namaku adalah jenera malik atau biasa dipanggil jane.aku tinggal bersama putra ku yang bernama arron malik. Selamat tinggal dikampung kecil ini aku tidak pernah di temani oleh suami ku. Hingga semua orang berfikir aku adalah wanita simpanan.
Pagi itu aku sedang mempersiapkan srapan untuk putra ku arron.ku dengar ada seseorang sedang memanggil ku dari luar. Setelah aku keluarga membuka pintu ternyata itu adalah sani. Sani adalah seorang wanita muda yang sudah ditinggalkan pergi oleh ke-dua orang tuanya. Dari kecil sani dibesarkan oleh mbok nah.
Tapi semenjak meninggal nya mbok nah. Sani menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaan mbok nah disini.
" Masuk san, kamu sudah sarapan apa belum .. Kalau belum bareng sarapan sama arron putra ku " Kata ku kepada sani. Tapi sami menolak
" Aku sudah sarapan kok mbak jane, aku langsung bekerja aja ya dibelakang. Oh ya mbak ini waktunya belanja sayur kepasar karena kemarin saya lihat banyak bumbu dan juga sayuran yang sudah habis stoknya " Kata sani dengan sedikit bergetar.
Melihat sikap sani yang sedikit berbeda hari ini. Aku lantas bercoba bertanya dengan sani.
" Sani apa kamu baik - baik saja hari ini? "Tanya ku dengan penasaran.
" Aku gak kenapa - kenapa kok mbak . Hanya saja aku sedikit pusing " Kata sani dengan sedikit bergetar.
" Aku ambilkan obat untuk mu ya, biar pusingnya bisa sedikit reda. Saya gak mau kamu sakit. Karena kamu sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri disini.jangan sungkan - sungkan kepada ku " Kata ku kepada sani.
Selesai sarapan aku pun mengantar putraku kesekolah menggunakan mobil pribadiku yang dibelikan oleh suami ku. Aku juga sekalian mengajak sani kepasar untuk berbelanja.
SEKOLAH SD 01 BANGSA
Sesampainya disekolahan arron. Aku pun melanjutkan perjalanan ke pasar bersama sani. 5 menit kemudian kami pun sampai di pasar.
Entah apa yang terjadi orang - orang memandang aneh kearah sani dan juga aku. Dengan santai aku hanya memasang wajah cuek. Karena biasanya memang seperti itu.
" Bu tolong timbang akan saya empon- empon lengkap 5000,bawang merah 1 kg, bawang putih seperempat saja " Kata ku dengan sopan. Pendatang itu pun melayani pesanan ku lalu setelah itu kami pergi ke toko daging Langganan ku. Yang bernama ko ali.
" Ko daging sapi 2 kg dan daging ayam di potong 2 kg, terus yang difilet 1 kg aja" Kata ku dengan melihat - lihat sayur yang akan aku beli.
Tampa ku sadari sani yang sedari tadi disampingku sudah berkeringat dingin melihat ko ali. Begitu juga pandangan ko ali ke sani .
" Sudah ini pesanan anda mbak jane . Saya kasih bonus balungan sapi sedikit buat kuah bakso " Kata ko ali kepada ku.
"Terima kasih banyak ko " Kata ku dengan tersenyum ramah. Aku pun memberikan daging itu kepada sani.
" Sani kamu ingin masak apa biar aku belanjakan sayur untuk stik mu di rumah " Kata ku kepada sani. Tapi sani sepertinya sedang memikirkan hal yang lain. Aku pun menepuk pundak sani dengan pelan.
" Kamu kenapa sih sani, kamu sedang ada masalah ya.? Kalau ada kamu bisa cerita sama saya. Lusa suami saya juga akan pulang. Kami pasti akan membantumu " Kata ku dengan lembut kepada sani. Tapi lagi dan lagi sani hanya menggelengkan kepalanya. Aku pun tidak memaksanya lagi untuk bercerita.
Singkat cerita kamu pun sudah usai berbelanja dipasar. Tiba-tiba aku ingin makan bakso di tempat langganan ku dan juga sani. Baru saja samapai didepan kedai bakso. Sani pun merasa mual ingin muntah.
Sani pun berjalan menjauh dari kedai itu. Aku pun dengan panik mengikuti sani dari belakang." Kamu kenapa san? Kalau sakit kita petgi kerumah sakit aja ya? Soal biaya kamu jangan khawatir biar saya yang membayarnya " Kata ku menawarkan kepada sani.
" Tidak usah mbak aku hanya kelelahan saja. Karena sepulang dari sini aku mengambil pekerjaan sampingan yaitu setrika cuci baju tetangga " Kata sani berbohong.
16:30
Sani sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya. Sehingga sani izin pulang lebih awal agar bisa beristirahat karena dia kurang enak badan. Aku pun mengizinkan dia pulang terlebih dahulu karena memang wajahnya sangatlah pucat.
Sani berjalan pulang menyusuri gang kecil didekat perumahan warga. Sesampainya dirumah sani pun segera mandi lalu membersihkan dirinya.
" Mbok nah aku ingin ikut mbok nah saja. Sani gak kuat bila hidup seorang diri disini.aku sangat tersiksa mbok " Kata sani dengan menagis tersedu-sedu.
Tak lama dari itu terdengar suara ketukan pintu dari ruang tamu. Dengan cepat sani pun membuka pintu tersebut. Setelah pintu terbuka wajah wani menjadi ketakutan. Ternyata yang datang adalah ko ali sang penjual daging dipasar.
