**Cerpen: "Melodi di Tengah Bambu"**
Tokyo, 3 Mei 2023
Hari itu, aku tak sengaja bertemu dengan seseorang yang akan mengubah pandangan hidupku. Saat itu, aku sedang duduk di bangku taman, memandangi pepohonan sakura yang mulai mekar. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, namun kebahagiaan itu segera tergantikan oleh sesuatu yang tak terduga.
"Aduh!" pekikku kesakitan ketika sepeda seseorang menabrakku dari belakang. Tubuhku terjatuh, dan sepeda yang menabrakku berhenti beberapa meter di depanku. Aku merasa marah dan kesal. Baru saja aku ingin mengejar kebahagiaan, tapi sekarang, aku harus merasakan rasa sakit di lututku akibat kecerobohan seseorang.
"Dasar bodoh!" teriak seseorang dari belakangku. Aku menoleh, dan mataku bertemu dengan mata seorang pemuda yang berdiri di sana dengan tatapan dinginnya.
"Bodoh? Aku yang bodoh?!" gerutuku dalam hati. Aku merapikan pita di rambutku, mencoba mempertahankan sedikit martabat di depan orang ini. Rokku sobek dan lututku tergores akibat kejadian ini.
"Hei, apa katamu tadi?!" bentakku sambil menahan emosi.
"Aku bilang kamu bodoh! Masih kurang jelas? Dasar cewek ceroboh!" jawabnya sengit, lalu pergi dengan sepedanya tanpa memberiku kesempatan untuk membalas.
"Cowok pengecut!" teriakku dengan nada tinggi, tapi suaraku hanyalah angin sepoi-sepoi yang terbawa pergi oleh angin. Aku memutuskan untuk mengejar pemuda itu, tak terima diperlakukan seperti ini.
Ternyata pemuda itu mengayuh sepedanya dengan sangat cepat. Aku berusaha mengejar, tapi semakin jauh aku berlari, semakin menghilang pula punggung pemuda itu. Aku menghentikan usahaku dan menarik napas dalam-dalam. "Semoga suatu hari nanti aku bisa bertemu dengannya lagi dan memaksanya untuk minta maaf padaku," gumamku.
Pelan-pelan, aku berjalan menyusuri jalanan wilayah Sanjo. Orang-orang terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Senyum ceria mereka membuatku lupa sejenak akan kejadian yang menyebalkan tadi. Kyoto, kota yang indah, penuh semangat dan keceriaan. Apalagi saat ini, di musim sakura, membuatnya tampak lebih cantik dan mempesona.
Sambil tetap mengayuh sepeda, aku mengganti lagu di pemutar musikku. Suara merdu Yui mengalun dalam lagu "Stay with Me," mengalihkan perhatianku dari rasa sakit dan emosi negatif. Lima belas menit kemudian, aku sudah sampai di depan rumah.
"Tadaima!" seruku ketika membuka pintu dan langsung berjalan menuju kamarku. Aku ingin membersihkan luka di lututkanku secepatnya. Saat luka lecet itu bersentuhan dengan obat cair, rasanya seperti ada api kecil yang membakar. Aduh, pikiranku pun kembali melayang ke wajah pemuda tadi.
"Ohayou gozaimasu, Miyuki!" sapa temanku, Yayoi, saat aku masuk ke kelas pada hari berikutnya.
"Ohayou gozaimasu!" jawabku sambil tersenyum. Aku menemukan tempat dudukku dan mulai mengatur buku-buku di dalam tas.
"Ada apa, Yayoi?" tanyaku melihat Yayoi yang terlihat bingung mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.
"Miyuki, aku kehilangan kunci loker. Aduh!" jawabnya gusar sembari membongkar isi tasnya.
"Mungkin terselip saja," kataku sambil membantu mencari di antara buku-bukunya. Kunci loker memang kecil dan mudah terselip di antara buku-buku yang tebal.
Setelah beberapa saat, Yayoi mengeluarkan selembar buku komik dari dalam tasnya. "Setibanya di sekolah tadi aku sempat membuka tas untuk mengeluarkan komik. Mungkinkah kunci itu terjatuh ya?" Yayoi berucap khawatir.
Aku mengerti kekhawatiran Yayoi. Lima menit lagi pelajaran akan dimulai, dan jika Yayoi tidak menemukan kunci lokernya, dia tidak akan bisa mengganti sepatunya dengan uwabaki. Sensei Terumasa tidak suka jika ada murid yang tidak mengikuti aturan.
"Emm… mungkin kunci itu terselip di komik kamu, Yayoi. Sekarang komik itu ada di mana?" tanyaku setelah tidak menemukan kunci di antara buku-bukunya.
"Miyuki, komik itu sudah dibawa Satoru. Aku meminjamkannya karena dia mau mengantarku pergi ke sekolah hari ini," kata Yayoi menjawab pertanyaanku. Sekarang Yayoi hanya terduduk di depan lokernya dengan wajah menyerah.
"Satoru?" ujarku mengulang nama yang disebutkan Yayoi.
"Dia tetangga baruku, Miyuki. Pindahan dari Osaka. Dia seusia dengan kita tapi sayangnya tidak bersekolah di sini," jelas Yayoi.
Aku mengangguk lalu tersenyum. Tiba-tiba, suara piano mengalun di ruangan. Beberapa anak beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kelas masing-masing.
