Malam itu hujan turun dengan derasnya. Gemuruh petir menyambar-nyambar, seakan menggambarkan perasaan gadis belia itu saat ini. Air mata Annisa tak henti-hentinya mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Ia duduk termenung sendirian di teras rumahnya yang sepi.
Beberapa jam yang lalu, Annisa menelepon polisi dengan histeris. Ia mengabarkan bahwa kedua orangtuanya menghilang secara misterius. Sang ibu dan ayah tak kunjung pulang sejak siang tadi. Betapa cemas dan takutnya Annisa kala itu. Ia menangis terisak-isak saat petugas datang menanyainya.
Namun nyatanya, tangisan pilu Annisa telah mengaburkan kebenaran. Dibalik wajah polos nan lugu itu, tersimpan jiwa yang kelam. Jiwa seorang psikopat yang telah merencanakan pembunuhan kedua orangtuanya.
Ya, Annisa telah memutilasi kedua orangtuanya hingga tewas, lalu menjual organ tubuh mereka di pasar gelap. Uang hasil penjualan itu rencananya akan digunakan Annisa untuk kabur dan memulai hidup baru.
Gadis itu tersenyum simpul menatap hujan dari teras rumahnya. Sebentar lagi, pikirnya, aku akan bebas. Bebas dari cengkeraman mereka, dari siksaan dan perlakuan buruk selama ini.
Ia hampir saja tertawa kalau tidak ingat ada tetangga yang bisa curiga melihatnya. Annisa pun segera memasang ekspresi sedih kembali begitu mendengar deru mobil patroli polisi memasuki halaman rumahnya.
"Nak Annisa, apa kabar?" sapa Pak Lukas, petugas kepolisian yang sudah akrab dengan keluarga Annisa. Pria paruh baya itu menghampiri Annisa dengan wajah cemas.
"Paman...hiks...orang tua Aku...mereka...huaaaa..." Annisa kembali terisak. Ia berpura-pura sangat terpukul.
"Sudah, jangan menangis. Kami pasti akan menemukan orang tuamu." Pak Lukas berusaha menenangkannya. "Coba ceritakan, apa terakhir kali kamu melihat mereka?"
Annisa menyeka air matanya, lalu mulai bercerita dengan suara bergetar, "Pagi tadi...hiks...seperti biasa. Kami sarapan bersama. Lalu Ayah berangkat ke kantor...Ibu mengantarku ke sekolah...hiks..."
Pak Lukas mendengarkan dengan seksama sambil mencatat keterangan Annisa. Gadis itu terus melanjutkan kebohongannya dengan lihai, bahkan air matanya kembali mengalir saat menceritakan kecemasannya menunggu kedua orang tua pulang.
"Tenang saja Nak, kami pasti akan menemukan orang tuamu," ujar Pak Lukas menenangkan.
Annisa hanya bisa mengangguk lemah, padahal dalam hati ia sudah menyeringai penuh kemenangan. Dasar bodoh! pikir Annisa dalam hati. Kalian semua memang mudah tertipu oleh air mata palsu ini!
"Terima kasih Paman..." sahut Annisa lirih. Ia menundukkan wajahnya yang pucat, berpura-pura larut dalam kesedihan mendalam.
Namun di balik poni rambut hitamnya, Annisa menyeringai tipis. Ia puas bisa membohongi polisi dengan mudah. Ah, betapa naifnya mereka, pikir Annisa. Tidak tahu saja bahwa mayat kedua orang tua Annisa kini sudah tidak berbentuk, hancur berkeping-keping karena dibunuh dan dimutilasi dengan kejam.
"Oh iya Nak, bolehkah kami memeriksa kamar orang tuamu sebentar? Siapa tahu ada petunjuk di sana," ujar Pak Lukas lagi.
Jantung Annisa berdegup kencang. Sial! Kamar itu pasti penuh bercak darah, batinnya kalut. Tapi Annisa berusaha tenang. Ia tersenyum manis dan berkata,
"Tentu Paman. Mari, akan aku antar..."
Annisa pun menggandeng tangan Pak Lukas, membimbingnya memasuki rumah yang gelap dan hening itu. Di tangan Annisa yang lain, tergenggam sebuah pisau dapur yang tajam. Ketika berjalan melewati dapur, Annisa menyeringai tipis. Ini akan jadi mayat yang keempat dalam rumah ini, pikirnya penuh hasrat membunuh...
Annisa membawa Pak Lukas menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kamar orang tuanya berada. Lorong itu gelap gulita tanpa penerangan. Pak Lukas menyinari jalan dengan senter kecilnya.
"Kamarnya yang ini, Paman." tunjuk Annisa pada sebuah pintu kayu bercat putih.
