Kalian pernah bertemu seseorang yang membawa kalian keluar dari zona kenyamanan kalian? Kalau iya.. Berarti aku tidak sendiri...
Aku bertemu dengannya diketidak sengajaan ditoko buku bekas yang tidak jauh dari pasar tradisional.
Aku hanya manusia yang cinta dengan bau buku yang kerap kali teman ku sering mengejek ku BAYU SIKUTU BUKU. Haha.. aku tidak terlalu memperdulikan itu. Percaya lah...
"Bayu, ngapain bengong sendiri?" Dorong pelan bahuku seseorang perempuan yang berdiri dibelakang ku. Gila, dia tersenyum... Bisa aku mengecup bibir yang menampilkan senyum indah itu? Sial lagi-lagi itu membuat ku gila.
"Aku sedang memikirkan sesuatu. Duduk lah. Kau tidak capek diri dibelakang ku?" Memukul pelan kearah bangku mengisyaratkan dia untuk duduk.
Dia melangkah kakinya yang langsung duduk disebelah dengan buku tebal yang dia pegang sedari tadi.
"Bayu kau tau? Roy tadi tersenyum padaku." Ucapnya dengan semangat membara kepada sampai dia lupa kalau kami sedang berada di perpustakaan umum membuat semua mata tertuju pada kami.
Aku tidak mempermasalahkan itu, Pandangan orang-orang pada kami. Yang penting bagiku dia ada disamping ku.
"Maaf," ujarnya tersenyum malu.
Wanita yang duduk di samping ku ini yang sedang bercerita panjang lebar tentang cowok yang iya sukai bernama Cia nantiaka. Wanita yang berhasil menghancurkan setiap logika ku.
"Bay, lu dengar gue ceritakan?"
"Dengar, ci. Dengar..." Jawab ku mengelus pelan kepalanya.
"Bagus." Jawab Cia bahagia.
Tak terasa sudah hampir 1 jam lebih aku mendengar ocehan Cia tentang cowok yang dia sukai. Langit mulai perlahan menampilkan orange yang pekat yang terlihat indah dibalik luar jendela... Cia tak kunjung berhenti mengoceh tentang cowok yang disukai nya.
"Ci, udahan yah.. udah sore terus gue lapar ini," ucapku sambil mengelus perutku kelaparan.
"Iya deh iya..." Jawab Cia bete.
"Lu mau makan ngga?" Tanya ku pada Cia yang masih duduk bete di bangku nya berbeda dengan ku yang sudah mau beranjak meninggalkan tempat tersebut.
"Ye... Malah duduk. Mau makan ngga?" Tanya ku kembali.
"Enggak."
"Serius?" Tanya ku memastikan.
"Iya!!"
"Ok... Padahal aku mau makan nasi goreng kang Mamat tapi yah udah lah yah," ucapku sambil berjalan meninggalkan Cia. Cia yang mendengar ucapan ku yang ingin makan nasgor kang Mamat yang terletak tidak jauh dari kampus segera menyusul ku. Bagaimana pun juga aku tau kalau dia sangat mencintai nasgor buatan kang Mamat. Dan semua anak kampus tau bagaimana enaknya nasgor buatan kang Mamat.
"Bay, lihat langit Sore-nya cantik banget. Orange," mengarahkan jari telunjuknya keatas menunjuk kearah awan yang begitu paling bersinar diantara awan lain.
"Iya," jawabku sambil asik mengunyah nasi goreng yang enak ini.
"Ihhhh!!! Lihat."
Aku mau tidak mau melihat kearah langit yang terlihat begitu menenangkan dengan malas. Bagaimana bisa kegiatan makan ku diganggu dengan memperhatikan langit sore yang hampir tiap kali bersama selalu memperhatikan langit sore.
"Udah. Seperti biasa dia cantik," jawab ku seadanya.
"Ye... Bay, aku suka banget dengan langit sore. Entah kenapa dia indah banget dimata ku," ucapnya lagi dan lagi. Aku sudah seringkali mendengar kalimat itu dari mulutnya dan saat dia sudah bercerita akan kesukaannya kepada langit sore pasti akan lupa dengan kegiatan dia yang sekarang. Seperti memakan nasi gorengnya yang mulai dingin.
