"sayang..." suara indah itu terdengar lagi, begitu pelan dan lembut, sayup-sayup terdengar semakin lama semakin jelas.
"apa kau merindukanku..." jelas terdengar, seketika aku membuka mataku...lagi-lagi hanya aku sendiri di dalam ruangan ini. aku terbangun, duduk disisi ranjang sekedar untuk menyadarkan apa sebenarnya yang terjadi, mengapa hal ini terus saja terjadi dan aku sangat terganggu karenanya.
"bib...bib.." notif alarm ku berbunyi tepat pukul 8 pagi, kini aku harus bergegas pergi karna janji temu dengan psikiaterku.
(setelah di dalam ruangan psikiater)
"suara itu semakin menggangguku" keluhku pada dokter.
"apa akhir-akhir ini kau bermimpi sesuatu kembali?" tanyanya.
"..." aku mengangguk sekedar mengingat-ingat mimpi apa yang terulang dan sama, tidak begitu persis mengingat dengan jelas tapi mimpi ini menggangguku.
"gelap hanya aku di sebuah ruang gelap" jelasku
"hmmmh, kemungkinan ruangan itu dimana? kamar, gudang, air, lemari?" selidiknya.
"luas tidak terjangkau, seperti gedung tua yang sudah tidak terpakai bila melihat luasnya sisi ruang" jelasku sedikit yakin.
"boleh aku melihat matamu"pintanya.
"..." aku mengangguk, lalu ia menatap tajam pada mataku, tidak menggunakan alat seperti senter dan lainnya, hal ini sedikit membuatku tidak nyaman.
"ok, aku hanya melihat penyesalan yang sangat dalam, dan memang benar suara itu terus menghantuimu selama kau tidak membuka kunci peti di dalam hatimu, ia akan terus seperti itu, terus mengganggumu" jelasnya sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"maksudmu dengan peti?"tanyaku
"terkadang seseorang menyimpan kenangan akan kejadian yang memang ingin ia lupakan dan menyimpannya jauh dalam di dasar ingatan dan hati, menguncinya rapat-rapat dan membuangnya" jelasnya.
"jadi, maksudmu...aku mengalami kejadian yang tidak ingin ku ingat" ucapku.
"benar...biasanya kejadian itu menimbulkan rasa penyesalan, kemarahan yg tidak bisa dimaafkan oleh dirimu sendiri" jelasnya.
"..."aku pun termenung.
"baiklah, seperti biasa kau harus minum secara teratur semua obat-obatmu, ini aku berikan dosis selama 1 bulan, agar kau bisa tidur dengan tenang, bila ada apa-apa kau bisa menghubungiku saja" ucapnya sambil memberikan secarik resep obat, aku mengangguk dan berlalu.
tiba di rumah, aku mencoba mengingat-ingat, kejadian atau hal apa yang sangat ingin ku lupakan. semakin aku mencoba mengingatnya, semakin sakit rasanya kepala dan hatiku.
"Donju..." samar-samar suara itu kembali terdengar.
"siapa kau!!! mengapa kau terus mengganggu ku!!!" bentak ku sambil melempar benda yanga da di sekitarku, aku semakin frustasi dan segera ku minum obat-obatku.
"Donju...ini sarapan mu" aku hanya melihat sepasang kaki wanita dan pandanganku hilang.
sudah lebih dari 2 minggu sejak aku pergi ke psikiater, suara itu tidak lagi terdengar, namun kepalaku sering terasa sakit saat terlintas bagian-bagian memori yang tidak ku ingat.
namun dari bagian-bagian memori itu, aku bisa menyimpulkan bila aku harus pergi kerumah tua di dalam ingatanku.
