Note : Real life
Kisah ini di ambil dari kehidupan sehari-hari Seorang istri yang merasa dirinya tidak pernah di anggap oleh sang suami, sehingga dia tidak pernah merasa nyaman setiap kali bersamanya.
Safa adalah seorang karyawan di pabrik sepatu yang bernamakan PT, yaitu "PT JX".
Dia bertemu dengan seorang pria yang menurutnya lumayan manis, dan humoris, dia juga sangat suka menggodanya.
Hari demi hari mereka pun semakin dekat dan saling jatuh cinta satu sama lain, sehingga pria itu terus menempel padanya, sampai kerja sift malam pun dia selalu tidur di sebelahnya ketika jam istirahat tiba.
Pria itu bernama Rama, dia juga merupakan karyawan di PT itu, hanya saja berbeda divisi.
Suatu hari Rama mengajak Safa ke rumahnya dan mengenalkan dia pada ke dua orang tuanya, ketika orang tua safa mengetahui dia telah berkunjung ke rumah seorang pria mereka marah besar, dan merasa telah gagal mendidik anak.
Setelah kejadian itu, Rama terus-terusan meminta Safa untuk segera menikah dengannya, tapi safa tidak menjawab, dia hanya terdiam.
Setelah safa berpikir bolak-balik, akhirnya dia berniat untuk mengiyakan kemauan Rama, karna dia takut jika mereka berlama-lama pacaran, mereka akan khilap.
Akhirnya ayah Rama memutuskan untuk menemui orang tua Safa dan mengikatnya dulu dengan cincin pertunangan.
Orang tua Safa sudah menentukan tanggal pernikahan, yaitu safa dan Rama akan di nikahkan pada tgl dan bulan dimana safa di lahirkan, yaitu sekitar empat bulanan lagi mereka akan menikah.
Empat bulan kemudian Safa dan Rama pun menikah, dengan acara yang sederhana, mereka hanya melangsungkan akad tanpa resepsi.
Seperti kebanyakan pengantin baru lainnya, setelah akad selesai merekapun tidur bersama, dan melakukan hubungan suami istri.
Setelah menikah, kehidupan mereka berubah 190 derajat, Rama yang tadinya menempel terus pada safa sehingga membuatnya merasa malu di hadapan atasannya, sekarang dia berubah menjadi cuek.
Itu membuat Safa merasa tidak nyaman, saat mereka sampai di tempat kerja setelah Rama memarkirkan motornya mereka berjalan bersama, tapi Rama sambil memainkan HPnya seperti sengaja berjalan dengan cepat dan mendahului Safa.
Safa mencoba menyesuaikan langkahnya dengan Rama, dan mendekati suaminya itu.
Dengan ragu Safa mencoba menggandeng tangannya, tapi di tolak halus olehnya, Rama berpura-pura mengangkat tangannya dan menyingkirkan tangan Safa dengan perlahan.
Safa merasa kecewa, dia menghentikan langkahnya lalu berjalan menjauh dari Rama.
Setelah sampai di gedung tempat kerja mereka, mereka pun berpisah karna tempat kerja mereka berbeda meskipun masih satu gedung.
"Aku masuk ruangan dulu ya," Ucap Rama.
Safa hanya tersenyum dan mengangguk.
Ketika bekerja, Safa melihat suaminya Rama sedang mengobrol dan bercanda dengan karyawan lain, hatinya merasa panas, wajarlah yang namanya istri pasti cemburu liat suaminya mengobrol dengan wanita lain sembari colak-colek pinggangnya.
Tapi Safa berusaha menahan rasa cemburunya, setelah pulang kerja di perjalanan dengan menaiki kendaraan beroda dua Safa merasa kedinginan dia memeluk suaminya, tapi suaminya melepaskan pelukan Safa.
Hati Safa semakin perih wajahnya merah padam karna menahan marah.
Setelah sampai di rumah, Safa langsung pergi ke dapur memasak untuk makan malam mereka berdua, sedangkan keejaan suaminya setiap pulang kerja hanya memainkan HPnya sambil merokok dan ngopi.
Setelah selesai memasak Safa langsung mandi shalat ashar.
Setiap hari mereka berangkat pagi pulang sore, terkadang pulang telat nyampe rumah mhagrib.
Seperti biasa besok paginya mereka pergi bekerja.
