Hujan sangat deras diluar sana, aku merapatkan kardigan ku untuk menambah kehangatan tubuh, kulangkahkan kakiku menuju dapur setelah kudengar ceret yang berdesing menandakan air yang ku masak sudah matang.
Akupun menuangkan air panas itu kedalam cangkir yang sudah berisi bubuk coklat, aku mengaduknya, sesekali terdengar bunyi dentingan antara sendok dan gelas yang beradu.
Setelah selesai, aku pun duduk di sofa ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku mencari-cari channel yang menurutku cocok, hingga aku berhenti di channel TV yang menampilkan sekilas info berita, sebenarnya aku menyalakan TV untuk menemani ku saja, di apartemenku ini, hanya ada aku saja, diluar masihlah hujan deras,
Aku menyeruput sedikit coklat panas yang sempat kudinginkan sebentar, lalu membuka majalah feminim yang masuk dalam daftar list bacaan ku Minggu ini.
Ting Tung ...
Aku melihat pintu masuk apartemenku yang dapat kulihat dibalik celah buffet yang membatasi antar ruang keluarga dan tamu.
Sebentar, agak merinding juga, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, hujan deras diluar, dan disini hanya ada aku dan suara presenter yang tengah menyampaikan berita kecelakaan pesawat di televisi, diluar siapa?
Siapa yang mau bertamu malam-malam begini?
Sahabatku, yang benar saja, aku tidak memiliki nya, orangtua? Aku anak rantau, dan orangtuaku sudah tua, tapi bisa saja sih mengingat banyak kemungkinan yang bisa terjadi.
Tapi kan, aku butuh jaga-jaga, mengingat aku perempuan dan tinggal sendirian, atau jangan-jangan ... Nana?
Ahhh, aku jadi rindu pemuda itu, mengingat kami masihlah menjalani LDR, mengenaskan bukan? Hubungan paling sabar dan menyakitkan bagi ku adalah hubungan yang dijalani dengan jarak jauh seperti ini, kesetiaan diuji setiap harinya.
Ting Tung ...
Astaga! Aku melupakan tamuku! Segera aku beranjak dan melangkah menuju pintu masuk, aku mengintip sebentar dibalik lubang pintu sejenak. Tidak ada siapapun, aku mengernyit, aku kembali dibuat deg-degan.
Namun aku mencoba memberanikan diri, kubuka perlahan knop pintu, aku benar-benar membukanya perlahan, dan selama aku membuka aku mencoba mengintip dari sela pintu.
Degh!!!
Pintu terbuka lebar, dan menampilkan seorang pemuda dengan kulit putih pucat, mata sipit dan ... oh, kali ini cat rambutnya berwarna biru, bibirnya yang tampak merah (seingatnya dulu waktu terakhir kali bertemu) tampak menjadi pucat.
Tanganku lemas, bahkan aku tak lagi memegang knop pintu saking lemasnya, bibirku bergetar, perasaanku membuncah, kurasakan panas dimataku, dan itu membuat mataku berair.
"Na-na ... "
Nana, pemuda yang sempat kubahas tadi, tengah berdiri di depanku dengan senyum tipisnya, setelah bertahun-tahun, ini adalah pertemuan kami untuk, entah yang keberapa kali secara langsung.
"Hai ... "
"Seulbi ... "
Aku ingin menerjangnya sungguh!!! Sangat inginnn menerjangnya, memeluknya erat, tapi ternyata ini semua terasa canggung setelah sekian lama berpisah.
🕯️🕯️🕯️
Lima belas menit berlalu dengan kami duduk bersampingan, tak ada pembicaraan dan itu sungguh menyiksa, namun diantara kami juga tidak bisa memecah keheningan dan menepis kecanggungan ini.
Masih canggung, aku sudah menawarinya minum juga namun dia menolak, berkata bahwa sebelum kemari dia sudah mampir di restoran agar tidak merepotkan ku nanti katanya.
"Uhm ... kenapa tidak menghubungi ku dulu?" Tanyaku gagap. Aku tak berani menatap matanya.
"Surprise!"
Sungguh! Nana imut disana aku ingin memekik, namun aku masih menahan diri, oke, okee tenang Seulbi, tenang, kau harus anggun dan menjaga sikap didepan kekasihmu yang sudah lama tak berjumpa bertahun-tahun, masih butuh pembiasaan diri dengan karakter masing-masing.
