Pagi ini seperti sebuah gelombang kehangatan selalu menyala saat aku berjalan memasuki gerbang sekolah. Senyum ku tak pernah pudar saat memikirkan satu nama dibenak ku,nama itu Bagas. Cowok maskulin yang membuat jiwa ku melayang. Ini terlihat sulit untuk dikatakan namun itu benar nyatanya. Setiap melihat senyumnya,tubuh ini rasanya merinding. Jantung ku berdebar seperti ingin meledak setiap saat.
Sebelumnya, perkenalkan namaku Layla. Cewek berusia 18 tahun yang sekarang merasakan jatuh cinta. Ini aneh tapi nyata adanya. Aku benar-benar mengagumi sosok cowok yang baru pertama kali ku lihat. Pertemuan singkat dengannya membuatku gila hampir setiap hari.
Langkah ku perlahan menuntun kearah kelas. Namun,teriakan dari belakang memanggil nama ku membuat langkah kaki ini berhenti dan memilih menoleh ke belakang. "Layla?!"
Dia Carla,teman sekelas ku yang periang. Carla melangkah mendekat ke arah ku dengan senyum lebar. "Tumben nih berangkat pagi?"
"Ya, mana mau dihukum lagi" jawab ku dengan main-main. Langkah kami berlanjut hingga hampir sampai di depan kelas. Saat aku menoleh kedepan mataku menangkap sosok Bagas. Cowok itu berjalan didepan ku dengan senyum yang sudah hampir seminggu ini membuatku gila. Rasa aneh itu kembali datang,jantung ini seperti tidak normal saat aku menelan ludah kasar dengan bibir gemetar. Senyum ku seakan-akan tidak bisa ku tahan. Mungkin jika ini sebuah cerita komik wajah jelek ku sudah digambarkan seperti kepiting rebus.
"Bagas ya? Wah,gila cakep banget" sejenak aku tergegun saat Carla dengan lugas berbicara.
Mata ku bisa melihat dengan jelas saat aku berdiri mematung menatap Carla berlari mendekat kearah Bagas. Rasanya beton seberat dua ton sedang menimpa tubuh kecil ku. Ada rasa kesal marah tetapi tidak bisa ku ungkapkan.
Bayangkan aku mengenal Bagas hanya lewat nama atas kepopuleran dia saja. Tentu aku sadar saingan ku bisa seberat dan seketat apa.
"Oh ya,Layla sini kali" kesadaran ku ditarik kembali ke dunia nyata. Aku bisa melihat Carla melambai menyuruh ku mendekat dengan wajah khasnya. Aku merasa minder jika begini. Secara jelas,Carla lebih cantik dan populer dibanding aku yang seperti mata kaki. Tidak mencolok karena tertutup kaus kaki.
Helaan nafas keluar sejenak dari hidung ku. Saat mendekat senyum tipis seperti biasa ku perlihatkan dengan biasa. Mata ini bisa melihat secara jelas saat rahang tegas itu bergerak saat berbicara. Hampir aku tidak mendengar seluruh pembicaraan yang Carla dan Bagas bicarakan. Bahkan mata ku seperti terang-terangan mengagumi sosok cowok tinggi dihadapan ku. Dia seperti malaikat pencabut nyawaku....ah tidak-tidak bukan begitu. Tapi dia membuatku ingin pingsan saat ini.
"Layla? Layla?" Carla memanggil ku saat perlahan aku menunduk dan berdehem singkat sebelum menoleh kearahnya. "Ada apa?" tanya ku dengan senyum tak berdosa.
"Udah ayo ke kelas"
Dengan berat hati aku mengangguk dan menatap sekilas Bagas. Namun,lensa hitam itu seperti mengunci pergerakan ku sesaat. Kaki ku rasanya di rantai saat ingin pergi meninggalkan cowok bertubuh tinggi itu.
Bagas,dia tersenyum? Tersenyum? Apa baru saja aku melihat dia tersenyum pada ku?
Jiwa ini seperti dicabut selama satu detik sebelum aku berlari dengan tangan gemetar. Senyum ku seperti seorang yang mendapat hadiah giveaway mobil. Aku tidak bisa menjelaskan rasa di dadaku. Jantung ku rasanya berdebar seakan satu galaksi tahu bahwa aku sedang jatuh cinta.