"A, a Rama," Tiba-tiba ada yang memanggil rama dari arah belakang.
Safa pun menoleh, ternyata dia fuji teman seline-nya dulu waktu di gedung 4 karna setelah menikah Safa di pindahkan ke gedung 3 satu gedung dengan suaminya.
"A lihat deh, ini HP ku kenapa ya kok gini, aa bisa perbaikin gak?" Kata fuji sembari mendekat pada Rama.
"Coba aku lihat," Kata Rama.
Safa hanya bisa melongo melihat mereka berdua, dia berasa jadi nyamuk, dan gak di anggap keberadaannya.
"Ini tuh harusnya gini, terus kamu giniin aja," Rama membantu memperbaiki HP fuji sekalian membantu memperbaharui aplikasi yang ada di HP-nya.
Fuji adalah gadis yang cukup menawan dia punya body yang bagus dan rambutnya yang panjang lurus, dia juga suka bermake-up tidak seperti Safa yang tidak memakai polesan apapun di wajahnya.
Fuji semakin mendekat pada Rama dan bergelayutan di tangannya, dia menggandeng tangan Rama dan tertawa bersama.
Setelah sampai di belokan arah ke gedung tempat kerjanya Safa, dia mempercepat langkahnya tanpa menengok ke arah Rama, dia berjalan sambil menangis.
Rama mencoba menghentikannya, "Bukan kesana, tapi ke arah sini, ikut aku ke ruanganku dulu, waktu cekrolnya masih lama."
"Aku mau langsung ke line aja," Jawab Safa sembari memalingkan muka.
Dia pun menepis tangan suaminya dan setengah berlari masuk gedung, Safa langsung pergi ke toilet, dia membasuh mukanya dan menepuk-nepuk pipinya, dengan maksud supaya tidak kelihatan oleh orang lain kalau dia habis menangis.
Sepulang dari kerja seperti biasa dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, setelah hatinya merasa sedikit lebih tenang Safa mencoba mengobrol dengan Rama, "Apa kamu mencintaiku?" Tanyanya dengan tatapan yang terlihat kosong.
Dengan santainya Rama menjawab, "Iya, tentu saja aku mencintaimu."
"Lalu kenapa perlakuanmu padaku berbeda dengan perlakuanmu pada wanita lain, apakah kamu terpaksa menikahiku, karna sudah terlanjur?" Lirih Safa sambil menangis.
"Apa yang kamu bicarakan, tidak, bukan seperti itu." Ucap Rama seraya memeluk Safa.
Safa melepaskan pelukan Rama, dan berlalu ke kamar, dia pun merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya untuk tidur.
Subuh sekitar jam 03.30, Safa terbangun, lalu pergi ke WC untuk mencuci baju, setelah selesai, lanjut mencuci piring dan menghangatkan air untuk mandi suaminya, begitulah setiap hari dia menjalani kehidupannya, sebelum berangkat dia menjemur pakaian dulu, lalu menyiapkan bekal untuknya dan suami.
Hari ini Safa tidak banyak bicara, dia juga tidak mengulangi tingkahnya yang ingin bermanja pada suaminya, kali ini dia berjalan di belakang Rama.
"Ayo, ke ruanganku dulu," Kata Rama.
Safa tidak merespon, dia mengekor di belakang Rama, di ruang kerjanya Rama, ada beberapa teman Rama yang sedang sarapan pagi.
"Kamu duduk di sini," Rama memundurkan kursi kerjanya supaya Safa bisa duduk di sana.
Safa mengambil HP dan pura-pura memainkan HP-nya, untuk menyingkirkan rasa malunya, karna hanya dia sendiri perempuan di sana, semuanya laki-laki.
Salah satu teman kerja Rama menghampiri Safa dan menyapanya, "Halo, teteh istrinya A Rama ya?"
Sontak Safa mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk memandang layar HP yang mati.
"Iya," Jawabnya.
"Salam kenal, aku Sandi," Ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya.
Safa melipatkan kedua tangan untuk membalas sapaannya, "Salam kenal,"
"Teteh lucu ya," Kata Sandi sambil tersenyum.
Safa merasa heran, dimananya yang lucu.
Sandi mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Safa, dia bermaksud menemani Safa yang dari tadi duduk sendirian.