"Untuk berapa lama?" Tanya ku lagi.
Hening, aku meliriknya sekilas dan dapat kulihat dirinya yang menatap lain, aku sedikit mengernyit.
"S-sepuluh? S-sepuluh hari? Apa itu cukup?"
"Kamu menawari ku Na?" Tanyaku lalu menatapnya.
Degh!
Aku menggigit bibir kuat-kuat, menahan perasaan yang membuncah didadaku. Aku sempat menahan nafas sejenak.
"Bagaimana?" Tanyanya menatap lain,
Aku memejamkan mata, dan mencoba mengatur nafas,
"I-itu ... udah lebih ... dari cukup Na," aku menunduk sembari menjawab
Nana tersenyum bisa kurasakan ia melalui ekor mataku, dia menghadap kearahku
"Terimakasih,"
"Tidak! Aku yang terimakasih, terimakasih kamu mau datang," ucapku bergetar.
"Aku akan siapkan kamar, atau ... kamu mau istirahat dikamarku dulu? Aku belum sempat membereskan kamar yang satunya,"
"Tidak!"
"Tidak perlu Seulbi, kamu tetap tidur di kamarmu saja, aku tidak masalah,"
Canggung, intinya canggung ...
🕯️🕯️🕯️
Aku menepuk-nepuk jaket mantelku, setelah satu hari kemarin Nana beristirahat, malam ini, kami berencana akan jalan-jalan bersama, ternyata Nana telah menunggu ku di ruang tamu, aku tersenyum menatapnya, dia juga memakai jaket mantel sama seperti kemarin yang ia pakai, yaahh mengingat ini musim hujan, dan udara malam ini dingin, jadi kami menggunakan jaket mantel.
Aku sempat melewati kamar tempat Nana tidur, masih terbuka seperti kemarin, barang-barangnya juga belum dia bereskan, tak apalah, mungkin dia lelah?
Aku meneguk ludah sendiri entah, hatiku berdebar nyeri.
Kami pun berjalan bersisian keluar dari apartemen, kami berjalan-jalan di taman kota, dan sesekali berbicara, masih canggung, entah kenapa aku seperti terjaga, aku masih saja berusaha menjaga sikap didepan Nana yang bahkan selalu menatapku dengan senyum tipisnya, aku balas tersenyum,
Aku menyelami netranya dalam, dan jantungku makin berdegup nyeri.
"Dingin Seulbi, kamu benarkan syal mu," ucap Nana pelan,
"Iya sebentar,"
"Benarkan Seulbi," pintanya pelan, aku pun menurut dan merapatkan syal ku,
"Malam yang indah,"
Aku menatap langit-langit, tersenyum rapuh,
"Iya,"
🕯️🕯️🕯️
Aku menghabiskan hari-hari ku bersama Nana, yang tak terasa sudah delapan hari saja Nana di apartment ku.
Aku sedang membuatkannya teh hangat, untuk menemani sore gerimis ini,
Nana duduk di sofa keluarga sembari menatap jendela yang terkena rintikan hujan.
"Ngomong-ngomong," ucapku setelah meletakkan gelas di meja ruang keluarga.
"Kamu ada libur apa sampai sepuluh hari lamanya?" Tanyaku lalu menyeruput tehku pelan-pelan, sembari menatap teh yang kubuatkan untuk Nana, dan itu sia-sia.
"Uhm, aku mengambil cuti,"
"Cuti? Sebanyak itu?" Aku berujar seolah semua keadaan baik-baik saja dan normal.
"Dua hari lagi ulang tahunmu Seulbi, aku mengumpulkan semua jatah cutiku, kujadikan satu agar ... aku bisa lama bersamamu,"
Tanganku lemas, mataku memanas lagi, menatap Nana yang masih setia menatap jendela, aku menatap matanya dalam.
"Terimakasih ... "
Nana tersenyum, kali ini sedikit lebar, walau dia tidak menatapku.
🕯️🕯️🕯️
Happy Birthday!!!!
Aku dan Nana sekarang sedang berada di toko roti, untuk merayakan ulangtahun ku, kali ini aku ingin merayakan ulangtahun ku hanya berdua dengan Nana, Nana terus setia disampingku, aku dari tadi sibuk mengoceh menanyakan kira-kira kue apa yang enak kali ini untuk dimakan.
