Matahari senja masih menggelantung santai menghiasi langit-langit sore. Cahaya oranye menyirami permukaan tanah bumi dengan begitu indahnya. Angin berembus pelan menyibakkan segalanya yang menghalangi. Sore itu, ketika sebagian insan di belahan bumi sebrang sibuk dengan dunianya masing-masing, dan saat itu juga awal bait dari kisah ini bermula. Mentari senja dan alun-alun kota yang begitu sunyi dengan pemandangan menawan memanjakan panca indra. Kupikir sore itu merupakan hari monoton, sore yang sunyi dengan kesendirian tanpa percikan momen yang mengindahi kisah hidupku.
Saat keinginan batin hanya menutut untuk menyendiri. Kupikir alun-alun kota pada Senin sore ini tidak menjadi pilihan buruk untuk menghibur hati dengan pribadi penyendiri sepertiku. Tidak, aku bukan sosok jiwa yang hanya selalu ingin sendiri, tapi waktuku untuk memahami jiwaku juga sangat penting.
Kalau saja aku boleh bertanya, mengapa tidak seluruh insan di dunia ini memiliki setidaknya teman sejati yang selalu ada? Mungkin alam mendengar pertanyaanku, hati ini mungkin telah digerakkan oleh naluri dari Tuhan untuk mencari jawaban, maka Senin sore ini adalah jawaban dari jenuh dan kegundahan benakku.
***
Aku bukan manusia dengan seribu teman yang selalu tersedia jika aku sedang lelah dan jenuh. Aku bukan orang yang biasa meminta perhatian ketika keberadaanku terlupakan. Aku tidak peduli. Saat ini, jika tubuhku masih mampu untuk menghibur jiwaku sendiri, aku akan menurutinya. Aku tahu diriku sendiri.
Tanganku menyambar jaket biru tua kusut itu dan beranjak keluar dari rumah, menuju ke arah tempat sepedaku ditempatkan. Kutuntun sepeda sampai keluar dari halaman, kugeser pintu gerbang untuk membuka akses jalan. Setelah sampai berada di luar gerbang, kugeser kembali dan kukunci gerbang hitam legam kokoh ini kembali. Kunaiki sepedaku dengan kecepatan rata-rata keluar dari wilayah perumahan.
Sembari kaki tetap stabil menggoes, pikiranku bercengkrama memikirkan entah apapun yang terbesit. Hingga setelah sekian lama kakiku sibuk menggoes, aku sampai di depan gerbang alun-alun kota. Aku masuk menuju area pemarkiran kendaraan beroda dua, kutempatkan benda besi beroda dua itu diujung. Setidaknya aku tidak lupa dan kesulitan untuk mencari sepedaku ini. Bisa merepotkan ketika matahari sudah mengucapkan selamat tinggal dan tenggelam di pucuk barat dan gelap malam mulai menyapa lalu dengan bodohnya aku masih sibuk celingak-celinguk mencari sepedaku.
Sepedaku sudah mentengger sempurna beristirahat di tempat sementara—parkiran. Aku berjalan menyusuri jalanan yang menjadi akses jalan umum menuju area inti dari alun-alun. Angin menari-nari indah, sangat halus mencium permukaan pipiku. Dengan tetap stabil berjalan mataku menganalisa sekitar lingkungan. Tidak banyak manusia yang beraktivitas sore ini, mungkin dunia pekerjaan yang menjerat mereka di kala waktu yang memyempit membuat mereka terhimpit, mungkin saja mereka baru terbebas dari jeratan kesibukan itu ketika akhir minggu sebagai ucapan selamat tinggal menuju rintangan baru.
Beberapa kelompok yang bercengkrama sembari beraktivitas, individu yang sibuk dengan dunianya, para pedagang yang sedang menunggu pelanggan, para atlet profesional yang sedang melatih pengembangan kemampuan, semuanya tampak normal. Tidak ada huru-hara berisik yang menganggu momen sore yang sedang puitis ini.
Sepi dan kesepian.