"Benji..." aku mencoba mengingat satu kata, dan aku mulai mencarinya di internet, ternyata aku menemukannya. tanpa pikir panjang aku bergegas menuju tempat itu, karna sudah bertahun-tahun suara dan teka-teki ini menyiksaku.
sesampainya di tujuan, aku memasuki rumah tua tersebut, aku sudah tidak perduli lagi dengan hantu, yang ku khawatirkan bisa saja tiba-tiba puing atap rumah ini runtuh karna kondisinya yang sudah tidak terawat. banyak benda-benda berserakan, sepertinya pemilik rumah ini pergi tanpa membawa satu benda pun, dan mungkin benda yang berserakan ini akibat gempa atau semacamnya.
aku melihat ada sebuah foto di atas meja dekat tv, sangat berdebu, setelah ku bersihkan sepertinya wajah ini tidak asing, tentu saja karna ini fotoku saat aku masih kuliah dan di dalam foto itu ada wanita yang aku tidak kenali, mungkin saja ia hanya teman selewat atau adik kelas ku. mungkinkah ini rumah orang tuaku? aku masih berjalan ketiap sisi ruangan sekedar mencari sesuatu yang mungkin saja itu clue untuk ku.
"buku catatan?"gumam ku, sekitanya sudah lebih dari satu jam namun sudah tidak ada lagi yang bisa aku dapatkan dari tempat ini. aku pun kembali untuk pulang kerumah. sesampainya dirumah, aku terlalu lelah untuk membaca dan aku pun tertidur.
"halo..."
"..." aku terdiam menahan gejolak di dalam dadaku.
"halo dunjo..."
"benarkah...benarkah aku yang melakukannya ka?" tanyaku mencoba untuk meyakinkan ke egoisan ku.
"aku dokter psikiater mu..."
"kau kakak ku!! selama ini kau telah menyelamatkan ku!! untuk apa ka?!! tidak sepantasnya aku hidup!!!" teriakku sambil menangis.
"kau sudah mengingatnya? aku akan kesana, tunggulah sebentar...jangan melakukan hal bodoh! mengerti!!" perintahnya.
"tidak!!! jangan ke sini, ka...aku mengingat semuanya, aku...mengira Hana istriku yang telah membunuh orang tua kita ka, namun ternyata aku salah...ayah dan ibu meninggal karena keracunan makanan dan Hana mencoba menolongnya, karena ia bisu, ia tidak bisa berkata-kata...di...dia...telah mencoba menjelaskannya namun aku bertindak bodoh, larut dalam kemarahan ku...aku membawa Hana untuk pergi ke kantor polisi namun di tengah jalan aku sengaja membanting stir kejurang, aku pikir lebih baik aku dan dirinya mati...." ucapku
"kau harus bisa memaafkan dirimu" pintanya.
"tidak...dalam buku ini, Hana mencurahkan segala isi hatinya, dan di malam kejadian ia ingin memberitahu diriku bila ia sedang mengandung anak kami ka..." ucapku sambil menangis.
"tunggu aku, aku akan segera kesana..." pintanya, telepon pun terputus.
semua kenangan indah tentang Hana kembali, suara indah itu terdengar kembali, aku hanya menangis menyesali kebodohanku terhadap Hana istriku.
"aku memaafkan mu, sayang ku..." ucapnya sambil tersenyum, sangat indah...perlahan wajah Hana menghilang, dan aku hanya bisa merasakan kepala ku berdenyut kencang, dadaku sesak seakan jantungku perlahan berhenti, pandanganku mulai kabur dan gelap, tubuhku terjatuh bersama denga air mataku. perlahan darahku mulai memenuhi lantai.
"maafkan aku Donju, ini bukan salah mu...sudah cukup kau menderita akan semua ini, ayah, ibu, Hana dan anak mu meninggal karena kecelakaan, selama 10 tahun kau hidup dalam ilusi mu, diary Hana...kau yang melanjutkannya, saat kau sadar...kau memintaku untuk membunuh mu bila saat kau sudah menjadi sangat gila, ternyata obat yang ku berikan tidak cukup kuat...dan kau tau, ini juga sangat menyiksa ku Donjuuuuu..."
-TAMAT-