Bulan purnama bertahta kokoh di langit malam yang jernih. Seorang gadis berdiri di ujung batu karang di tepian pulau. Tangannya memegang sebuah terompet berbentuk kerang dengan warna putih gading keemasan.
Perlahan gadis itu mengangkat terompet hingga salah satu ujungnya menyentuh bibir mungil milik gadis itu. Matanya terpejam dan meniup terompet itu dengan seluruh tenaga yang dia miliki.
Suara ngaungan yang keluar dari tiupan terompet itu memecah malam sunyi nan damai. Perlahan-lahan tampak sekelebat makhluk yang meliuk-liuk menembus deburan ombak. Gadis itu membuka matanya, terlihat sosok pria tampan di tengah cahaya rembulan yang temaram. Senyum tersungging di bibirnya ketika makhluk itu sampai di tepian tempat dia berdiri.
“Lamora..” suara sangat merdu keluar dari sosok yang tengah berenang di tepian laut itu.
“Frek, kenapa lama sekali?” gadis itu berjongkok untuk mendekatkan wajahnya menantap makhluk di hadapannya.
“Aku sudah berenang dengan kecepatan tinggi dari dasar lautan Lamora,” pungkas makhluk itu dengan senyum merona.
“Harusnya kau latihan berenang lagi,” ejek Lamora
“Hahaha..haha...aku putra duyung tercepat di lautan ini Lamora.” Pria dengan kaki berbentuk ekor ikan itu tertawa tak terima dengan ejekan gadis di hadapannya.
“Aku tak percaya,” bantah Lamora.
“Hahaha..baiklah, aku akan ikut pelatihan berenang lagi,” seloroh pria itu “apa kau puas?” putra duyung itu mencubit hidung mungil gadis berambut keriting dihadapannya dengan gemas.
Gadis itu mengaduh manja dengan cubitan pria yang telah lima tahun ini menyandang status sebagai kekasihnya. Pertemuan tak sengaja antara dua insan beda alam itu menghadirkan butiran-butiran asmara yang menyatukan perbedaan yang mereka miliki.
“Lamora,” pria itu melafalkan lembut nama gadis yang tengah duduk di hadapannya.
“Ya,” sambut gadis itu sambil menatap manik mata kekasihnya yang hitam terang seperti mutiara.
“Mhmmm..gak.. apa-apa,” pria itu menelan kembali kata yang ingin dia lontarkan.
“Apa? Kenapa kau buat aku penasaran,” timpal Lamora dengan cemberut.
“Tidak apa-apa..kau terlihat sangat cantik,” lontar pria itu yang mampu membuat pipi Lamora bersemu kemerahan. “Kau..bisa saja,” balas Lamora malu.
Rembulan yang bersinar menjadi saksi bisu bagaimana kedua insan itu saling mencintai. Alam yang berbeda tak menyurutkan niat mereka untuk menjalin kasih sayang. Lautan dan daratan bukankah dua bentuk dunia yang bisa bersatu di tepian pantai, seperti itulah gambaran hubungan mereka.
***
Hari ini Lamora tak menemui kekasihnya frek, karena cuaca buruk yang tengah melanda pulau kecilnya. Seluruh penghuni pulau saat ini tengah berkumpul di balai-balai ditemani hujan dan badai yang berterbangan menyapu daratan.
“Waktu persembahan telah tiba,” kepala suku memulai musyawarah hari ini. “Ini adalah periode Dewa laut datang menanggih janji leluhur kita,” tambah kepala suku.
“Lalu kali ini siapa yang akan memimpin ritual Panlima?” seorang anggota suku mengajukan pertanyaan kepada kepala suku.
“Seperti tradisi kita yang memimpin ritual adalah putri tertuah adat,” ujar anggota suku yang lain.
Lamora tersentak mendengar hal itu, dia tak pernah di beri tahu perihal ini. Bola matanya beralih menatap ayahnya sang Ketua adat yang duduk tenang tanpa ekspresi.
“Ya benar, Lamora akan memimpin ritual persembahan kali ini,” titah Ayah Lamora selaku ketua adat.
Pertemuan adat berakhir, Lamora telah di tetapkan sebagai pemimpin ritual kepada dewa laut dan pelantikannya akan diadakan dua hari lagi. Selama dua hari itu dia sibuk mempelajari rentetan ritual yang akan dilaksanakan pada hari persembahan.
Sudah lebih dari tiga malam dia tak menemui Frek dan malam ini gadis itu memegang terompet kerang yang menghubungkannya dengan Frek.
Lamora meniup terompetnya kali ini wajahnya tidak seantusias seperti biasanya, ada sendu di sana. Gadis itu mencoba mencari sosok yang dinantikannya di dalam gelap. Berulang kali matanya lalu lalang menantap lautan lepas yang bergelombang. Namun tak tampak sosok yang di rindukannya, Lamora meniup lagi terompetnya. Tapi sosok itu tak jua tampak di permukaan.
