"Kenapa aku bisa ada di sini" ucap ku pada Akmal
"Kamu tadi ketiduran, jadinya aku bawa ke sini" ucap Akmal santai
"Kalau begitu, antarkan aku pulang sekarang" ucap ku kembali
"Tunggu dulu dong, sayang, kita happy-happy dulu di sini"
Aku hanya diam, aku bangun dari tempat duduk ku, ku rasakan pusing di kepala hingga aku kembali duduk. Ku lihat Akmal dan teman-temannya tertawa ria di tempat ini, sesekali mereka melihat ke arah ku, aku pun tidak terlalu memperdulikannya.
"Sayang aku mau ke toilet" bisik ku pada Akmal
"Aku antar, ya, kamu, kan lagi pusing" ujar Akmal
"Bagaimana dia bisa tau, kan aku gak ada bilang kalau aku lagi pusing" (batin ku)
Aku pun menurut, akmal mengantarkan ku sampai ke depan toilet, aku masuk ke dalam toilet yang memiliki 3 bilik untuk buang air, aku pun memasuki salah satunya, aku yang tidak ingin buang air kecil maupun besar justru malah berpikir mengapa aku sampai bisa ketiduran seperti yang Akmal katakan tadi. Tak lama aku mendengar suara dua orang wanita di luar bilik yang mengatakan jika malam ini adalah malam terakhir untuk diriku bersama Akmal pacar ku, karena Akmal dan teman-temannya telah merencanakan hal buruk untuk diri ku, aku tahu yang mereka bicarakan itu adalah diri ku sebab sempat menyebutkan nama ku. Nama ku sendiri adalah Lalisa Permata, biasa di panggil Lisa, dan kedua wanita itu menyebutkan sebuah nama 'Lisa'. Aku yakin itu adalah diriku, meskipun nama Lisa itu tidak di pakai oleh satu orang saja, tapi tentang Akmal dan teman-temannya, apakah ada dua Lisa yang ia jadikan kekasihnya secara bersamaan, aku rasa sangat kecil kemungkinannya. Aku yang penasaran siapa mereka berdua, lalu mencoba membuka pintu sepelan mungkin tanpa suara dan aku berhasil, aku pun mengintip dari celah pintu yang sudah tidak terlalu tertutup rapat melalui sebuah kaca westafel di depan bilik toilet, ternyata mereka berdua adalah pacarnya teman Akmal yang sempat di kenalkan kepada ku sewaktu masih berada di Cafetaria tempat biasa aku dan Akmal bertemu. Bicara soal Cafetaria, aku tidak tahu mengapa sekarang malah berada di sebuah rumah besar.
Singkat cerita ternyata percakapan yang aku dengar di toilet tadi benar. Akmal dan teman-temannya berniat buruk pada ku, mereka semua rupanya telah mencampurkan obat tidur ke dalam minuman ku yang mereka pikir efeknya akan lama, tapi nyatanya tidak demikian, karena aku justru terbangun sebelum rencana mereka berjalan dan sepertinya rencana itu tidak akan pernah terjadi, sebab saat ini aku sudah berhasil meloloskan diri dari Akmal dan teman-temannya. Tanpa sengaja saat kembali dari toilet aku mendengar perdebatan di antara Akmal dan teman-temannya, mereka berdebat tentang siapa yang lebih dulu meniduri ku. Tanpa pikir panjang aku langsung berjalan menuju pintu belakang rumah sebelum mereka melihat ku, namun saat telah ada di depan gerbang samping kolam renang, ada yang berteriak aku lolos, aku yang tidak sempat melihat orang tersebut lalu bergegas membuka pintu gerbang samping rumah besar itu dan berlari sejauh mungkin ke arah hutan. Tentu saja Akmal dan teman-temannya mengejar ku, aku terus berlari tanpa henti sampai akhirnya ada seseorang yang membekap mulut ku.
"Sssstttt..." perintahnya dengan memperlihatkan jari telunjuknya yang berada di depan bibirnya.
