Hari yang indah untuk Tev, anak kecil yang sedang berulang tahun sekarang, Ayahnya akan pulang dari kantornya lebih cepat hari ini. Namun, sudah 3 jam Tev menunggu kedatangan ayahnya, sudah hampir jam 8 malam ayahnya belum datang. Tev akhirnya meminta Ibunya untuk menelpon Ayahnya, Ibunya awalnya tidak mengizinkan karena ayahnya tadi sudah bilang sedang dalam perjalanan, tetapi Tev bersikeras meminta untuk menelpon Ayahnya... akhirnya mereka pun menelponnya.
* * *
"Drrt Drrt" Suara ringtone dari handphonenya ayah, rupanya sang ayah terjebak macet dan juga keadaan saat itu sedang hujan, membuat pandangan jadi sulit terlihat.
sang ayah mengambil handphonenya dan mengangkat panggilan tersebut. "Halo Tev~ maaf ayah belum sampai sesuai janji ya..." ucap ayahnya pada Tev sambil nyengir.
Tev membalas "kalau gitu ayo cepat datang
kemari!" Tev berteriak, tidak sabar pada ayahnya yang saat itu sedang teleponan sambil mengemudi. suaranya cukup besar hingga membuat suara nyaring di handphone keduanya, ayahnya pun tertawa.
"ayah akan segera pulang kok. tenang saja Tev, Ayah akan merayakan ulang tahunmu!" sambil memberi jempol besar pada Tev lewat panggilan mereka.
"baiklah Tev, kau sudah puas? sekarang mari biarkan ayahmu mengemudi dengan tenang dan fokus." pinta ibunya.
"bu, apakah tidak bisa... mengobrol bersama ayah lewat panggilan sampai ayah pulang...?" Ibunya menggeleng.
"sudahlah sayang, lagi pula aku bisa kok sambil mengemudia juga." senyum ayahnya. Tev bahagia, dan bahagianya itu terukir dari senyumannya yang lebar. Ibunya pun hanya menghela nafasnya,
Mereka pun akhirnya mengobrol lewat panggilan, bersama Ayah, sambil mengemudi. Sudah beberapa menit setelah macet terus menerus, sekarang jalanan sudah kosong, sepi, dan licin. Ayah yang ingin menutup panggilannya tidak enak karena Tev yang masih bercerita tentang sekolahnya, dan akhirnya Ayahnya terus melakukan panggilan sambil mengemudi.
.
.
.
Disaat itulah Tev melihat ada seseorang dibelakang kursi Ayahnya. "Ayah apa itu?" ucap Tev sambil menunjuk ke kaca belakang, (posisi handphone ayahnya ditaruh di depan ayahnya) Ayahnya pun menengok ke arah yang Tev tunjukan, tetapi ia tidak melihat apa apa...
"BRAK" suara yang nyaring, berisik, dan keras. suara benturan yang akan membuat siapapun takut mendengarnya. Tev, melihat pemandangan itu secara langsung, dan menangis.
-
"tenang saja Tev, dia sudah tenang..." ucap seseorang kepada Tev."Malaikat...ibu?" dan itu pun teringat terus sampai sekarang, saat umur Tev sudah 25.
-
Malam yang indah untuk 2 pengantin baru, Tev memberi pelukan hangat untuk kekasihnya, Retto. Cukup romantis untuk pasangan baru bukan? sudah 3 Tahun dia menjalankan hubungan dengan status 'Pacaran', sekarang mereka akhirnya sudah menikah 3 minggu.
"Tev, nanti pagi kau ingin makan apa?" tanya Retto pada Tev, "bagaimana kalau Spaghetti?" jawab Tev sambil bertanya juga, dan mereka akhirnya sepakat bahwa sarapan pagi mereka besok adalah Spaghetti.
Hari sudah berganti menjadi pagi, Tev bangun dan sudah tidak melihat Retto disampingnya. "Mungkin dia sedang masak" dan Tev beranjak dari kasurnya menuju dapur, dan benar saja Retto sedang memasak.
"selamat pagi sayang~" ucap Tev lembut,
"pagi juga Tev" dan mereka pun melanjutkan kegiatan mereka. Retto memasak, dan Tev meminum kopi paginya.
3 jam, 3 jam sebelum waktunya tiba. Tev buru buru bergegas untuk bekerja, dan di depan sudah ada Retto yang menyiapkan Jas dan Tasnya, Tev mengambilnya dan berangkat. tentu saja sebelum itu ia memberi kecupan hangat terlebih dahulu pada Retto dan pergi.