Aku berdiri di lemari kaca yang menyimpan banyak kue ulangtahun disana,
Mataku redup, dengan lirih bertanya,
"Nana, kira-kira ... kue apa yang lezat?" Aku bertanya dengan memaksakan senyumku, aku berlagak seolah sedang memilih-milih,
"Semuanya enak," jawab Nana kalem.
Aku menggigit bibir kuat-kuat, dan kupanggil pelayan untuk mengambilkan Blackforest dengan toping Cherry.
Aku berjalan keluar dari toko kue sambil menenteng kantung kresek berisi box kue.
Aku pun sampai diapartemen, melepas mantel dan meletakkan kue ultahku di meja ruang keluarga.
Nana sudah duduk di karpet depan kue yang kuletakkan.
Aku duduk dihadapannya sembari membawa beberapa lilin, tidak ada lilin angka tadi, hanya tersisa beberapa angka yang tidak bisa mendefinisikan umurku yang sekarang, sehingga aku memilih lilin warna-warni yang kecil.
Nana masih tersenyum sembari menatapku, aku menyalakan lilinnya satu persatu. Langit sudah menggelap diluar sana, gordyn jendela ruang keluargaku belum kututup, agar aku bisa mendapat pemandangan indah diluar sana.
"Buat harapan," ucap Nana pelan sambil tersenyum tipis kearahku, aku menunduk, dan mulai menangkupkan tanganku,
Akhirnya,
Aku sudah berada dipuncak, aku menangis tanpa suara, namun aliran air mataku deras, aku mulai menatap Nana.
Hingga terdengarlah isakan kecil,
"Aku ... ingin ... " Aku mulai mengucapkan permohonanku dihadapan Nana,
"Nana berada disamping ku, hiks hikss—"
"Untuk selamanya ... "
Aku dapat melihat emosi lain diwajah Nana setelah sembilan hari ia hanya memasang wajah itu dan itu terus, wajah kalem yang bahkan tak pernah berubah. Nana menatapku dengan sorot hampanya. Cahaya lilin bahkan tak terpantul disana, membuat hatiku makin teriris-iris belum bisa menerima kenyataan.
"Maaf ... "
Aku menunduk dan menangis lah aku tersedu-sedu,
"Jangan pergi ... hikss hikss,"
"Kenapa kamu jahat Nana ... hiks hikss ... "
Aku tak bisa melihat cahaya dimata bening Nana, dia menatap dengan tatapan kosong, hampa.
"Maafkan aku ... Seulbi ... "
"Hiks hikss," aku menangis sambil melihat kamar Nana yang bahkan kondisinya masih sama seperti sebelum dia datang, pintunya bahkan masih terbuka yang membuat ku bisa menatap dalamnya yang benar-benar masih sama tak ada perubahan.
"Hiks hikss ... "
"Jen Lee akan kemari setengah jam lagi," ucap Nana, aku menunduk masih dengan tangis tersedu-sedu ku,
"Maafkan aku Seulbi,"
Aku beranjak menuju kamarku diikuti Nana, aku membaringkan diri dikasur dan menyelimuti tubuhku yang masih bergetar karena tangisan ku. Aku melupakan kue ultah dan lilinnya yang masih menyala.
"Kenapa bisa terjadi, hikss hiksss, kenapa kamu meninggalkan ku begitu cepat?"
"Saat itu ... pesawat dalam kondisi tidak stabil,"
Aku semakin terisak-isak,
"Nana jangan pergi hikss hiksss,"
"Aku hanya ingin melihat kamu baik-baik saja Seulbi,"
"Hiks hikss,"
"Jangan menangis dihari bahagiamu,"
"Ini sudah hari kesepuluh hikss, kamu akan meninggalkan ku untuk selamanya, hikss hikss,"
Aku merasakan sebuah kehangatan, seolah seseorang mendekapku, tapi itu tidak ada, ini ... dekapan Nana dulu,
"Maafkan aku,"
"Hikss hiksss,"
"Kamu jahat Nana, hiksss hiksss jangan pergi ... hikss hiksss,"
"Seulbi, yang perlu kamu tau ... "
"Aku tetap mencintaimu, aku selalu mengingatmu disaat terakhirku kala itu ... "
"Seulbi, aku akan selalu mencintaimu ... "
"Hikss hikss,"
Aku masih syok dengan ini semua, kenapa?! Disaat semuanya yang telah kujalani, pengorbanan kami dalam menjalani hubungan, kenapa harus berakhir seperti ini?! Kenapa?!
