba, Aishela di ajak oleh teman-temannya untuk pergi
ke bermain di ayunan yang berada di tepi laut itu. Dan mereka pun berbincang satu sama lain,
sedangkan Aishela terdiam karena ia masih membayangkan apa yang ia mimpikan semalam, salah satu temannya pun mencubitnya.
Aishela pun tersadar dari lamunannya ia pun mencubit kembali si Vania itu,yang awalnya
mencubitnya,sampai akhirnya Aishela pun berbuka mulut, dan akhirnya bercerita kepada ketiga
temannya tentang apa yang ia mimpikan semalam, teman-temannya pun terkejut dengan apa
yang Aishela mimpikan, Vania sampai mengeluarkan kata-kata penasarannya,ia berkata apayang terjadi selanjutnya, bagaimana wajah orang tuanya, bagaimana suasana di pegunungan, dan masih banyak lainnya yang ia tanyakan pada Aishela, Namun, Aishela hanya tertawa akan hal itu, entah itu ekspresi penasaran si sang teman itu, atau pun tertawa karena pertanyaannya yang sangat banyak itu, dan akhirnya ia pun menjawab semua pertanyaan si sang teman itu sampai akhinya sore pun tiba, ia dan teman-temannya pun pulang ke rumahnya masing-masing.
Namun, saat Aishela berjalan ke rumahnya,ada sebuah mobil, yang tidak pernah ia lihat, dan
ada sesosok perempuan dan lelaki yang sedang memarahi neneknya. Aishela pun terkejut akan
hal itu, namun ia tidak menghampiri neneknya.
Tetapi, ia malah mendengarkan apa yang
sesosok lelaki dan perempuan itu katakan pada neneknya, sampai akhirnya, Aishela pun
terkejut pada apa yang di katakan oleh perempuan itu, napasnya sesak, hatinya sakit, dan tubuhnya pun bergetar, yang barusan ia dengar adalah bahwa sosok perempuan dan lelaki yang sedang memarahi neneknya adalah kedua orang tuanya, dan mereka pun berkata bahwa mereka akan mengambil anak yang mereka buang pada perempuan tua itu, dan tidak akan segan-segan akan merebutnya dan akan membawanya pulang.
Aishela pun langsung berlari dari persembunyiannya itu, ia berlari sekencang mungkin, dan ia pun berlari sampai akhirnya ia berada di tepi pantai, ia duduk di ayunan yang ia buat bersama teman-temannya, meskipun tangannya masih bergetar karena ucapan yang ia dengar dari sosok perempuan tadi karena ucapannya masih ada dalam benaknya, tanpa ia sadari, ia pun menangis dan cuaca sore itu pun sedang hujan, ia menangis sambil kehujanan, ia menangis sembari bertanya-tanya mengapa orang tuanya begitu tidak menginginkan sosoknya, ia terusmenerus bertanya pada dirinya sendiri tentang apa kesalahan dari kehadirannya dan ternyata
inilah alasannya mengapa ia bisa tinggal bersama neneknya di rumah yang kumuh itu.
Matahari pun tenggelam, pemandangan laut pun mulai gelap dan hujan pun sudah mulai mereda. Tetapi Aishela masih tetap berada di tepi laut, ia menatap pemandangan sembari mengusap air matanya. Dan, Tanpa ia sadari, tubuhnya sudah sangat sangat kebasahan. Ia tidak tahu akan pergi kemana, jika ia pulang mungkin ia akan bertemu dengan orang tuanya. Namun, pada akhirnya Aishela pun berdiri dari ayunan itu, ia langsung berjalan untuk pulang ke rumah neneknya.
Tibalah Aishela di rumah neneknya, ternyata kedua orang tuanya telah pergi dari rumahnya. Ia
hanya melihat sang nenek di depan rumahnya, neneknya pun sempat kaget setelah melihat
cucunya basah kuyup karena hujan pada sore itu, matanya terlihat sembab, sehingga sang
nenek pun langsung menghampirinya dan memeluknya tanpa bertanya apapun tentang cucunya.
Aishela pun menangis kembali dalam pelukan sang nenek, ia menangis sampai terisak-isak, sang
nenek sangat sakit hati melihat cucunya menangis sampai terisak-isak, sang nenek mencoba untuk menenangkannya, sampai akhirnya, Aishela pun sudah tidak menangis lagi.
Dan pada akhirnya sang nenek pun bercerita tentang kehadiran kedua orang tuanya itu, ia
bercerita terus menerus tanpa berhenti, Aishela yang mendengar akan hal itu, ia pun memilih
untuk terdiam di dalam pelukan sang nenek, ia tidak berbicara apapun tentang apa yang di
ceritakan oleh neneknya, karena, ia memang sudah tahu akan hal itu.
Ia tidak tahu ingin membecinya atau malah menyayanginya, meskipun ia tidak bisa membenci kedua orang tuanya itu, karena ia berpikir meskipun orang tuanya tidak menginginkannya.
Tetapi, mereka telah melahirkannya sehingga Aishela bisa melihat seindah apa dunia itu.
"seindah apa pun pemandangn laut,lebih indah lagi jika kehadiran ku di sayangi oleh kedua orang tuaku" -Aishela Nadila
Hii,aku exxa, terimakasih telah membaca cerpen yang sangat singkat ini, terimakasih juga telah meluangkan waktu untuk membacanya terimakasih banyak, sampai jumpa di cerpen aku selanjutnya, byebye!!