Sedangkan Rama suaminya sedang asyik mengobrol dengan teman kerjanya yang lain.
Waktu cekrol pun sudah tiba, Rama dan teman-temannya yang ada di ruangan itu berhamburan ke luar ruangan untuk cekrol tidak terkecuali Safa.
"Teteh cekrol di sana ya?" Tanya Sandi.
"Iya, aku duluan ya," Jawabnya
Sandi melambaikan tangan dan tersenyum.
Line Safa lebih dulu di pulangkan, Rama mengirim pesan supaya dia ke ruangannya dulu untuk menunggu Rama, tanpa basa-basi Safa langsung melangkah menuju ruangan Rama, Rama sudah berdiri di depan pintu ruangannya menunggu Safa.
"Ayo masuk,"
Safa pun langsung masuk.
"Sini," kata Rama menepuk-nepuk lantai di sebelahnya.
Safa menghampirinya dan berjongkok di sebelah Rama.
Rama terlihat sedang mengerjakan sesuatu bersama teman-temannya.
"Beginilah pekerjaan kami setiap hari, mengoleskan elem ke afer-afer ini," Jelas Rama.
(Afer adalah bahan mentahan sepatu sebelum di produksi).
Safa hanya diam saja tidak merespon omongan Rama, setelah beberapa saat Rama keluar ruangan entah kemana, sedangkan Safa di biarkan sendiri bersama teman-teman cowoknya.
"Teteh kenapa diam saja?" Tanya Sandi.
"Gapapa," Jawabnya.
"Eh, safa kamu gak usah merasa gak nyaman sama kita di sini, kita adalah temannya Rama, yang berarti teman kamu juga." Kata salah satu temannya Rama yang bernama Asep.
"Iya A Asep," Kata Safa yang memang sudah mengenal Asep karna dia juga sering bolak balik ke gedung 4 tempat kerja Safa sebelumnya.
Ketika pulang kerja, sebelum tidur Safa bertanya pada Rama, "Kenapa kamu tidak mau jika aku menggandeng tanganmu, atau memelukmu waktu di motor?"
"Aku malu safa,"
"Malu?! Kenapa gak dari dulu malunya? waktu masih pacaran, kamu gak pernah malu tidur di sampingku, dan bersikap manja padaku di depan semua orang bahkan di depan atasanku sendiri."
"Aku gak tahu, rasanya berbeda aja, setelah menikah rasanya canggung, maafkan aku."
Safa tidak memperpanjang masalah meskipun batinnya terasa nyeuri.
Hari minggu karna mereka libur bekerja, mereka berencana main ke rumah temannya Rama.
Di sana, terulang lagi Safa di biarkan sendiri, sementara Rama asyik mengobrol dengan teman ceweknya, Safa merasa kesal dan ingin cepat pulang saja.
Begitulah setiap kali mereka pergi berlibur, tidak ada nuansa keharmonisan diantara mereka berdua.
Ketika bulan Ramadhan tiba, atasan Rama mengajak buka puasa bareng, Safa pun di minta ikut, Mereka memilih tempat yang seperti lesehan, dan makannya pun seperti parasmanan harus mengantri dengan tertib.
Rama lebih dulu berjalan ke tempat makanan di hidangkan dia mengantri paling depan bersama temannya dan bercanda ria, sedangkan Safa di biarkan paling akhir.
"Ya ampun Ram, kamu gimana sih, istrimu kamu biarkan mengantri di belakang." Kata Asep sembari mengambilkan piring untuk Safa.
Safa memaksakan senyumnya, "Terimakasih A,"
"Kamu mengantri di depanku saja." Kata Asep lagi.
Safa bertukar tempat dengan Asep.
Selama acara bukber berlangsung Rama masih tidak menghiraukan istrinya, mungkin dia lupa kalau dia sudah beristri.
Safa berusaha menahan rasa kesalnya, matanya sudah memerah seperti ingin menangis tapi dia tahan karna malu sama teman-teman dan atasannya Rama.
Di rumah pun Rama tidak menyempatkan waktunya untuk mengobrol manja bersama istri, dia hanya sibuk dengan HP-nya, terkadang Safa bicara atau bertanya pun dia tidak dengar atau tidak di tanggapi, bahkan ketika Safa meminjam HP-nya dia tidak mengizinkan, kalaupun boleh, baru sebentar saja Safa melihat HP-nya sudah di ambil balik.
