BRUK!
Seseorang terjatuh di hadapanku, membuatku terkejut lantas menghampiri nya. "Hey. kau tak apa? bangunlah, kau baik-bik saja?" aku menggoncangkan tubuhnya, sepertinya ia pinsan. aku mengedarkan pandanganku berusaha mencari bantuan, lelaki yang pinsan di hadapanku seperti sedang sekarat. Namun siang itu di sekolah sangat sunyi, terlebih ini di taman belakang sekolah.
"T-tolong a-aku," aku senang saat ia bicara, setidaknya itu menandakan bahwa ia masih hidup. "Apa yang bisa ku bantu?"
"Bi-bisakah, k-kau.." Bruk, ia benar-benar tak sadarkan diri, aku panik lalu mencoba untuk memeriksanya, dari lubang hidung hingga denyut nadi, baik nadi radialis maupun karotis (leher). Saat aku menyentuh pergelangan tangannya, terasa dingin di kulitku, atau kulitku yang menghangat? Tapi ketika aku mencoba untuk menyentuh lehernya, tiba-tiba.
"Biar aku saja," seseorang menepuk pundakku, ketika ku menyadari bahwa itu adalah seniorku, aku menunduk menghormatinya, lalu ia pergi dan menggotong pria yang pinsan tadi. "Terimakasih sudah menolongnya" ujarnya kemudian pergi.
Aku tak tahu lelaki itu siapa, karena aku baru disini. Aku sedang berkeliling mencari ruang kepala sekolah sampai aku melihat seseorang tiba-tiba jatuh di hadapanku, membuatku kaget. untungnya senior itu datang dan menolongnya. Aku tahu ia senior karena ada tiga garis tepat di dasinya. Sedangkan lelaki yang pinsan tadi memiliki dua garis yang artinya ia merupakan siswa kelas 2 sama sepertiku.
Saat aku sudah menemukan kelasku yang di beritahu oleh kepala sekolah, ternyata aku duduk di samping lelaki yang pinsan tadi. Aku menatapnya dengan bingung, bagaimana bisa? sedangkan kondisinya tadi sangat parah, juga ia terlihat pucat. apa ia masih sakit?
aku terus bertanya dalam benakku, menepis semuanya dan berjalan menuju bangkuku, tepat disebelahnya.
Aku mencoba untuk ramah dan berkenalan dengannya, namun ia membalas dengan nada yang begitu dingin.
"hai, aku Lucy. Kau siapa?"
"aku sudah tahu,"
"oh? maksudku-"
"Nicky"
Mengetahui sikapnya yang dingin, membuatku mengurungkan niat untuk menjadi temannya, karena tentu saja, siapa yang tahan berdekatan dengan orang seperti itu. Mengerikan.
Hari berlalu, dan aku sudah terbiasa dengan si dingin ini, tetapi sesungguhnya ia sangat pintar dalam semua mata pelajaran, membuatku bingung. Bagaimana bisa, sedangkan ia hanya tertidur sepanjang pelajaran, namun berhasil mengerjakan soal di depan papan tulus dan soal-soal ujian. Aku yang belajar dengan giat tak pernah mendapan nilai sesempurna itu, tapi lihat? Nicky mampu memcahkannya.
Hari ini praktik renang dalam kelas olahraga, tentu semua orang sangat senang, tapi tidak dengan Nicky, ia tetap tertidur di kursinya. aku membangunkannya dan menyuruhnya untuk berganti baju, namun ia mengusirku. Aku tetap memaksanya, tetapi ia malah meninggalkanku tanpa mengucap sepatah katapun.
Aku berdiri di pinggir kolam, bersiap untuk berenang menunggu instruksi dari guruku bersama dengan temanku yang lain. Aku pasti bisa melakukannya, karena aku suka berenang. Ketika peluit mulai berbunyi, aku langsung menceburkan diriku ke kolam dan berenang dengan semangat, tetapi rambutku tersangkut dan keram menyerang kakiku hingga aku tak bisa bergerak juga bernafas. Aku mencoba untuk meminta tolong, namun tak sanggup, tubuhku mulai melemas, seketika seseorang mendatangiku.
Byurr..
Ia menceburkan diri, aku tak bisa melihatnya. Aku mengulur tanganku dengan lemas seketika semuanya menggelap.
