Ken mendapati dirinya berada sebuah hutan yang begitu gelap dengan pepohonan mati menghiasi sekitar, kegelapan di sana seperti akan menelan dan menenggelamkan semua segala bentuk maupun wujud.
Dengan keadaan bingung Ken berusaha tetap tenang dia melihat sekitar. Akan tetapi karena gelap dia tidak dapat menemukan apapun, namun karena hal tersebut memicu suatu ingatan yang mana dia sedang tertidur.
"Ini mimpi?"
Merasa ini mimpi Ken mencubit tangan nya dan itu terasa sakit, namun Ken masih sulit percaya. Dia menampar wajahnya dengan keras dan hal tersebut membuat pipinya merah juga terasa sakit.
"Serius ini di mana?" Ken tidak mengerti.
"Aku ingat sedang tidur di kamar, kenapa bisa ada sini?" Akhirnya Ken memutuskan untuk berjalan.
Tidak lama berjalan secara asal Ken melihat cahaya redup berwarna merah dari jauh tempat dia berada, melihat itu segera Ken menuju arah nya. Merasa mungkin ada seseorang dan dia dapat bertanya tentang tempat ini.
Sesampainya dia hanya menemukan lentera minyak yang tergeletak di atas tanah, lentera terlihat sangat berkarat namun masih berfungsi, itu karena benda tersebut masih bercahaya redup.
Cahaya yang di pancarkan menyala cukup terang bila Ken lihat dari dekat, namun redup karena kegelapan sekitar yang begitu aneh. Yang mana itu seperti kegelapan sekitar menelan cahaya terang dari lentera, namun cahaya redup memperlihatkan sekitar Ken sedikit lebih jelas.
Di sekitar terlihat pepohonan mati dengan kegelapan, melihat ke bawah terdapat tanah hitam kecoklatan sedikit basah.
Melihat lentera Ken berpikir sebentar, tidak lama memutuskan dia mengambil sebagai penerangan, karena dia merasa tidak punya pilihan menggunakan hal lain.
"Lentera ini, aku gunakan saja!"
Ken yang berjalan melewati pohon kering sekitar di temani cahaya redup lentera, di hutan tersebut Ken kadang selalu bertanya kenapa bisa ada di tempat ini.
Dia ingat sedang tidur namun mengapa bisa berada di tempat ini, hutan aneh dengan pohon mati serta kegelapan menghiasinya.
Selain itu juga berpikir dia di culik, atau mungkin terjebak oleh mahluk spiritual, namun pikiran tersebut segera di tepis.
Ken ingat kota ini di lindungi tembok khusus yang mana mencegah mahluk spiritual masuk, dan juga kota ini memiliki banyak awaken yang siap berjaga bila ada beberapa masalah.
Menghentikan pikiran gilanya Ken mulai fokus untuk cara keluar dari tempat ini, dia memang belum menemukan petunjuk apapun yang di lakukan saat ini hanya berjalan.
Lambat laun berjalan Ken merasakan perasaan tidak nyaman, dia mulai merasakan banyak hal aneh.
Perasaan yang entah kenapa bila anda semakin lama berjalan, semakin pula tenggelam dalam kegelapan. Perasaan dimana seseorang hanya berputar di tempat sama, dan perasaan sekeras apapun mencari jalan, dia tidak akan pernah dapat keluar.
"Sebenarnya ini tempat apa?" Kata Ken berhenti berjalan. "Melihat sekitar ini memang hutan, tapi perasaan aneh apa ini?" Dia kembali mengobservasi sekitar.
Ken sibuk memperhatikan sekitar, tidak lama tiba-tiba mendengar suara wanita sangat samar bernyanyi, suaranya sangat indah seperti dapat menghipnotis bagi yang mendengar.
Kemudian apa yang di nyanyikan Ken tidak mengerti dia seperti memakai bahasa yang sama, namun entah bagaimana terasa berbeda.
Bila anda mendengar nya mungkin akan bertanya -tanya dalam pikiran lagu apa, suara apa, dan apa yang dia nyanyi kan lebih penting bagaimana bisa orang bernyanyi di tempat gelap.
"Suara wanita? Siapa?"
Penasaran serta bingung takut, khawatir, panik bercampur memenuhi kepala Ken, dia ingat tidak pernah menemukan seorang pun di perjalanan.
Jantung nya berdetak seperti menjerit di kesunyian malam, keringat dingin mulai mengucur di wajahnya dia benar-benar takut hal buruk terjadi padanya.
Namun Ken di titik itu masih sangat penasaran dengan siapa dan dimana ini, dia juga bingung kenapa ada orang mau bernyanyi dalam kegelapan hutan yang begitu aneh.
