Kiana membuka matanya. Ruangan begitu sempit dan pengap. Dengan dinding yang mengelilinginya tak tau dimana arah pintu berada.
Beberapa kali Kiana menggeleng-nggeleng kepalanya kuat. Sesekali pula dia menepuk kepalanya. Agar, otak bekerja cepat, mengingat kejadian yang di alaminya.
" Ah, dimana aku ? Tempat apa ini ? Mengapa kakiku di rantai ". Ucap Kiana bingung. Rantai yang melingkar di pergelangan kakinya sukar tuk di lepaskan. Beberapa kali dia berusaha namun usahanya sia-sia belaka.
Rubbah yang malang. Matanya menatap nanar dirinya sendiri.
" siapa yang tega membuatku seperti ini hikss ".
Ucapnya lagi, Kiana menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya di dalam tahanan sepi tiada penghuni.
Dia pun tak dapat mengingat apa-apa, seperti ada obat yang mempengaruhi ingatannya.
.
.
.
" Ayah ku mohon, lepaskan Kiana, kembalikan anakku ".
Teriak Sena.
Wajahnya semakin murka.
" Diam, sampai kapanpun ayah tidak pernah merestui hubungan kalian yang aneh ini. Dia itu bukan manusia Sena, sadarlah ".
" dan anak ini. Biar ayah yang mengurusnya. Dia anak binatang bukan manusia ".
Ujarnya tuan Prata.
" Ayah, dia anakku darah dagingku. Dia cucumu ayah, dia masih kecik, tidak bersalah , ku mohon lepaskan dia ". Sena benar-benar murka. Dadanya turun naik menahan emosi.
" dia bukan Cucuku. Sena, jika ayah tau dia seekor siluman, ayah tidak akan merestui pernikahan kalian. Dia wanita penipu nak, ayah mohon sadarlah ".
" Ayah tidak usah mengajariku tentang Cinta ? Aku tidak peduli dia siapa ? Dia istriku ayah istri Sena ".
Plakkk !!!
Tamparan keras menghantam pipi Sena kuat. Sena tak dapat membalas karna ke 2 pengawal ayahya menahan tubuhnya hingga dia hanya menatap nanar bayi kecilnya seperti akan di bakar hidup-hidup.
" Ayah ku mohon jangan lakukan itu, lepaskan anakku ... ". Teriak Sena histeris. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melawan. Namun dia betul-betul tak berdaya. Tubunnya di bandingkan pengawal ayahnya jauh lebih besar dan tegap.
" lepaskan, lepaskan aku ".
Ya tuhan. Kini Sena hanya berharap ada keajaiban yang datang untuk menyelamatkan nyawa anaknya.
Entah siapa yang telah mempengaruhi ayahnya hingga dia semurka itu. Dan tidak mau menerima Kiana serta anaknya yang padahal adalah cucunya sendiri.
Dari kejauhan datanglah segerombolan orang-orang yang di kenali Sena. Matanya menyipit Seketika melihat Aura bersama ayahnya dan juga beberapa pengawal mereka.
' apa mereka biang dari semua masalah ini, Aura kau benar-benar tidak bisa menjaga rahasia kami. Dasar wanita iblis '. Batin Sena yang tak ingin menatap wajah-wajah orang munafik itu.
* 2 hari yang lalu *
Aura dan Ayahnya mendatangi rumah Prapta yang merupakan ayah Sena.
" Paman, apa yang di ucapkan Ayahku benar. Kiana itu siluman paman, kasian Sena. Dia selalu di pengaruhi oleh Kiana, istri iblisnya itu ". Kata Aura bersemangat. Rencana untuk dapat memiliki Sena pasti akan tercapai.
" lalu apa yang harus ku lakukan ".
Tanya Prapta, yang sudah terpengaruh hasutan kedua manusia yang berhati siluman itu.
" aku tak menyangka. Wanita siluman itu berhasil mencuci otak anakku. Agar mau menerimanya. Bedebah. Akan ku musnahkan dia bersama anaknya itu ".
Geram Prapta.
" Siluman, harus mati dan musnah di muka bumi ini. Tak perduli dia baik atau tidak ".
Aura tersenyum bangga.
" tenang paman, aku punya serbuk , Agar Kiana menjadi hilang akal sehatnya. Aku tidak mau paman yang membunuh Cucu paman sendiri. Tapi biarlah dia sendiri paman. Dengan begitu Sena akan membencinya. Dan juga akan melenyapkan siluman Cantik itu . Ayo ayah barikan serbuknya. Kita tidak bisa menunggu lama.
" atur tanggal mainnya ".
Kata Frendli ayah Aura.
.
.
.
.
Tak lama pintu besar terbuka lebar. Bayi malang itu sudah di letakkan di depan gerbang . Mereka siap menonton kejadian mengerikan malam ini.
Bayi Sena pasti akan di makan oleh Rubbah yang murka itu.
Ruangan yang sudah terbuka itu .nampak masih gelap. Tak lama Kiana membuka matanya lebar. Warna biru yang di pancarkan cahaya mata Kiana mengalahkan cahaya lilin dari kegelapan.
Liurnya mengalir dari sudut bibirnya. Entah kenapa tiba-tiba dia terlihat buas dan mengerikan.
Ekornya sudah tumbuh dan kemudian seketika tubuhnya berubah menjadi rubbah besar.
Aura dan Ayahnya serta semua mata yang tertuju pada hewan di depannya terperanga. Kecuali Sena. Sena sudah mengenal siapa istrinya.
Namun Sena terlihat gelisa melihat anaknya yang menangis . Dan Rubbah jelmaan istrinya itu malah tidak menyukai kebisingan. Dia mulai menyeringai memperlihatkan gigi taringnya.
Lalu berjalan mendekati anaknya sendiri.