Saat aku terbangun, aku berada di sebuah ruangan. itu adalah uks, kepalaku terasa pusing. Seseorang berbaring di sampingku. itu Nicky, bajunya terlihat basah. aku ingat kejadian tadi lalu pusing menyerang kepalaku, ku meminta kepada penjaga uks untuk memberikan Nicky baju, namun mereka berkata bahwa Nicky menolaknya.
Lelaki itu kemudian bangun, dan menunjukkan tas ku, ia jg membawakan tasku, kemudian pergi meninggalkanku tanpa bicara. aku belum berterimakasih padanya, tetapi ia malah pergi.
esoknya, aku membawakan Garlic Bread padanya, dan ia memakannya dengan lahap. Aku mengatakan bahwa aku sangat berterimakasih padanya, dan ia mengatakan itu tak apa. kemudian istirahat dimulai, aku membeli beberapa makanan yang akan ku makan di rooftop, karena aku tak punya teman jadi aku ingin menghabiskan waktu di roftop sendirian. aku pergi kesana dan makan sampai waktu istirahat habis.
saat aku kembali dan pelajaran berlangsung, aku tak melihat Nicky kembali ke kelas, bahkan sampai pulang sekolahpun ia tak masuk. Aku bingung namun aku tak tahu mau cari dimana.
Esok hari nya, ia kembali masuk dengan wajah yang pucat, kulit putihnya semakin memucat. "Kau baik-baik saja? Aku tak melihatmu kemarin, kau kemana saj-"
"Apa yang kau berikan padaku?" ia bertanya dengan tatapan yang mengintimidasiku, membuatku taku. Dengan keberanian aku menjawab "itu roti bakar dengan keju dan bawang putih," ia terkejut, matanya membelalak melebar, membuatku semakin bingung. "Apa kau baik-baik saja?"
"Tak usah pedulikan aku," ujarnya lalu kami belajar seperti biasanya.
Saat istirahat, aku kembali ke rooftop dan makan disana, namun aku melihat Nicky juga disana, aku menghampirinya dan ia mengusirku, "jangan mengganggu, pergilah,"
aku kesal, dan mengatakan bahwa aku tak akan pergi. "Ini tempatku," jelasnya. "Ini tempat umum, semua murid boleh kemari," sanggah ku, ia tak peduli. lalu aku membuat kesepakatan untuknya, "baiklah, besok kita adakan komoetisi. Jika besok diantara kita yang cepat sampai ke tempat ini lebih dulu, ia boleh memakainya dan yang lain mengalah. bagaimana? "
"Deal." jawabnya dengan mantab.
Seperti yang sudah di sepakati, kami berkompetisi. Sebelum lelaki itu beres memasukan buku-bukunya ke dalam tas, aku lebih dulu keluar dari kelas dan berlari ke rooftop. Saat aku sampai dan mengunci pintu, aku menghela nafas lega, akhirnya aku yang menang.
"Kau terlambat."
aku menoleh dan terkejut, "kau? Bagaimana bisa?"
"tentu bisa. Sekarang pergi, ini tempatku," ucapnya dengan mengibaskan tangan.
"Tidak. kau pasti curang, lihat. tak ada keringat yang membanjiri tubuhmu, tidak sepertiku," sergahku. Namun ia tak memperdulikannya, ia tetap mengusirku, aku mengalah dan pergi.
Sampai suatu hari, kedua orangtuaku bercerai, itu membuatku memburuk. aku menangis di dalam kamaeku sampai pagi bahkan tak tidur dan aku meninggalkan sarapanku, namun ada yang aneh semalam ketika aku menangis aku melihat bayangan seseoeang berdiri tak jauh dari jendela kamarku sedang menatapku, membuatku bingung karena kamarku di lantai 2 bagaimana bisa ada orang lain berdiri tanpa bantuan apapun.
Aku memutuskan untuk pergi ke rooftop dan bolos sekolah, tetapi ketika aku sampai di rooftop Nicky sudah lebih dulu disana, "kau terlambat," ucapnya namun tak ku hiraukan. "Ku mohon, izinkan aku memakai tempat ini, aku sangat membutuhkannya," aku memohon dengan tangis, bahkan aku tak memperdulikan harga diri, kemudian ia mengizinkan dan pergi begitu saja. Aku menangis sampai aku tertidur di rooftop. ketika aku bangun, hujan turun dengan deras, tubuhku lemas, mungkin karena aku belum makan sedari pagi dan hari sudah semakin menggelap.
