Membosankan, hidup di rumah yang sangat besar dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Soal harta tidak usah di tanyakan lagi. Tapi yang kurang hanya satu. Yaitu Keluarga. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan harta-harta ini, aku hanya menginginkan sebuah keluarga yang lengkap yang selalu meluangkan waktu untuk berkumpul lalu saling bercanda ria seperti orang-orang di luar sana
Aku Mica umurku 17 tahun, aku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Keseharian ku selalu di isi dengan keheningan, sunyi, dan ah, kalian fikir sendiri lah! tinggal di rumah yang besar tapi hanya berpenghuni satu orang dan itu adalah aku.
Iya aku, sejak aku umur 7 tahun aku sudah mulai di tinggalkan oleh orangtuaku karena bisnisnya. Mereka meninggalkanku tanpa meninggalkan satu orang pun untuk menemaniku di rumah yang besar ini. Tapi beruntungnya baru-baru ini mama mengirim seorang pembantu ke rumah untuk membantu aku membersihkan rumah sekaligus menemaniku.
Tapi itu kurang, aku masih butuh orang untuk ku ajak bermain, bercanda, dan menginap di kamarku lalu bercerita bagaimana aku menjalani masa yang sangat amat tidak menyenangkan ini selama aku ditinggalkan oleh mereka (orangtuaku). Hufft, sungguh sangat membosankan
Aku terus melamun dan membayangkan betapa seru dan bahagianya orang-orang di luar sana saat bermain bersama teman-temannya. Tapi yang lebih menyakitkan itu saat aku melihat sebuah keluarga yang sedang berlibur di pantai sambil bermain dan tertawa bareng bersama anaknya. Aku juga ingin merasakan itu, satu kali saja, tapi mungkin itu tidak akan terjadi. Hahaha itu hanya halusinasi ku yang berusaha ku singkirkan agar tidak terlalu berharap pada kenyataan.
"Non, ayo makan dulu." Suara serak khas dari pembantu yang bekerja di rumahku tiba-tiba datang dari balik pintu kamarku membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Ah, iya bi tunggu sebentar." Aku bergegas dari ranjangku yang empuk dan cukup besar itu. Ku langkahkan kakiku keluar dan berjalan menuju dapur.
Pagi, siang, dan malam aku selalu makan bersama dengan bibi. Sedikit pembahasan tentang dia. Dia itu bibi yang sudah berumur, aku perkirakan umurnya sudah menginjak 45 tahun. Sudah tua bukan? Dia sangat baik kepadaku dia juga sangat sabar mengajariku hal-hal yang belum aku ketahui sekaligus mengajariku membuat kue, makanan dan lainnya. Dia baru 2 bulan bekerja di rumahku tapi kinerjanya itu benar-benar patut di beri 5 kali jempol, tapi karna jempol tanganku hanya dua jadi cuma dua yang bisa kuberikan.
"Hari ini mama telfon nggak, bi.?" Tanyaku sambil mengunyah makanan
"Tidak non, sudah 1 Minggu ini nyonya belum menelfon begitu juga dengan tuan." Kata bibi
Aku hanya mengangguk, mengerti akan kesibukan mereka. Tapi dari lubuk dalam hatiku berbeda.
~~~~~~~~~~~~~~
Malam sudah larut, bibi sudah membersihkan semua peralatan dapur yang sudah ia pakai tadi. Aku memutuskan ke kamar untuk bermalas-malasan lagi sambil menghalu betapa indahnya saat berkumpul bersama keluarga dengan waktu yang lama.
Aku menidurkan diriku diatas kasur sambil menatap langit-langit kamar.
"Tuhan, tolong kirimkan satu orang saja untuk menemaniku disini, aku mohon." Aku bergumam perlahan mataku tertutup, karna memang ini sudah jam tidurku.
Mataku sudah tertutup, aku lupa mematikan lampu kamarku bahkan posisi tidurku pun tidak rapi.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Aku melihat ke depan ada cahaya putih yang sangat menyilaukan sampai aku tidak bisa melihat cahaya apa itu. Tapi bukannya aku sedang tidur? Oh, apakah ini mimpiku? hemm... mungkin saja.
Perlahan ku dekati, perlahan juga cahayanya menurun. Aku mencoba melihatnya dengan lebih jelas, mataku ku sipitkan agar bisa melihat cahaya itu dengan jelas. Ku langkahkan kakiku satu kali lagi.
"Hay"
Tiba-tiba cahaya itu mengeluarkan suara. Aku spontan kaget karna bisa-bisanya ada cahaya yang bersuara, apa dia hantu? Aku mundur perlahan tapi cahaya itu ikut mengikutiku. Dia melangkah maju
Baru dua kali dia melangkah, keluarlah wujudnya. Seorang laki-laki keluar dari cahaya yang amat terang itu membuat mataku langsung membulat besar. Sungguh tampan
Laki-laki tampan dengan tinggi yang semampai 172 cm melangkah mendekatiku secara perlahan. Dia terus tersenyum memancarkan cahaya yang membuat hatiku berdebar. Matanya sedikit sipit saat dia tersenyum. Ada lesung Pipit juga di sebelah pipi kanannya, wah dia ini pangeran atau idol? Tampan sekali
Laki-laki itu menjulurkan tangannya ke arahku.
