Yelena, itulah namaku. Aku seorang gadis remaja yang suka akan senja, menurutku senja sangat cantik, sama sepertiku. Kini aku sedang duduk bersama kekasihku untuk menikmati indahnya senja di tepi pantai dekat rumahku.
Ia adalah Adam, seorang penyelamat tampan yang kini jadi kekasihku. Kami telah lama menjalin hubungan, kira-kira sekitar dua tahun lamanya. Aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di sebuah pasar.
Waktu itu aku hendak pulang setelah usai berbelanja, namun dua preman menghadangku dan hendak merampas uangku. Lelaki muda dan tampan pun muncul bagaikan malaikat pelindungku, ya, ia adalah Adam.
Sejak saat itu aku jadi lebih sering bertemu dengannya secara 'tidak sengaja', ia selalu muncul disekelilingku, terutama saat aku dalam masalah. Suatu pagi saat aku pergi ke pasar, aku melihat Adam berdiri di bawah pohon rindang. Sepertinya ia sengaja menungguku lewat, ia melihatku dan kami pun langsung melempar senyum. Ia berjalan kearahku lalu berkata, "Pagi ... boleh aku temani jalan sampai ke pasar?" Aku tersenyum padanya dan mengangguk.
Adam langsung menggandeng tanganku. Jantungku berdetak kencang saat itu, ia tidak melepaskannya hingga kami tiba di pasar. Adam bahkan menemaniku sampai membawakan belanjaanku, ia tidak hanya menemani jalan ke pasar namun sampai mengantarku pulang. Sejujurnya aku merasa tidak enak hati tapi dia sangat antusias sehingga tak mampu untukku menolaknya.
***
Sore hari ketika aku sedang menyapu halaman rumah. Adam menghampiriku dan mengucapkan selamat sore. Dia mengajakku duduk melihat matahari terbenam di pantai. Aku menyetujuinya dan kami pun bergegas.
Kami duduk pada hamparan pasir putih, melihat ombak menggulung pantai, nyiur melambai-lambai, dan matahari mulai tenggelam. Saat itu lah Adam menyatakan cintanya padaku.
"Yelena ..." panggil Adam lembut.
"Ya?" Jawabku sambil menatap matanya.
"Sebenarnya ... aku telah menunggu lama untuk ini. Sangat lama, setiap malam aku selalu terjaga karena memikirkanmu. Aku rasa, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa senyuman mu...Yelena, jadilah kekasihku?" ungkap Adam meraih telapak tanganku dan menatap mataku serius.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung memeluknya dan mengatakan bahwa aku mencintainya. Sejak saat itu hidupku jadi lebih berwarna. Kami menjalani hubungan layaknya pasangan biasa, bergandengan tangan, makan malam bersama, menonton film dan lainnya.
Namun aku merasa ada suatu hal yang aneh dalam dirinya setelah dua tahun bersama. Perasaan curiga ini berawal saat kami melihat matahari terbenam, tetapi belum sampai matahari itu hendak terbenam. Adam berlari meninggalkanku sendirian, jujur aku sangat sedih.
Keesokan hari saat kami bertemu lagi, Adam menatapku seolah kejadian itu tak pernah ada, dia bahkan tidak mengucapkan kata maaf. Awalnya aku pikir yasudahlah tidak apa, mungkin ada suatu hal mendesak.
Namun kejadian itu berulang kali terjadi, ia selalu panik dan ingin segera berlari saat melihat matahari yang hendak terbenam. Bahkan ia pernah meninggalkanku sendiri saat dua orang lelaki menggodaku. Aku sangat kesal akan itu.
Sampai tiba hari dimana titik kesabaranku habis. Ia selalu merasa tidak bersalah sesudah meninggalkanku begitu saja. Hari itu aku membuat janji temu dengannya di tepi pantai dekat rumahku.
Aku menyuruhnya menemaniku melihat langit sore. Kami duduk di tepi pantai sambil meminum kelapa muda, aku bersandar pada pundaknya sambil memegang erat lengannya. Aku dapat merasakan kegelisahan diwajahnya, tetapi aku tidak peduli.
Saat yang aku tunggu tiba, matahari sebentar lagi akan tenggelam. Tiba-tiba Adam mendorongku dan hendak berlari. Lagi-lagi ia akan pergi, aku langsung memeluk erat tubuhnya,
"Kenapa sih? Kenapa setiap matahari terbenam kamu pergi gitu aja?" Tanyaku dengan menahan tangis.
Adam menundukkan kepala, ia menyentuh telapak tanganku dengan lembut, "Jadi kamu sudah menyadarinya?"
"Iya kenapa?" tanyaku dengan nada sedang.
"Maaf, aku gak bisa cerita sekarang. Lepaskan aku Na!" katanya dengan tegas.
"Aku nggak akan lepasin sampai kamu cerita!" ucapku kesal.
"Na ... kamu gak akan pernah bisa percaya" kata Adam lirih.
"Percaya? Percaya apa? Percaya kalau kamu bukan manusia, gitu?" berondongku kesal.
"Ya" jawab Adam tegas.
"Apa?" tanyaku tak menyangka.
"Na ... sebenarnya aku bukanlah manusia, aku adalah seorang malaikat yang diutus untuk sebuah tugas mulia. Ketika kamu bahagia maka tugasku akan selesai dan saat itu aku harus pergi, jika aku tidak segera pergi sebagai gantinya waktu ku akan terus berkurang. Waktu itu malam, sekarang matahari terbenam nanti pukul 3, 12, dan seterusnya hingga aku menghilang dengan sendirinya" jelas Adam.
"Ma ... malaikat? lalu kenapa kamu membuat ku jatuh hati jika kamu akan pergi meninggalkanku dan tak kembali lagi?" ungkapku sambil meneteskan air mata.
"Maaf Na ... aku tidak bisa menjawabnya. Aku benar-benar seorang malaikat, alasan mengapa aku harus pergi sebelum waktu yang ditentukan karena sayapku akan muncul saat itu juga" lanjut Adam.
Aku yang mendengarnya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Adam. Aku sebenarnya tidak rela ia pergi namun pikirku 'dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan', mungkin ini saatnya bagiku dan Adam untuk berpisah, bagaimanapun dunia kami berbeda.
"Hiks hiks, Adam aku mau kamu tahu satu hal ... bahwa aku selalu mencintaimu, aku tak akan melupakan seseorang yang spesial sepertimu, tidak peduli dimanapun kamu akan selalu ada di hati ini dan akan terus hidup bersamaku." Ucap ku lalu melepas pelukanku darinya.
Aku menatap kedua matanya itu, ia mengusap lembut air mataku yang tak berhenti mengalir. Matahari pun tenggelam, sayap Adam mulai nampak perlahan membesar, ia tersenyum padaku lalu mengecup keningku, "Selamat tinggal sayangku." Kata-kata terakhirnya sebelum ia terbang menjauh dan menghilang ditelan langit.
Sekian lama bersamanya, aku tidak menyangka bahwa hari ini identitas kekasihku sebenarnya adalah seorang malaikat. Aku sangat bahagia ia telah hadir dan menjadi bagian dalam hidupku. Walau pada akhirnya kami tak ditakdirkan bersama.
Tamat...
Halo readers ... jangan lupa komen dan like nya yah salam hangat~Hannah~