***
Sudah 1 Minggu aku ada di rumah Salim, setiap harinya aku selalu membantu asisten rumah tangganya memasak makanan favoritnya, yaitu opor ayam. Salim adalah pria yang menyelamatkan diri ku dari kejaran Akmal dan teman-temannya waktu itu, dia yang kebetulan sedang berburu di hutan tanpa sengaja melihat ku sedang di kejar oleh 8 orang pria yang salah satunya adalah Akmal. Salim merupakan anak tunggal dari orang kaya raya, sejak kecelakaan maut yang menimpa keduanya orang tuanya, salim memutuskan menjual seluruh perusahaan besar miliknya kemudian mengasingkan diri dan tinggal di sebuah villa besar di daerah puncak yang terdapat di kota A ini, salim tinggal sendirian di temani oleh pelayan serta bodyguard yang berjumlah sekitar lebih dari 20 orang.
"Kamu ngapain di sini..." tanya Salim yang tiba-tiba saja datang mengejutkan diri ku
"Tidak..." jawab ku singkat
"Kamu rindu rumah...??" tanya Salim lagi yang ku jawab dengan anggukan
Salim diam sejenak kemudian menjelaskan jika kota A ini sangat jauh dari rumah ku, tempat ini ada di luar kota, aku tidak kaget dengan penjelasan darinya karena waktu itu aku bersama Akmal berada di Cafetaria di kota D, lalu ketika aku bangun aku telah berada di sebuah rumah besar yang ternyata adalah sebuah villa di puncak di kota A. Salim menawarkan diri untuk mengantarkan ku kembali ke kota D tapi entah mengapa aku merasa nyaman berada di tempat Salim, hingga aku memutuskan untuk tinggal juga di sini, kebetulan Salim memiliki paviliun untuk para pelayannya tinggal dan aku memohon pada Salim untuk di izinkan tinggal di sana. Salim memberikan izin itu pada ku.
2 bulan berlalu, aku mulai mengalami kejadian-kejadian aneh di paviliun Salim, hampir setiap malam aku selalu mendengar suara teriakan orang minta tolong, aku bahkan pernah melihat kejadian di rumah utama, peralatan makan yang telah di gunakan untuk sarapan pagi terbang sendiri menuju ke dapur, namun saat aku mengucek mata, ternyata semua peralatan makan itu di bawa oleh seorang pelayan dan lain sebagainya, intinya selama 2 bulan ini berlangsung dengan berbagai hal aneh yang terjadi. sesekali aku menceritakan kejadian aneh itu pada Salim, tanggapannya pun selalu saja sama meski kejadian yang ku ceritakan berbeda-beda, salim selalu mengatakan aku berhalusinasi karena terlalu kelelahan sebab sering membantu pekerjaan para pelayannya.
***
1 tahun kini telah berlalu, terasa sangat singkat tinggal di tempat ini, villa Salim yang jauh dari keramaian serta tempatnya yang teramat sangat tentram dan damai bisa jadi penyebab utama tidak terasanya waktu yang telah aku lewati di sini. Suatu hari aku pergi berjalan-jalan bersama Salim, dia membawa ku melihat hutan yang sama sekali belum pernah ku jalani, letaknya juga sedikit jauh dari villa dan hari itu juga Salim melamar ku di tengah hutan itu. Sebelumnya aku lupa mengatakan jika kami sudah 3 bulan berpacaran selama 1 tahun aku tinggal di paviliunnya, itu artinya hanya butuh waktu 7 bulan kami saling mengenal satu sama lain, padahal dulu saat bersama Akmal aku butuh waktu 2 tahun untuk mengenalnya, baru setelah itu aku bisa menerima cinta Akmal, yang malah berakhir dengan kekecewaan, aku terlalu polos untuk bisa lebih dalam melihat kepribadian Akmal yang selama ini baik, dan hubungan kami harus terhenti meskipun sudah menginjak usia 3 tahun lamanya, tapi sekarang aku sudah berhasil move on berkat sifat Salim yang sangat baik dan selalu bersikap sopan terhadap ku, itulah hal yang membuat diriku nyaman dan merasa aman jika berada di dekatnya. Tadinya aku ingin langsung menerima lamaran Salim, namun Salim ingin diriku meminta izin terlebih dahulu dari kedua orang tuaku, aku bingung dengan keinginannya itu sebab kami berada di tempat yang jauh, lalu dia pun mengatakan akan mengantarkan ku kembali ke rumah dengan selamat, bersamaan dengan itu aku mendengar suara kedua orang tua ku tepat ada di belakang ku, mereka memanggil-manggil nama ku, aku menoleh, mereka berdua dengan penuh rasa kegembiraan meluluk ku bersamaan. Aku pun dengan senangnya melihat mereka berdua juga ada di tempat ini langsung memeluk mereka dengan antusias melepaskan kerinduan yang telah 1 tahun ini tidak bersua, dan setelah acara peluk memeluk itu selesai aku bermaksud memperkenalkan Salim pada kedua orang tua ku, namun aku tidak melihat keberadaan Salim ada di belakang ku, sebab sebelum aku menoleh ke belakang sewaktu aku mendengar suara kedua orang tua ku memanggil-manggil tadi, salim ada di hadapan ku, tentu saja seharusnya saat aku menghadap kedua orang tua ku serta memeluk mereka, salim ada di belakang ku, bukan. Tapi tidak ku temukan keberadaannya sama sekali, aku pun memanggil-manggil namanya, membuat kedua orang tua ku kebingungan, aku pun mengatakan jika ada seorang pria bersama ku di sini, tapi kedua orang tua ku malah mengatakan jika mereka melihat diri ku hanya sendirian di sini.