Ken yang masih sangat takut kembali memaksa bersikap tenang, dia berpikir mungkin saja ini resiko namun bisa saja resiko tersebut membawakan hasilnya.
Dia benar-benar ingin keluar dari hutan yang begitu aneh, itu menjadi alasan kuat dan tertancap di kepalanya.
Tampa basa basi Ken berjalan menuju tempat suara berasal, hingga berjalan beberapa langkah Ken merasakan sesuatu yang familiar. Ken merasa suara dan nyanyian tersebut merasa agak akrab.
Dia seperti pernah mendengar di suatu tempat, namun Ken agak sedikit melupakan nya. Ingatan tersebut seperti meluncur, tetapi hilang begitu saja yang membuat nya tidak mengerti.
Tidak lama berjalan di kegelapan dengan lentera redup, Ken hampir sampai di tempat suara tersebut berasal. Di kegelapan Ken melihat sebuah pohon rimbun besar yang tampak berbeda dari pohon lainnya, di sana Ken mendengar suara nyanyian dan ayunan berderit.
Mengetahui itu Ken berjalan secara perlahan mencari asalnya, hingga beberapa langkah kemudian dia menemukan seorang gadis berambut hitam panjang memakai gaun putih duduk di sebuah ayunan.
Ayunan tersebut menggantung dan terikat di pohon besar aneh yang dia temukan, selain duduk gadis itu juga yang dari tadi bernyanyi.
"Nona, kamu tahu ini dimana?"
Mendengar suara Ken nyanyian nya terhenti, seketika itu Ken merasakan aura yang begitu mengerikan. Dia merasakan aura dingin seperti mencabik wajah dan menusuk punggung nya.
'Sial, sial, sial, Aku tahu ini terjadi!'
Di saat itu perasaan takut kembali muncul, namun Ken terus mencoba bersikap tenang. Dia tidak dapat gegabah, kemungkinan berbahaya terlintas di kepala nya.
Si gadis berbalik melihat Ken, dia menunjukkan wajahnya pada Ken. Gadis tersebut terlihat sangat cantik, namun memiliki kulit pucat. Mata indah namun terlihat aneh, itu karena dia memiliki mata berwarna hitam dan merah.
Bibir merah nya ramping dan indah membuat orang pertama kali terpesona, namun juga terlihat aneh karena warna merah ada bibir seperti darah dan itu menetes.
'Dia sangat cantik! tapi, kenapa dengan perasaan aneh ini!' pikir Ken.
Ken sudah agak tenang berdiri mematung melihat penampilan nya. Dan sebaliknya si gadis juga mematung melihat kehadiran Ken, dia menatapnya dengan hangat namun terasa dingin.
Tidak butuh lama akhirnya Ken mengembalikan kesadaran nya, dia mulai berpikir kenapa dan apa di pikiran nya.
'Siapa gadis ini? bagaimana bisa di sini? dan ini tempat apa?' pikir Ken.
Tidak lama melihat Ken, si gadis bangun dari ayunan dia berjalan secara perlahan selangkah demi selangkah menginjak tanah kotor, dia berjalan menuju Ken.
Seketika itu perasaan takut kembali menghantam nya, akibat nya dia merasa udara yang sekitar terasa berat seolah olah dia menghirup udara tercampur dengan setiap butiran pasir.
Perasaan dingin seperti mengupas wajahnya terasa begitu seperti disayat cutter, kaki Ken yang gemetar ketakutan hingga dia sulit berdiri dengan benar.
Bulu kuduk Ken berdiri semua, di setiap langkah si gadis berjalan mendekat semakin kuat perasaan tersebut, Ken tahu ini adalah perasaan berbahaya.
"Kenapa? tidak mau bergerak!' pikir Ken.
Ken berusaha bergerak sambil melihat gadis itu mendekat secara perlahan membuat nya merasa sangat takut, tampa sadar punggung nya basah dengan keringat dingin.
Hingga tidak butuh lama si gadis sampai di depan Ken, setelah itu kemudian mendekat kan wajahnya ke telinga ken, perasaan dingin yang pekat begitu tajam seperti memotong di leher Ken.
"Bangun." Suaranya sangat dingin. Namun, terdengar sangat manis dan indah.
Seketika, bidang pandangan Ken berubah seperti terdistorsi.
...
Ken membuka mata langsung terbangun dari tempat tidur, terdengar suara jam weker menunjukkan jam 8.30 pagi.
"Tadi mimpi?" Keringat dinginnya kian mengucur deras, detak jantung terpacu sangat kencang sampai terdengar.
"Kenapa begitu nyata?" Ken mengambil jam wekernya.