Suatu hari Rama mendapat undangan pernikahan dari temannya.
"Safa, apa kamu mau ikut denganku ke kondangan temanku?"
"Aku di rumah saja, aku gak mau di abaikan lagi seperti yang sudah-sudah."
"Kamu jangan gitu dong, ikut ya, aku janji gak gitu lagi."
"Enggak, aku malas, mau tiduran aja di rumah."
"Baiklah, tapi gapapa kan kalau aku pergi? Kamu gak bakalan marah?"
"Pergi aja, aku mau menikmati waktuku sendiri."
"Oke, aku pergi dulu ya," Ucap Rama seraya mencium keningnya Safa.
Safa merasa kesal dan juga sedih, dia selalu memilih untuk sendiri jika suaminya sedang keluar rumah.
Setiap hari mau pulang kerja atau sedang di rumah saja, Safa lebih banyak menangis di banding tersenyum.
Kalau sebelumnya Safa mengurangi mengobrol dengan lawan jenis dan menyapa hanya dengan lipatan tangan saja karna menghormati suami dan menjaga martabatnya sebagai seorang istri, sekarang tidak lagi, dia merubah dirinya jadi lebih terbuka dengan teman cowoknya, dan cowok lainnya.
Karna dia juga sering di bawa ke ruangan Rama, lama kelamaan dia jadi terbiasa dan menjadi dekat dengan teman-temannya Rama.
Sampai pada waktu sift malam tiba, Safa melaksanakan shalat isya di ruangan Rama, Sandi yang baru datang lantas menghampiri Safa yang baru saja selesai shalat, dia mencubit pipi Safa.
"Teteh lucu banget, pipinya tembem, pengen unyel-unyel."
"Sakit tahu,"
"Sakit apanya pelan gini kok," Sandi mencubit pipinya lagi sambil tersenyum.
"Mungkin begini gapapa, karna kita impas, lagi pula mau seperti apapun aku suamiku gak pernah perduli." Batin Safa.
"Sandi," Panggil Rama.
Sandi menghentikan senyumnya dan langsung menghampiri Rama.
Seiring berjalannya waktu Safa dan Sandi pun menjadi dekat satu sama lain mereka sering bercanda, mengobrol, berbagi makanan, dan curhat, Sandi juga tak segan memberikan perhatiannya pada Safa, dia tahu kalau Safa sepantaran dengannya, hingga dia merasa nyaman setiap kali bersamanya.
"Andai Suamiku yang perhatian seperti ini." Gumam Safa.
Suatu malam, ketika suami istri itu sedang kerja sift malam, tiba-tiba sang istri Safa merasa tidak enak badan, dia pergi ke klinik dengan di temani oleh Rama suaminya.
Setelah mengambil obat, Rama menyuruh Safa istirahat saja di klinik, tapi Safa maunya di temani sama Rama.
"Kalau gitu istirahat di ruanganku saja,"
Rama membawa Safa untuk istirahat di ruangannya dia duduk di kursi dekat jendela dan di depannya tersedia sebuah meja.
"Kamu di sini saja ya, ada Sandi di sini, aku mau cek mesin dulu di line, nanti aku kesini lagi." Kata Rama.
Sudah satu jam berlalu, Rama tak kunjung balik juga ke ruangannya.
"Suamiku kemana sih, kok dia lama banget," Ucap Safa dalam hatinya.
Sandi yang dari tadi tertidur di meja kerja yang satunya terbangun dan menghampiri Safa.
"A Rama belum kembali ya?"
Safa mengangguk,
"Teteh sakit?"
Safa hanya mengangguk,
"Sakit apa?"
"Lambung," Lirih Safa.
Sandi memeriksa kening safa dengan menempelkan telapak tangannya dan memastikan keadaannya baik-baik saja, lalu dia mengambil kantong plasti yang berisi obat di atas meja ada sekitar tiga kantong obat di sana, "Teteh udah minum obat?"
Safa menggelengkan kepala.
"Minum dulu obatnya biar teteh cepat sembuh," Ucap Sandi dengan suaranya yang serak karna baru bangun tidur.
Dia membuka plastik obat itu, dan mengambil satu persatu obat berbentuk tablet dari masing-masing plastik, lalu memberikannya pada Safa.