Kesepian bukan merupakan kata yang malang. Itu menggambarkan kesunyian penuh pertimbangan. Antara sadar dan tidak sadar, benalu pikiran menggerogoti keinginan untuk bercengkrama memancarkan kehangatan dalam batin.
Menyusuri hampir setengah jalan dari wilayah alun-alun, aku memutuskan duduk untuk menikmati pemandangan alun-alun. Benar-benar seperti sosok tanpa tujuan, berjalan, duduk, berdiri, kebingungan. Hahaha, tetap menyenangkan. Kuharap tidak ada yang merasa terganggu dengan tingkah konyolku ini.Tunggu, untuk apa mereka terganggu? Alun-alun merupakan tempat umum, dan siapapun berhak untuk bebas melakukan aktivitas selama tidak merugikan pendatang lain bukan? Yaa, masa bodoh deh.
Aku memilih duduk dibangku kayu persegi panjang sederhana yang merupakan fasilitas yang disediakan di alun-alun.
Langit biru seperti dasar lautan, luasnya terbentang menuju pelosok tanpa batas. Awan-awan putih yang suci bertaburan menghiasi dan melengkapi kosongnya langit. Cakrawala sedang bersantai tanpa hambatan. Helaian rambut tipisku menari ke sana-ke mari akibat tiupan angin yang usil.
Kulihat masih orang-orang di sekitarku yang sedang sibuk beraktivitas, para pedagang yang melayani para pembeli dengan segelas es teh dan juga secangkir kopi. Kulihat pagar alun-alun yang berdiri kokoh seperti banteng pertahanan, aku baru sadar kalau saja tiang-tiang pagar itu dihiasi dengan goresan seni yang melukis berbagai motif batik khas Kalimantan. Ada banyak kombinasi dari corak batik ini, mulai dari motif mandau, motif enggang, namun yang paling dominan adalah motif tengkawang ampiek. Setiap motif memiliki maknanya tersendiri yang pastilah menjadi moral bagi kehidupan. Nusantara ini kaya, jadi jangan pernah menyia-nyiakan bahkan menyepelekan kekayaan budaya. Cinta tanah air mungkin.
*Cekrek*
Disela-sela lamunanku, tetiba perhatianku teralih ketika mataku mendapati seorang pria sedang menjempret pemandangan sekitar alunan. Tidak, bukan pemandangan, tapi aku. APA? AKU?
Mataku terbelalak sempurna setelahnya. Apa-apaan ini, apa maunya? Tidak sopan sekali mengambil foto orang tanpa seizinnya—meski aku sebenarnya tersipu bangga, seumur-umur aku tidak pernah menjadi model dalam foto, apalagi foto kamera. Tapi tetap saja, tidak sopan. Aku mendengus kesal dan berdecah, kutatap pria itu dengan ekspresi bingung. Pria itu memandangiku sebentar lalu tersenyum kembali mengotak-atik kameranya sebelum ia menghampiriku.
"Halo, gadis manis. Boleh aku duduk di sampingmu? Jika kamu tidak merasa keberatan,", itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut pria itu.
Pria gagah berbadan ramping, tingginya di atas rata-rata, perawakannya ramah dan manis, rambutnya tipis dan lurus, sedikit kecoklatan. Untuk ukuranku, dia masuk kategori pria tertampan di sejarah hidupku.
Suaranya sangat, ah. Yang benar saja? Aku tidak mungkin luluh hanya karena tampang dan suara. Aku merasakan panas di pipiku, apakah pipiku sedang merona? Halo, sungguh tidak sopan. Tapi, jujur saja, dengarlah suaranya, seperti alunan tangga nada yang sangat teratur dan berirama, suaranya halus dan tenang sangat menggelitik gendang telingaku. Senyumnya masih menggantung sempurna di permukaan wajahnya, memancarkan kehangatan, aku tahu dia pasti pria ramah berjiwa positif. Lihat saja aura yang dipancarkan, sangat bersahabat.
Aku hanya tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban tanda bahwa aku memperbolehkannya. Lagipun bangku ini milik umum, siapapun boleh duduk.