Krieeet...
Pintu itu terbuka menimbulkan derit. Ruangan di baliknya tampak temaram dan berantakan. Ranjang besar di tengah ruangan telah dihiasi noda merah kehitaman. Bau anyir darah begitu pekat tercium.
Pak Lukas melangkah masuk dengan hati-hati, bersiap menyenter setiap sudut. Namun tiba-tiba saja pintu di belakangnya berdebam menutup.
Klik. Annisa telah mengunci pintu dari luar.
"Nak Annisa, apa yang kau lakukan?? Buka pintunya!" teriak Pak Lukas panik sambil menggedor-ngedor kayu.
Annisa terkekeh di luar sana. "Terlambat, Paman. Paman akan jadi korban selanjutnya!"
Jeritan Pak Lukas seketika terdengar pilu saat Annisa menusukkan pisau tajam ke lehernya dari celah di bawah pintu. Darah segar pun menciprat ke mana-mana...
Annisa menyeringai puas saat mendengar rintihan kesakitan Pak Lukas yang makin melemah. Genangan darah segar mulai merembes dari celah di bawah pintu.
"Mati kau, Paman. Hihihi..." Annisa tertawa psikopat. Ia sudah tidak sabar untuk segera kabur dari kota ini, memulai hidup barunya dengan uang hasil penjualan organ orangtuanya.
Namun tawa Annisa terhenti saat tiba-tiba terdengar suara sirine mobil patroli dari luar halaman rumahnya. Rupanya rekan-rekan Pak Lukas curiga karena walkie-talkie pria itu tak kunjung aktif. Mereka pun segera menuju rumah Annisa untuk memastikan situasi.
Wajah Annisa memucat. Sial! Batinnya kalut. Rencanaku bisa gagal jika mereka menemukan mayat-mayat ini!
Dengan tergesa Annisa berlari menuju dapur, meraih ember berisi potongan tubuh ibunya dan menumpahkannya keluar jendela, berharap dapat menghilangkan bukti. Ia lalu bergegas kabur lewat pintu belakang saat mendengar pintu depan didobrak paksa oleh polisi.
Annisa berlari menembus hujan deras di halaman belakang. Gaun putihnya yang polos kini ternoda merah. Rambut hitam panjangnya lepek oleh hujan dan darah. Wajah ayunya yang biasa terlihat innocent, kini bagai psikopat kesetanan.
"Berhenti! Jangan lari!" teriakan para polisi terdengar di kejauhan.
Annisa terus berlari tergopoh-gopoh. Kakinya tersandung akar pohon dan membuatnya jatuh tersungkur ke tanah berlumpur.
Ia mendongak dan betapa terkejutnya Annisa saat menemukan sesosok makhluk aneh berdiri tak jauh darinya. Makhluk itu tingginya 3 meter, berkulit putih pucat, jidatnya lebar dan matanya hitam legam tanpa bola mata.
Makhluk itu menyeringai lebar hingga sudut bibirnya sobek, menampakkan deretan gigi runcing kekuningan. Sosoknya begitu mengerikan di tengah guyuran hujan dan kegelapan malam.
Annisa membeku di tempatnya. Makhluk itu melangkah perlahan mendekati Annisa, tangannya yang kurus kering terulur hendak mencekik gadis itu. Annisa menjerit histeris tapi suaranya tenggelam oleh gemuruh petir...
Jeritan pilu Annisa menggema saat makhluk mengerikan itu mencekik lehernya. Cakar-cakar tajam di tangan makhluk itu mengoyak kulit leher Annisa hingga darah segar memancar.
"Aaarghhh!!!" ronta Annisa sambil berusaha melepaskan diri.
Namun sia-sia, tenaga makhluk itu terlalu kuat. Ia mengangkat tubuh Annisa tinggi-tinggi ke udara lalu....
KRAK! Kepala Annisa diputar paksa hingga lehernya patah! Darah segar menyembur ke wajah pucat makhluk menyeramkan itu, tapi ia justru semakin menyeringai lebar.
Jasad Annisa dilemparkan begitu saja ke tanah. Si makhluk cannibal itu lalu mulai mengoyak perut Annisa dengan buas, menyobek organ dalamnya dan memakannya dengan nikmat.
"Hmmm...segar...lebih enak dari organ manusia yang kau jual itu..." desis makhluk itu seraya terus melahap daging Annisa yang empuk.
Beberapa saat kemudian para polisi tiba di tempat itu. Mereka sangat terkejut menemukan sosok cannibal raksasa yang tengah asyik menyantap bangkai Annisa. Sang makhluk menoleh, menampakkan wajah penuh percikan darah serta seringai lebarnya....
Itulah akhir cerita ini...