"Iya. Dia indah. Tidak akan pernah membuat orang-orang berpaling darinya," ujar ku menatap kearahnya yang terlena akan langit sore.
"Habisi nasi goreng mu. Biar kita cepat balik," lanjut ku.
"Iya.." balasnya dengan nada lemas.
.
.
.
.
Hujan deras dimalam hari menambah kesan kesunyian dikamar ku. Suaranya menggema mengisi ruang kamar. Aku menatap kearah jendela kamar, suara rintikan hujan terpantul membasahi kaca jendela.
Lantunan musik yang sedari berputar berganti memainkan lagu Kunto Aji — jangan melamun saat hujan. Lagu yang pas banget dengan kegiatan yang aku lakukan saat ini, melamun memandangi hujan.
Suara pintu terbuka, menampilkan wajah Mama ku Sintia. "Nak, kok belum tidur?" Tanya mama ku yang melihat ku duduk di kursi belajar.
Aku tersenyum hangat kearah mama ku. Memandang senyuman yang tidak kalah dengan Cia. "Ma, Bay boleh minta sesuatu, ngga?" Tanya ku dengan suara serak.
"Minta apa?" Tanya mama ku sedikit takut, apalagi saat mendengar suara ku yang serak, seakan dia tau apa yang baru saja terjadi padaku.
"Bay, ingin minta balik leptop bay yang mama sita seminggu yang lalu," ucapku dengan hati-hati.
"Buat apa Emang?"
"Ada sesuatu yang ingin bay kerjain,"
"Apa?" Tanya mama ku kembali yang masih ragu akan apa yang ingin aku lakukan.
"Rahasia."
Mama ku diam sesaat menatap ku dengan lekat seakan-akan sedang memastikan sesuatu hal terjadi padaku.
"Maaa..."
Mama ku menarik napas berat. "Yah udah tunggu bentaran. Mama ambil dulu."
Tidak butuh berselang lama mama ku datang dengan sebuah leptop ditangannya. "Ini jangan lama-lama ngerjainnya. Kalau udah merasa capek langsung istirahat."
"Siap ma.." jawab ku dengan semangat empat lapan.
"Yah udah mama balik ke kamar dulu. Mama kesini mau mastikan kamu ajah." Ucap mama ku yang mengecup lembut kepalaku sebelum keluar dari kamar kecil ku.
Aku memperhatikan langkahnya yang begitu berat untuk meninggalkan kamarku tapi bagaimana pun mama ku memegang yang namanya privasi anak yang tidak ingin diganggu.
Pintu sudah tertutup, aku langsung membuka leptop ku yang langsung membuka aplikasi editing video yang ingin aku buat untuk aku tunjukkan kepada Ica yang mungkin saja dia suka dan akan mengerti akan videonya itu bagaimana aku memandang dan bahagia akan kehadirannya.
Waktu menunjukkan jam 11 malam dan videonya baru saja selesai. Tiba-tiba saja kepalaku terasa berat seketika semua terasa berputar. Kaki yang tidak kuat lagi berdiri membuat aku tumbang saat itu juga. Perlahan semua terasa buram, pandangan ku mulai redup yang kian semua menghitam dan aku mulai kehilangan kesadaran ku.
Mama ku yang mendengar suara jatuh yang keras dari arah kamarku sontak bergegas berlari kearah kamar ku. Mama ku yang melihat itu bergegas meletakkan kepalaku dipangkuan dengan air mata yang mulai bercucuran membasahi wajahnya.
"Nak... Bay.. bangun bay.. bangun nak..." Ucap mama mu yang berusaha membangunkan dengan nada parau.
Mama ku dengan bergegas mengeluarkan ponselnya menelpon Dika ayah ku. "Pa.. bay pingsan pa.. bay pingsan pulang pa.." ucap mama ku yang sudah nangis sejadi-jadinya.
Suara telepon langsung dimatikan mama bergegas menelepon ambulan....
Waktu perlahan berlalu aku berhasil dibawa kerumah sakit. Tapi sayang semua hampa. Suara tamparan keras terdengar kehati Mereka bahwa aku sudah tiada.
Aku mati dengan penyakit ku dengan suara hati yang ingin tersampaikan terbungkus rapat dengan kematian ku. Suatu ungkapan yang hanya bisa kuharapkan bisa tersampaikan oleh video yang aku buat di leptop ku.
