“Bos, yang bener saja, masa kita ngurusi kucing ?” Tanya Juan sang asisten
“Aku lebih baik ngurus kucing ketimbang ngurus manusianya yang kebanyakan gaya.” Jawab Davian. “Sudah, urus saja itu, ingat !!! Jangan pernah meninggalkan jejakku sama sekali. Aku gak mau orang tahu bahwa aku yang melakukan. Namaku harus bersih.”
“Beres, Bos !” Balas Juan
Percakapan seorang Davian di pojok taman sekolah dengan asistennya melalui ponsel disudahi karena bel sekolah sudah berbunyi, tanda sudah akan mulai jam pelajaran. Tanpa disadari Davian ada yang menguping pembicaraan Davian tanpa sengaja.
Davian, remaja cowok diusianya yang 17 tahun, duduk di bangku kelas XII di salah satu sekolah swasta vaforit, merupakan tipikal remaja pendiam, tidak banyak bicara, meskipun begitu, dia adalah idola sekolah. Bagaimana tidak, wajah dinginnya tetap saja menyisakan sisi tampannya sebagai seorang laki-laki. Tidak banyak yang tahu tentang kehidupan Davian yang sebenarnya, karena dia selalu menutup rapat identitasnya.
Sepulang sekolah Davian bergegas ke suatu tempat, lebih tempatnya kantor tempat dia bekerja. Ya, diusianya 17 tahun ini masih dengan sambil sekolah dia juga harus ngurus perusahaan peninggalan almarhum kedua orang tuanya, sebuah usaha di bidan property. Otak Davian memang diatas rata-rata, maka dia tetap mampu mengemban jabatan sebagai CEO dengan dibantu Juan.
“Kamu sudah bereskan kucing-kucing itu ?” Tanya Davian sambil membuka proposal-proposal kerja sama dengan perusahaannya.
“Sudah, Bos ! Pokoknya beres ! Kucingnya juga udah aku beresin sekalian.” Jawab Juan
“Ku harap tidak terulang lagi ! Menyebalkan sekali !” Kata Davian.
Menjelang malam Davian baru pulang ke rumah, sampai dirumah tampak Valent, adik semata wayangnya yang juga merupakan adik kelasnya di sekolah yang sama sedang asyik bermain dengan Demon, kucing peliharaan adiknya, jenis kucing Munckin yang merupakan hadiah ulang tahun dari Davian 3 tahun lalu.
“Wooo, kakak tumben sudah pulang ?” Tanya Valent. Valent tak kalah tampan dengan Davian, hanya tingkahnya suka konyol dan periang.
“Kamu ngarep kakak gak pulang ceritanya ?” Tanya Davian balik sambil merebahkan dirinya di sofa kemudian ikut bermain dengan Demon.
“Biasanya kakak selalu berurusan dulu dengan kucing baru pulang.” Jawab Valent.
“Kali ini sudah beres dulu. Juan sudah menyelesaikan dengan rapi, tanpa jejak.” Kata Davian.
“Hm.... baguslah, kalau perlu tebas aja sekalian tuh yang menyebalkan-menyebalkan gak jelas.” Balas Valent. “Ohya, kak ... aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk hasil eksekusi kakak nantinya.”
“Baguslah, kamu urus segera supaya lebih mudah ngurusnya nanti.” Kata Davian. “Tempat lama kurang besar soalnya.”
Esok harinya, Davian dan Ernest kembali ke aktivitas seperti biasa. Sekolah. Sampai sekolah Davian tampak merasa ada yang mengikuti mengikuti sedari tadi. Tapi Davian tidak memperdulikan.
Seorang gadis manis nampak mengendap-endap mengikuti seorang cowok, namanya Via. Teman sekelas Davian. Via juga tak kalah pintar seperti Davian, tapi Via lebih mudah bergaul ketimbang Davian.
Saat jam istirahat, Davian kembali menerima telepon dari Juan.
“Ada apa ?” Tanya Davian
“Ada yang mengusik eksekutor, bos.” Jawab Juan
“Siapa ? Berani sekali dia bikin masalah sama aku. Ada masalah apa dengan eksekutorku ? Dipikir dia mampu ngurus kucing-kucing itu.” Jawab Davian.
“Siska.” Kata Juan.
“Dia lagi, memang perlu diberi pelajaran anak itu. Ambil semua kucing-kucingnya, buat publikasi apa yang sudah dia lakukan ! Ingat, tanpa jejak !” perintah Davian. “Jangan lupa kamu kirim stok ke Bang Arga ! Sudah 10 hari kita tidak setoran ke sana !”