Lantas dia bergegas mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada Safa, Safa meminum obat itu tanpa bicara sepatah katapun.
Sandi menaruh kembali gelas itu ke atas meja yang satunya, "Sekarang tidurlah, supaya bangun nanti teteh merasa baikan." Ucap Sandi seraya mrngusap kepala Safa.
Safa melipat kedua tangannya di meja dan menyandarkan kepala di tangannya, Sandi menunggunya di bawah lantai sambil menundukan kepalanya ke lutut, dia pun ikut tertidur.
Safa menghempaska punggungnya ke hulu kursi yang terbuat dari kayu jati, dan menatap Sandi yang terlihat setia menemaninya, dia rela duduk di lantai demi menjaganya.
"Teganya suamiku membiarkan aku berduaan saja dengan laki-laki lain di sini, kalau suami yang pekat terhadap agama dia gak akan pernah membiarkan istrinya bersama laki-laki lain dan bersentuhan dengannya walau hanya bersentuhan tangan, kenapa bukan suamiku yang bersikap perhatian seperti ini?" Batin Safa membuncah dia tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya karna telah di abaikan oleh suaminya sendiri.
Dia pun meneteskan Air mata, sampai tertidur.
Jam menunjukan pukul 04.00,
"Teh, teh, bangun," Terdengar suara Sandi membangunkannya, Safa pun terbangun.
"Bagaimana keadaan teteh sekarang?" Kata Sandi yang terlihat mengahawatirkannya, setiap 5 menit sekali Sandi mengecek keadaan Safa yang kondisi tubuhnya sedang demam dan merasakan nyeuri di lambungnya.
"Hm, sudah lebih baik, sekarang jam berapa A?."
"Syukurlah, Jam 04.00, kenapa? teteh mau bersiap-siap untuk shalat subuh?"
"Iya," Jawab Safa sambil melepaskan sepatunya.
Sandi mengambilkan sandal untuknya. Safa pun langsung memakainya dan berlalu ke toilet bergantian dengan Sandi. Setelah menunggu adzan subuh beberapa saat, Adzan subuh pun berkumandang Safa dan Sandi bergegas shalat di tempat yang terpisah.
"Teteh mau kembali ke line?" Tanya Sandi yang baru saja selesai shalat subuh.
"Iya, so'alnya udah lama juga aku beristirahat di sini, gak enak sama atasan." Sahutnya sambil memasukkan mukenanya ke dalam tas, lantas dia pun segera kembali ke line untuk bekerja.
"Gimana keadaan kamu sekarang Safa?" Tanya leadernya.
"Sudah lebih baik Mak." Jawab Safa pada atasannya yang berumur kira-kira 30 tahunan itu.
"Syukurlah, ayo lanjut bekerja,"
"Iya mak,"
"Teh, teteh tidur di klinik?" Tanya salah satu teman linenya yang bernama Leni.
"Enggak, aku tidur di ruangan suamiku, tapi dia gak balik ke ruangan sampai aku kembali ke sini."
"Oh ya, padahal dari jam 01.00 tadi A Rama berada di line loh,"
"Masa?!"
"Iya, dari tadi A Rama hanya duduk saja di box sana deket line-5 sambil main HP."
"Masa sih," Kata Safa sedikit terkejut dan merasa sedih, batinnya kembali sakit mendengar itu dari temannya.
"Dia lebih memilih diam di sana daripada menemaniku." Ucapnya dalam hati, dia berusaha menahan air mata yang kembali mengembang di kelopak matanya.
Setelah pulang ke rumah,
"Tadi malam aku masuk angin, dan si mak yang kerja di line-5 membantu mengerok tengkukku, lihatlah, warnanya merah kehitaman kan." Ucap Rama.
Safa sangat marah, dia tidak merespon dan langsung bergegas ke dapur, Dia tidak mau bicara pada Rama.
Diam-diam dia memeriksa HP Rama, dia menemukan pesan dari mantan pacar, dan pacar atasannya yang dimana isi pesannya sangat menohok hati, dia membanting HP suaminya itu sambil menangis histeris, setelah puas menangis, dia menyimpan kembali HP Rama ke tempat asalnya.