Aku mulai menyeret tubuhku sampai pintu rooftop dan membukanya, tetapi pintunya tidak terbuka, aku ketakutan lalu dengan sekuat tenaga aku berjalan melihat ke arah bawah, berayukur jika masih ada orang di sekolah. tetapi apa daya, ini sudah jam 6, bel pulang sekolah sudah berakhir 3 jam yang lalu. Aku terduduk lemas, aku benar-benar tak ada tenaga. Aku fikir aku akan berakhir hari itu juga, memenuhi mading yang memberitakan seorang siswi mati konyol di rooftop sekolah. Memalukan.
Saat kesadaranku hampir hilang, seseorang membuka pintu itu, oh tidak. ia merusaknya. Pintu itu terlempar jauh bahkan melewati tubuhku, membuatku kaget dan ketika aku menajamkan penglihatanku, pandanganku menggelap.
Aku terbangun di sebuah ruangan, tetapi ini bukan kamarku. Aku terduduk dan mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut yang berada di ruangan itu. Seseoeang memasuki kamar.
"oh? sudah bangun?"
"Nicky?"
"Ya. Makanlah, aku membuatkanmu soup" ucapnya memberikan semangkuk soup Padaku. Aku menerimanya dengan senang, ketika fikiranku mulai rileks, aku mencoba bertanya padanya.
"Maaf aku membawamu kerumahku, karena aku tak tahu dimana rumahmu. Juga aku meminya bibi tetangga untuk menggantikanmu pakaian dengan pakaianku, karena aku tinggal sendiri disini," ucapnya mendahuluiku,
"tak apa Nicky, terimakasih. tapi, apa kau yang membuka pintu rooftop?"
"Iya"
aku terdiam, bagaimana bisa. Bahkan, meski seorang lelaki itu kuat, tak mungkin mampu membuat pintu besi itu melayang beberapa meter dari tempatnya, terlebih dia masih remaja.
Hari demi hari aku lalui bersama Nicky, kami begitu dekat sampai akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Sejak aku berpacaran dengannya, aku menemukan beberapa ganjalan dan keanehan-keanehan pada dirinya. Aku mengumpulkan semua buktinya. Dari ia yang tak bisa terkena sinar matahari sampai tak bisa makan bawang putih.
Lalu, saat tadi aku memeluk lehernya, aku menemukan kalung yang ia kenakan, dan membaca tulisannya dari atas sebelum ia menyadari dan memasukan kalungnya kembali ke dalam baju.
Aku mencari sesuaru fakta di internet, dan mulai mengumpulkan semua bukti-buktinya, aku terkejut dan gemetar.
Aku mengetikan sesuatu disana, mengirim pesan pada Nicky dan memintanya menemuiku di rooftop gedung yang tak terpakai, aku segera kesana dan menunggu Nicky.
Orang yang ingin ku temui akhirnya datang, ia memelukku seperti biasa dengan senyumnya yang manis bahkan sekarang aku menilainya sebagi senyum yang menyeramkan. Aku melepaskan pelukannya dengan paksa lalu memundurkan langkahku darinya, dan mulai meneteskan air mata. Ia terlihat bingung dan bertanya.
"Ada apa denganmu, Lucy? Kau baik-baik saja?" ia bertanya sembari melangkahkan kakinya bergerak maju ke arahku, namun aku berjalan mundur.
"Jangan mendekat!" aku memerintah padanya dan ia menurut, "ada apa?" tanyanya sekali lagi.
aku menangis sejadi-jadinya. kemudian aku bertanya padanya.
"Siapa kau?"
Ia terlihat bingung dengan pertanyaanku, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"kau mengetahuinya?"
"Jawab aku, jawab dengan jujur. Ku mohon katakan semuanya itu palsu," ujarku
"Apa yang kau tahu?" ia berbicara dengan nada serius.
"Semua!" teriakku dan mulai menyebut kejanggalan dari dirinya satu persatu.
Ia menunduk dan tertawa, lalu kembali menatapku
"Apa benar?" tanyaku
"Apa benar kau- kau.." aku tak sanggup melanjutkan kalimatku, namun aku ingin mengetahuinya.
"Apa benar, kau seorang NORDIC?"
aku menyelesaikan kalimatku, dengan resah menunggu jawabannya. Aku berharap ia mengatakan tidak, namun aku melihat ia mengambil sesuatu dari kedua matanya.