"Ohayou gozaimasu, Satoru!" sapa Yayoi kepada Satoru yang tiba-tiba muncul di depan lokernya.
"Ohayou gozaimasu. Do itashimashite, Yayoi!" jawab Satoru sambil tersenyum manis. Aku terpaku sejenak melihat senyuman itu. Ada sesuatu yang aneh di dalam diriku.
Tiba-tiba
, Yayoi menghampiriku, "Miyuki, tolong minta komikku kembali dari Satoru ya. Aku mau ke kelas dulu. Arigatou!" Yayoi pergi meninggalkan aku dan Satoru yang masih berdiri di depan loker.
"Satoru, bisakah aku minta komik Yayoi? Dia kehilangan kunci lokernya yang ada di dalam komik itu," pinta ku sambil tersenyum.
"Sudah kubaca, kok. Komiknya bagus, lho. Ayo, aku antar kamu ke kelas," ajak Satoru sambil menaruh komik di atas meja.
Aku mengikuti langkah Satoru. Pelajaran berjalan seperti biasa, tapi mataku sesekali melirik ke arah Satoru yang duduk di sampingku. Entah kenapa, senyuman manisnya membuat hatiku berdebar-debar.
Saat istirahat, aku berjalan ke taman sekolah untuk memberikan komik tersebut kepada Yayoi. Ternyata, Yayoi sudah duduk di bawah pohon sakura sambil membaca buku.
"Oh, Miyuki! Arigatou!" katanya ketika aku memberikan komiknya.
"Yayoi, tadi Satoru yang memberikan komik ini padaku. Dia sudah membacanya, jadi kamu tidak perlu khawatir kehilangan kunci lokermu," kataku sembari duduk di samping Yayoi.
Yayoi tersenyum, "Terima kasih, Miyuki. Satoru memang baik hati ya. Aku senang dia jadi tetangga kita."
Tiba-tiba, Satoru muncul di depan kami. "Miyuki, Yayoi, kalian suka musik klasik?" tanyanya.
"Emm, ya, kenapa?" jawabku bingung.
"Sudah tahu kan ada konser piano di Kyoto Hall besok malam? Aku dapat tiket gratis. Mau ikut?" ajak Satoru dengan senyum lembutnya.
Aku memandang Yayoi, dan kami saling bertukar pandang. "Tentu, Satoru! Aku mau!" jawabku penuh antusias.
"Bagus. Aku akan menjemput kalian di depan rumah besok pukul tujuh malam. Sampai jumpa besok!" ujar Satoru sambil berlalu pergi.
Aku dan Yayoi hanya bisa saling memandang. Apa ini? Kenapa hatiku berdebar-debar seperti ini?
Besok malamnya, Satoru benar-benar datang menjemput kami di depan rumah. Kami bertiga berjalan bersama menuju Kyoto Hall. Ruangan konsernya begitu megah dan penuh dengan penonton yang antusias. Satoru membimbing kami menuju kursi yang terletak di barisan depan.
Konser dimulai, dan suara indah melodi piano mengisi ruangan. Aku terhipnotis oleh permainan piano yang begitu memikat. Pandanganku beralih ke samping, dan mataku bertemu dengan mata Satoru. Kami tersenyum satu sama lain, seakan mengerti bahwa musik ini membawa kita ke suatu tempat yang indah.
Setelah konser selesai, Satoru mengajak kami berdua keluar. Di luar, taman bambu yang indah menjadi saksi dari awal cerita kami yang tidak mengenakkan. Kami duduk di bawah pohon bambu, mendengarkan suara gemercik air dan hembusan angin yang menyegarkan.
"Terima kasih, Satoru. Konsernya luar biasa indah," ucap Yayoi.
"Aku senang kalian suka. Musim sakura memang waktu yang tepat untuk menikmati keindahan musik klasik," kata Satoru sambil memandangku.
Aku merasa detak jantungku semakin kencang. Ada kehangatan di mata Satoru yang membuatku merasa nyaman. Tiba-tiba, aku tersadar, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda ketika bersama Satoru?
Satoru berdiri dan melangkah ke depanku. "Miyuki, sejak pertama kali kita bertemu, aku merasa ada sesuatu yang istimewa. Apa kita bisa saling mengenal lebih baik?"
Mataku membelalak. Apa yang baru saja diucapkannya? Apakah ini yang aku rasakan? Aku menatap Yayoi, yang tersenyum dan mengangguk memberiku semangat. Aku menoleh kembali ke arah Satoru.
"Satoru, aku…" belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Satoru tiba-tiba membungkuk dan mencium bibirku dengan lembut. Hatiku berdebar kencang, tapi ada rasa bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Maafkan aku jika ini terlalu mendadak. Tapi aku merasa, ada sesuatu yang menghubungkan kita," ucap Satoru sembari tersenyum.
Aku hanya bisa tersenyum malu. Ternyata, takdir memang penuh kejutan. Dari kecelakaan sepeda yang menyebalkan, hingga konser piano yang membawa kami pada hubungan yang tak terduga. Kami berdua duduk di bawah taman bambu, saling bertatapan dengan penuh makna, dan merasakan kebahagiaan yang tumbuh di antara dedaunan hijau yang menari-nari.
*Akhir cerita.*