"Maaf aku menjepret dirimu, kupikir tata letakmu sangat pas dan sesuai, jadi sayang kalau dilewatkan begitu saja, maaf jika aku tidak sopan,", ia menganggaruk tengkuk lehernya.
Tuh, lihat saja. Dia bahkan bisa berbicara begitu santainya padaku yang notabenenya saja merupakan orang baru. Kami bahkan tidak saling mengenal, identitas nama yang rahasia dan segalanya yang baru. Tapi dia bisa berbicara tanpa merasa canggung, benar-benar mengesankan, jika aku terlahir kembali mungkin aku meminta pada Tuhan untuk skill seperti ini saja. Sederhana namun sangat diperlukan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk, aku benar-benar seperti orang bisu yang tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun, suaraku macet di kerongkongan. Mungkin terlalu canggung.
"Ah, perkenalkan Aku Alfridho, orang-orang biasa memanggilku Ridho. Atas nama siapa ya?", ia mencoba mengajakku berjabat tangan.
"Jeenan,", jawabku seadanya. Suaraku terdengar sedikit lirih dan kecil, namun untungnya Ridho mendengar suaraku dan tersenyum. Pendengarannya termasuk peka, aku senang dengan orang seperti ini. Setidaknya aku tidak harus berusaha mengutarakan kata yang sama terus menerus. Kerongkonganku pasti pegal duluan.
"Oh, salam kenal Jeenan. Sore ini indah ya?"
"Iya,"
"Kamu sedang apa sendiri? Aku perhatikan kamu sibuk berdiam diri sambil celingak-celinguk,"
Tuhan, benar bukan. Ada sosok yang memperhatikan tingkah konyolku. Aku pikir tidak akan ada yang peduli dan aku bisa santai. Lalu, apa yang harus aku katakan? Karena aku kesepian? Yang benar saja, lucu.
"Aku sedang bosan,", ucapku. Ya, terimakasih Tuhan, jawaban paling terasa bodohnya.
Aku mendengar Ridho terkekeh pelan. Pria itu menyunggingkan senyumnya yang khas. Sangat ramah.
"Kalau begitu kita sama! Senang rasanya jika ada teman,", Ridho tertawa.
Teman?
"Kenapa hanya sendiri? Tidak ajak teman-temanmu?"
Seketika hatiku terenyuh mendengar pertanyaan yang masuk bertamu ke dalam gendang telingaku. Rasanya ada sedikit sesak dan kegundahan yang melanda. Teman-teman? Sendiri? Kemana teman-temanku? Tidak, sepertinya aku memang tidak memiliki teman.
Aku hanya diam untuk beberapa saat, sepertinya raut wajahku berlahan berubah sedikit sendu. Kuputuskan untuk tetap berusaha menjawab, seadanya.
"Tidak ada,"
"Tidak ada?", Ridho menatapku bingung. Netranya yang kecoklatan berusaha memberi sinyal berupa pertanyaan yang harus dijawab segera.
"Ya, aku tidak punya teman,", aku terkekeh dan tersenyum geli. Sepertinya aku terlalu menyedihkan dan aneh, mungkin setelah ini Ridho akan menjauhiku, "orang gila alun-alun" pikirnya, mungkin. Jarang sekali aku jujur pada seseorang yang baru ketemui bahkan tidak lebih dari sepuluh menit yang lalu. Apa karena aku merasa nyaman? Tapi itu bukan alasan aku membeberkan segalanya tentang diriku, apalagi pada orang yang tidak kukenali apapun kecuali namanya, seharusnya.
"Kamu merasa sepi, Jeenan?", Ridho bertanya sangat hati-hati.
"Ya, aku merasa sepi. Bukan masalah untukku,", aku mengalihkan pandanganku menuju arah lain.
Sepertinya aku salah menjawab. Aku memiliki teman, ya! Kesepian adalah temanku. Menemaniku hampir di seluruh waktu dalam hidupku. Menggerogoti kewarasanku yang sudah mulai dipertanyakan.
"Kalau begitu, boleh aku menjadi temanmu?"