"Nana jangan pergi ... " Aku masih menggumamkan kalimat permohonan itu, yang entah masih didengar oleh Nana atau tidak.
Aku ingin menyusul Nana juga, aku memeluk lututku, meringkuk didalam selimut, aku sudah tidak lagi merasakan dekapan hangat itu.
"Nana ... hiks hikss hiksss jangan pergiii ... " aku memukul-mukul kasurku, histeris, menangis sejadi-jadinya,
Mataku sangat bengkak, hatiku masih sesak.
Ting Tong!
Aku masih menangis tersedu, aku mengingat pesan Nana tadi bahwa Jen Lee akan datang, aku berjalan tertatih-tatih, lilinnya sudah habis meleleh menyatu dengan krim kue, aku menatap nanar semua itu, teh dingin Nana yang kubuatkan kala itu masih penuh, belum tersentuh sama sekali, kamarnya masih sama, tak ada perubahan,
Aku kembali menangis, menangisi kepergian Nana yang belum aku terima.
Aku membuka pintu pelan tanpa mengecek siapa yang datang.
Kini, tampaklah postur tegak Jen Lee yang berdiri di depanku, ia agak terkejut lalu menatapku cemas.
Aku segera menerjang tubuh Jen Lee erat dan menangis disana.
"Nana ... hikss ... Nana pergi ... "
Perlahan aku rasakan tangan Jen Lee yang mengusap rambutku.
"Maaf baru mengabari mu sekarang, aku baru bisa kesini," ucap Jen Lee pelan.
"Hikss hiksss, kenapa tidak ada yang mengabariku sama sekali??!!!" Isakku,
"Orang tua Nana tidak ingin membuatmu sedih,"
"Hikss hiksss,"
"Seulbi ... "
Aku masih menangis didepan Jen Lee yang masih setia mengusap kepalaku.
"Selamat ulang tahun ... "
🕯️🕯️🕯️
Awalnya aku tak ingin percaya, namun, melihat cara Nana menatapku kala itu memang benar-benar berbeda, bahkan aku tak bisa melihat bayanganku di matanya yang bening, matanya hampa, kosong.
Setiap kali kedinginan, Nana akan sukarela merapatkan syal yang kupakai, perlakuan kecil darinya itu selalu membuatku menghangat jika menghabiskan waktu jalan malam bersama. Namun kala itu, dia tidak membenarkan syalku, dia ... tidak lagi bisa ...
Aku menahan sesak kala melihat cangkir teh yang berada di depanku, tak tersentuh, tak berkurang, sepuluh menit yang lalu kala itu, aku habiskan dengan menatap jendela yang Nana tatap tadi, aku bahkan tak bisa melihat pantulannya di kaca jendela, dan lagi-lagi, dia menolak pemberian makanan ataupun minuman dariku.
Aku mengunjungi toko roti, aku selalu suka berkaca di almari etalase toko roti itu, namun sekali lagi, pedih aku menatap, aku tak bisa melihat bayangan Nana yang bahkan berdiri tepat disamping ku kala itu.
Puncaknya, aku benar-benar tak bisa melihat pantulan cahaya lilin dimatanya yang jelas-jelas berada tepat didepan matanya, aku ingin menangis dan menerjang Nana untuk kupeluk, aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memeluk Nana,
Selalu saja pemuda itu, pemuda itu yang selalu mendekapku hangat, kali ini pun ...
Aku tidak menyangka secepat ini akan pergi dan jiwanyalah yang pertama kali datang menghadap padaku ... aku menangis, terus menangis meratapi semuanya.
Nana ... Aku mencintaimu, dari Seulbi, peluk jauh dari Seulbi yang tidak pernah bisa memelukmu ...
🕯️🕯️🕯️
Nana itu Na Jaemin
Seulbi Itu aing
Jen Lee itu sahabat Nana, Lee Jeno wkwkwk
Ini cerita halu lagi sebenarnya, cuma halu nyesek, duhhh hikkss kuharus ditinggal Nana, untung gak jadi janda yaa Seulbi wkwkwk
Enjoy guysss