Aku melihat hpku. Sudah seminggu setelah pertemuan kami terakhir. Dia hilang kontak dan tidak pernah menghubungiku lagi. Hubungan kami memang memburuk. Terjadi pertengkaran kemarin. Dia mau aku mengikutinya ke kota tempat dia bekerja setelah menikah. Menikah??? Dia serius sudah memikirkan pernikahan. Sedang aku kekeh mau disini. Bagiku LDR seperti ini gak masalah. Aku sudah terbiasa. Hubungan kami menginjak tahun ketiga. Sudah terbiasa apa apa sendiri tanpa dia. Sampai dikira jomblo pun sering. Dan yang lebih asyiknya.... aku bebas berkencan dengan cowok manapun dibelakang dia. Hihihihi.
Aku emang play girl. Sejak bubarnya pertunanganku dengan cowok bernama Ari, aku sebenarnya tidak pernah membuka hati untuk siapapun. Aku mempermainkan lelaki seperti Ari mempermainkan aku dulu. Termasuk pada Hendro ini. Lelaki yang dikenalkan temanku sekantor. Setelah beberapa minggu kabar bubarnya pertunanganku dengan Ari tersebar. Aku menganggap Hendro sebagai pelarian saja. Pelipur luka hati yang sebenarnya masih ngenganga pasca putus pertunangan. Yang sebenarnya sangat merugikan pihakku sebagai perempuan. Berbagai gosip miring sampai jungkir balik aku terima di kantor, karena Ari adalah teman satu kantorku. Dan pria itu begitu pandainya playing victim. Seolah semua pertunangan yang bubar adalah salahku semua. Padahal cinta, perhatian, dan uang yang tidak sedikit aku berikan padanya. Anggap saja aku wanita bodoh yang mau dijadikan ATM berjalan selama masa kami pacaran dan tunangan. Jadilah aku seperti ini..... becoming play girl untuk membalas dendan dan pelampiasan.
Hpku bergetar tanda pesan masuk. Dengan sigap aku membukanya. Berharap pesan dari Hendro. Ah, entah kenapa juga aku merindukan pesan pesan darinya. Korban play girlku terlama. Aku menelan kecewa. Yang mengirim pesan Asep, cowok lain yang aku jadikan pacar juga. Dia ngajakin bertemu nanti malam. Ah, sudahlah. Lupakan Hendro, dan bersenang senang dengan Asep.
Aku dan Asep pergi ke sebuah cafe dengan lambang tiga teko. Kami berkencan layaknya anak muda. Cerita apa saja sambil makan. Elus elus tangan dan rangkul pinggang sedikit hehehe. Tiba saatnya pulang, Asep tidak memiliki uang kecil. Jadilah aku yang bayar parkir.
"Makasih!!!" kata tukang parkir ketus menerima uang dariku. Aku tercengang. Suaranya aku kenal. Dia Hendro!!!! Yang menggunakan topi dan rompi tukang parkir lusuh. Baju dan celananya juga lusuh. Sedang apa dia? Kenapa berada di kota ini?? Kami berpandangan sejenak. Dia menatapku kesal dan aku menatapnya kaget.
"Mas, tolongin Mas," pinta Asep, karena Hendro tidak membantu mengeluarkan motor. Tatapannya mematikan!! Aku merinding dengan tatapan Hendro padaku. Walaupun tidak sepatah kata pun terucap diantara kami.
Esoknya hari minggu. Pukul tujuh pagi Hendro sudah ada di rumahku. Aku menemuinya dengan gemetar. Selain karena baru bangun tidur juga hutang penjelasan tentu saja. Aku tahu Hendro menganggap hubungan ini serius. Dia bahkan bertanya kapan aku mau dilamar. Kapan keluarganya bisa datang dan hubungan kami yang LDR lama bisa naik jenjang. Selama ini aku menganggapnya enteng. Akulah yang mengulur waktu.