Sekali lagi, pria ini membuatku terkejut. Setiap sepatah kalimat yang muncul dari kerongkongannya selalu membuatku terkejut. Hatiku seketika berdebar, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Seperti aliran listrik menyetrum kegundahan batinku, mengusir segala remangnya rasa dingin yang menumpuk ini.
Angin-angin sore berembus kencang seketika, helaian rambutku tersibak. Cuaca menjadi sangat sejuk, seperti anugerah baru saja turun dari langit. Apa ada malaikat yang sedang turun? Sepertinya sedang duduk di sampingku, yang sedari tadi masih menunggu jawabanku.
Aku terkekeh pelan.
"Aku sangat senang, jika aku memiliki teman, walaupun hanya sementara. Tapi apa yang membuatmu ingin berteman denganku, Ridho?"
"Eh itu, aku, aku melihat seseorang dalam dirimu yang perawakannya sangat mirip denganmu, selain itu, aku juga suka mencari teman!", Ridho menjelaskan dengan penuh semangat sembari tangannya sibuk mengotak-atik kameranya.
"Siapa?"
"Itu, salah satu temanku, sudah berpulang 2 bulan yang lalu. Nyawanya harus terenggut lantaran kecelakaan yang menimpanya. Ia ditabrak kendaraan beroda empat saat menyebrang menggunakan sepedanya. Aku merindukannya,", ucap Ridho lirih, aku bisa melihat wajahnya yang semula ceria menjadi lebih sendi. Netranya tetap fokus melihat kamera.
"Oh, maaf aku turut berduka atas kepulangan temanmu, semoga dia di tempatkan di sisi terbaik, aku yakin dia sudah beristirahat dengan tenang di sana,", aku berusaha menghibur meski aku saja tidak memiliki bakat untuk menghibur, setidaknya aku berusaha.
"Aamiin, pasti. Bagaimana dengan keluargamu, Jeenan? Jika saja kamu tidak memiliki teman, kamu pasti memiliki keluarga yang bisa menjadi temankan?", lagi-lagi Ridho membuatku tersentak.
Aku kembali murung. Mungkin jika dipikir lagi, hidupku sungguh menyedihkan dan teramat tidak layak untuk dipertontonkan. Tidak ada cahaya warna yang menghibur, semuanya adalah abu-abu gelap tanpa sepercik kebahagiaan. Hatiku rasanya hancur, lidahku menjadi kelu. Aku tetap berusaha tegar. Hanya saja memang se-menyedihkan itu. Aku sudah menyembunyikan kesedihan ini entah sekian lama.
Saat itu, saat ibuku mengalami nasib malang, ia menderita penyakit kanker. Seribu cara aku dan Ayahku berusaha untuk menyembuhkan bidadari yang melahirkan dan mengenalkanku pada dunia—Ibu. Aku tidak memiliki seorangpun saudara yang menemaniku, dalam arti lain, aku memang sudah terlatih untuk sendiri dari saat aku masih belia.
Aku ingat, setiap malam, saat rembulan memancarkan remang lengkuningnya, ketika binatang malam bernyanyi-nyanyi dengan bahagia, aku selalu merengek meminta ibu untuk menemani malamku dengan membacakan dongeng ataupun seputar informasi apapun itu. Sedari dulu, ayah merupakan seorang pekerja keras yang selalu sibuk dengan urusan dunia pekerjaannya, sangat minim waktunya dapat ia habiskan bersama keluarga kecil. Karena jarangnya perhatian ayah berikan, ayah sampai lalai, tidak mengetahui bahwa orang terkasihnya sedang mengidap penyakit. Ibu merahasiakannya, mengunci mulutnya rapat-rapat. Senyum yang terpaku di wajahnya, senyum manis yang khas, hanya topeng belaka menutupi kesedihannya. Saat itu ibu juga sedang mengandung. Maka dari itu aku sangat bahagia dan menantikan kelahiran adikku yang akan menemaniku. Ayah juga mengetahui kehamilan ibuku dan ia turut bahagia. Namun, mungkin Tuhan memiliki rencana lain yang lebih bahagia. Agar rasa sakit yang selalu ditahan ibu—yang membuat ibu selalu menderita bisa binasa juga agar adik tidak merasakan pahitnya dunia, Tuhan memilih untuk menugaskan malaikat untuk segera menjemput ibu dan adik pulang. Ruhnya ditarik halus dan tenang, ibu tidak merasakan sakit apapun, aku bisa melihat senyum tipis mengambang di saat-saat terakhir ibu. Aku sangat terpukul, satu-satunya orang yang menjadi teman hidupku dan juga calon adikku yang bahkan tidak sempat melihat dunia harus pergi selamanya. Sampai sekarangpun aku menyendiri, aku tidak pernah berbaur dengan ayahku. Kami seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain. Mungkin sudah jalannya. Aku ingin segera menyusul dan bertemu mereka, aku ingin memeluk ibu dan mencium adikku di surga sana, rindu rasanya.