“Lamora,” suara yang sangat dikenalnya berdengung di telingannya. Lamora mencoba mencari arah suara itu. Matanya terbelalak menangkap sosok dihadapannya.
“Frek!” teriaknya dengan mulut melongo.
“Ya, Lamora,” pria itu terlihat sangat gagah mengenakan pakaian khas suku Lamora. Sepasang kakinya tampak begitu kokoh menginjak batuan karang yang berpasir.
“Apa yang terjadi Frek?” tanya Lamora yang tampak kebingungan.
“Ya sekarang aku mempunyai kaki Lamora, Dewa laut telah mengabulkan permohonan ku,” jelas Frek dengan penuh kebahagian.
“Maksudnya?” timpal Lamora yang masih tak mengerti dengan semua ini.
“Lamora, setiap 10 tahun Dewa laut akan memberikan anugerah kepada duyung yang terpilih. Dan kau tebak aku adalah duyung yang saat ini beruntung itu,” jelas Frek dengan berbinar-binar.
Lamora hanya terdiam mendengar hal itu, gadis pulau itu tak tau harus bereaksi apa. Haruskah dia bahagia atau sedih mendengar berita ini.
“hm..hm..hmmh..” Frek mengatur vokalnya. Perlahan tangannya menggenggam tangan mungil milik Lamora, “Lamora..aku mencintaimu, bersediakah kau menikah dengan ku?” Frek mengungkapkan perasaan yang dia pendam selama ini, sebelah tangannya memperlihatkan cincin dengan mutiara pink yang indah.
Seluruh tubuh Lamora kaku mendengar hal ini, sungguh hati gadis itu ingin menjawab kata bersedia. Tapi dia telah di tetapkan sebagai pemimpin ritual untuk Dewa laut yang artinya dia tidak boleh menikah dan harus menginap di Persatapan, sebuah rumah di puncak bukit yang menghadap laut. Rumah yang di khususkan untuk pemimpin ritual dewa laut yang berfungsi menghubungakan Pulau Nauna tempatnya bernaung dengan Dewa laut.
“Lamora, kenapa kau diam saja?” Frek menbuyarkan lamunan Lamora, menanti jawaban gadis yang di cintainya dengan penuh harapan.
“Frek, aku tak bisa menikah dengan mu,” Lamora bersuara dengan pedih.
“Lamora apa yang kau katakan, apa kau tak mencintaiku?,” Frek terasa perih mendengar jawaban Lamora.
“Aku mencintai mu Frek..” ujar Lamora lirih.
“Kalau begitu menikahlah dengan ku,” Frek memohon penuh harapan.
“Aku tak bisa, kembalilah ke lautan,” Lamora berkata di iringin dua bulir air yang meluncur dari pelupuk matanya.
“Kenapa Lamora, jika kau mencintaiku kenapa kau tak bersedia menikah denganku?” Frek menantap mata Lamora sangat dalam mencoba mencari pejelasan atas penolakan ini.
“Aku telah di pilih menjadi pemimpin ritual untuk dewa laut, yang artinya aku tak boleh menikah,” tutur Lamora dengan tertunduk tak sanggup melihat kekecewaan di wajah pria yang dicintainya. Frek membisu mendengar penuturan itu, tangannya perlahan melepas tangan Lamora.
“Tak bisakah kau batalkan semua ini?” tanya Frek lirih penuh luka.
Lamora hanya mampu menggeleng, tak ada yang bisa dia lakukan.
“Kalau begitu pergilah denganku, kita cari pulau lain. Aku akan menyiapkan perahu untuk kita, jika kau bersedia aku akan menunggumu disini,” Frek melepas Lamora dengan penuh pengharapan. Gadis itu meninggalkan Frek dengan perasaan tak menentu. Separoh hatinya ingin bersama Frek, sebagian lagi tak sanggup menghianati rakyatnya.
Frek terduduk lesu menatap lautan luas yang mengalun-ngalun seolah mencemooh dirinya, tangannya mengelus cicin bermutiara merah jambu yang dia persiapkan untuk Lamora. Sungguh semua ini membangun luka dalam dirinya, kini putra duyung itu hanya mampu menunggu dan berharap Lamora datang kepadanya.
Lamora bersiap dengan pakaian adat yang sangat indah, mahkota yang hanya boleh dipakai putri tertuah adat itu bertatah dengan indah di kepalanya. Seluruh penghuni pulau menari dengan gembira di hadapannya. Gadis itu hanya duduk dengan wajah sendu di singgasananya. Malam ini adalah hari yang ditetapkan untuk ritual dewa laut. Lamora memegang kalung kerang yang tersangkut di lehernya, ada rasa pilu yang tertahan di relung hatinya. “Frek, aku merindukanmu,” batin gadis itu.
Tengah malam segera tiba, Lamora berjalan mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu. Gadis itu kemudian terdiam menatap terompet kerang hadiah dari Frek. Lamora memejamkan matanya mengenang kebahagiannya dengan putra duyung itu. Seperti sudah memantapkan hati gadis itu berlari menuju lautan, “Frek!” terdengar nafasnya terengah-engah.