'apa ia sedang mencopot bola matanya?' pikirku
Kemudian ia menatap ke arahku, dengan bola mata yang merah menyala, menatapku dengan tajam. lalu berjalan cepat ke arahku, dan sedetik kemudian ia tepat berdiri di hadapanku, sangat dekat hingga tak ada jarak di antara kita.
"Apa kau takut?" tanyanya, "tidak." jawabku, lalu ia mendekat ke arahku hingga hidung kami bersentuhan. "Apa kau takut?" ia mengulang pertanyaan yang sama, dan aku menjawab dengan sama yaitu "tidak"
aku tidak takut sama sekali, aku bahkan sangat mencintainya.
"Mengapa? mengapa kau tidak takut?" tanyanya. "Aku mencintaimu," jawabku. ia tersenyum miring, lalu mundur beberapa langkah dariku. sedetik kemudian, ia merobek kemeja hitam yang ia kenakan lalu menunjukan guratan uran nadi di sekujur tubuhnya yang berwarna biru. Manusia biasa mungkin berwarna hijau namun ia berwarna biru dengan pembuluh darah yang sangat besar, seperti itu akan pecah sewaktu-waktu.
Kembali ia menghampiriku, dan menanyakan hal yang sama, apa aku takut. sekali lagi aku menjawab tidak. Ia menggendongku ala bridal style, lalu kami berdua terjun dari gedung itu membuat jantungku terlonjak dan hampir lepas dari tempatnya.
Aku tak bisa membayangkan aku jatuh dari lantai 7 gedung ini. Ia membawaku berlari dan melompat dari gedung ke gedung. begitu sampai 3x membuatku ingin muntah. Aku berteriak padanya. "STOP! KUMOHON TURUNKAN AKU!!!"
Kemudian ia menurunkan aku di tempat semula, membuatku jatuh terduduk karena lemas. "Berhenti membawaku terjun dari gedung ini, Bodoh!" aku msnghardiknya karena kesal. Ia duduk dan bertanya, "sekarang apa kau tetap tidak takut padaku?"
Aku menatapnya, menatap kedua bola mata yang merah menyala, lalu memegang wajahnya dan mencium bibir tipisnya. Menyalurkan rasa cintaku pada makhluk ini, alien jenis nordic yang bahkan baru ku ketahui ada di dunia ini, dan menjadi pacarku.
Aku melepaskan tautan bibirku padanya, kembali menatap matanya. "aku tidak sedikitpun takut padamu, aku mencintaimu. Sangat. Sangat mencintaimu,"
ia memelukku, "terimakasih karena telah mencintaiku, dan menerima diriku apa adanya."
Kami kemudian pulang, dan aku meminta agar aku menginap di rumahnya, tentu ia mengizinkan. Kami pulang dengan cara berlalu secepat kilat, karena ia melepas kontak lens nya yang berarti semua orang akan melihat mata aslinya, sesampainya dirumah aku bertanya padanya, "yang aku baca, bukankah nordic itu rambutnya berwarna putih? mengapa rambutmu berwarna coklat?"
"Aku mewarnainya, aku jg memakai kontak lens kemanapun,"
"Pantas saja. Maaf membuatmu sakit ketika aku memberimu makanan dengan bawang putih di dalamnya"
"Tak apa, setidaknya sekarang kau mengetahuinya. Maaf menyembunyikannya darimu, karena aku takut kau pergi meninggalkanku karena aku seorang nordic. Aku sangat mencintaimu. Terimakasih sudah menerimaku apa adanya" jelasnya sambil tersenyum, meski terlihat menyeramkan bagiku ia tetaplah manis dan tampan. Aku memandangnya, dan kemudian terbesit sebuah pertanyaan dalam benakku.
"Nicky, apa semua nordic itu tampan?"
"Tidak. hanya aku yang paling tampan. tentu saja."
Aku terkekeh, "pasti ada yang lebih tampan kan? aku ingin mengenalnya"
Tuk
Ia menjitakku, aku nengusap kepalaku dan memandangnya sebal.
"Kau tak boleh mendekati nordic lain, cukup aku saja"
"Egois" dengusku
Kemudian kami saling berpelukan satu sama lain. Tak peduli dia siapa, dimana ia berasal, aku akan tetap mencintainya meski ia seorang nordic, vampir, alien, hantu, bahkan iblis sekalipun cintaku padanya tak akan pernah hilang. Aku akan tetap bersamanya sampai kapan pun.
-TAMAT-