Aku masih teringat kala itu, diriku yang lugu ingin menjadi seorang dokter untuk menyembuhkanmu.
Kita selalu bersama di atas bukit itu, angin sejuk masih bisa ku rasakan dari sela-sela helai rambut. Ketika kita berlari bersama, kau tersenyum lepas, aku masih teringat akan euforia saat itu, sampai ketika....
Kamu terjatuh, kamu menangis membuatku cemas hati. Aku kira semua akan baik-baik saja, tetapi setelah kejadian itu dirimu harus duduk di atas kursi roda untuk selamanya.
Aku menangis di atas bukit itu pada langit keorenan, disamping mu, kamu menyeka air mataku dengan senyuman manis itu.
"Sudah, sudah Yuuma, aku baik-baik saja. Ini semua bukan salah mu, ini adalah takdir ku," ujar Eva tersenyum manis dengan menenangkan ku dengan usapan lembutnya.
Tangis ku makin hebat, diriku tenggelam dalam pelukannya.
Langit jingga yang biru.
~~~
Bertahun-tahun kita berjuang bersama, sekolah yang sama. Namun, aku harus berpisah dengamu di perguruan tinggi demi mewujudkan impian ku menjadi dokter untuk menyembuhkanmu. Aku hanya menggenggam harapan itu, demi bisa menyembuhkan mu.
Sekian waktu berlalu, kita tumbuh dewasa dan aku menjadi dokter bedah, aku terus mempelajari tentang penyakit mu, tapi entah mengapa aku menjadi tertarik dengan pembedahan otak. Apapun, aku pelajari demi melihatmu sembuh kembali.
~~~
Di atas bukit itu lagi, kami bernostalgia bersama lembutnya angin jingga. Kami bercanda dan tertawa. Aku, aku menangis kembali ketika mengingat awal kali tragedi merenggut kebebasanmu. Kamu tetap sama. Sentuhan itu, harum mawar lembut. Kamu menenangkan ku dengan hangat. Aku pun tersenyum.
Saat ini, angin menerpa cukup menenangkan. Getaran kursi roda berbisik pada tangan ku. Perlahan, aku mendorongnya dengan tabah, menatap langit dengan mengukir senyuman.
"Yuuma, kita akan selalu bersama, ya?"
"Kita akan selalu setia, ya?"
Eva terdiam sejenak. Tangan kirinya mulai menggapai jari-jari kanan ku. "Janji, ya?"
~~~
Esok hari, kami akan menyaksikan pesta kembang api di tepi pantai.
Rasa senang bersamamu tidak pernah pudar dalam hati ku, ia terus tumbuh tiap harinya. Benar adanya, cinta tumbuh karena terbiasa, tak peduli seberapa menyebalkan. Mungkin sudah saatnya, sudah saatnya aku meminangnya.
"Kalau begitu, malam ini. Ini akan menjadi malam yang spesial!"
Untuk mempersiapkan segalanya, aku mulai berkelana di berbagai toko di kota kecil ini. Sinar matahari memang agak menusuk kulit, tapi entahlah aku terasa dingin karena bahagia. Ketika seseorang merasa sangat bahagia, tubuh akan menjadi dingin, entah mengapa?
Hari sudah menjadi gelap sejak aku sibuk mempersiapkan. Aku bisa melihat batang hidung mu dari kejauhan. Menggunakan kimono warna hijau bercorak daun.
Mata kami saling terkoneksi dari kejauhan
~~~
Senyuman di matanya memiliki kesan nyaman, tentram, dan hangat. Aku pun membalasnya.
Waktu masih cukup lama, kami berkeliling pada stan² makanan. Bau amis, manis gulali, dan saus teriyaki. Angin malam terasa agak panas.
Kami tertawa sesekali sambil memperhatikan lalu lalang manusia mulai dari orang tua hingga anak-anak. Ada yang menenteng sekantung plastik ikan, ada yang mengecap permen apel, dan ada juga yang menangis sambil di tarik-tarik ibunya.
"Oh ya, Yuuma. Lebih baik kita cari tempat untuk menyaksikan kembang api. Lihat di sana, dekat pohon kelapa itu masih kosong!" kami pun beranjak menuju tempat yang dimaksud. Pasir agak memperlambat gerak kami.
Beberapa waktu berlalu, lima menit sebelum peluncuran kembang api.
Aku memegang perlahan tangan lembutnya, meletakan cincin emas sederhana pada telapak tangannya.
"Mari kita menikah."
~~~
Hari pernikahan telah di tetapkan. Segala persiapan pun mulai dilakukan. Aku tentu tak sabar tiap detiknya menunggu hari kedatangannya.
Hari ini di waktu senja, kami memutuskan untuk mengambil beberapa poto untuk pernikahan nanti.
Dari mobil aku mendorong Eva perlahan. Aku melihat beberapa orang membawa senapan untuk menembak burung, anak-anak yang bermain dengan gelembung, dan beberapa orang seperti kami. Kami masuk lebih dalam ke hutan tempat biasa kami bernostalgia.
Aku diam sejenak."Ya ampun! aku melupakan kameranya!"
"Kalau begitu, aku akan tunggu di sini," ucap Eva sambil tersenyum.
Tanpa isyarat lagi aku berbalik arah sambil tersenyum kepada Eva.
"Dimana kameranya?" aku berusaha mencari di dalam tas. "Nah, ini dia!"
*DUAAR!*
Aku mengelus dada sejenak. "Astaga, buat kaget saja!" tanpa pikir lagi aku segera menuju tempat Eva berada.
Aku berinisiatif sambil berjalan dengan merekamnya.
Di depan ada belokan, Eva ada di sana. Senyum mulai terukir perlahan di wajahku. Namun....
Kepala Eva sudah dilumuri darah segar, badannya terkulai di kursi roda. Jari telunjuknya sempat terangkat, jatuh tak lama.
Peluru tak bersalah itu menapak pada objek yang salah.
Sekitika semua kebahagian itu sirna, tak ada lagi raut ceria. Tak ada lagi raut hangat itu...
"Eva.."
~~~
Kamu tahu? apa yang paling menyedihkan setelah ini? aku terpaksa menjalankan operasi pengangkatan peluru di otak mu itu. Kamu tahu? bagaimana rasanya? ini sungguh...
Tidak ada dokter bedah yang tersisa di rumah sakit ini. Semua sedang sibuk menangani.
*BIP BIP BIP*
Lampu ruang operasi dinyalakan.
"Tekanan darah, 128 over 64," ujar salah satu dokter pembantu.
Aku, tak tahu harus mengatakan apa. Tangan, hati, bibir bergetar. Aku sangat takut, takut....
Air mata selalu mendobrak untuk keluar, tapi dengan sekuat tenaga jangan sampai itu terjadi. Aku, aku harus fokus saat ini, demi menyelamatkan... mu
"B-baiklah, ambilkan sudip. Saya a-akan memotong piramidanya."
*BIP BIP BIP*
"Tekanan darah, 100 over 45."
Berjam-jam waktu berlalu. Ruangan ini terasa sangat dingin untuk hari ini, yah, bagaimana ya?
~~~
"Yuuma, kita akan selalu bersama, ya?"
Pasti
"Kita akan selalu setia, ya?"
Pasti
"Janji, ya?"
Monitor itu memainkan nada bip yang panjang dengan tanda garis lurus. Aku memeluk dirinya untuk yang terakhir kalinya. Oh, di jari jemarinya cincin pemberianku.
Mataku tak kuat lagi menahannya, aku menangis sejadi-jadinya.
"Aku berjanji...."