" makanlah. Itu makanan lezatmu hari ini ".
Ucap Aura . Berteriak agar Siluman itu mendengarkannya.
" Hentikan Aura ".
Bentak Sena.
" Kiana, ku mohon jangan apa-apakan bayi kita. Ku mohon dia anak kita ".
Kata Sena, mulai berputus asa. Dia terduduk lemas. Ketika tangan para pengawal itu melepaskan pegangannya ketika tercengang melihat hewan besar di depan mereka.
Kiana mendekat bayinya. Dan mulai membuka mulutnya. Seperti ingin melahap habis makanan yang di sajikan itu. Kiana terlihat berbeda . Akibat serbuk yang di berikan Prapta ke minumannya.
Suara Sena yang histeris tidak di indahkannya.
Sena tidak banyak pilihan. Segera dia merebut senjata dari salah satu pengawal ayahnya. Dan dengat cepat mengarahkannya ke bagian kaki Kiana.
Sontak yang lain menjadi sangat ketakutan. Mata biru itu. Menatap mencari siapa yang berani menembaknya dan mengganggu makan siangnya.
Dengan serangan membabi buta, Kiana melompat hendak menerkam Sena. Namun Aura yang tak ingin Sena terluka berhasil menolong Sena. Alhasil bahunya robek dengan luka yang sangat parah.
" Aura...".
Teriak Brendly histeris.
Darah mengalir banyak dari tubuh itu. Aura nampak pucat pasi.
" Ahhhkkk...!!! Ayah tolong aku uhuk,uhuk ".
Ucap Aura terbatuk-batuk. Sena tak memperdulikan Aura. Dia malah berlari hendak menyelamatkan Anaknya itu.
" Sena stopp !!! Jika kau menyelamatkan bayi itu jangan salahkan ayah jika harus melukaimu ".
Kata Prapta yang sudah menodongkan pistolnya ke arah Sena.
Sena malah merasa sangat membenci ayahnya. Tak menghiraukan perkataan ayahnya alhasil tembakan pun meletus.
Dorr !!! Dorr !!!
" aaahhkkkk ".
2 peluru berhasil menembus Dada dan lengan Sena.
Seketika itu juga Kiana diam. Kiana berhenti menyerang orang-orang yang ada di sekitarnya. Mendengar teriakan Sena membuatnya seperti merasakan hal yang. Kesakitan yang sama. Tak sadar Air matanya lolos begitu saja. Di tambah tangisan bayi yang semakin pilu. Membuat otak Kiana terus berputar.
Semua diam. Kiana berjalan Oleng menghampiri Sena dan juga bayinya.
Kepalanya masih terasa pusing.
Mata mereka saling pandang . Sena menggendong anaknya penuh sayang sangat merasa bersalah. Tidak bisa menjaga keluarganya dengan baik.
" Kiana . Kamu jangan seperti ini . Ku mohon sadarlah. Ini aku suamimu. Dan ini anak kita ".
Kiana Diam tak berkutik.
" aku mencintaimu Kiana, aku menerimamu apa adanya. Dan bahkan aku berulang kali mengatakan ini padamu ".
Amarah Kiana perlahan Surut. Mungkin ingatannya mulai normal kembali. Perlahan tapi pasti. Kini rubbah itu berubah menjadi manusia .
" suamiku ".
Kata Kiana setelah menyadari apa yang terjadi.
Ketika Kiana dan Sena saling berpelukan tiba-tiba....
Dorrr, dorrr,dorrr !!!
" Kiana ". Kata Sena tertahan. Matanya membulat. Ketika menyadari tembakan yang berhasil di keluarkan ayah Aura yang tak terima atas kematian anaknya Aura.
3 peluru menembus dada Kiana . Dan darah segar mengalir deras.
Air mata Kiana jatuh. Dia tak dapat menahan lama luka itu. Dan dengan serangan kilatnya mereka berhasil menghilang dari tempat tersebut.
LEMBAH SILUMAN
" Uhukk,,uhuk,,Suamiku ".
Ucap Kiana lirih .
" ia sayang. Mana yang sakit ? Apa tembakanku tadi menyakitimu juga. Aku mohon maaf, aku tidak punya pilihan lain, kau hampir memakan buah hati kita ".
" jika aku tidak melakukan itu aku tidak tau apa yang akan terjadi pada ...".
" Sssssttt,,,,Aku sepenuhnya percaya pada Suamiku, aku tau kau melakukan ini untuk memberitahuku. Aku berterima kasih karna kau berhasil membuat niat jahatku tak terlaksana ".
" Suamiku Jangan tinggalkan aku ".
Ucap Kiana, berusaha memeluk erat tubuh Sena.
Posisi mereka saat itu, Sena sedang dalam memangku Kiana yang terbaring dalam pangkuannya. Sementara Anaknya di letakkan di sebuah batu yang berbentuk meja.
" aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji ".
" jaga anak kita, berikan kasih sayang sepenuhnya untuknya ". Ucap kiana terbata-bata.
" tidak Kiana kita akan hidup bersama, merawat anak kita sama-sama. Kau ataupun aku tidak akan ada yang pergi ".
Ucap Sena memeluk erat tubuh istrinya.
Kiana hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian Sena tak mendengar apa-apa.
Perlahan tangan Kiana yang erat memeluk tubuh Sena terlepas. Bukan karna sengaja. Namun , Kiana akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.
Sena menangis, menyadari hal tersebut. Istrinya telah tiada.
Akhirnya Sena tidak pernah meninggalkan tempat itu. karna tempat itu merupakan tempat Kenangan terakhir sekaligus pertemuan pertama mereka di LEMBAH SILUMAN.
Dia hidup tak sendiri. Ada Cimi. Anak gadis semata wayangnya.