Beberapa anak beruntung karena dibesarkan dari keluarga yang cemara, sisanya lebih beruntung karena diberi hati dan tulang yang kuat untuk mencari kebahagiaan sendiri.
Perkelahian orang tua membuatku sadar bagaimana cara menerima keadaan tanpa membenci kehidupan.
Aku bergegas keluar rumah, setiap kali rumahku ribut, Aku pergi mencari ketenangan.
Lambaian tanganku membuat salah satu taxi berhenti tepat di depanku.
Mobil yang ku tumpangi mulai bergerak, mengantarku ke tempat yang selalu ku datangi ketika aku jenuh.
"Terimakasih, Mas" Kataku menutup pintu mobil.
Aku menyusuri sebuah jembatan yang sekelilingnya di penuhi pohon bakau.
Langkahku berhenti di sebuah tempat duduk yang mengarah langsung ke hamparan laut.
Kepalaku penuh, tapi hatiku terasa kosong.
"Kesini lagi?"
Aku menoleh, itu Arsen. Seseorang yang selalu ada di sampingku ketika aku jenuh, seseorang yang selalu siap mendengarkan segala keluh kesahku.
"Arsen... Aku lelah"
"Semua orang boleh merasa lelah, Lina." Ucapnya sambil duduk di sampingku, turut menatap lautan yang ku pandangi.
"Istirahat. Lelahmu butuh rebah, rumitmu butuh tenang, besok lebih semangat lagi berjuangnya. Aku tau rumahmu tak bisa dianggap rumah. Karena itu, jadikan aku rumahmu, tempat beristirahat mu, your comfort zone"
"Bumi memiliki banyak orang hebat, Lina. Kamu salah satunya"
Mataku mulai panas, bibirku bergetar. Arsen dan kata-katanya selalu berhasil membuatku luruh, melepaskan semua gundah di hati, sesak yang tertahan.
"Aku selalu berharap bisa kembali ke masa lalu, andai saja aku bisa menahan rasa penasaranku, andai saja aku tidak memasuki toko itu..."
[ flashback, 2020 ]
"Mama mau ke situ dulu ya, jagain adikmu" Katanya sambil menunjuk salah satu toko yang ada di seberang jalan.
"Iya, Ma"
. . .
"Mama kemana ya, kak? kok daritadi belum balik juga"
"Gatau. Sabar ya, bentar lagi balik itu"
Ekor mataku menangkap sebuah toko yang lampunya menyala terang dibandingkan dengan toko-toko lainnya. Rasa penasaran tak bisa ku kendalikan.
"Dek, tunggu sini dulu ya, kakak mau pergi sebentar aja, jangan kemana-mana mana"
Tanpa menunggu jawaban adikku, Aku berlari menuju toko tersebut.
"Eh maaf" Karena terburu-buru, Aku tidak sengaja menabrak seorang laki-laki.
"Kamu gapapa?" Tanyaku sambil membantunya berdiri.
"Gapapa" Suaranya terdengar di balik masker hitam yang ia kenakan.
Aku mengangguk lalu berlari menuju sumber penasaranku. Sesampainya di depan toko berwarna cokelat, Aku mengetuk tiga kali dan membuka pintu tersebut.
Silau. Aku tidak bisa melihat apa-apa, cahaya di dalam toko ini membuatku tak dapat membuka mata.
Seketika cahaya tadi redup. Didalam toko ini, terdapat sebuah televisi jadul yang tiba tiba menyala.
Televisi tersebut menampilkan sebuah video yang ternyata merubah hidupku.
. . .
Ramainya kerumunan orang-orang tak kalah dengan suara ibuku yang menangis kencang. Ia histeris, siapapun yang melihatnya akan turut merasakan pedihnya.
Di video itu, adikku tertabrak mobil, badannya penuh akan darah.
. . .
Aku memukul televisi itu dengan kayu yang ada di dekatku, video yang diputar adalah kejadian yang sangat menyeramkan. Aku tidak bisa membayangkan jika hal tersebut akan terjadi suatu hari nanti.
Dengan perasaan gelisah, Aku keluar dari toko itu. Aku merasa ada yang tidak beres dengan televisi tadi, video yang diputar sangat menyeramkan. Bagaimana bisa ada Aku dan keluarga ku disitu? lalu kenapa adikku bisa kecelakaan?
Sesampainya diluar, terdengar suara ambulance meraung-raung. Aku berlari menuju kerumunan yang ada, membuatku susah bernafas. Ketika Aku melihat apa yang terjadi, lututku terjatuh.
Tidak....
Ini tidak mungkin...
Jadi.. yang kulihat tadi, benar benar terjadi?
Adikku menghembuskan nafas terakhirnya disini. Ia meninggal di tempat, mobil yang menabraknya pergi begitu saja.
. . .
"Ini semua gara gara kamu ga becus jagain anak!"