***
Berapa kali aku harus menggambarkan sosok Bagas? Dia tinggi dengan tubuh gagahnya. Walaupun usianya sama dengan ku dan kita masuk di SMA yang sama,tetapi pesona Bagas lebih bersinar dari pada cowok kebanyakan. Banyak teman sekelas ku yang menyukai anak OSIS,Pramuka,bahkan PMR tapi menurut ku yang paling membuat diri ini membuka hati hanya Bagas.
Namun,perasaan ku sepertinya sedang tidak bersahabat dengan teman ku sendiri. Hari ini tepat istirahat ke-dua. Mata ku menatap Carla sedang bercanda ria dengan Bagas. Secara sengaja dia menyentuh tangan Bagas. Hati mungil ini seperti meledak. Tetapi menegurnya juga akan membuat ku malu. Banyak siswa dan beberapa guru yang masih ada di sekitar. Ditambah lagi aku tidak ada hubungan khusus dengan Bagas.
Mungkin saja dia juga tidak mengenal ku?
Tidak mungkin,aku percaya itu. Tetapi posisinya disini aku seperti obat nyamuk. 'Tolong aku ya Tuhan '
Aku seperti ingin menghilang dari bumi ini,aku melangkah meninggalkan Carla yang asik mengobrol dengan Bagas. Baru lima langkah suara 'itu' menghentikan ku. "Mau kemana,La?"
Barusan itu Bagas yang menghentikan ku?
Tidak mungkin.
Otak ku seketika tidak bekerja dengan baik. Aku seakan baru saja keluar dari mesin pendingin. Badan ku kaku tidak ingin bergerak hampir lima detik sebelum aku menoleh. Bagas menatap ku dengan lensa hitamnya. Dia terlihat tampan saat menatap ku dengan penuh tanda tanya. Tidak,bukan hanya tampan tapi memang tampan.
"Mau kemana?" Bagas bertanya lagi sambil duduk di kursi kantin. Dia diam sambil sesekali menjawab ocehan temannya. "Aku mau ke koperasi "
Tanpa aba-aba aku meninggalkan Carla yang memanggilku. "Layla! Tunggu!"
Telinga ku tertutup saat melangkah pergi menuju kamar mandi. Aku seperti dikejar oleh sekelompok orang yang mau memangsa ku. Tetapi aku diam tanpa ada minat untuk keluar. Perasaan ini kembali teraduk,antara senang dan sakit hati yang masih terasa.
***
"Layla?" Aku terdiam menoleh ke belakang saat Bagas disana dengan senyum tipis. Wajahnya terlihat tampan walaupun seragam yang dia pakai sudah kusut. Rambutnya berantakan dengan tas yang berada di bahunya. "Ah,iya?" jawab ku dengan pelan.
"Dimana Carla?" Jiwa ku seperti terbelah saat senyum ku perlahan memudar seutuhnya. Tangan ku terkepal tetapi aku diam saat perlahan melirik di dalam kelas. "Didalam"
Bagas mengangguk kecil sambil melangkah mendekat. Berbeda dengan sebelumnya,aku memilih diam sambil berpaling dan melihat ponsel ku.
'Ini benar-benar memalukan,dasar!'
Aku mengutuk diriku sendiri karena keadaan dan perila yang ku lakukan sendiri.
Tetapi sesaat mata ku melirik Carla yang berdiri di depan meja guru. Dia tersenyum ke arah Bagas dengan cokelat di tangan kanannya. Wajah ku radanya langsung 'zonk' saat Clara dengan sumpringah memberi cokelat itu di hadapan Bagas. "Buat kamu"
Aku mematung dengan wajah membelak kaget sesaat. Kemudian Bagas melirik ku tanpa aku sadari. Pria itu terlihat mendekat berada di belakang tubuh ku yang seperti kurcaci. Dia tersenyum tipis sambil menyentuh pundak ku secara bersamaan. "Apa aku boleh menerima cokelat dari teman mu?" Bulu kuduk ku langsung berdiri dan aku mengangguk kaku. "Ah, terimakasih "
DUARRRR!!!!
Jantung ini berdebar kencang seperti jatuh dari pohon dan aku langsung pingsan di tempat.
"Bye dunia" aku bersuara lirih sebelum tersenyum aneh dan pingsan.