Tidak terasa langit yang semulanya biru mulai berubah menjadi oranye, mentari senja mulai bersiap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal kepada hari ini. Burung-burungpun turut berterbangan indah, berpulang setelah mencari pasokan pangan. Cahaya oranye menyirami permukaan tanah alun-alun. Sangat indah dan puitis. Tanpa sadar mataku yang semulanya berkaca-kaca tetiba sudah menggenang mengalirkan butiran air mata. Kupandang mentari yang semakin tenggelam di pelosok barat, dan kualihkan pandangan ke Ridho.
Ridho tersenyum dan menjepret pemandangan senja yang sangat indah dan memanjakan setiap netra yang menyaksikannya. Sore ini terasa sangat berbeda, rasanya baru saja ada cahaya kehangatan yang mengisi hatiku. Kegundahan yang tinggal mulai sirna, kesedihanpun mulai binasa, rasa kosong mulai dipenuhi dengan pelita kasih.
"Jeenan!", Ridho memanggilku.
Aku menoleh dan,
Cekrek
Suara kamera terdengar lagi, baru saja Ridho menjepretku (lagi). Aku tertegun dan tersipu.
Setelah Ridho menjepret langit-langit yang dipertontonkan alam ia menyimpan kameranya.
"Jenaan, aku tahu hidup itu berat. Kesepian pasti menyelimuti siapapun itu di manapun itu. Aku tahu, aku juga pernah merasakannya. Kesepian dan kegundahan yang selalu menggeliat di benak, mulai mengosongkan hati yang semulanya berbahagia. Menyedihkan, bukan? Namun itu, itulah yang ingin Tuhan sampaikan, Jeenan. Kamu pasti bertanya kenapa seseorang harus merasakan kesepian dan kesedihan, jawabannya hanya satu, bahwa Tuhan ingin mengajarkan tidak ada yang abadi selain pencipta alam ini, Jeenan. Hanya Tuhan. Kamu sebenarnya tidak sendiri, kamu ada bersama Tuhan yang selalu berada di dekatmu. Tapi, kamu tidak pernah sadar akan keberadaan Tuhan. Orang yang melupakan Tuhan pasti akan selalu merasakan kesedihan dan kesepian. Tuhan selalu ada untukmu, kamu harus pulang, Jeenan. Kembalilah ke pelukannya,"
Kembali? Pulang? Apa maksudnya? Kembali pulang, kemana?. Saat itu juga, Ridho menyodorkan satu lembar foto polaroid ukuran 4×3 ke padaku, aku ambil foto itu dan aku melihatnya. Mataku terbelalak sempurna.
Ini bangku yang sedang kududuki, bangku kayu alun-alun. Posisinya persis saat aku duduk di sini. Ini pasti foto yang baru saja Ridho jepret ketika ia memanggil namaku. Tapi, ada yang aneh. Dimana aku? Aku tidak melihat siapapun selain bangku kayu yang kosong tidak di duduki siapapun. Aku, tak mengerti. Jelas-jelas aku sedang duduk di sini.
"Pulanglah, Jeenan. Temuilah ibunda dan adikmu. Mereka sudah merindukanmu dan menunggumu di depan pintu surga di atas sana. Bukan saatnya lagi kamu berada di dunia ini, Jeenan. Kembalilah, ke tempatmu yang sebenarnya.", Ridho tersenyum tulus, sendu dan lirih suaranya. Ia menatapku penuh arti dan sangat iba.
