Pada langit yang biru, aku memulai suasana baru, aku melangkah kan kaki ku satu persatu, menuju pintu gerbang sekolah yang senantiasa
terbuka lebar untukku.
Berlari dengan wajah yang berseru, menggunakan kaca mata yang ku pakai selalu, memperhatikan orang-orang yang melihatku.
Membuat diriku yang bertanya ada apa denganku? apakah ada yang salah pada diriku? aku sangat pemalu walau hal itu bukan lah keinginan ku.
Aku hanya berharap satu yaitu menemui teman yang menganggap ku.
Nara venyca wanita berkacamata dengan rambut panjang, kulit putih, bertubuh langsing dan tinggi.
Tatapan orang-orang padaku sangat tidak membuat ku yakin apakah aku bisa berinteraksi dengan baik.
****
Hari pertama sekolah, aku menuju kelas sambil menundukkan kepala ku yang sambil berjalan, ketika berjalan aku tidak sengaja menyentuh seseorang yang tidak ku kenal, ternyata ia adalah seorang wanita cantik dengan wajah yang berseri- seri, berambut pendek dan memakai poni, betapa terpukau nya diriku ketika melihat wanita secantik dirinya, ia bersama teman teman nya, namanya adalah Ria gemany.
"sialan, bisa melihat tidak?" dengan nada tingginya.
Ternyata aku salah, wajah nya tak seindah sifatnya.
Aku sangat ketakutan pada saat itu, untungnya ada seorang pria yang bertubuh tinggi, berwajah tampan, dan berkulit putih, bernama Jean aldaren. Ia datang kepadaku dengan berkata "dia tidak sengaja. kenapa harus marah?" ucap pria itu kepada ria.
Ria pun kesal akan hal itu
Lalu ria meninggalkan ku seorang diri bersama teman teman nya dengan wajah yang tak suka,
Sedangkan Jean, Jean pun pergi meninggalkan ku walau aku tak sempat mengeluarkan kata terimakasih padanya. namun aku berfikir pada diriku yang ingin meminta maaf atas perbuatan
ku pada ria.
Rasa bersalah ku terus meneror ku, aku selalu mencari arah untuk menemui nya. Tapi rasanya terlambat bagiku karena waktu yang harus ku kejar untuk duduk di kelas baru.
***
Aku melangkahkan kaki ku menuju kelas dan berjalan ke arah meja yang bewarna coklat dengan kursi kayu yang membuat ku nyaman akan duduk di situ, sembari melihat keadaan sekitar kelas, aku melirik lirik ke arah jendela sambil duduk pada kursi yang sedang ku duduki
"bunga nya cantik sekali"
"seperti dirimu"
saut pria itu
mataku tertuju pada pria tersebut, dan ternyata ia adalah pria yang membantuku pada pagi itu, Jean aldaren.
Hal itu membuat ku tersenyum tipis, nara pun menyadari akan kebaikan yang di lakukan Jean padanya.
"e-eh k-kamu, kamu ada di kelas ini juga?"
"kalau kamu melihat nya begitu, kenapa harus bertanya lagi. dasar aneh"
pria tersebut duduk di samping wanita itu, sehingga wanita itu tak sanggup untuk mengeluarkan kata kata pada bibir manisnya
"Kenapa diam saja?"
"ee-ehh, soal kejadian tadi.. aku berterimakasih padamu, aku benar-benar gugup sehingga ketika aku jalan tak sengaja menyentuh wanita itu"
"Lain kali berhati-hati lah. wanita yang kau maksut itu ria, dia adalah wanita yang sangat menyeramkan"
"Oh benarkah, bisakah kamu membantu ku untuk menemui nya.. aku sangat ingin meminta maaf padanya"
"Ya. sehabis pelajaran kita ke kelas nya"
***
Istirahat pun tiba
Jean menghampiri meja Nara dan mengajak Nara ke kelas ria yang tak jauh dari kelas nya, tibalah di kelas ria.. Nara dan Ria bertemu walau Nara masih ragu ragu untuk mengeluarkan kata dari mulutnya
"kamu lagi, ngapain disini?"