“Lamora,” Frek tampak begitu sumringah melihat sosok yang di nantikannya. Lamora berlari memeluk Frek dengan penuh kerinduan. “Aku mencintaimu Frek,” bisiknya lirih di telinga Frek. Frek memeluk Lamora dengan begitu hangat.
“Kau akan ikut dengan ku?” Frek mengurai pelukannya, menatap Lamora penuh cinta. Lamora mengangguk dengan senyum merekah.
Frek menggenggam tangan Lamora, kedua insan itu menaiki perahu kecil menuju lautan. Bahagia jelas terpampang di wajah keduanya.
“Kalau begitu kau bersedia menikah denganku Lamora?” Frek kembali melamar kekasihnya di atas perahu mungil di tengah lautan. Lamora mengangguk dan mengulurkan tangannya agar Frek bisa memasangkan cincin mutiara merah jambu yang sangat di idamkannya.
Frek dengan sigap memasukan cincin itu di jemari manis lamora, lelaki itu mencium tangan Lamora dengan penuh kasih sayang. Lamora hanya bisa tersipu malu menerima perlakuan orang yang sangat di cintainya.
Ditengah kebahagiaan itu, langit yang semula terang memudar dipenuhi awan hitam yang datang bergerombol, cahaya bulan perlahan redup. Angin bertiup dengan dasyatnya, ombak laut menggulung-gulung dengan ganasnya. Frek berusaha mengendalikan perahu kecil yang terombang-ambing di hempas lautan.
Dengan sekejap gelombang tinggi menghantam perahu mungil itu, Frek berusaha meraih tangan Lamora membawa gadis itu kembali kedaratan.
“Lamora,” Frek menepuk-nepuk pipi gadis itu. Lamora terbangun dengan terbatuk-batuk mencoba meraih kembali ingatan terakhirnya. “Apa yang terjadi Frek?” tanya Lamora.
“Perahu kita di hempas badai,” jelas Frek.
Lamora, mengalihkan pandangannya kesekeliling keterkejutan tampak tersirat di wajahnya. Gadis itu berlari dari tepian pantai menuju pulau yang lebih dalam. Dia menangis melihat kampungnya rata dengan tanah, tampak hanya sisa-sisa batang kayu yang berserakan di sana-sini.
Lamora melangkah lebih dalam menyusuri bukit tinggi di belakang tempat tinggalnya.
“Amu!” gadis itu berlari memeluk orang yang di panggilnya.
“Lamora, kemana saja kamu?” perempuan yang di peluknya menangis.
“Amu, apa yang terjadi?” tanya Lamora.
Amu yang merupaka ibu Lamora menjelaskan semuanya jika Dewa laut marah kita mengingkari janji. Lamora tertegun mendengar penuturan itu, tangannya gemetaran. Rasa bersalah mengalir di jantungnya, kareana kejadian ini pulau kecilnya yang asri luluh lantak. Sebagian penduduknya hanyut di bawah gelombang termasuk ayahnya.
“Apa yang bisa aku lakukan Amu?” tanya Lamora dengan penuh penyesalan, “Aku akan menembus semua ini.”
“Hanya satu hal yang bisa memperbaiki semua ini, kau harus menjadi tumbal untuk Dewa laut.” Seorang yang termasuk jajaran tetuah adat dengan lantang menyampaikan syarat yang harus di tebus Lamora untuk memperbaiki semua ini.
“Baiklah, aku bersedia menjadi tumbal,” Lamora dengan bibir bergetar menyuarakan itu. “Sebagai pertanggungjawabanku kepada seluruh penghuni suku ini, aku Lamora akan menjadi tumbal untuk dewa laut,” titah Lamora.
Frek tertegun mendengar itu, dia berusaha meraih tangan Lamora namun gadis itu melepaskannya. “Maafkan aku Frek,” Lamora berkata lirih dan melangkah meninggalkan Frek menuju warga Pulau Nauna yang menatapnya penuh harapan.
Seluruh warga pulau Nauna berkumpul di atas bukit menghadap lautan luas. Langit begitu gelap, Lamora berdiri di atas tebing bukit itu dengan pakaian adat kebanggaan sukunya. Para tetuah adat yang dulunya telah menjadi pemimpin ritual kepada Dewa laut mulai menari membaca matra. Lamora menutup mata, buliran-buliran air mata jelas terlihat di pipinya.
Tetuah adat itu selesai dengan tariannya, kini tinggal ritual terakhir. Tetuah adat itu mendorong Lamora dari tebing tinggi, Lautan dengan meliuk-liuk seolah menyambutnya. Gadis itu tenggelam bersama ombak yang perlahan kembali tenang. Rembulan sayup-sayup keluar dari balik awan hitan yang memudar. Penghuni Pulau Nauna bersorak penuh syukur, kelegaan tergambar di setiap penghuni pulau.
Seiring cahaya bulan yang semakin bulat, tampak sosok lelaki yang perlahan-lahan menguap menjadi butiran buih dan terbang bersama angin malam.