***
3 Bulan Kemudian
"Akhirnya kita menikah juga" ucap Salim
"Iya..., dan aku sangat bahagia sekali, mas" ucap ku tersenyum bahagia
"Kamu akan selamanya menjadi ratu ku" ucap Salim kemudian
"Tentu saja, pangeran ku"
Tentu para pembaca penasaran kan apa yang terjadi, akan ku tuliskan cerita itu di sini melalui dimensi yang berbeda, saat kedua orang tua ku mengatakan jika aku hanya sendirian, aku justru mengajak mereka ke villa milik Salim, hal mengejutkan terjadi, villa itu tidak berpenghuni, bahkan catnya pun terlihat kusam tidak terawat, pohon rindang mengelilingi villa tersebut menambah kesan angker, seluruh halaman di penuhi oleh rumput ilalang yang sangat tinggi, terdapat pula tanaman rambat di beberapa bagian sudut villa yang tingginya sudah mencapai lantai 3 villa, benar-benar tempat yang terbengkalai dan tidak layak untuk di tinggali. Aku termangu menatap tempat itu dari luar gerbang.
Kedua orang tua ku sepertinya paham apa yang telah terjadi pada diri ku, mereka berdua langsung mengajak ku untuk pergi meninggalkan tempat itu, ketika di perjalanan mereka menceritakan bahwa sudah hampir 5 tahun aku tidak pulang ke rumah, terakhir kali mereka mendengar kabar jika Akmal dan teman-temannya termasuk 2 orang wanita yang bersamanya pergi ke puncak di kota A mengalami kecelakaan mobil sampai mobil mereka masuk ke dalam jurang, tidak ada satu orang pun yang selamat bahkan Akmal juga meninggal ketika dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tapi Akmal sempat mengatakan kepada pihak tim SAR yang tidak menemukan diri ku, jika aku ada di hutan tempat kedua orang tua ku menemukan diri ku tadi. Sejak saat itulah di lakukan pencarian terhadap diri ku, namun setelah 2 bulan pencarian tanpa hasil, tim pencari menyatakan bahwa aku telah hilang atau mati tanpa jejak, mereka menghentikan pencarian ku, namun kedua orang tua ku yang yakin kalau diri ku masih hidup, mereka memutuskan untuk tinggal di kota A dan setiap harinya melakukan pencarian di hutan itu tanpa henti, sampai akhirnya mereka melihat ku sedang berdiri di bawah pohon rindang, sempat mereka pikir aku adalah hantu, namun begitu melihat kaki ku menginjak tanah, mereka berdua yakin itu adalah anak mereka 'Lalisa Permata'. Dalam perjalanan menuju kota D tersebut ternyata merupakan hari pertama dan terakhir kami bertiga bertemu setelah 5 tahun mereka kehilangan diri ku. Mobil kami mengalami kecelakaan hingga akhirnya aku pergi untuk selama-lamanya dari mereka berdua. tepatnya kejadian itu bersamaan dengan diri ku yang meminta restu untuk menikah sebab perlahan-lahan aku mulai sadar siapa Salim, tapi tetap saja aku meminta restu itu dari kedua orang tua ku, mereka memberikan restu itu, yang tanpa mereka ketahui ada Salim di tengah jalan, menghalangi jalan kami dan kecelakaan terjadi. Dan kini aku sudah bahagia bersama dengan Salim suami ku.
TAMAT