“Beres Bos !” Juan mengakhiri telepon.
Sementara Via yang mendengar kembali pembicaraan Davian langsung berlari menjauh dari Davian, mencari sahabatnya Denis.
“Nisss !!!” Seru Via
“Ada apa sih Vi ?” tanya Denis tampak bingung melihat temannya seperti orang ketakutan.
“Gawat Nis !!!” kata Via
“Ya, gawat kenapa ?” Tanya Denis.
“Gini, ternyata di sekolah kita ada jaggal kucing.” Jawab Via.
Denis membulatkan mata terkejut, “Masa. !!! Siapa ??”
“Davian.” Jawab Via
Denis tampah membulatkan mata, “Ah ... masa !”
“Beneran. Ini dah kali kedua aku tanpa sengaja ngedengerin pembicaraan dia lewat telepon dengan seseorang. Dia main perintah orang yang ditelpon untuk bertindak. Katanya suruh beres-beresin sesuatu gitu. Bahkan tadi nyebut nama Siska. Kucing-kucing Siska mau diambil semua dan katanya mau di kasih eksekutor.” Kata Via
“Siska ???? Lah bikin ulah apalagi ya tu bocah !” Balas Denis. “Tapi biarpun Siska menyebalkan kasian kalau kucing-kucingnya diambil, terutama kucing resque. Huaaa.... mau dieksekusi buat apa sih !!!?”
“Gak tau deh ..... Davian bener-bener nakutin ternyata.” Kata Via. “Mungkin kucing-kucing itu dijual dagingnya, untuk dikonsumsi.”
“Wah ... gak bisa dibiarkan ini !!!” seru Denis.
Via dan Denis, juga beberapa teman lainnya merupakan sebuah kelompok yang peduli pada kucing. Mereka melakukan kegiatan sterilisasi kucing, terutama kucing jalanan supaya tidak over populasi dan mengurangi kejadian pembuangan anak kucing dan animal abuse. Meskipun perbuatan mereka mulia, tetapi tetap saja ada yang tidak suka pada kegiatan mereka, bahkan dari teman sesama penyayang kucing juga, yang mereka sebut Siska. Siska selalu saja membuat masalah dengan Via dan teman-temannya.
Sore hari, Via, Denis dan 3 teman lainnya Yudha, Melly dan Arka berkumpul di markas kecil mereka. Via lalu menceritakan tentang Davian.
“Waduh ... sadis banget si Davian itu ! Sampai punya eksekutor segala !” Kata Arka
Denis membuka facebook sambil mengecek grup kucingnya juga, “Wahhhh !!!! Buka Fb kalian cepetan !!!”
“Ada apa sih !!?” Tanya Yudha sambil mengambil ponselnya diikuti yang lain
Kelimanya membaca sebuah caption judul unggahan seseorang.
BERKEDOK RESQUE TERNYATA ANIMAL HOARDER
Seorang resquer kucing yang selama ini dianggap baik, peduli dengan kucing, ternyata adalah animal hoarder, memunguti kucing dijalanan untuk dirawat, ternyata di bawa pulang hanya untuk ditelantarkan. Penampungan yang tidak memenuhi standar pemeliharaan kucing dan pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan kucing. Banyak kucing sakit yang ternyata tidak terawat, dan ternyata dijadikan senjata untuk mendapatkan donasi.
Setelah membaca unggahan seseorang yang disebut “Mafia Cat” itu mereka lebih terkejut karena diunggah juga foto dan video Siska, dimana semua kucing Siska diangkut paksa oleh sekelompok orang, dan membawanya entah kemana. Dan pada video terakhir, sepertinya si pemimpin kelompok itu mengatakan, “Jangan pernah mengusik eksekutor kami atau bos kami akan lebih jauh bertindak lebih dari ini !”
Sementara Via dan teman-temannya dibuat bingung kalang kabut tidak karuan, di tempat lain, Davian tampak sedang santai bersama Valent dan Juan di sebuah bangunan besar, dimana terdengat suara berisik kucing mengeong bersautan.
“Ada berapa ekor yang kamu ambil di Siska ?” Tanya Davian.
“Dewasa ada 40 dan kitten ada 20an bos.” Jawab Juan.