Kami sarapan dalam diam. Warung prasmanan tengah sawah itu masih sepi sepagi ini. Aku terus berfikir alasan yang tepat.
"Apa hubungan kita masih berlanjut?" tanya Hendro setelah meminum teh hangatnya.
"Menurutmu bagaimana? Aku... tentu saja masih menginginkannya," jawabku terbata. Yah, kalau boleh jujur, Hendro adalah cowok tersabar, cowok terbaik yang pernah aku temui selama masa play girlku. Itulah sebabnya aku betah LDR dengannya bahkan selama tiga tahun. Cowok lainnya hanya siggah beberapa bulan, kemudian aku putuskan.
"Kalau mau dilanjut, aku bukan pilihan! Kau harus menerimaku SAJA dan hentikan petualanganmu!" kata Hendro keras. Aku sampai gemetaran. Entah kenapa tatapan matanya menakutkan. Aku belum pernah melihatnya. Aku mengangguk patuh sambil menunduk.
"Siapa saja pacarmu sekarang?" tanya Hendro. Nadanya pelan, namun tersimpan amarah yang dalam. Aku merasa di introgasi. Ternyata aku kalah mental dari Hendro ini. Walaupu kesehariannya dia banyak mengalah mengikuti sifat manja dan semauku padanya.
"Kamu... Asep... dan... Tanto," jawabku lirih. Dia menggebrak meja kami. Aku terlonjak kaget. Pegawai resto mahal ini melirik kami. Untung sepi.
"Putuskan mereka! Keluargaku datang melamarmu minggu depan. Aku mau chat putus darimu untuk mereka sebelum minggu depan!" kata Hendro kemudian beranjak. Aku pun mengikutinya meninggalkan restoran ini.
"Tapi Mas kau juga hutang penjelasan padaku. Sedang apa kau disana? Pakai seragam parkir? Apa kau tukang parkir?" tanyaku nyerocos di parkiran.
"Kau akan tahu setelah menerima lamaranku!" jawab Hendro masih kesal.
Aku benar memutuskan semua pacarku dalam minggu ini. Entah kenapa aku takut juga di tinggal Hendro. Yah, dengan segala petualanganku dengan lelaki, sejujurnya aku lelah. Akan tetapi untuk mengakhiri pun sayang. Sepertinya petualanganku berakhir pada Hendro saja. Aku berhasil nego mengundur jadwal lamaran Hendro. Aku mau penjelasan dulu, kenapa dia bisa jadi tukang parkir. Setahuku dia adalah asisten branch manager pada sebuah retail berskala nasional.
Kami bertemu kembali minggu berikutnya. Hendro dengan sabar mengundur lamarannya. Hendro bilang kalau dia menjelaskan, aku harus menikah dengannya. Aku pun dengan mantap menyetujuinya.
"Aku anggota BIN," bisik Hendro menjelaskan semua kejadian tukang parkir itu. Akupun setuju menikah dengannya. Dan menjadikan dia satu satunya.
"Kau masih percaya padaku?" tanyaku pada Hendro. Pria itu mengangguk.
"Aku mengerti kau terluka. Aku tahu semua petualanganmu. Juga batas diri yang masih bisa kau jaga. Aku mengerti sakit hatimu dan menjadikan semua lelaki pelampiasan. Ini bukti aku mengerti kamu lebih dari lelaki manapun bukan?" kata Hendro sambil memegang tanganku.
"Mulai sekarang maafkan masa lalu. Melangkah maju bersamaku. Aku... mungkin punya banyak kekurangan, tapi aku tidak akan mengecewakanmu seperti Ari," kata Hendro mantap. Hatiku meleleh. Diambil alih oleh Hendro sepenuhnya.
Meskipun setelah kami bertunangan dan menunggu proses menikah, aku tahu dia tidak jauh beda dariku. Play boy!!! Mantanya segudang dan susah ngunciin gudangnya sangking penuhnya. Hedeeeeehhhhhh.....