"Kamu yang ga becus! Emangnya pernah kamu ngurusin anak? Aku yang selalu nemenin mereka, masakin mereka, jagain mereka, Sekarang kamu malah salahin aku begini, Mas?"
Air mataku mengalir deras. Jika dipikir-pikir, ini salahku. Andai saja Aku tidak meninggalkan adikku saat itu. Orang tuaku bertengkar karena ini.
Saling membentak, meributkan hal yang sama setiap hari.
[ flashback off, 2023 ]
"Apakah kamu masih mencari laki-laki yang kau tabrak itu?"
"Tentu saja, sudah dua tahun Aku mencarinya, Sen. Aku selalu gagal menemukannya"
Dua tahun lalu, laki laki yang tak sengaja ku tabrak baru saja keluar dari toko itu. Apakah ia mengalami hal yang sama sepertiku? Sebab itu Aku mencarinya.
"Tidak mudah mencarinya, Sen. Aku tidak tau siapa dia, lagipula waktu itu dia menggunakan masker"
"Jangan menyerah, Lina. Datangilah toko itu, kita tidak tau apa yang akan terjadi, mungkin saja kau bertemu dia"
Aku mengembuskan nafas. Baiklah, Aku akan mencobanya.
. . .
Kayu coklat manis terpahat indah membentuk sebuah toko. Sayangnya, kenangan yang ada tak semanis warna coklatnya. Aku membuka pintu yang pernah ku masuki dengan rasa penasaran. Kali ini berbeda, bayangan adikku kecelakaan tak pernah lepas dari benak ku.
Kreet! Suara decit pintu tua terdengar ketika Aku membukanya. Pandangan ku disambut oleh televisi yang tidak pernah ku lupakan, benda elektronik yang mengubah hidupku.
Langkahku berhenti tepat di depannya. Memandangi seolah-olah benda mati itu hidup, karena dapat menghancurkan hidupku.
Tuk. Tuk.
Tiba-tiba suara langkah terdengar. Apakah itu laki laki bermasker yang ku tabrak?
Jantungku berdebar kencang. Aku penasaran dengan seseorang yang akan ku temui. Aku yakin, dia pasti mengetahui sesuatu tentang televisi dan toko ini, atau bahkan dia mengalami hal yang sama denganku?
Ketika Aku berbalik badan, rasa terkejut tidak dapat ku sembunyikan.
Laki-laki bermasker itu adalah..
Arsen.
"Lina?" Suara berat nya menyapa telingaku.
Perlahan, Aku melangkah mundur ketika ia maju. Entah kenapa, Aku merasa janggal. Artinya selama ini, Arsen sudah mengetahui semuanya?
"Sebenarnya Aku laki-laki yang kau tabrak waktu itu. Sejujurnya, dari awal Aku tau, lelaki yang Kau cari selama dua tahun itu Aku"
"Lalu kenapa selama ini Kau diam saja, Arsen? Aku menceritakan segalanya kepadamu!" Kataku dengan nada tinggi.
"Karena Aku yang membuat hidupmu hancur, Lina. Aku yang membuat adikmu kecelakaan"
Deg.
"Televisi ini rancanganku, Apapun yang ku pikirkan dan ku putar disini akan menjadi kenyataan. Kecelakaan adikmu adalah hasil imajinasi ku"
"Maafkan aku, Lina"
Aku keluar dari toko itu. Air mata tak dapat ku tahan, mengalir begitu saja. Bunyi klakson mobil terdengar, tetapi ku tulikan.
"MBAAAA AWASSS!"
Brak!
Pandanganku menggelap, tubuhku terasa ringan, mungkin sudah saatnya Aku menemui adikku.
. . .
"Kakkk bangun udah pagi!"
Aku terbangun dengan perasaan gelisah, takut, sedih, bercampur menjadi satu. Ku lihat jam yang ada di nakas, menunjukkan pukul 07.25
"Kak, ayo bangun. Sudah jam setengah delapan loh" Mama membuka pintu kamarku.
"Eh eh, kenapa ini tiba tiba meluk?" Aku bangkit dari kasur dan memeluk ibuku.
Ternyata ini semua hanya mimpi. Orang tuaku tidak bertengkar, adikku masih hidup.
"Udah udah, ayo mandi terus sarapan. Itu dibawah ada tamu, sayang"
Akhirnya aku melepas pelukan dan bergegas untuk mandi.
. . .
Terdengar suara ramai di dapur, sepertinya benar ada tamu.
"Princess udah bangun nih, ga malu sama tamunya kalau bangun telat?" kata ayahku.
Aku menghiraukan ucapan Ayah karena yang kulihat sekarang benar benar aneh.
"ARSEN?"
Jadi tamu yang dimaksud adalah Arsen dan keluarganya?
"Hai, Lina. How's your sleep?" Ucapnya terkekeh.