Seketika aku sadar. Aku, aku sudah tidak lagi berada di tanah bumi ini. Aku sudah, tiada. Benar, aku sudah pergi. Hanya saja ruhku masih tertinggal di sini. Aku ingat, sekarang aku ingat dengan sempurna, rasa bimbang itu telah sirna. Yang Ridho maksud adalah aku, ya aku. Seorang gadis korban dari kecelakaan, tewas tertabrak saat mengendarai sepeda. Itu aku. Lantas aku tahu mengapa rasanya Ridho bukan orang yang asing untukku. Aku tahu kenapa aku merasa aman, karena dia mengerti aku. Aku ingat semuanya sekarang, di kehidupan sebelumnya, aku tidak benar-benar sendiri, aku memilih satu teman yang menemani hari-hariku sebelum kematian, dia adalah Ridho sendiri. Benar, sekarang aku ingat semuanya! Aku tidak lagi lupa, dan sekarang aku sadar, aku harus pulang. Ibu pasti sudah letih dan mungkin adik sedang merengek. Aku harus segera pulang.
Berlahan-lahan terdapat kerlap-kerlip cahaya di sekitar ujung tubuhku, mulai menggerogoti tubuhku dengan halus dan pelan. Cahayanya terpancar indah di sela-sela oranyenya sinar matahari senja yang memancar di sore ini. Benar-benar indah, aku takjub.
Kulihat Ridho untuk terakhir kalinya.
Ridho tersenyum lembut dan melambaikan tangannya sembari terus memandangiku, matanya sedikit berkaca-kaca.
Selama ini, dia hanya bersandiwara berpura-pura menjadi orang asing, memperlakukanku seperti orang yang masih bernapas dan hidup sempurna. Ia hanya berusaha menipuku. Aku ingat, dia merupakan pria indigo dengan sosok berwatak cerdas. Ia pintar dan sempurna di segala pelajaran akademik maupun non-akademik. Ia merupakan salah satu orang terbaik yang pernah kutemui setalah ibuku. Ia sosok dermawan, yang menolongku ketika sedah diusili oleh sekelompok siswa pelaku perundangan. Selalu kuhabiskan waktuku bercanda tawa bersamanya di masa sekolah.
Ridho, terimakasih.
Aku berlinang air mata dan mengucapkan selamat tinggal sebelum akhirnya setengah tubuh sudah dilahap oleh cahaya. Aku mulai hilang di akhir senja.
Sore ini, ketika matahari senja mengucapkan selamat tinggal, saat ini aku sudah sadar, aku telah menemukan kunci jawaban dari kerisaun dan kegundahanku. Salah satu alasan mengapa aku tetap menetap di dunia meski ruhku sudah tercabut. Sekarang, aku sudah menemukan jawabannya, Tuhan, terimakasih. Ridho, akupun berterimakasih padamu, semoga kiranya kita dapat bertemu di kehidupan selanjutnya dilain waktu. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu.
***
"Tenang di sana, Jeenan. Tuhan akan mengusir kesendirianmu. Berbahagialah, semoga kita bertemu lagi.", gumam Ridho menatap sisa kerlip cahaya yang telah melahap habis sosok Jeenan.
Ia terkekeh sembari mengusap air mata, memandangi langit-langit sore yang mulai menggelap. Mengucapkan syukur untuk kesekian kalinya kepada sang pencipta, Tuhan seluruh alam. Bertemu kembali dnegan temannya yang masih menjelajah bumi untuk menemukan jawaban yang menghantui benaknya.
Kesepian dan kesedihan, itulah yang dirasakan jiwa bila jauh dari Tuhan. Maka jangan sekalipun untuk melupakan ia yang menciptakanmu, yang menghendakimu untuk hidup. Sepotret kasih, di sore senja, di alun-alun kota bersejarah. Melukiskan segala momen terindah yang paling berkesan. Tempat sederhanapun menyimpan segala kenangan yang akan terus menetap di benak, tidak akan pernah sirna, meski ajal membinasakan raga ini.