"Mau kah kamu menjadi pendamping hidupku sampai kita memiliki rambut berwarna putih dan keriput di wajah begitu juga di sekujur tubuh kita?" tanyanya kepadaku yang masih menjulurkan tangannya ke arahku.
Entah ini nyata atau mimpi tapi naluriku terus ingin menggapai tangannya lalu menggenggamnya erat dan berkata iya aku mau.
"Hey, jawab aku dong!" tambahnya lagi membuatku sadar akan diamku
"Ah, i-iya aku, aku mau." Ucapku dengan tertatih lalu menggapai tangannya dan menggenggamnya erat. Ini nyata, ini benar-benar nyata karna aku bisa memegang dan bisa merasakan kehangatan tangannya. Tangannya yang putih, besar dan lentik itu ikut menggenggam erat tanganku.
Oh tuhan kumohon jadikan ini nyata, aku tidak ingin jika ini hanya mimpi. Dia pangeran berkuda milikku, tapi entah kudanya ada dimana. Ah, bodohlah pokoknya aku mau dia jodohku dan tolong jangan pisahkan kami. Kalau dia bukan jodohku tolong buat dia menjadi jodohku satu-satunya. Aku tidak akan pernah melepaskan tangan kami sampai kapan pun. Instingku
"Terimakasih" laki-laki itu tersenyum Manis memancarkan cahayanya. Saking silaunya aku bahkan tidak bisa melihat rupanya dan tubuhnya. Dengan refleks aku langsung menutup mataku dengan tanganku. Aku lupa jika aku sudah berjanji tidak akan melepaskan tangannya.
Aku menyadari tidak ada cahaya lagi di depanku. Aku segera membuka mataku dan naasnya aku sudah tidak melihat dia di depanku. Saat ku tau dia tidak ada hatiku rasanya hancur, Aku celingak-celinguk mencari dimana keberadaan dia. Aku berlari menelusuri ruangan yang serba putih ini tapi tetap saja aku belum menemukan dia.
Aku sudah lelah, aku capek, aku ingin teriak, aku ingin marah, tanpa sadar air mataku keluar. Aku membuka mataku betapa terkejutnya aku saat melihat atap kamarku yang sama seperti tadi saat aku menatapnya.
Nafasku terengah-engah, aku melihat ruangan ku sekarang. Benar, ini kamar ku. Ah sial ternyata tadi hanya mimpi. Sial sekali hidup ku, padahal aku sudah berjanji.
Kecewa? Tentu saja, tapi apa boleh buat? intu hanya mimpi dan tidak akan bisa terjadi di dunia nyata. Tapi aku pernah dengar orang berkata kalau mimpi bisa menjadi kenyataan. Yah, ku harap mimpiku tadi bisa menjadi kenyataan.
Aku kembali tidur tapi sebelumnya aku mematikan lampu kamarku agar bisa tidur nyenyak.
~~~~~~~~~~~
Keesokannya matahari pagi menembus masuk ke sela-sela jendela kamarku. Rasanya sangat malas bangun, aku masih ingin melanjutkan mimpi semalam tapi sialnya mimpinya malah tidak bisa di lanjutkan dan terganti dengan mimpi lain. Ck
Aku malas bergerak, aku menarik selimut ku untuk menutupi seluruh tubuhku begitu juga kepalaku. Rasanya sangat malas untuk berangkat ke sekolah
"Hey, bangun. Hari ini kan kamu harus sekolah."
Seseorang dengan suara yang tak asing di telingaku. Aku mencoba mencerna pikiranku. Palingan itu hanya halusinasi ku lagi, aku mencoba tidur kembali tapi suara itu kembali terdengar di telingaku tapi kali ini lebih jelas lagi
"Kalau kamu tidak segera bangun aku akan mencium kamu lalu menggelitik kamu, loh." Ucapnya lagi
Kali ini aku tidak mencoba mengelak halusinasi ku, aku membulatkan mataku besar lalu membuka selimut yang tadinya menutupi wajahku. Saat ku buka selimutku aku melihat dia di atasku. Iya, dia yang ada di mimpiku itu.
"GYAAAAA"
Teriakku tiba-tiba karna kaget akan kehadirannya di kamarku.
"Kamu, kamu, kamu siapa?" tuturku yang sudah berada di pojok kasur sambil melindungi tubuhku agar tidak di lecehkan olehnya. Tapi tunggu, kenapa aku panik begini?
Laki-laki itu hanya tersenyum ke arahku, lalu berkata "Cepatlah mandi dan sarapan. Aku tunggu kamu di sini."