Ica menghadiri pemakaman ku dari awal hingga akhir. Ica tidak tau harus berekspresi seperti apa. Dia masih berusaha mencerna itu semua, bahwa aku sudah pergi dari dunia ini.
Selesai dari pemakaman ku, ayah ku menghampiri dia memberikan sebuah flashdisk yang membuat dia bingung dengan pemberian ayah ku. "Ini ada video yang dibuat Bayu saat dia meninggal. Kamu tonton yah," ucap ayah ku yang pergi begitu saja tanpa mendengar balasan dari Ica. Ica pun tau itu bahwa orang tua ku ingin segera bergegas meninggalkan tempat ini tempat dimana anaknya dimakamkan karena mereka tidak kuat. Bagaimana bisa mereka kuat melihat kuburan anak sendiri.
Sesampai rumah, Ica melamun dikamarnya. Memandangi dinding kamarnya yang masih tidak mengerti ada apa dengan semua ini. Padahal baru semalam kami tertawa bersama yang tiba-tiba saja dia harus mendengar kabar akan kematian ku.
Ica merogoh kantong celananya melihat flashdisk yang diberikan ayah ku padanya. Dia berjalan kearah meja belajarnya membuka leptop dan langsung memasang flashdisk tersebut. Dia duduk dengan lemas di bangku belajarnya.
Dia melihat begitu banyak file foto didalam flashdisk yang membuat dia kaget adalah semua foto cendit dia yang sedang tersenyum dan sedang melakukan kegiatannya. Dia tidak tau kalau aku mengambil gambar dia diam-diam.
Cia melihat satu persatu foto tersebut sebuah kenangan memori bersama ku yang tidak dia sadari air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Cia yang sampai diakhir file yang menampilkan video pendek yang diedit oleh ku.
Cia menekan video itu. Video itu perlahan memutar menampilkan semua video potongan dengan kegiatan yang pernah kami jalanin yang sudah diedit dengan suara rekaman ku yang ingin aku sampaikan padanya.
"Hay Cia. Ini pesan yang ingin aku sampaikan padamu. Makasih sudah hadir diantara hari-hari ku. Maaf aku mengatakannya seperti ini."
"Cia kau pernah bertanya padaku apakah aku menyukai langit sore? Aku tidak menyukai langit tapi aku bisa menyukainya jika itu bersama mu. Mau ketika cerah, hujan, mendung. Dia terlihat indah jika itu ada kamu-nya."
"Cia aku menyukai mu seperti kamu menyukai langit sore. Kau yang menerima kehadirannya tanpa ragu seperti apa. Entah dia datang dengan mendung nya, entah dia datang dengan hujan atau dia datang dengan kehangatan. Kau tetap menyukainya. Seperti itu juga aku, Cia. Aku tidak perduli seperti apa kehadiran dan rasa yang kau alami. Aku tetap menyukai mu."
Cia perlahan mulai menangis tersedu tidak kuat menahan air matanya untuk tidak jatuh.
"Cia. Semangat terus yah... Jangan galau-galau terus. Aku udah ngga bisa menghapus air mata mu lagi. Jadi ku harap kamu kuat untuk menghapus sendiri."
"Bagaimana aku bisa semangat jika kamu pergi dengan cara seperti ini," ujar Cia dengan suara parau. Air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Cia. Maaf aku memilih kepergian seperti ini. Jika kelak kau berhasil mendapatkan cinta mu jangan lupa untuk menyimpan rapat-rapat untuk dirimu. Dan aku yakin dia pasti laki-laki yang paling beruntung."
"Dadah, Cia... Aku meninggalkan sekotak cinta ku untuk mu. Semua habis untuk mu. Jangan lupa untuk berbagi dengan langit. Hahahaha..."
Ica menangis sejadi-jadinya. Sebuah video diputar berkahir. Sebuah perasaan yang ingin disampaikan sudah terdengar oleh pemiliknya.
Kini, aku berharap Cia kembali menjalani kehidupannya. Tidak apa dia menangis untuk saat ini tidak apa dia berduka untuk saat ini. Aku percaya langit akan mengantarkan sekotak cinta ku kepada Cia dengan sosok seorang. Yang membawa Cia untuk kembali tersenyum menampilkan senyum indahnya.