" Koko mau ngapain kesini lagi ? " Tanya sani ketakutan hendak ingin menutup pintu tapi ditahan oleh kp ali. Dengan cepat ko ali masuk kedalam rumah. Ia mengunci pintu tersebut. Lalu melakukan hal yang tidak senonoh kepada sani.
" Jangan ko jangan lakukan itu lagi saya mohon ko " Kata sani dengan diiringi tangisannya. Ko ali pun menampar pipi sani hingga merah cap telapak tangannya. Sani pun tak beraniembetontak lagi. Dan akhirnya adegan suami istri itu terulang beberapa kali.
#
Merasa ada yang sani sembunyikan jane pun mencoba mencari tahu lewat kiri kanan tetangga nya sani.
" Bu Romlah " Panggi ku dengan semangat melihat keberadaan bu Romlah .
" Ada apa dek jane, kok tumben jalan - jalannya sampai sini sih " Kata bi Romlah dengan penasaran.
" Pengen muter - muter kampung aja bu. Bu Romlah dari mana? "Kata ku dengan tersenyum ramah.
" Dari pasar dek, mau beli daging eh kok ali udah tutup jam segini .padahal anak - anak ku lagi pengen makan rawon loh dek " Kata bu Romlah kecewa
" Masak sudah tutup sih bu. Tadi saya kepasar toko jagalnya masih buka tuh. Mungkin dia sedang ada urusan makanya tutup lebih awal. Emm bu Romlah tahu sani cucunya mbok nah gak? " Tanya lu dengan pelan.
" Tahu lah dek selain dia terkenal dengan ke ramahnya, dia juga anak yang rajin. Memanganya ada apa ya dek jane " Tanya bu Romlah penasaran.
" Tidak apa - apa kok bu. Saya cuma penasaran aja dengan sani. Karena beberapa hari ini saya melihat dia itu wajahnya pucat sekali. Saya khawatir dengannya. Ditambah mau saya ajak periksa dia tidak mau " Kata ku berkata jujur.
Sedang asik berbicara dengan bu Romlah tiba-tiba bu kokom pun datang dengan membawa rantangan untuk diberikan kepada sani.
" Hei sedang apa kalian disini. Apa ada gosip baru " Kata bu kokom dengan penasaran.
" Kami sedang membahas sani " Kata bu Romlah
" Loh memang nya ada apa dengan nak sani jeng " Kata bu kokom lagi
" Itu..... " Kata ku terputus karena ada beberapa warga sedang membawa kayu dan beberapa peralatan tajam lainnya. Kami pun bertanya dengan kerumunan masa tersebut.
" Ada apa ini bapak - bapak kok rame begini sih" Tanya bu kokom
" Kami sedang melakukan penggerebekan kepada salah satu warga kita. Karena kita dapat bukti dan saksi jika ko ali sering diam- diam masuk ke rumah sani. Hingga terdengar suara teriakan " Kata salah satu warga tersebut.
" Apa itu pasti hanya fitnah, sani adalah gadis baik - Baik Pak " Kata ku tak percaya.
Semua warga pun segera mendatangi rumah sani. Hingga beberapa orang sudah berjaga mengitari rumah sani.
Tok tok
Sani dan ko ali pun terkejut me dengar suara ketukan pintu. Ko ali pun mengancam sani jika dia berkata sembarangan tentangnya dia pasti akan mati. Dengan rasa ketakutan sani pun menyetujuinya.
" Ada apaini pak kok banyak warga begini " Tanya sani dengan tubuh di penuhi memar dan juga ada memar di bagian mata sani.
" Katakan pada kami dia berada dimana 📍❓ jangan khawatir kami akan melindungi mu " Kata pak lurah.
" Dia...... Sembunyi di dalam pak " Kata sani jujur. Semua warga pun masuk kedalam mencari keberadaan ko ali. Setelah ditemukan ko ali pun dihajar masa hingga bapak belur.
" Awas kau sani akan ku habisi kau " Teriak ko ali dengan marah. Aku pun memeluk sani.
" Tenang dia sudah di tangkap sani jangan takut lagi .kamu akan bersama dengan kami.kenapa kamu gak bercerita berterus terang dengan ku " Kata ku menenangkan sani.
" Dia mengancam ku mbak, bahwa dia menyiksa ku. Aku tidak ingin membebani siapa pun. Aku takut mbak aku takut. Masa depan ku juga sudah hilang " Kata sani sambil menangis histeris.
Sebulan kemudian
Sani yang sudah mulai tenang pun mendapatkan dukungan dari ku. Aku memberikannya modal untuk berusaha. Sani memilih membuka warung makan dan kopi. Karna sani mewarisi bakat masak dari mbok nah. Semenjak kejadian itu juga kabar ko ali tidak terdengar lagi.
Rumah yang ditinggalin sani kini sudah direnovasi oleh bantuan para warga. Dukungan yang penuh dari sekitar membuat sani jadi bersemangat kembali untuk melanjutkan hidupnya yang sempat redup sebentar.
Semenjak kejadian itu juga aku dan arton diboyong ke Jakarta oleh suami. Suami ku tidak ingin arton tinggal di lingkungan yang tidak baik. Oleh karena itu suami ku lebih memilih memboyong kami pergi dari kampung itu. Rumah v kamu sementara dibiarkan kosong joka ada yang minat kami juga akan menjualnya.
TAMAT