“Observasi dan eksekusi yang besar, yang kitten tempatkan di ruangan khusus kitten dulu. Paman Andre sudah tahu kan dia akan lelah banyak mengeksekusi nanti. Hehe ....” Kata Davian
“Tenang saja, Bos !” Paman Andre sudah siap sedia !” Balas Juan
Esok harinya, Via tiba-tiba menghampiri Davian dan menarik Davian ke taman sekolah yang ada di belakang. Davian tentu saja bingung kenapa tiba-tiba gadis tomboy nan cantik itu menarik dirinya tanpa permisi.
“Kamu kok jahat sih, Dav !” Seru Via
“Hahhh .... aku ???” Tanya Davian bingung. “Jahat kenapa ?! Hai, mbak.... bangun !!! Masih ngimpi, ya !!!?”
Apa yang kamu lakukan sama kucing-kucing itu, juga kucing Siska !!?” Bentak Via.”Kamu kok jahat sama makhluk-makhluk lucu tanpa dosa itu, Hah !!!”
Davian garuk-garuk kepala bingung lagi, “Ngomongnya langsung aja kenapa !? Gak usah muter-muter macam kartonyono medot janji gitu !?”
“Kamu ngapain ngambilin kucing terus di eksekusi ???! Buat apa !? Dikonsumsi !!? Emang penjual ikan, ayam potong dan daging sapi udah punah sampai kamu kurang makan !!?” Via terus aja nyerocos aja tanpa berhenti.
Davian yang mendengar apa yang dikatakan Via dengan cepat bak kapal jet siap tempur kemudian tersenyum, “Jadi kamu nguping pembicaraanku ?” Tanya Davian. “Usil banget sih kamu. Mau jadi bibit biang gosib macam lambe turah ceritanya ?”
“Daviannn !!!!” Teriak Via
Davian langsung menutup kedua telinganya, “Nanti, saja ! Pulang sekolah kamu ikut aku !” Balas Davian sambil menarik Via masuk ke dalam kelas.
Pulang sekolah, Davian benar-benar mengajak Via, Via dengan malas membonceng motor sport milik Davian. Davian membelokkan motornya ke sebuah gedung tinggi berlantai 30.
“Ngapain kita kesini ?” tanya Via
“Aku ada urusan sebentar. Nanti kamu tetap aku ajak ke suatu tempat agar kamu tidak perlu teriak-teriak kayak emak-emak kurang jatah bulanan dari suaminya.” Jawab Davian
Davian, si cowok dingin itu dengan hangat tiba-tiba menggandeng Via masuk ke dalam gedung, masuk lift dan menuju lantai 20. Davian membawa Via masuk ke dalam sebuah ruangan mewah, lebih tepatnya ruangan CEO.
“Duduklah, aku akan selesaikan pekerjaanku dulu.” Kata Davian yang kemudian menghubungi seseorang melalui telepon meja. “Tolong bawakan ke ruanganku dua jus jeruk dan 2 porsi spageti. Cepat !”
Juan tak lama kemudian masuk ruangan dengan setumpuk berkas, Davian kemudian mengecek berkas-berkas yang dibawa Juan. Seorang OB mengetuk pintu kemudian dipersilahkan masuk membawa 2 jus jeruk dan 2 piring berisi spageti.
“Taruh meja aja, mas !” perintah Davian. OB menurut dan kemudian pamit keluar. “Makanlah dulu, nona.... aku tidak mau kamu pingsan sampai tempat eksekusi.”
“Daviannn !!!” Seru Via.
“Makan atau kita tidak sama sekali ke tempat itu !” perintah Davian.
“Siapa kamu main perintah aja, Emang bos !?” balas Via sambil melahap spagetinya, karena dia memang lapar belum makan siang.
“Memang Bos Davian adalah CEO di perusahaan ini, nona.” Kata Juan sambil terkekeh
Via membulatkan matanya tidak percaya.
“Perusahaan ini peninggalan almarhum orang tuaku, mau tak mau aku lah yang harus mengurus.” Kata Davian.
Selesai mengurus berkas-berkas yang tadi di bawa Juan, kemudian Juan pamit keluar. Davian kemudian duduk di sofa disebelah Via, sambil memakan spagetinya.
“Via, kenapa kamu sangat marah sama aku ? seberapa pedulimu dengan kucing ?” Tanya Davian.
“Karena kamu jahat ! Aku dan teman-temanku melakukan resque dan melakukan steril kucing jalanan malah kamunya jahat, dengan teganya mengeksekusi mereka.” Jawab Via.