Safa bertanya lagi pada suaminya itu, "Kenapa kamu selalu bersikap cuek padaku, kamu selalu mengabaikanku? kamu lebih senang bicara dan bercanda dengan wanita lain, apa kamu punya selingkuhan?."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? aku bukan pria seperti itu, Aku bosan, aku kesepian, aku menginginkan seorang anak." Jawabnya dengan nada prustasi.
"Kita baru nikah satu tahunan loh, masih terbilang pengantin baru, masa kamu udah mau punya anak?
Dengan terlihat sedikit kesal Rama menjawab, "Memang itu kan tujuan kita menikah, untuk punya anak, kalau di tunda-tunda nanti aku keburu tua, sekarang umurku sudah 28 tahun 2 tahun lagi menginjak 30 tahun, aku maunya di umur segitu kita sudah ada anak."
Deg, batin Safa kembali terguncang, "Punya anak? sekarang aja kamu gak pernah perhatian padaku, bagaimana kalau sudah punya anak?" Ucapnya dalam hati.
Setelah pembicaraan waktu itu, Rama terus mengungkit-ungkit masalah anak.
"Mungkin kamu terlalu kecapean, makanya kita gak kunjung punya anak juga, lihatlah dirimu sekarang, kamu sering sakit, sedikit-sedikit lambungmu kambuh, udah lah mendingan kamu risign aja kerjanya, fokus ke diri kamu sendiri, siapa tahu kalau kamu berhenti kerja dan gak terlalu kecapean nanti kamu bisa hamil."
Safa menghela nafas, "Aku gak mau berhenti kerja, masalah belum punya anak, mungkin kamulah penyebabnya, tubuhmu yang bermasalah bukan aku." Ucapnya sambil melipat pakaian.
"Gak mungkin, tubuhku sehat-sehat aja kok."
"Mau coba konsul?"
"Konsul?"
"Iya, kita konsul ke dokter, lagian udah lama juga aku gak pakai KB, dari semenjak kita menikah, aku hanya memakai KB selama 4 bulan, pernikahan kita sudah berlangsung 1 tahun 90 hari, bisa saja masalahnya ada di kamu atau ada masalah dengan kesuburan rahimku.
"Kalau begitu, ayo kita coba konsul," Kata Rama.
Keesokan harinya mereka izin untuk pulang lebih awal pada atasan mereka, dan langsung pergi ke dokter untuk konsul.
Hasilnya, kondisi tubuh mereka berdua sehat-sehat saja, tidak ada masalah dengan kesuburannya.
Dokter menyarankan mereka mengkonsumsi makanan sehat, sayur dan buah-buahan.
Satu setengah tahun kemudian, akhirnya Safa hamil, tapi benar saja, ingin punya anak itu cuma omongan doang, suaminya tetap tidak perhatian padanya, bahkan dia tidak pernah membantu pekerjaan rumah, saat belanja bulanan pun suaminya tidak mau membawakan belanjaannya.
Belanjaan yang terlihat agak berat di bawanya sendiri, untung kakak sepupunya ikut berbelanja, jadi dia yang membantu membawakan belanjaannya.
Selama Safa hamil anak dari suaminya, dia tidak pernah di manja sama sekali, dia mengerjakan semuanya sendirian, setiap malam minggu suaminya keluyuran bersama temannya, dia selalu pulang tengah malam, saat Safa ngidam ingin sesuatu, suaminya tidak pernah berusaha mengabulkannya, dia malah menertawakannya, meskipun safa menangis sampai guling-guling, dia kira itu lucu, bagai hiburan untuknya.
Dia tidak pernah sekalipun membawakan sesuatu saat pulang kerja, bahkan jika dia habis dari rumah orang tuanya, dia selalu pulang dengan tangan kosong, padahal Safa mengharapkan Rama membawakan sesuatu untuknya.
"Safa, nanti habis lahiran kamu risign aja, kasian anak kita nanti gak ada yang jaga."
Safa hanya bisa menangis mendengar perkataan suaminya, "Iya, setelah anak ini lahir pun hanya aku yang akan bekerja keras sendiri menjaganya." Batin Safa, sambil mengusap perutnya yang semakin membesar.