Aku bingung, sebenarnya dia ini siapa? Bukannya dia ini orang yang sama yang ada di dalam mimpiku? tapi kenapa dia bisa ada di dunia nyata ku? jangan-jangan waktu dia menghilang, dia malah pindah dimensi lagi? hahaha maybe. Tapi aku malah mengira kalau dia ini adalah malaikat yang datang untuk menemani kesepian ku.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanyaku yang mulai menyingkirkan rasa panik ku
"Kan kamu yang memanggilku kemari, kamu juga sudah berjanji kepadaku untuk menjadi pendamping ku sampai kita keriputan dan memiliki rambut putih." Jelasnya
Apah? jadi mimpi itu benar nyata dong?
"Jadi, jadi kamu...?"
"Perkenalkan aku adalah Reno. Aku datang kemari untuk menemanimu." Ucapnya
Aku hanya tercengang dengan perkataannya.
Tok Tok Tok
"Nona bangun, nona harus sekolah." Bibiku datang mengetuk pintuku dan berteriak membangunkan ku
"IYA BI, AKU SUDAH BANGUN" teriakku
"Sudah, sana cepat mandi! Jangan diam lagi. Sebentar lagi kamu sudah terlambat loh," Balasnya
Aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Aku pun bergegas turun dari ranjangku lalu segera mandi.
••••••••••••••
Berhari-hari bahkan sudah beberapa bulan kami menjalani hari bersama. Semenjak kehadiran dia disini aku sudah tidak kesepian lagi. Dia selalu membuatku tertawa, dan selalu membuatku tersenyum sepanjang hari. Bahkan pernah bibiku pernah berkata kenaoa aku senyum-senyum sendiri setiap hari.
Tapi aku tidak peduli dengan omongannya, aku terus tertawa sepanjang hari bersama Reno. Dia selalu membawaku ke tempat yang indah dan nyaman. Terkadang juga kami pergi ke taman, lalu bermain di pantai, pokoknya apa yang aku inginkan dulu langsung terkabul berkatnya. Yah, walaupun hanya berdua saja.
"Non, belakangan ini nona terus tertawa. Nona bahagia karna apa?" tanya Bibiku disela-sela pekerjaan ku
Aku dan bibi sedang membuat kue. Aku pun mengatakan apa yang membuat ku bahagia. Aku menceritakan semuanya tapi anehnya bibi malah menatapku dengan tatapan datar namun menunjukkan kesan takut.
"Bibi kenapa sih?" tanyaku yang menyadari bibi berekspresi tidak menyenangkan
"No-nona bercanda kan?" tanya Bibi dengan basah yang tertatih
"Iya lah bi, aku tidak mungkin bisa seceria ini kalau bukan karna dia. Kekasihku itu." Ucapku dengan senyuman yang terus mengembang
Lagi-lagi bibi kaget dengan ucapanku.
"Nona, selama aku bekerja disini, aku belum pernah melihat laki-laki yang nona maksud itu."
Tanganku berhenti melakukan aktifitasnya. Aku tercekat, aku menoleh ke bibi lalu berkata, "Padahal dia selalu ada disini kok bi, masa ia bibi tidak melihatnya? sedangkan aku bisa lihat dia." Aku mencoba meyakinkan bibi dan juga menyingkirkan pikiran yang negatif tentang Reno
"Aku bersumpah nona, aku tidak pernah melihat laki-laki yang nona katakan itu. Bahkan saat nona tertawa aku hanya melihat nona tertawa sendirian, aku pikir nona sedang nonton televisi."
"DEG DEG"
Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Apa ini? rasa apa ini? kenapa rasanya sangat sakit dan menusuk?
"Nona, nona baik-baik saja kan?" bibi memegang lenganku
Air mataku berkumpul di kelopak mataku lalu ku balik badanku dan segera berlari ke kamar. Sepanjang jalan menuju kamar aku selalu meyakinkan diriku bahwa apa yang kupikirkan itu tidak sama dengan kenyataan.
"Pliss, ku mohon ini cuma pikiranku saja."
Ceklak
Aku membuka pintu kamarku dan melihat ke setiap sudut kamarku. Aku mencari sosok yang kucintai yang sudah membuat hari-hari ku sudah berwarna.
"Reno"
Aku memanggil dia dengan suara lantang. Air mataku mulai mengalir. Aku melangkah masuk
"Reno kamu dimana?" sahutku kembali
"RENO JAWAB AKU," kali ini aku berteriak. Rasanya sakit dan sangat menyesakkan
Pikiranku kacau, aku frustasi, aku menangis dan terus menangis. Dia pembohong besar, dia berjanji kepadaku akan menikah denganku sampai kita memiliki rambut putih dan memiliki keriput di seluruh tubuh, apa ini hanya kata-kata agar aku tidak sedih lagi? apa ini hanya angan-angan ku? apa ini hanya halusinasi ku?
"AAAAARGHH"
"RENO JAHAT, RENO PEMBOHONG BESAR, RENOOO hiks.... hiks"
TERIMAKASIH KARNA SUDAH MEMBACANYA:') jangan lupa di like dan komentar