“Hmmmm...... seperti itu, ternyata kamu memang pecinta kucing juga/ Pantas marahmu sudah diatas kecepatan rata-rata.” Kata Davian
Davian memperhatian Via dari ujung kepala sampai ujung kaki, sebenarnya gadis ini manis, hanya Davian selama ini terlalu tertutup karena urusan pekerjaan. Davian kemudian mengajak Via kembali ke parkiran dan memboncengkan Via ke suatu tempat.
Sebuah bangunan yang dari luar tampak seperti gudang, tapi ketika Davian mengajak Via masuk ke dalam membuat Via tampak terkejut tanpa bisa berkata-kata lagi.
Sebuah bangunan-bangunan kecil tertata rapi, disana banyak kucing, mulai dari yang dewasa sampai yang bayi-bayi, biasa disebut kitten.
“Disinilah tempat eksekusi mereka.” Kata Davian.
“I...ini.... bukan tempat penjagalan, ini shelter kucing.” Balas Via tampak percaya. “Lalu apa maksudnya eksekusi ?”
“Eksekusi itu adalah istilah dari Dokter Andre untuk melakukan steril pada kucing-kucing dewasa supaya tidak over populasi.” Jawab Davian.
“Dokter Andre ? Yang tempo waktu diberitakan oleh Siska melakukan praktek ilegal ?” Tanya Via
“Yesss !!! Dokter Andre, bukan praktek ilegal. Disinilah juga tempat prakteknya, ada ijin praktek dan kliniknya. Shelter ini merangkap tempat prakteknya, sayangnya dia hanya mau ngurusin kucing-kucing jalanan.” Jawab Davian.
“Jadi soal Siska ...?”
“Akulah yang melakukan. Setiap tindakan apapun, setiap siapa resquer yang hanya berkedok menjadi penyelamat kucing, apalagi yang selalu bikin masalah dengan sesama teman pecinta kucing, maka akulah eksekutornya.” Kata Davian. “Bagaimana ? Apa kamu masih akan meneriaki aku seperti bom molotov !?”
“Jadi kamu sang mafia kucing itu ?” Tanya Via
“Iya.” Jawab Davian
“Daviaaannnn !!!!” Teriak Via.
Davian langsung menutup kedua telinganya, “Apa lagi !!!!? Bukankah kamu sudah tahu yang sebenarnya ?”
“Kamu benar-benar keterlaluan, kenapa dari dulu nggak ajak-ajak aku buat bergerak !!!?” Jawab Via sambil memonyongkan bibirnya.
“Cantik...” kata Davian sambil menoel pipi imut Via. “Mulai sekarang kamu boleh menjadi bagian dari mafia cat, juga teman-temanmu, dengan dua syarat.”
“Sebutkan !” perintah Via
“Pertama, jadilah pendamping hidupku selamanya, kedua.... jangan pernah publikasikan sepak terjangku sebagai mafia cat.” Balas Davian
Via terbengong mendengar jawaban Davian. Wajahnya langsung bersemu merah.
“Via, sebenarnya aku tahu sepak terjangmu dari dulu dengan program steril jalananmu. Karena kamu juga menggunakan Dokter Andre. “Dari situ sebenarnya aku sudah menaruh hati sama kamu sejak kelas satu, sayangnya, aku tidak punya keberanian untuk mendekatimu.” Kata Davian. “Dan sekarang, bolehkah aku meminta ? Aku tidak akan menjadikanmu kekasihku, tetapi menikahlah denganku selepas kita lulus nanti.”
Via tidak menyangka, sang idola sekolah yang terkenal bersikap dingin dan angkuh ini menaruh rasa pada Via begitu lama, sebenarnya siapa yang tidak menyukai Davian dari segi tampang, mana ada cewek nolak jadi kekasihnya, apalagi jadi istrinya, begitupun juga Via.
“Kamu tidak harus menjawabnya hari ini ...” kata Davian. “Aku paham menjadi pendamping mafia cat bukan soal mudah, apalagi ketika hidup kita sebagian besar dihabiskan untuk mengurus makhluk-makhluk berbulu yang tidak beruntung itu.”
“Aku bersedia....” potong Via.
Davian tampak terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut manis gadis puaannya selama ini.
“Aku bersedia, aku bersedia hidup dengan berbagi dengan makhluk-makhluk berbulu.” Kata Via.
Davian mendekati Via kemudian mengecup kening Via
“Tetaplah menjadi princessnya mafia cat.”
Meeeoooonggggg ......
Temanggung, 19 November 2020