Karna Safa hamil dia tidak bekerja sift malam, jadi dia ngekos dekat kosan kakak sepupunya, karna jarak dari rumah ke tempat kerjanya cukup jauh memerlukan waktu 45 menit untuk sampai di sana, itu membuat safa kerepotan, karna hamil anak pertama dia mengalami kesulitan dalam masa-masa ngidamnya, selama 7 bulan kehamilannya dia tidak pernah memakan nasi mencium bau asapnya pun dia selalu mual.
Untuk menjaga tubuhnya tetap kuat bekerja, dia meminum susu ibu hamil satu hari 3x, yang bisa masuk ke perutnya hanya makanan-makanan ringan, seperti pisang, lemon, dan makanan ringan lainnya yang sekiranya membuat dia tidak merasa mual.
Selama kehamilannya itu juga Safa sering sakit-sakitan karna asam lambungnya.
Di tempat kerja hanya Sandi yang setia menjaganya, mau ke toilet pun Sandi selalu memperingatkan dia untuk berhati-hati.
"Hati-hati jalannya, lantainya licin." Kata Sandi
Ketika Safa membungkuk ingin mengambil sesuatu yang terjatuh di bawah meja, sandi mengahalangi ujung meja dengan tangannya supaya kepala Safa tidak terbentur.
"Hati-hati, jangan terlu aktif nanti debaynya kecapean di dalam perut."
Saat Safa berjalan dengan terburu-buru tak luput dari perhatiannya.
"Hati-hati, jangan terlalu cepat jalannya nanti kesandung."
Safa tersenyum, dia merasa senang ada yang memperhatikannya, dia sangat menyukai Sandi karna dia cukup tampan, hidungnya juga mancung, kulitnya putih bersih.
"Semoga tampannya nular ke anakku nanti, tampan atau cantik ya?" Ucapnya dalam hati.
Sampai hari kelahiran tiba Sandi memberikan sebuah kado yang ukurannya cukup besar, yang lain patungan uang untuk di berikan pada anak pertamamya Safa tapi Sandi menyiapkan kado sendiri untuk bayi yang baru lahir itu, dia memberikannya dengan suka cita.
"Selamat ya teh, semoga lekas sembuh dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Safa merasa terharu, dia berusaha menahan air matanya, Sandi menatap bayi perempuan Safa dengan semyuman dan mengusap pipinya, "Semoga jadi anak yang solehah ya cantik."
"Amin," Timpal Safa.
Sandi memberikan senyuman termanisnya untuk safa dan buah hatinya.
Setelah safa lahiran, Rama menyuruhnya untuk mengajukan surat pengunduran diri ke perusahaan, dia pun dengan berat hati menurutinya.
Mental dan fisik Safa semakin terguncan setelah melahirkan anak pertamanya, suaminya tidak pernah berubah, dia hanya sibuk dengan HP nya tidak pernah membantu Safa menjaga anak apalagi membantu pekerjaan rumah, Safa melakukan semuanya sendiri, meskipun dia merasa semakin kerepotan dengan adanya anak, apalagi anaknya rewel siang dan malam.
Setelah anaknya berumur 4 tahun, Safa mengandung anak kedua, dan melahirkan seorang bayi laki-laki.
Setelah melahirkan anak kedua, ada sedikit perubahan pada Rama, dia sedikit membantu menjaga anak, tapi Safa sudah terlanjur sakit hati dan depresi dengan keaadaannya, dia mampu bertahan dengan hatinya yang tercabik-cabik sampai usia anaknya menginjak satu tahun, Safa selalu mengingat perjalanan hidupnya bersama suami yang seperti terpaksa menikah membuat batinnya sakit, dan depresi.
Dia sering menangis histeris mratapi nasibnya, meskipun ada sedikit perubahan pada diri Rama, dia tetap tidak bisa memperhatikan istrinya, di saat istrinya sedang sakit, dia membiarkannya sendiri, melakukan semuanya sendiri, menjaga anak pun tidak kuat lama-lama.
Pernah suatu ketika Safa di rawat di rumah sakit, dua kali di rawat orang lainlah yang menjaganya, suaminya memang ikut merawatnya tapi sebentar2.
Suatu hari, Safa sakit keras, seperti biasa dia di biarkan sendiri, dia membiarkan istrinya yang sedang sakit sendiri di rumah, meskipun dia membantu momong anak, tapi dia tidak menyediakan apapun untuk istrinya yang sedang terbaring sakit.