"R-rria, aa-aku mm-iinta m-mmaaf a-kan hal tt-adi"
"pftt, aku tidak mendengar nya, bisakah kamu besarkan nada suaramu. agar semua orang tau"
"aku tidak bb-bermaksud soal tadi pagi.. aku bener bener minta ma-"
Nara yang belum selesai berbicara tiba tiba di potong pembicaraan nya oleh Jean dengan berbicara kepada Nara
"apakah kau bercanda? mau saja disuruh sama wanita sihir ini, kau tadi sudah meminta maaf padanya, berarti sudah selesai urusan mu padanya, ayo pergi" ucap Jean
"Tt-ttaapii" ucap Nara yang terbata-bata
"Jean, ini bukan urusanmu. jangan ikut campur!"
ucap ria dengan tegas nya
"Siapa?"
"kamu"
"yang peduli?"
jawab Jean dengan memegang tangan Nara sambil membawa nya keluar dari kelas ria
***
Hari demi hari aku selalu berinteraksi padanya, bahkan ketika ria berusaha mengganggu ku Jean selalu ada bersama ku, Jean selalu melindungi ku.
Jean mengajarkan ku beberapa hal, memberi tahu ku arti dari kehidupan, Jean juga pernah berkata kepada ku, bahwa dewasa tidak tergantung pada umur, tapi pemikiran.
banyak hal yang ku lakukan bersama nya, sehingga membuat ku nyaman akan sikap nya, dirinya ada pada diriku sehingga ketika tidak bersamanya separuh jiwa ku ikut pergi.
Jean sangat penasaran bagaimana wajah Nara ketika mengurai rambut nya dan melepas kacamatanya, Jean pun bertanya pada Nara
"bisakah kamu sehabis pulang sekolah menemui ku di taman? tapi, jangan gunakan kacamata mu"
"ehh.. baiklah" Jawab Nara dengan pasrah
***
pada saat pulang sekolah Nara bersiap siap untuk menemui Jean, betapa berguncang nya hati Nara ketika Ia ingin menemui Jean, sebelum berangkat menemui Jean, Nara selalu memakan makanan kesukaan nya yaitu Gence Ruan makanan khas Kalimantan Timur.
Ketika sudah merasa kenyang, Nara merias wajah nya dengan secantik mungkin. Ia tak memakai kaca mata dan mengurai rambut nya sesuai permintaan jean, Nara pun tidak percaya itu dirinya karena selama ini Nara tidak pernah melakukan hal itu pada dirinya. Setelah itu, Nara bergegas ke taman menemui Jean.
Jean yang menunggu kedatangan Nara di taman tiba tiba terkejut karena hampir saja tidak mengenali wanita tersebut.
Ternyata wanita cantik yang sedang menemui nya adalah Nara.
Jean sangat terkejut akan hal itu, dan memegang kedua tangan Nara
"N-nara?"
Ucap Jean dengan gugup nya
"Iya?"
"Hari ini, di saksikan oleh bunga bunga cantik di taman, yang sedang berada di atas tanah dan burung yang berterbangan, kita berbicara empat mata, maukah kamu menjadi kekasih ku, aku akan selalu menjaga mu di setiap langkah mu. aku tak sempurna makanya aku membutuhkan mu untuk menyempurnakan diriku"
Kata manis yang keluar dari mulut pria itu melelehkan hati sesosok wanita yang tak menyangka apakah ini nyata atau hanya sekedar bercanda.
Bermain dengan logika dan perasaan.
membuat Nara tersenyum tipis dan menganggukan kepala nya.
Menandakan bahwa mengiyakan jawaban tersebut.
Nara yang berharap mendapatkan teman justru mendapatkan pasangan seumur hidup, hal ini di luar pemikiran Nara.
Mereka bersama hingga lulus SMA.
Jean berjanji pada Nara setelah lulus SMA Jean akan menikahi Nara dan hidup bersama selamanya.