* * *
"Selamat pagi semua!" sapa Tev pada semua teman kerjanya,
"Selamat pagi juga Tev!" sapa balik mereka.
Tev duduk di bangkunya dan melakukan pekerjaannya seperti biasa. 1 jam berlalu, Tev pergi untuk membeli kopi, dan melanjutkan pekerjaannya saat kembali. 2 jam berlalu, Tev menyelesaikan laporan marketingnya dan mengirimkannya pada bosnya. dan akhirnya, sudah pas 3 jam.
"Kriing Kriing" suara dari telepon kantor yang menandai ada seorang klien memanggil, Tev mengangkat panggilan tersebut.
"halo, bersama saya Tev di perusahaan *****" Ucap Tev sebagai salam.
"boleh saya minta tolong, agar anda datang ke tempat saya, dan membetulkan kabel listrik saya yang rusak?" ucap suara wanita dari dalam telepon, Tev merasa suaranya agak mirip dengan suara kekasihnya Retto, tetapi Tev berpikir itu tak mungkin karena jika iya itu Retto, pasti dia menelpon nomornya, bukan nomor telepon kantornya.
"ah maaf, tapi saya bukan bagian itu." dan tidak ada jawaban lagi dari klien tersebut. tak lama, panggilan itu pun dimatikan dari pihak klien.
"Tev!" teriak seorang pria dengan muka sebaya dengan Tev, walau umurnya lebih tua, "ada yang mencarimu, lebih baik kau segera menemuinya." ucap pria itu. Tev mengangguk dan pergi.
Di luar, Tev melihat seorang wanita, dia terlihat mirip sekali dengan Retto. Tev membuang pikirannya dan.
"uhm, apa anda yang mencari saya?" tanya Tev pada wanita tersebut. wanita itu mengangguk dan menyuruhnya untuk mengikutinya, awalny Tev menolak namun wanita itu menarik tangannya dan membawanya pergi.
di tempat tujuannya, Tev melihat ada lingkaran di sebuah gang, dan wanita itu membawa Tev masuk kesana. "apa yang kau inginkan?!", "bukankah kau tidak boleh berteriak pada klien? kau harus memperbaiki kabel listrik ini!" wanita itu menunjuk pada lingkarang kapur putih yang tercetak di lantai.
"apa kau gila?! apa yang kau maksud kabel listrik itu!" teriak Tev mencaci maki wanita itu, wanita itu menyeringai "kau tak bisa bersama dengan wanita itu lebih lama lagi." Tev mendadak terjatuh, dan lingkaran kapur itu pun mulai membentuk sebuah pola. Pola lingkaran sihir, dan muncullah seorang wanita dari sana, Tev meneteskan air matanya saat ia melihat wanita itu terikat. "RETTO!"
"maaf Tev... aku tidak bisa bersamamu terus..." ucap Retto pada Tev, "aku adalah seorang malaikat maut, aku telah melanggar janjiku sebagai malaikat... maafkan aku Tev." dan Wanita itu menepuk tangannya, tampilannya berubah. mengenakan jubah putih dan biru, dengan sabit yang ia pegang.
"dengan izin tuhan kepadaku. Aleira, Pemimpin Malaikat Maut wanita, menghukum Retto sebab melanggar janji hubungan manusia dan malaikat." dan ditebaslah Retto menggunakan Sabitnya. Tev berteriak dan menangis histeris, melihat pemandangan yang ia lihat. kekasihnya yang ternyata bukan manusia, dibunuh di depan mata. air mata dan suara terus keluar dari mulut Tev.
"jangan salahkan aku, dia yang memintaku untuk mengatakan kata kata terakhirnya untukmu." dan Retto menghilang menjadi udara di antara udara. "jangan sedih, syukurilah dia sudah bersamamu untuk beberapa tahun. asal kau tahu saja, dia yang membawa ayahmu kepada kematian." Tev tak percaya, dan tetap menangis serta meneriaki wanita itu. "sudahlah, kau juga akan mati tahun depan." dan wanita itu menghilang dari pandangan Tev.
"tenang tev... aku masih menemani mu diantara udara, aku menyayangimu Tev" bisik Retto pada Tev, Tev pun percaya bahwa Retto masih berada bersamanya. "Terimakasih... Retto."
--TAMAT--
haloo saya penulis baru disini semoga kalian suka dengan cerita saya ya ^^" maaf bila ada typo dan kata kata yang tidak cocok, saya masih berlatih menulis. Dan Terimakasih bagi kalian yang sudah mau membaca cerita saya.. 🥰